Beranda » Latest » Artikel » Wanita » Lebih dari Sekadar Menikah dan Beranak-pinak: Renungan Keteladanan Ibunda Aisyah

Lebih dari Sekadar Menikah dan Beranak-pinak: Renungan Keteladanan Ibunda Aisyah

0
feather-4106529_640

Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah ta’ala berkata:

​Apakah engkau tahu bahwa Aisyah radhiyallahu ‘anha tidak pernah melahirkan anak dan tidak memiliki keturunan? Namun meskipun demikian, tidak ada satu pun riwayat di dalam kitab-kitab sunnah nabawiyah yang menyebutkan bahwa Aisyah pernah berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar aku dikaruniai keturunan!”

​Dan apakah engkau tahu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat meninggalkannya ketika usianya baru 18 tahun? Padahal beliau sangat mencintainya, dan Aisyah pun memiliki rasa cemburu yang besar. Artinya, ia hidup selama 47 tahun setelah wafatnya Nabi, namun meskipun demikian, ia tidak meratapi nasibnya karena tidak menikah lagi!

​Akan tetapi, ia menyibukkan diri dengan ilmu dan ibadah. Ia menjadi seorang guru, wanita yang cerdas, serta pemberi fatwa bagi para sahabat besar.

​Hidup tidak akan berhenti hanya karena belum memiliki keturunan, tidak pula karena pernikahan, urusan rumah tangga, wafatnya orang tua, ataupun kehilangan anak-anak.

​Tidaklah Allah mengambil sesuatu, melainkan Dia akan menggantinya dengan yang lebih baik. Dunia ini adalah negeri ujian, dan kenyamanannya tidak akan pernah sempurna bagi siapa pun.

​Maka, jadikanlah hatimu penuh dengan keimanan, keridhaan, dan prasangka baik kepada Allah. Isilah waktumu dengan menuntut ilmu dalam segala hal yang bermanfaat bagi dirimu dan masyarakatmu. Jadikan sabar sebagai bekalmu dan Al-Qur’an sebagai teman karibmu.

​(Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman):

مَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ لِتَشۡقَىٰٓ

“Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah;”(QS. Thoha ayat 2, pen)

​Tidak sepatutnya seseorang itu berada dalam kekosongan (tanpa aktivitas), karena setan akan menguasai dirinya dengan bisikan-bisikan buruk. Maka, lebih baik baginya menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat, agar dirinya tidak disibukkan oleh hal-hal yang membahayakannya.

​Aku nasihatkan kepada wanita yang shalihah agar bersemangat untuk duduk (berkumpul) bersama wanita-wanita shalihah lainnya. Karena dengan cara itulah, ia akan bertambah ilmu dan mata hatinya (bashirah).

​Sumber: Gharat al-Asyrithah (2/474).

Naskah dalam Bahasa Arab

قال الشيخ مقبل بن هادي الوادعي رحمه الله تعالى

هل تعلمين أن عائشة رضي الله عنها لم تنجب ولم يكن لها ذرية ومع ذالك لم يوجد اثر في كتب السنة النبوية أن عائشة قالت يارسول الله ادع الله الله لي بالذرية

وهل تعلمين أن النبي صلى الله عليه وسلم مات عنها وعمرها 18سنة وكان شديد الحب ، لها وكانت شديدة الغيرة ، اي عاشت بعده 47 سنة ومع ذالك لم تتحسر على الزواج !! لكنها اشتغلت بالعلم والعبادة وكانت معلمة ومثقفة ومفتية لكبار الصحابة

لن تتوقف الحياة على الإنجاب ، ولا على الزواج ، ولا على البيت ، ولا على موت الوالدين وفقد الأبناء ، ما اخذ الله شيئًا إلا عوض خيرا منه والدنيا دار ابتلاء ولم تكمل لأحد ابدا

فليكن قلبك ملؤه الايمان والرضا وحسن الظن بالله ووقتك بطلب العلم في كل ماينفع نفسك ومجتمعك ، اجعلي الصبر زادك والقرآن صاحبك { ما أنزلنا عليك القرآن لتشقى } لاينبغي للإنسان أن يكون فارغا ،لأن الشيطان يتسلط عليه بخواطر السوء فخير له أن يشغل نفسه بما ينفعه كي لاتشغله نفسه بما يضره . انصح المرأة الصالحة أن تحرص على مجالسة النساء الصالحات فإنها بهذا تزداد علما وبصيرة

????المصدر غارة الأشرطة : (2/474)

Penerjemah: Abu Utsman Kharisman