Beranda » Latest » Artikel » ulama » Mengenal Salah Seorang Ulama Abad ini: Syaikh Muhammad Aman Al-Jami

Mengenal Salah Seorang Ulama Abad ini: Syaikh Muhammad Aman Al-Jami

0
danxia-g29624d2b4_640

Nama dan Nasab Beliau

Nama dan Nasab Beliau: Abu Ahmad Muhammad Aman bin Ali Jami Ali.

Tanah Air dan Kelahiran Beliau

Tanah Air dan Kelahiran Beliau: Habasyah (Ethiopia), wilayah Harar, desa “Tagha Tab”. Beliau dilahirkan—sebagaimana yang tercatat dalam dokumen resmi beliau—pada tahun 1349 H.

Perjalanan Menuntut Ilmu

A. Menuntut Ilmu di Habasyah:

Syaikh tumbuh besar di desa “Tagha Tab”. Di sana beliau belajar Al-Qur’an al-Karim. Setelah mengkhatamkannya, beliau mulai mempelajari kitab-kitab fikih berdasarkan mazhab Imam Syafi’i rahimahullah. Beliau juga belajar bahasa Arab di desanya kepada Syaikh Muhammad Amin al-Harari.

Kemudian beliau meninggalkan desanya—sebagaimana kebiasaan penduduk daerah tersebut—menuju desa lain. Di sana, beliau bertemu dengan rekan belajar dan rekan hijrahnya ke negeri Arab Saudi, yaitu Syaikh Abdul Karim. Maka terjalinlah persaudaraan Islam di antara keduanya.

Lalu mereka berdua pergi menemui seorang guru yang bernama Syaikh Musa, dan mempelajari darinya kitab Nazhom az-Zubad karya Ibnu Ruslan. Kemudian mereka mempelajari matan al-Minhaj kepada Syaikh Abadir, serta mempelajari beberapa cabang ilmu lainnya di desa ini.

Setelah itu, muncul kerinduan untuk melakukan perjalanan ke negeri suci Makkah al-Mukarramah demi menuntut ilmu dan menunaikan ibadah haji. Maka keduanya berangkat dari Habasyah menuju Somalia, lalu menempuh jalur laut menuju Aden—di mana mereka menghadapi berbagai kesulitan dan bahaya baik di laut maupun di darat. Kemudian mereka berjalan kaki menuju Hudaidah, lalu berpuasa di bulan Ramadan di sana, kemudian keduanya berangkat menuju Arab Saudi melewati Samtah dan Abu Arisy, hingga akhirnya mendapatkan izin untuk memasuki Makkah. Perjalanan ini ditempuh dengan berjalan kaki.

Ketika di Yaman, beberapa syekh di sana sempat memperingatkan mereka berdua agar waspada terhadap dakwah Salafiyah, yang mereka sebut dengan istilah “Wahabi”.

B. Menuntut Ilmu di Arab Saudi

Setelah menunaikan ibadah haji pada tahun 1369 H, beliau rahimahullah mulai menuntut ilmu di Masjidil Haram melalui halaqah-halaqah ilmu yang tersebar di sana. Beliau mengambil faedah ilmu dari:
• Syaikh Abdul Razzaq Hamzah rahimahullah.
• Syaikh Abdul Haq al-Hasyimi rahimahullah.
• Syaikh Muhammad Abdullah as-Shumali, dan ulama lainnya.

Di Makkah, beliau mengenal Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah dan menyertai perjalanan beliau ke Riyadh saat dibukanya al-Ma’had al-‘Ilmi pada awal tahun 70-an Hijriah.

Beberapa rekan belajar beliau saat menempuh pendidikan tingkat menengah atas (Tsanawiyah) di al-Ma’had al-‘Ilmi adalah:

• Syaikh Abdul Muhsin bin Hamad al-Abbad.
• Syaikh Ali bin Muhanna, mantan hakim di Pengadilan Syariah Besar di Madinah.

Beliau juga rutin menghadiri halaqah ilmu yang tersebar di Riyadh. Beliau mengambil faedah dan terpengaruh oleh Samahatus Mufti Al-‘Allamah al-Faqih al-Ushuli Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu as-Syaikh rahimahullah. Beliau juga senantiasa mendampingi Syaikh Abdurrahman al-Ifriqi rahimahullah, serta terus mendampingi Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah hingga beliau menimba ilmu yang sangat luas serta akhlak yang mulia dari beliau. Di Riyadh, beliau juga menimba ilmu dari:

• Syaikh Muhammad al-Amin as-Syinqithi rahimahullah.
• Syaikh Al-‘Allamah al-Muhaddits Hammad al-Anshari rahimahullah.

Tokoh yang biografinya sedang kita bahas ini sangat terpengaruh oleh Syaikh Abdurrazzaq Afifi, bahkan dalam metode mengajarnya. Beliau juga mengambil faedah dan terpengaruh oleh Syaikh Al-‘Allamah Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah, di mana terjalin hubungan surat-menyurat di antara keduanya, perlu diketahui bahwa sosok yang sedang dibahas biografinya ini tidak belajar secara langsung kepada Syaikh as-Sa’di. Beliau juga menimba ilmu dari Syaikh Al-‘Allamah Muhammad Khalil Harras rahimahullah dan turut terpengaruh olehnya, serta mengambil faedah ilmu dari Syaikh Abdullah al-Qar’awi rahimahullah.

Kualifikasi Akademik

Beliau memperoleh ijazah tingkat menengah atas (Tsanawiyah) dari al-Ma’had al-‘Ilmi di Riyadh, kemudian melanjutkan ke Fakultas Syariah dan meraih gelarnya pada tahun 1380 H. Setelah itu, beliau memperoleh gelar setara Magister (S2) dalam bidang Syariah dari Universitas Punjab pada tahun 1974 M, dan kemudian gelar Doktor dari Darul Ulum di Kairo.

Kedudukan Ilmiah dan Pujian Para Ulama Terhadap Beliau

Syaikh rahimahullah memiliki kedudukan ilmiah yang tinggi di mata para ulama dan ahli ilmu; mereka menyebut beliau dengan kebaikan dan beliau adalah sosok yang terpercaya di mata mereka. Bahkan, besarnya kepercayaan terhadap ilmu dan akidahnya terbukti saat beliau masih menjadi pelajar di Riyadh. Ketika gurunya, Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, melihat kecerdasan serta semangatnya yang tinggi dalam menuntut ilmu, beliau merekomendasikannya kepada Samahatus Syaikh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah hingga akhirnya beliau dikontrak untuk mengajar di Ma’had ‘Ilmi Samtah di wilayah Jazan.

Hal lain yang menunjukkan besarnya kepercayaan terhadap ilmu, akidah, dan kedudukannya di mata ahli ilmu adalah ketika Universitas Islam Madinah (UIM) baru dibuka, beliau ditugaskan untuk mengajar di sana setelah dipilih oleh Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah. Sebagaimana diketahui, UIM didirikan untuk menyebarkan akidah Salafiyah. Pihak universitas pun memberikan amanah kepada beliau untuk mengajarkan akidah ini di tingkat Ma’had Thanawi (menengah atas) kemudian di Fakultas Syariah karena kepercayaan terhadap akidah, ilmu, dan manhaj beliau rahimahullah, agar beliau dapat berkontribusi dalam mewujudkan tujuan-tujuan universitas tersebut.

Dan inilah untukmu—wahai pembaca—perkataan para ulama terpercaya mengenai apa yang mereka tulis tentang Syaikh (Muhammad Aman al-Jami) rahimahullah:

1. Samahatus Syaikh Al-‘Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah: Dalam surat Samahatus Mufti Umum Kerajaan Arab Saudi — nomor (64) tertanggal 9/1/1418 H — beliau berkata tentang Syaikh Muhammad Aman: “Beliau dikenal di mata saya sebagai orang yang memiliki ilmu, keutamaan, akidah yang baik, serta semangat dalam berdakwah di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan dalam memperingatkan (umat) dari bid’ah serta khurafat. Semoga Allah mengampuninya, menempatkannya di surga-Nya yang luas, memperbaiki keturunannya, serta mengumpulkan kita dan kalian bersamanya di negeri kemuliaan-Nya (surga), sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat.”

2. Fadhilatus Syaikh Al-‘Allamah Shalih al-Fauzan, anggota Hai’ah Kibarul Ulama (Dewan Ulama Senior): Beliau menulis dalam suratnya yang tertanggal 3/3/1418 H: “Syaikh Muhammad Aman sebagaimana yang saya kenal: Sesungguhnya orang-orang terpelajar dan pemegang berbagai gelar tinggi itu banyak, namun sedikit di antara mereka yang (benar-benar) mengambil manfaat dari ilmunya dan bisa diambil manfaat darinya. Syaikh Muhammad Aman al-Jami adalah termasuk dari segelintir ulama langka yang mengerahkan ilmu dan tenaga mereka untuk memberi manfaat bagi kaum muslimin, serta membimbing mereka dengan dakwah kepada Allah di atas bashirah (ilmu), baik melalui pengajaran beliau di Universitas Islam, di Masjid Nabawi yang mulia, maupun dalam kunjungan beliau ke berbagai negeri Islam di luar negeri, serta perjalanan beliau di dalam Kerajaan (Saudi) untuk menyampaikan pelajaran dan ceramah di berbagai wilayah. Beliau menyeru kepada tauhid, menyebarkan akidah yang benar, membimbing pemuda umat menuju manhaj Salafush Shalih, serta memperingatkan mereka dari prinsip-prinsip yang merusak dan seruan-seruan yang menyesatkan. Siapa yang tidak mengenal beliau secara pribadi, maka kenalilah beliau melalui buku-bukunya yang bermanfaat dan rekaman kasetnya yang banyak, yang mengandung luapan ilmu yang melimpah dan manfaat yang besar.”

3. Fadhilatus Syaikh Al-‘Allamah Abdul Muhsin bin Hamad al-Abbad, pengajar di Masjid Nabawi — hafidzahullah —: “Saya mengenal Syaikh Muhammad Aman bin Ali al-Jami saat beliau masih menjadi pelajar di Ma’had ‘Ilmi Riyadh, kemudian sebagai pengajar di Universitas Islam Madinah pada tingkat menengah atas (Tsanawiyah), lalu pada tingkat universitas. Saya mengenal beliau sebagai orang yang memiliki akidah yang baik, arah pemikiran yang selamat, dan beliau memiliki perhatian besar dalam menjelaskan akidah berdasarkan mazhab Salaf, serta memperingatkan dari bid’ah, hal itu (beliau lakukan) dalam pelajaran-pelajarannya, ceramah-ceramahnya, dan tulisan-tulisannya. Semoga Allah mengampuninya, merahmatinya, dan melipatgandakan pahala baginya.”

4. Fadhilatus Syaikh Umar bin Muhammad Fallatah, pengajar di Masjid Nabawi dan Direktur Cabang Darul Hadits rahimahullah: Dalam suratnya tertanggal 8/2/1417 H, di antara isinya disebutkan: “Secara keseluruhan, beliau rahimahullah adalah orang yang jujur ucapannya, memiliki loyalitas yang besar terhadap mazhab Ahlussunnah, berkemauan kuat, serta penyeru di jalan Allah dengan perkataan, perbuatan, dan lisannya. Beliau menjaga lisan (dari ucapan buruk), memiliki penjelasan yang kuat (fasih), dan cepat marah ketika kehormatan Allah dilanggar. Hal ini tercermin dari majelis-majelisnya di Masjid Nabawi yang mulia yang beliau tunaikan, karya-karya tulis yang beliau terbitkan, serta perjalanan (dakwah) yang beliau lakukan.

Saya pernah menemani beliau dalam perjalanan, dan beliau adalah sebaik-baik teman. Beliau juga pernah menemani Fadhilatus Syaikh Al-‘Allamah Muhammad al-Amin asy-Syinqithi rahimahullah—penulis kitab Adhwa’ul Bayan dan lainnya—dan beliau pun menjadi teman perjalanan yang sangat baik baginya. Sebab, perjalananlah yang dapat menampakkan hakikat kepribadian seseorang.

Beliau tidak suka berbasa-basi (dalam kebenaran), tidak munafik, tidak berdebat kusir, dan tidak pula suka berbantah-bantahan. Jika beliau memiliki dalil, beliau akan menyuarakannya dengan tegas. Jika tampak baginya kebenaran yang menyelisihi pendapatnya, beliau akan mengikutinya dan kembali kepada kebenaran tersebut. Inilah kebiasaan orang-orang beriman; sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam kitab-Nya: ‘Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya…’ [QS. An-Nur: 51].

Saya bersaksi kepada Allah Ta’ala bahwa beliau rahimahullah telah menunaikan banyak kewajibannya dalam melayani agama dan menyebarkan sunnah Pemimpin para Rasul. Beliau telah banyak menjumpai gangguan, serta berbagai tipu daya dan makar; namun beliau tidak goyah dan tidak takut; hingga beliau berjumpa dengan Allah, dan ucapan terakhirnya adalah syahadat ‘Laa ilaha illallah, wa anna Muhammadar Rasulullah’.”

Sebagian Karya Tulis Beliau

Di antaranya adalah kitab: As-Sifat al-Ilahiyyah fil Kitab was Sunnah an-Nabawiyyah fi Dhau’il Itsbat wat Tanzih (Sifat-Sifat Allah dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyyah dalam Perspektif Penetapan dan Penafian Keserupaan), dan ini termasuk kitab beliau yang paling bermanfaat rahimahullah.

Serta kitab: Adhwa’ ‘ala Thariqid Da’wah ilal Islam (Cahaya di Atas Jalan Dakwah Menuju Islam). Kitab ini memuat beberapa… …ceramah-ceramah, yang di dalamnya terdapat penetapan akidah Salafiyah, paparan tentang dakwah di Afrika, serta penyebaran masalah-masalah dakwah dan para dai di era modern, disertai solusi yang tepat untuk masalah-masalah tersebut, serta bantahan terhadap kaum Sufi.

Dan kitab: Majmu’ Rasa’il al-Jami fil ‘Aqidah was Sunnah (Kumpulan Risalah Al-Jami dalam Akidah dan Sunnah).

Serta risalah berjudul: Al-Muhadharah ad-Difa’iyyah ‘anis Sunnah al-Muhammadiyyah (Ceramah Pembelaan terhadap Sunnah Nabi Muhammad), yang pada asalnya merupakan ceramah yang beliau sampaikan di Sudan pada tahun 1383 H, di mana beliau membantah seorang ateis bernama Mahmud Thaha.

Serta risalah berjudul: Haqiqat ad-Dimuqratiyyah wa Annaha Laisat minal Islam (Hakikat Demokrasi dan Bahwa Ia Bukan Bagian dari Islam), yang pada asalnya merupakan ceramah yang beliau sampaikan pada tahun 1412 H.
Serta risalah berjudul: Haqiqat as-Syura fil Islam (Hakikat Syura dalam Islam).

Serta risalah berjudul: Al-‘Aqidah al-Islamiyyah wa Tarikhuha (Akidah Islam dan Sejarahnya).

Sebagian Murid-Murid Beliau

Seorang tokoh yang memiliki kedudukan seperti ini di mata para pemilik ilmu, dan memiliki upaya besar dalam berdakwah di jalan Allah Ta’ala, serta kecintaan yang mendalam terhadap akidah Salafiyah yang kekal ini—yang mana beliau disakiti demi menyebarkan dan menanamkannya di jiwa kaum muslimin, baik di dalam maupun di luar Kerajaan (Saudi)—maka akan sulit untuk menghitung seluruh murid dan siswanya. Namun, di antara murid-murid beliau yang paling menonjol adalah:
• Fadhilatu Syaikhuna Al-‘Allamah Dr. Rabi’ bin Hadi al-Madkhali — hafidzahullah.
• Fadhilatu Syaikhuna Al-‘Allamah Zaid bin Hadi al-Madkhali — hafidzahullah.
• Fadhilatu Syaikh Prof. Dr. Ali bin Nasir Faqihi, pengajar di Universitas Islam Madinah dan pengajar di Masjid Nabawi — hafidzahullah, dan lain-lain.

Sebagian Akhlak Mulia Beliau

  1. Sikap tulus dalam memberi nasihat: Beliau rahimahullah adalah orang yang tulus memberi nasihat—setahu kami—karena Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslimin, maupun orang awam di antara mereka. Hal ini nampak jelas dengan sedikit perenungan saja; beliau telah mewakafkan hidupnya untuk menetapkan akidah Salafush Shalih melalui pelajaran, karya tulis, ceramah, serta bantahan-bantahannya terhadap pihak yang menyelisihi Al-Qur’an dan Sunnah. Beliau senantiasa adil dalam membantah pihak yang menyelisihi (kebenaran), serta menjauhi fanatisme kelompok maupun hawa nafsu.

  2. Sedikit berbaur (kecuali untuk kebaikan): Beliau rahimahullah dikenal jarang berbaur dengan manusia kecuali dalam hal kebaikan. Sebagian besar waktu dan hari-harinya terjaga dengan rutinitas yang sudah dikenal, yaitu beliau keluar rumah menuju tempat kerja di universitas, lalu kembali ke rumah, kemudian menuju Masjid Nabawi yang mulia untuk menyampaikan pelajaran setelah Ashar, Maghrib, Isya, dan setelah Fajar. Demikianlah rutinitas beliau hingga beliau akhirnya terbaring di tempat tidur karena penyakitnya yang semakin parah.

  3. Menjaga lisan: Beliau rahimahullah adalah sosok yang menjaga lisan; tidak suka mencela, menikam (karakter), maupun menggibah. Beliau bahkan tidak mengizinkan siapapun menggibah orang lain di hadapannya, dan tidak mengizinkan penyampaian perkataan buruk maupun aib-aib orang lain kepada beliau. Jika ada penuntut ilmu yang jatuh dalam kesalahan dalam sebuah kaset atau buku, beliau akan menyimak atau membacanya, dan jika jelas baginya bahwa itu adalah kesalahan, beliau akan melakukan kewajibannya untuk memberi nasihat.

  4. Pemaaf dan santun: Sebanding dengan besarnya gangguan, ujian, tipu daya, dan makar yang beliau hadapi, beliau membalas orang yang berbuat buruk kepadanya dengan kesantunan dan maaf. Terkadang datang kepada beliau orang yang pernah menjatuhkan kehormatannya dengannya mencaci, menikam, atau memfitnah untuk meminta maaf, maka beliau rahimahullah berkata: “Aku berharap kepada Allah Ta’ala agar tidak ada seorang pun yang masuk neraka karena sebab diriku.” Beliau memaafkan orang yang membicarakan kehormatannya dan berkata: “Tidak perlu bagi seseorang datang untuk meminta maaf, karena aku telah memaafkan semuanya,” dan beliau meminta orang-orang yang duduk bersamanya untuk menyampaikan hal tersebut dari beliau.

  5. Perhatian dan komitmen terhadap muridnya: Beliau rahimahullah termasuk orang yang memberikan perhatian khusus kepada murid-muridnya… … (perhatian beliau tidak) berakhir dengan selesainya pelajaran. Bahkan beliau menghadiri acara-acara mereka (muridnya), menanyakan kabar mereka, dan membantu menyelesaikan sebagian masalah keluarga mereka. Singkatnya, beliau mengerahkan harta, kedudukan, dan waktunya untuk menolong muridnya yang membutuhkan. Sikap ini meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagi para muridnya, sehingga beliau dianugerahi kecintaan yang tulus dari mereka, dan mereka merasakan kekosongan yang besar setelah wafatnya beliau dalam hal ini.

Dan sejujurnya, pada diri Syaikh rahimahullah terkumpul banyak sifat kebaikan, dan apa yang telah dinukilkan sebelumnya dari para ulama sudah mencukupi, Wallahu a’lam.

Akidah Salafiyah Beliau

Di antara hal yang menunjukkan akidah Salafiyah Syaikh adalah beliau mengajarkan kitab-kitab akidah Salaf, seperti: Al-Wasithiyyah, Al-Fatwa al-Hamawiyyah al-Kubra, At-Tadmuriyyah, Syarh al-‘Aqidah at-Thahawiyyah karya Ibnu Abil ‘Izz, Al-Iman, Thalathatul Ushul, Fathul Majid Syarh Kitabut Tauhid, Qurratu ‘Uyunil Muwahhidin, Al-Ushul as-Sittah, Al-Wajibat al-Mutahattimat, Al-Qawa’id al-Muthla, serta Tajridut Tauhid al-Mufid karya Al-Maqrizi.

Juga (terlihat dari) bantahan beliau terhadap ahli bid’ah seperti Asy’ariyyah, Sufiyyah, dan Syiah Rafidhah, baik dalam buku-bukunya, artikel-artikelnya di jurnal ilmiah, maupun dalam ceramah dan pelajaran-pelajarannya. Sebagai contoh, bukunya yang berjudul Adhwa’ ‘ala Thariqid Da’wah ilal Islam menunjukkan hal tersebut dengan sangat jelas, ditambah lagi dengan kesaksian para ulama bagi beliau dalam hal tersebut sebagaimana nukilan yang telah disebutkan sebelumnya.

Sakit dan Wafat

Di akhir hayatnya, beliau rahimahullah diuji dengan penyakit kronis yang parah hingga membuat beliau terbaring di tempat tidur selama kurang lebih satu tahun. Beliau bersabar dan mengharap pahala (di sisi Allah). Pada Rabu pagi, tanggal 26 Sya’ban tahun 1416 H, beliau menyerahkan jiwanya kepada Sang Pencipta. Jenazah beliau disalatkan setelah Dzuhur dan dimakamkan di… … (dimakamkan di) Baqi al-Gharqad, di Madinah Nabawiyah.

Proses pemakaman beliau dihadiri oleh kerumunan besar yang terdiri dari para ulama, hakim, penuntut ilmu, dan lainnya. Dengan wafatnya beliau, terjadilah sebuah kehilangan besar (kekosongan) di jajaran para ulama yang mengamalkan ilmunya.

Maka kita memohon kepada Allah Ta’ala agar mengampuni beliau, merahmatinya, dan menggantikan bagi kaum muslimin sejumlah ulama yang mengamalkan ilmunya, Amin.


Sumber: Tarjamatu Fadhilati al-Allaamah Muhammad Aman al-Jamiy dari kitab Syarh Asbaab Syarh as-Shodr libnil Qoyyim halaman 22-30

Penerjemah: Abu Utsman Kharisman