Beranda » Latest » Artikel » Aqidah » Dua Puluh Perbuatan yang Menyebabkan Terkena Siksa Kubur Beserta Dalilnya

Dua Puluh Perbuatan yang Menyebabkan Terkena Siksa Kubur Beserta Dalilnya

0
75bbe05eb6af12e8af5d1dd0992d7e45

Pertama: Kesyirikan, kekufuran dan kemunafikan akbar

Sahabat Nabi Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma menyatakan:

قَوْلَهُ: {وَإِنَّ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا عَذَابًا دُونَ ذَلِكَ} [الطور: 47] يَقُولُ: عَذَابَ الْقَبْرِ قَبْلَ عَذَابِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Firman Allah (yang artinya): Sesungguhnya bagi orang-orang zhalim (musyrik) akan mendapatkan siksaan di bawah itu (Q.S atThuur ayat 47). Itu adalah adzab kubur sebelum adzab hari kiamat (riwayat atThobariy dalam tafsirnya)

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

وَأَمَّا الْكَافِرُ، أَوِ الْمُنَافِقُ، فَيَقُولُ: لَا أَدْرِي، كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ، فَيُقَالُ: لَا دَرَيْتَ وَلَا تَلَيْتَ، ثُمَّ يُضْرَبُ ‌بِمِطْرَقَةٍ ‌مِنْ ‌حَدِيدٍ ضَرْبَةً بَيْنَ أُذُنَيْهِ، فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيهِ إِلَّا الثَّقَلَيْنِ

…Adapun orang kafir atau munafik, ia akan berkata (saat ditanya di alam barzakh): Aku tidak tahu. Aku sekadar (ikut-ikutan) mengucapkan seperti yang diucapkan orang-orang. Maka dikatakan kepadanya: engkau tidak (mau) tahu, engkau tidak (mau) membaca. Kemudian dipukulkanlah dengan palu dari besi di antara 2 telinganya, sehingga ia pun berteriak dengan teriakan yang didengar oleh orang di sekitarnya, kecuali ats-Tsaqolayn (manusia dan jin)(H.R al-Bukhari dari Anas)

Kedua: Suka mengadudomba (namimah) dan tidak beristinja’ selesai kencing

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: مَرَّ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى قَبْرَيْنِ، فَقَالَ: أَمَا إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ. وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ ‌يَمْشِي ‌بِالنَّمِيمَةِ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ

Dari Ibnu Abbas ia berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam melewati 2 kuburan, kemudian beliau berkata: Sesungguhnya kedua penghuni kubur ini benar-benar sedang disiksa. Tidaklah keduanya disiksa karena perkara besar (semestinya mudah dihindari, pen). Adapun salah satu dari keduanya, biasa mengadudomba (menukil ucapan antar orang untuk merusak hubungan, pen). Sedangkan satunya lagi tidak menjaga diri dari percikan kencingnya (H.R al-Bukhari dan Muslim, lafadz sesuai riwayat Muslim)


Baca Juga: Doa Berlindung dari Kekafiran, Kefakiran, dan Adzab Kubur


Ketiga: Shalat dalam keadaan tidak suci: tidak berwudhu atau bahkan tidak mandi janabah saat mengalami junub kemudian shalat

Keempat: Tidak menolong orang yang terdzhalimi padahal ia mampu melakukannya

Dalil poin ketiga dan keempat adalah hadits:

أُمِرَ بِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ أَنْ يُضْرَبَ فِي قَبْرِهِ مِائَةَ جَلْدَةٍ فَلَمْ يَزَلْ يَسْأَلُ وَيَدْعُو حَتَّى صَارَتْ جَلْدَةً وَاحِدَةً فَجُلِدَ جَلْدَةً وَاحِدَةً فَامْتَلَأَ قَبْرُهُ عَلَيْهِ نَارًا فَلَمَّا ارْتَفَعَ عَنْهُ قَالَ : عَلَامَ جَلَدْتُمُونِي ؟ قَالُوا : إنَّك صَلَّيْتَ صَلَاةً بِغَيْرِ طُهُورٍ ، وَمَرَرْت عَلَى مَظْلُومٍ فَلَمْ تَنْصُرْهُ

Seseorang hamba Allah diperintahkan untuk dipukul di kuburnya sebanyak 100 kali. Ia senantiasa berdoa dan meminta hingga hukumannya menjadi satu kali pukulan saja. Kemudian ia dipukul hingga penuhlah kuburnya dengan api. Ketika hukumannya diangkat darinya ia bertanya: Karena apa kalian memukuli aku? Mereka (para Malaikat) berkata: Karena engkau sholat tanpa bersuci (berwudhu) dan engkau melewati orang yang terdzhalimi dan engkau tidak menolongnya (H.R atThohaawy dalam syarh Musykilil Atsar dan Abusy Syaikh dalam atTaubikh, dinyatakan hasan lighoirihi oleh al-Albany dalam Shahih atTarghib wat Tarhib)

Kelima: Pendusta atau penyebar berita dusta

Keenam: Penghafal alQuran yang tidak mengamalkan isinya

Ketujuh: Orang yang tidur secara sengaja hingga tidak melakukan shalat wajib

Kedelapan: Para pezina

Kesembilan: Pemakan riba

Poin kelima sampai kesembilan berdasarkan hadits berikut:

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّى صَلاَةً أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ فَقَالَ: «مَنْ رَأَى مِنْكُمُ اللَّيْلَةَ رُؤْيَا؟» قَالَ: فَإِنْ رَأَى أَحَدٌ قَصَّهَا، فَيَقُولُ: «مَا شَاءَ اللَّهُ» فَسَأَلَنَا يَوْمًا فَقَالَ: «هَلْ رَأَى أَحَدٌ مِنْكُمْ رُؤْيَا؟» قُلْنَا: لاَ، قَالَ: «لَكِنِّي رَأَيْتُ اللَّيْلَةَ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِي فَأَخَذَا بِيَدِي، فَأَخْرَجَانِي إِلَى الأَرْضِ المُقَدَّسَةِ، فَإِذَا رَجُلٌ جَالِسٌ، وَرَجُلٌ قَائِمٌ، بِيَدِهِ كَلُّوبٌ مِنْ حَدِيدٍ» قَالَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا عَنْ مُوسَى: ” إِنَّهُ يُدْخِلُ ذَلِكَ الكَلُّوبَ فِي شِدْقِهِ حَتَّى يَبْلُغَ قَفَاهُ، ثُمَّ يَفْعَلُ بِشِدْقِهِ الآخَرِ مِثْلَ ذَلِكَ، وَيَلْتَئِمُ شِدْقُهُ هَذَا، فَيَعُودُ فَيَصْنَعُ مِثْلَهُ، قُلْتُ: مَا هَذَا؟ قَالاَ: انْطَلِقْ، فَانْطَلَقْنَا حَتَّى أَتَيْنَا عَلَى رَجُلٍ مُضْطَجِعٍ عَلَى قَفَاهُ وَرَجُلٌ قَائِمٌ عَلَى رَأْسِهِ بِفِهْرٍ – أَوْ صَخْرَةٍ – فَيَشْدَخُ بِهِ رَأْسَهُ، فَإِذَا ضَرَبَهُ تَدَهْدَهَ الحَجَرُ، فَانْطَلَقَ إِلَيْهِ لِيَأْخُذَهُ، فَلاَ يَرْجِعُ إِلَى هَذَا حَتَّى يَلْتَئِمَ رَأْسُهُ وَعَادَ رَأْسُهُ كَمَا هُوَ، فَعَادَ إِلَيْهِ، فَضَرَبَهُ، قُلْتُ: مَنْ هَذَا؟ قَالاَ: انْطَلِقْ فَانْطَلَقْنَا إِلَى ثَقْبٍ مِثْلِ التَّنُّورِ، أَعْلاَهُ ضَيِّقٌ وَأَسْفَلُهُ وَاسِعٌ يَتَوَقَّدُ تَحْتَهُ نَارًا، فَإِذَا اقْتَرَبَ ارْتَفَعُوا حَتَّى كَادَ أَنْ يَخْرُجُوا، فَإِذَا خَمَدَتْ رَجَعُوا فِيهَا، وَفِيهَا رِجَالٌ وَنِسَاءٌ عُرَاةٌ، فَقُلْتُ: مَنْ هَذَا؟ قَالاَ: انْطَلِقْ، فَانْطَلَقْنَا حَتَّى أَتَيْنَا عَلَى نَهَرٍ مِنْ دَمٍ فِيهِ رَجُلٌ قَائِمٌ عَلَى وَسَطِ النَّهَرِ – قَالَ يَزِيدُ، وَوَهْبُ بْنُ جَرِيرٍ: عَنْ جَرِيرِ بْنِ حَازِمٍ – وَعَلَى شَطِّ النَّهَرِ رَجُلٌ بَيْنَ يَدَيْهِ حِجَارَةٌ، فَأَقْبَلَ الرَّجُلُ الَّذِي فِي النَّهَرِ، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ رَمَى الرَّجُلُ بِحَجَرٍ فِي فِيهِ، فَرَدَّهُ حَيْثُ كَانَ، فَجَعَلَ كُلَّمَا جَاءَ لِيَخْرُجَ رَمَى فِي فِيهِ بِحَجَرٍ، فَيَرْجِعُ كَمَا كَانَ، فَقُلْتُ: مَا هَذَا؟ قَالاَ: انْطَلِقْ، فَانْطَلَقْنَا حَتَّى انْتَهَيْنَا إِلَى رَوْضَةٍ خَضْرَاءَ، فِيهَا شَجَرَةٌ عَظِيمَةٌ، وَفِي أَصْلِهَا شَيْخٌ وَصِبْيَانٌ، وَإِذَا رَجُلٌ قَرِيبٌ مِنَ الشَّجَرَةِ بَيْنَ يَدَيْهِ نَارٌ يُوقِدُهَا، فَصَعِدَا بِي فِي الشَّجَرَةِ، وَأَدْخَلاَنِي دَارًا لَمْ أَرَ قَطُّ أَحْسَنَ مِنْهَا، فِيهَا رِجَالٌ شُيُوخٌ وَشَبَابٌ، وَنِسَاءٌ، وَصِبْيَانٌ، ثُمَّ أَخْرَجَانِي مِنْهَا فَصَعِدَا بِي الشَّجَرَةَ، فَأَدْخَلاَنِي دَارًا هِيَ أَحْسَنُ وَأَفْضَلُ فِيهَا شُيُوخٌ، وَشَبَابٌ، قُلْتُ: طَوَّفْتُمَانِي اللَّيْلَةَ، فَأَخْبِرَانِي عَمَّا رَأَيْتُ، قَالاَ: نَعَمْ، أَمَّا الَّذِي رَأَيْتَهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ، فَكَذَّابٌ يُحَدِّثُ بِالكَذْبَةِ، فَتُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الآفَاقَ، فَيُصْنَعُ بِهِ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ، وَالَّذِي رَأَيْتَهُ يُشْدَخُ رَأْسُهُ، فَرَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ القُرْآنَ، فَنَامَ عَنْهُ بِاللَّيْلِ وَلَمْ يَعْمَلْ فِيهِ بِالنَّهَارِ، يُفْعَلُ بِهِ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ، وَالَّذِي رَأَيْتَهُ فِي الثَّقْبِ فَهُمُ الزُّنَاةُ، وَالَّذِي رَأَيْتَهُ فِي النَّهَرِ آكِلُوا الرِّبَا، وَالشَّيْخُ فِي أَصْلِ الشَّجَرَةِ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ، وَالصِّبْيَانُ، حَوْلَهُ، فَأَوْلاَدُ النَّاسِ وَالَّذِي يُوقِدُ النَّارَ مَالِكٌ خَازِنُ النَّارِ، وَالدَّارُ الأُولَى الَّتِي دَخَلْتَ دَارُ عَامَّةِ المُؤْمِنِينَ، وَأَمَّا هَذِهِ الدَّارُ فَدَارُ الشُّهَدَاءِ، وَأَنَا جِبْرِيلُ، وَهَذَا مِيكَائِيلُ، فَارْفَعْ رَأْسَكَ، فَرَفَعْتُ رَأْسِي، فَإِذَا فَوْقِي مِثْلُ السَّحَابِ، قَالاَ: ذَاكَ مَنْزِلُكَ، قُلْتُ: دَعَانِي أَدْخُلْ مَنْزِلِي، قَالاَ: إِنَّهُ بَقِيَ لَكَ عُمُرٌ لَمْ تَسْتَكْمِلْهُ فَلَوِ اسْتَكْمَلْتَ أَتَيْتَ مَنْزِلَكَ. (رواه البخاري)

Dari Samuroh bin Jundab ia berkata: Nabi shollallahu alaihi wasallam jika selesai shalat, beliau menghadap ke arah kami kemudian beliau berkata: Siapakah di antara kalian yang bermimpi tadi malam? Jika ada seorang yang bermimpi, ia akan mengisahkannya. Kemudian beliau bersabda: Maa syaa Allah (sesuai dengan yang dikehendaki Allah).

Pada suatu hari beliau bertanya: Apakah ada di antara kalian yang bermimpi? Kami berkata: Tidak. Nabi bersabda: Namun aku bermimpi tadi malam ada sosok 2 laki-laki yang mendatangi aku dan memegang tanganku. Keduanya membawa aku ke tanah yang disucikan. Ternyata di sana ada seorang laki-laki yang duduk dan seorang laki-laki yang berdiri. Di tangannya terdapat pengait dari besi. Sebagian rekan kami berkata dari Musa: Dimasukkan pengait dari besi itu ke sudut mulutnya ditarik hingga ke tengkuknya. Kemudian dilakukan demikian juga terhadap sudut mulutnya yang satunya. Ketika sisi pertama sudah pulih, dilakukan lagi seperti itu, terus berulang.” Aku bertanya: “Siapa itu?” Mereka menjawab: “Ayo lanjut.” Kami berjalan, mendatangi seorang laki-laki telentang, dan ada lelaki lain memegang batu besar di kepalanya lalu menghantamkan ke kepala itu hingga pecah. Bila batu menggelinding, ia ambil lagi, dan kepala yang hancur tadi telah pulih, lalu diulang kembali. Aku bertanya: “Siapa itu?” Mereka berkata: “Ayo lanjut.” Lalu kami mendatangi lubang seperti tungku, atasnya sempit bawahnya lebar dan di bawahnya dinyalakan api, dan di dalamnya ada laki-laki dan wanita telanjang. Saat api membesar, mereka naik hampir keluar, lalu turun lagi bila api padam. Aku bertanya: “Siapa mereka?” Mereka menjawab: “Ayo lanjut.” Kami berjalan ke sungai berisi darah, seorang lelaki berdiri di tengah sungai, di tepinya ada lelaki lain membawa batu. Tiap kali lelaki di sungai hendak keluar, yang di tepi sungai melempar mulutnya dengan batu sehingga kembali ke tempat semula. Aku bertanya: “Apa ini?” Mereka berkata: “Ayo lanjut.” Kami tiba di kebun hijau, ada pohon besar, di bawahnya seorang tua dan banyak anak-anak, dan ada pula seseorang dekat pohon menyalakan api. Mereka membawaku naik ke pohon itu, ke sebuah rumah terindah yang pernah kulihat, berisi laki-laki tua, pemuda, wanita, dan anak-anak. Lalu mereka mengajakku naik lagi ke rumah yang lebih baik.

Aku berkata: “Kalian telah kelilingkan aku malam ini, tolong beri tahu apa-apa yang kulihat?” Mereka berkata: “Adapun yang mulutnya disobek, ia adalah pendusta yang menyebarkan kebohongan ke seantero dunia, ia akan diperlakukan seperti itu sampai hari kiamat. Yang kepalanya dipecah batu, itu orang yang Allah ajarkan Al-Qur’an tapi malamnya tidur dan tidak mengamalkannya di siang hari, diperlakukan seperti itu sampai kiamat. Yang di tungku adalah pezina laki-laki dan perempuan. Yang di sungai darah adalah pemakan riba. Adapun orang tua di bawah pohon adalah Ibrahim ‘alaihissalam dan anak-anak di sekitarnya adalah anak-anak manusia. Yang menyalakan api adalah Malik penjaga neraka. Rumah pertama untuk kaum mukminin umum, rumah kedua rumah para syuhada. Aku Jibril dan dia Mikail. Angkat kepalamu.” Aku mengangkat kepalaku, ternyata di atas ada seperti awan. Mereka berkata: “Itu rumahmu.” Aku berkata: “Biarkan aku masuk sekarang.”

Jawab mereka: “Belum, karena usiamu di dunia masih tersisa. Jika selesai, engkau akan datang ke situ.” (HR. Bukhari)


Baca Juga: Fatwa Syaikh Bin Baz Tentang Apakah Mayit Mengetahui Keadaan Keluarganya yang Masih Hidup?


Kesepuluh: Memerintahkan kepada yang munkar dan melarang dari yang ma’ruf

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ حَسَنَةَ، قَالَ: انْطَلَقْتُ أَنَا وَعَمْرُو بْنُ الْعَاصِ، إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخَرَجَ وَمَعَهُ دَرَقَةٌ ثُمَّ اسْتَتَرَ بِهَا، ثُمَّ بَالَ، فَقُلْنَا: انْظُرُوا إِلَيْهِ يَبُولُ كَمَا تَبُولُ الْمَرْأَةُ، فَسَمِعَ ذَلِكَ، فَقَالَ: «أَلَمْ تَعْلَمُوا مَا لَقِيَ صَاحِبُ بَنِي إِسْرَائِيلَ، كَانُوا إِذَا أَصَابَهُمُ الْبَوْلُ قَطَعُوا مَا أَصَابَهُ الْبَوْلُ مِنْهُمْ، فَنَهَاهُمْ فَعُذِّبَ فِي قَبْرِهِ

Dari Abdurrahman bin Hasanah ia berkata: Aku bersama Amr bin al-Ash pergi menemui Nabi shollallahu alaihi wasallam keluar dengan membawa semacam perisai dari kulit. Kemudian beliau bertamengkan perisai kulit itu kemudian kencing. Kami berkata: Perhatikanlah kepadanya, dia kencing sebagaimana kencingnya wanita. (Bisa jadi saat beliau berdua belum masuk Islam, pen). Nabi ternyata mendengar hal itu. Beliau bersabda: Tidakkah kalian tahu apa yang dialami oleh rekan Bani Israil. Mereka dahulu jika terkena air kencing, memotong bagian (dari pakaian) yang terkena air kencing. Tapi ada yang melarang mereka, sehingga ia disiksa di kuburnya (H.R Abu Dawud, dishahihkan Syaikh al-Albaniy)

Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hafidzhahullah menyatakan:

أن ‌من ‌أسباب ‌عذاب ‌القبر الأمر بالمنكر والنهي عن المعروف؛ لأن صاحب بني إسرائيل نهاهم عن شيء هو مشروع في دينهم، وأمر واجب عليهم في دينهم، فنهاهم أن يطبقوا ما جاء في دينهم، ولو كان في ذلك مشقة عليهم

Bahwa di antara sebab siksaan kubur adalah memerintahkan kepada yang munkar dan melarang dari yang ma’ruf (kebaikan). Karena rekan Bani Israil melarang mereka untuk melakukan sesuatu yang disyariatkan dalam agama mereka dan suatu kewajiban dalam agama mereka. Namun orang itu melarang mereka menerapkan bagian dari ajaran agama mereka, meskipun hal yang memberatkan bagi mereka (Syarh Sunan Abi Dawud li Abdil Muhsin al-Abbad 7/19)

Kesebelas: Utang

عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: تُوُفِّيَ رَجُلٌ فَغَسَّلْنَاهُ، وَحَنَّطْنَاهُ، وَكَفَّنَّاهُ، ثُمَّ أَتَيْنَا بِهِ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي عَلَيْهِ، فَقُلْنَا: تُصَلِّي عَلَيْهِ؟ فَخَطَا خُطًى، ثُمَّ قَالَ: ” أَعَلَيْهِ دَيْنٌ؟ ” قُلْنَا: دِينَارَانِ، فَانْصَرَفَ، فَتَحَمَّلَهُمَا أَبُو قَتَادَةَ، فَأَتَيْنَاهُ، فَقَالَ أَبُو قَتَادَةَ: الدِّينَارَانِ عَلَيَّ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” حَقُّ الْغَرِيمُ، وَبَرِئَ مِنْهُمَا الْمَيِّتُ؟ ” قَالَ: نَعَمْ، فَصَلَّى عَلَيْهِ، ثُمَّ قَالَ بَعْدَ ذَلِكَ بِيَوْمٍ: ” مَا فَعَلَ الدِّينَارَانِ؟ “فَقَالَ: إِنَّمَا مَاتَ أَمْسِ، قَالَ: فَعَادَ إِلَيْهِ مِنَ الْغَدِ، فَقَالَ: لَقَدْ قَضَيْتُهُمَا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” الْآنَ بَرَدَتْ عَلَيْهِ جِلْدُهُ “، (رواه أحمد)

Dari Jabir ia berkata: Seorang laki-laki meninggal kemudian kami memandikan jenazahnya, mengenakan hanuth (wewangian) padanya, dan mengkafaninya. Kemudian kami bawa ke hadapan Rasulullah shollallahu alaihi wasallam untuk dishalatkan. Kami berkata: Apakah anda berkenan menyalatkan jenazahnya? Beliau pun melangkah beberapa langkah. Kemudian bertanya: Apakah ia memiliki utang? Kami berkata: Dia punya utang 2 dinar. Nabi pun berpaling. Kemudian Abu Qotadah siap menanggung pembayaran utangnya. Kami pun mengajak Abu Qotadah ke hadapan Nabi, Abu Qotadah berkata: Tanggungan utang 2 dinar itu biar aku yang akan melunasinya. Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: Hak orang yang berutang, apakah (jika nanti dilunasi 2 dinar itu), tidak ada lagi tanggungan mayit? Ia (Abu Qotadah) berkata: Ya. Nabi pun menyalatkan jenazahnya. Kemudian keesokan harinya Nabi bertanya lagi: Bagaimana dengan utang 2 dinar itu? Abu Qotadah berkata: Ia baru meninggal kemarin. Keesokan harinya Nabi mengulang lagi pertanyaan tentang utang 2 dinar itu. Abu Qotadah berkata: Aku sudah melunasinya. Kemudian Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: Sekarang, kulitnya sudah mendingin (tidak lagi terkena siksa neraka, pen)(H.R Ahmad, dishahihkan oleh al-Hakim dan disepakati keshahihannya oleh adz-Dzahabiy, diriwayatkan juga oleh al-Baihaiqy dalam Itsbatu Adzabil Qobri)


Baca Juga: Dalil Al Quran tentang Adzab Kubur


Keduabelas: Ghulul/korupsi (mengambil barang yang bukan haknya secara tersembunyi dan belum dikembalikan)

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّ الشَّمْلَةَ الَّتِي أَصَابَهَا يَوْمَ خَيْبَرَ مِنَ الْمَغَانِمِ، لَمْ تُصِبْهَا الْمَقَاسِمُ، ‌لَتَشْتَعِلُ ‌عَلَيْهِ ‌نَارًا

Demi (Allah) yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sesungguhnya sejenis jubah/mantel yang ia sembunyikan dari harta rampasan perang Khaibar yang belum dibagikan, telah menyalakan api baginya (di kuburnya)(H.R al-Bukhari dari Abu Hurairah)

Ketigabelas: Diratapi oleh orang yang masih hidup karena semasa hidupnya ia berwasiat untuk diratapi jika meninggal dunia.

الْمَيِّتُ يُعَذَّبُ فِي قَبْرِهِ ‌بِمَا ‌نِيحَ عَلَيْهِ

Mayit akan disiksa di kuburnya karena ia diratapi (H.R al-Bukhari dari Umar)

Al-Baihaqiy rahimahullah menyatakan:

‌‌بَابُ مَا يُخَافُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ فِي النِّيَاحَةِ عَلَى الْمَيِّتِ قَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ: إِذَا كَانَ قَدْ أَوْصَى بِهَا

Bab: Apa yang dikhawatirkan dari adzab kubur tentang ratapan terhadap mayit. Sebagian Ulama berkata: Jika ia (mayit) berwasiat (semasa hidupnya)(Itsbatu Adzabil Qobri halaman 91)


Baca Juga: Namimah, Salah Satu Jenis Perbuatan yang Semakna dengan Sihir


Keempatbelas: Mengubah ajaran agama, menghalalkan yang diharamkan Allah dan mengharamkan yang dihalalkan Allah

رَأَيْتُ عَمْرَو بْنَ عَامِرٍ الْخُزَاعِيَّ يَجُرُّ قُصْبَهُ فِي النَّارِ، ‌كَانَ ‌أَوَّلَ ‌مَنْ ‌سَيَّبَ ‌السَّوَائِبَ

Aku melihat Amr bin Amir al-Khuza’iy menarik ususnya di api. Dia adalah orang pertama yang membuat aturan tentang Saaibah (hewan ternak yang dibuat aturan tidak boleh ditunggangi, membawa beban, ataupun dimakan dagingnya)(H.R al-Bukhari)

Kelimabelas: Ghibah

Dalam sebagian riwayat hadits, dinyatakan:

مَرَّ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم، بِقَبْرَيْنِ. فَقَالَ: إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَيُعَذَّبُ فِي الْبَوْلِ، وَأَمَّا الْآخَرُ ‌فَيُعَذَّبُ ‌فِي ‌الْغِيبَةِ

Nabi shollallahu alaihi wasallam melewati 2 kuburan, beliau menyatakan: Sesungguhnya keduanya benar-benar sedang disiksa. Tidaklah mereka disiksa karena permasalahan yang besar (sebenarnya mudah mereka hindari). Adapun yang pertama disiksa karena (tidak menjaga percikan) kencing, sedangkan yang lain disiksa karena ghibah (H.R Ibnu Majah dari Abu Bakroh, dinilai hasan shahih oleh Syaikh al-Albaniy)

Al-Imam al-Bukhari memberi judul Bab dalam Shahihnya:

‌‌بَابُ ‌عَذَابِ ‌الْقَبْرِ ‌مِنَ ‌الْغِيبَةِ ‌وَالْبَوْلِ

Bab: Siksaan Kubur dari Ghibah dan Kencing (Kitabul Janaiz Shahih al-Bukhari)

Keenambelas: Para khotib dan penceramah yang bertentangan isi khotbah dan ceramahnya dengan perbuatannya.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: رَأَيْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي رِجَالاً تُقْرَضُ شِفَاهُهُمْ بِمَقَارِيضَ مِنْ النَّارِ، فَقُلْتُ: مَنْ هَؤُلَاءِ يَا جِبْرِيلُ؟ فَقَالَ: ‌الْخُطَبَاءُ ‌مِنْ ‌أُمَّتِكَ، يَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَيَنْسَوْنَ أَنْفُسَهُمْ، وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا يَعْقِلُونَ

Dari Anas bin Malik ia berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: Aku melihat pada malam aku mengalami Isra’, ada para lelaki yang digunting bibir-bibir mereka dengan gunting-gunting dari api. Aku berkata: Siapakah mereka ini wahai Jibril? Jibril berkata: Mereka adalah para khotib dari umatmu yang memerintahkan manusia kepada kebaikan namun mereka melupakan diri mereka sendiri, padahal mereka membaca Kitab. Tidakkah mereka berakal? (H.R Ibnu Hibban dalam Shahihnya, dishahihkan pula oleh Syaikh al-Albaniy dalam Shahih atTarghib)


Baca Juga: Ancaman Keras Bagi Orang yang Musbil, Mengungkit Pemberian, dan Bersumpah Palsu


Ketujuhbelas: Menarik pakaiannya yang menjulur hingga terseret dengan sombong (isbal)

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَجُرُّ إِزَارَهُ مِنَ الخُيَلاَءِ، خُسِفَ بِهِ، فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِي الأَرْضِ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ

Ketika seseorang menarik sarungnya dengan sombong, ditenggelamkanlah ia ke dalam bumi, ia tenggelam naik turun di bumi hingga hari kiamat (H.R al-Bukhari dari Ibnu Umar)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ: بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِى قَدْ أَعْجَبَتْهُ جُمَّتُهُ وَبُرْدَاهُ إِذْ خُسِفَ بِهِ الأَرْضُ فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِى الأَرْضِ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ

dari Abu Hurairah dari Nabi shollallahu alaihi wasallam beliau bersabda: Ketika seorang laki-laki berjalan dalam keadaan ujub dengan rambut dan pakaian burdahnya, tiba-tiba ia ditenggelamkan ke dalam bumi dan ia bergerak menggelepar dalam bumi hingga tegak hari kiamat. (H.R Muslim)

Kedelapanbelas: Mencuri

وَحَتَّى رَأَيْتُ فِيهَا صَاحِبَ الْمِحْجَنِ يَجُرُّ قُصْبَهُ فِي النَّارِ؛ كَانَ يَسْرِقُ الْحَاجَّ بِمِحْجَنِهِ

Hingga aku melihat di sana pemilik tongkat berkait yang menarik ususnya di api. Dia dahulu mencuri bawaan jamaah haji dengan tongkat berkaitnya (H.R Muslim dari Jabir tentang shalat Kusuf)

Kesembilanbelas: Menahan hewan tanpa dicukupi kebutuhan makan dan minumnya, atau bahkan menyiksanya

وَحَتَّى رَأَيْتُ فِيهَا صَاحِبَةَ الْهِرَّةِ الَّتِي رَبَطَتْهَا فَلَمْ تُطْعِمْهَا، وَلَمْ تَدَعْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الْأَرْضِ، حَتَّى مَاتَتْ جُوعًا

Dan hingga aku melihat di api itu seorang wanita yang mengikat kucing, tidak ia beri makan dan tidak pula ia biarkan lepas agar memakan serangga tanah, hingga kucing itu mati kehausan (H.R Muslim dari Jabir tentang shalat Kusuf)

Keduapuluh: Tidak berpuasa di bulan Ramadhan tanpa udzur.

بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ إِذْ أَتَانِي رَجُلَانِ فَأَخَذَا بِضَبْعَيَّ فَأَتَيَا بِي جَبَلًا وَعْرًا فَقَالَا لِي: اصْعَدْ حَتَّى إِذَا كُنْتُ فِي سَوَاءِ الْجَبَلِ فَإِذَا أَنَا بِصَوْتٍ شَدِيدٍ فَقُلْتُ: مَا هَذِهِ الْأَصْوَاتُ؟ قَالَ: هَذَا عُوَاءُ أَهْلِ النَّارِ, ثُمَّ انْطَلَقَ بِي فَإِذَا بِقَوْمٍ مُعَلَّقِينَ بِعَرَاقِيبِهِمْ مُشَقَّقَةٍ أَشْدَاقُهُمْ تَسِيلُ أَشْدَاقُهُمْ دَمًا, فَقُلْتُ: مَنْ هَؤُلَاءِ؟ فَقِيلَ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يُفْطِرُونَ قَبْلَ تَحِلَّةِ صَوْمِهِمْ

Ketika aku tertidur, datang 2 orang laki-laki, kemudian keduanya memegang lengan atasku. Kemudian aku dibawa menuju gunung yang sukar dilalui. Kemudian keduanya berkata kepadaku: Naiklah. Hingga aku berada di puncak gunung. Tiba-tiba (terdengar) suara yang keras. Aku berkata: Suara apa ini? Laki-laki itu berkata: Ini adalah lolongan penduduk neraka. Kemudian berjalanlah (mereka berdua) denganku. Tiba-tiba (nampak) suatu kaum yang digantung (terbalik) pada pergelangan kakinya. Sudut-sudut mulut mereka robek, mengalir darah dari sudut-sudut mulut mereka. Aku berkata: Siapa mereka? Kemudian dikatakan: Mereka ini adalah orang-orang yang berbuka sebelum dihalalkan waktunya (H.R anNasaai, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, alHakim, dan al-Albaniy)


Penulis: Abu Utsman Kharisman