Beranda » Latest » Artikel » Fiqh » Kapankah Seseorang Terhitung Mendapatkan Shalat Jumat dan Berjamaah?

Kapankah Seseorang Terhitung Mendapatkan Shalat Jumat dan Berjamaah?

0
mosque-1978985_640

Contoh Keluasan Ilmu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Mengurai Khilaf Ulama

Pertanyaan:

Dengan hal apakah shalat Jumat dan shalat berjamaah itu dapat diperoleh (dianggap mendapati keutamaannya)?

Jawaban Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah:

Para ulama fikih berselisih pendapat mengenai apa yang dengannya shalat Jumat dan shalat berjamaah dapat diperoleh menjadi tiga pendapat:

  • Pendapat Pertama: Keduanya (shalat Jumat dan shalat berjamaah) tidak dapat diperoleh melainkan sekurang-kurangnya dengan mendapati satu rakaat. Ini adalah madzhab Malik, dan salah satu dari dua riwayat dari Ahmad yang dipilih oleh sekelompok sahabatnya. Pendapat ini juga merupakan salah satu pendapat (wajh) dalam madzhab Asy-Syafi’i, serta dipilih oleh sebagian ulama madzhabnya pula seperti Abu Al-Mahasin Ar-Rayyani dan selain beliau.
  • Pendapat Kedua: Keduanya dapat diperoleh hanya dengan takbir (takbiratul ihram). Ini adalah madzhab Abu Hanifah.
  • Pendapat Ketiga: Shalat Jumat tidak dapat diperoleh melainkan dengan satu rakaat, sedangkan shalat berjamaah dapat diperoleh dengan takbir. Pendapat ini adalah pendapat yang masyhur dari madzhab Asy-Syafi’i dan Ahmad.

Pendapat yang shahih adalah pendapat yang pertama, berdasarkan beberapa alasan:

Pertama: Bahwa ukuran takbir tidak pernah dikaitkan oleh Syariat (Asy-Syari’) dengan satu pun dari hukum-hukum, tidak dalam hal batas waktu shalat, tidak dalam shalat Jumat, tidak dalam shalat berjamaah, dan tidak pula pada selainnya. Maka takbir (tanpa rakaat) merupakan kriteria yang gugur (mulgha) dalam pandangan Syariat, sehingga tidak boleh dijadikan sebagai tolok ukur.

Kedua: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah mengaitkan hukum-hukum dengan mendapati satu rakaat. Maka mengaitkannya dengan takbir merupakan pembatalan terhadap apa yang diperhitungkan oleh Syariat, sekaligus memperhitungkan apa yang telah dibatalkan oleh Syariat. Dan semua hal tersebut adalah batil pada perkara yang di dalamnya rakaat diperhitungkan—di mana Syariat mengaitkan status mendapati waktu shalat dengannya.

Disebutkan dalam Ash-Shahihain (Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim) dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Apabila salah seorang dari kalian mendapati satu rakaat dari shalat Asar sebelum matahari terbenam, maka hendaklah ia menyempurnakan shalatnya. Dan apabila ia mendapati satu rakaat dari shalat Subuh sebelum matahari terbit, maka hendaklah ia menyempurnakan shalatnya.”

Adapun lafadz yang terdapat dalam sebagian jalur riwayatnya: “Apabila salah seorang dari kalian mendapati satu sujud…”, maka yang dimaksud darinya adalah rakaat yang sempurna, sebagaimana terdapat pada lafadz yang lain. Hal itu karena satu rakaat yang sempurna terkadang dinamai dengan nama rukuk, lalu dikatakan “satu rakaat”, dan terkadang dinamai dengan nama sujud, lalu dikatakan “satu sujud”. Penggunaan seperti ini banyak terdapat dalam lafadz-lafadz hadits, seperti hadits ini dan selainnya.

Ketiga: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaitkan status mendapati shalat bersama imam dengan satu rakaat, dan ini merupakan nas yang sangat tegas dalam masalah ini.

Disebutkan dalam Ash-Shahihain dari hadits Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya): “Barang siapa yang mendapati satu rakaat dari shalat bersama imam, maka sungguh ia telah mendapati shalat tersebut.”

Dan ini adalah nash yang mengangkat (menghilangkan) perselisihan.

Keempat: Bahwa shalat Jumat tidak dapat diperoleh melainkan dengan satu rakaat, sebagaimana yang difatwakan oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya: Ibn Umar, Ibn Mas’ud, Anas, dan selain mereka. Serta tidak diketahui adanya penjelajah/penyelisihi di antara para sahabat yang menyelisihi mereka.

Sungguh tidak hanya satu ulama yang meriwayatkan bahwa hal tersebut merupakan ijma’ (kesepakatan) para sahabat. Adapun membedakan antara shalat Jumat dan shalat berjamaah adalah hal yang tidak benar. Oleh karena itu, Abu Hanifah konsisten menjalankan kaidahnya (tharrada ashlahu) dan menyamakan antara keduanya, akan tetapi hadits-hadits yang tsabit (shahih) serta atsar para sahabat membatalkan pendapat yang beliau pegang.

Kelima: Bahwa apa yang kurang dari satu rakaat tidaklah dihitung sebagai bagian dari shalat (yang didapati bersama imam), karena ia akan mengahadap (menyelesaikan) seluruh shalatnya secara munfarid (sendirian). Dengan demikian, ia tidak mendapati bersama imam sesuatu yang dihitung sebagai bagian shalat baginya. Ia dan imam tidak berkumpul dalam satu bagian pun dari bagian-bagian shalat yang dihitung untuknya, sehingga shalatnya secara keseluruhan menjadi shalat seorang munfarid.

Hal ini dijelaskan bahwasanya seseorang tidak dianggap mendapati satu rakaat kecuali apabila ia mendapati imam dalam keadaan rukuk. Jika ia mendapati imam setelah rukuk, maka apa yang dilakukannya bersama imam tidak dihitung baginya, meskipun ia telah mendapati berdiri setelah rukuk (i’tidal), sujud, dan duduk di antara dua sujud bersama imam. Akan tetapi, ketika ia kehilangan bagian terbesar dari rakaat tersebut—yaitu berdiri dan rukuk—maka luputlah rakaat itu darinya.

Lantas bagaimana bisa dikatakan bersamaan dengan hal ini bahwa ia telah mendapati shalat bersama jamaah, padahal ia tidak mendapati bersama mereka apa yang dihitung baginya?

Maka, mendapati shalat dengan mendapati satu rakaat adalah serupa dengan mendapati rakaat dengan mendapati rukuk; karena pada kedua tempat tersebut ia telah mendapati apa yang dihitung baginya. Apabila ia tidak mendapati satu rakaat pun dari shalat, maka posisinya sama seperti orang yang tidak mendapati rukuk bersama imam dalam hal luputnya rakaat; karena pada kedua tempat tersebut ia tidak mendapati apa yang dihitung baginya. Dan ini termasuk qiyas (analogi) yang paling shahih.

Keenam: Bahwa berlandaskan pada hal ini: Bahwa seorang musafir apabila bermakmum kepada orang yang muqim (tidak bepergian) dan ia mendapati bersamanya satu rakaat atau lebih dari itu, maka ia wajib menyempurnakan shalatnya (menjadi empat rakaat). Dan jika ia mendapati bersamanya kurang dari satu rakaat, maka ia melakukan shalatnya secara qashar (dua rakaat). Hal ini ditegaskan oleh Imam Ahmad dalam salah satu dari dua riwayat dari beliau.

Hal ini karena dengan mendapati satu rakaat, ia telah bermakmum kepada orang yang muqim dalam sebagian shalatnya sehingga wajib baginya menyempurnakan shalat. Dan apabila ia tidak mendapati bersamanya satu rakaat, maka shalatnya adalah shalat seorang munfarid sehingga ia melaksanakannya secara qashar.

Berlandaskan pada hal ini pula: Bahwa seorang wanita yang haid apabila suci sebelum terbenamnya matahari seukuran waktu satu rakaat, maka wajib baginya mengerjakan shalat Asar. Dan jika ia suci sebelum terbitnya fajar seukuran waktu satu rakaat, maka wajib baginya mengerjakan shalat Isya. Dan jika hal tersebut terjadi dalam durasi kurang dari ukuran satu rakaat, maka tidak ada kewajiban apa pun baginya.

Adapun shalat Dzhuhur (apabila ia suci sebelum terbenam matahari) dan shalat Maghrib (apabila ia suci sebelum terbit fajar), apakah wajib baginya dikerjakan karena hal tersebut? Dalam hal ini terdapat perselisihan yang masyhur: Dikatakan: Tidak wajib baginya, dan ini adalah pendapat Abu Hanifah. Dan dikatakan: Wajib baginya, dan ini adalah madzhab Malik, Asy-Syafi’i, dan Ahmad; serta diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ibn Abbas dan Abdurrahman bin Auf.

Kemudian mereka yang mewajibkan ini berselisih mengenai batas yang menyebabkan shalat pertama itu menjadi wajib dalam dua pendapat:

  • Pendapat pertama: Wajib dengan batas yang menyebabkan shalat kedua wajib. Apakah hal itu seukuran satu rakaat atau seukuran takbir? Terdapat dua pendapat di dalamnya.
  • Pendapat kedua: Tidak wajib kecuali ia mendapati waktu yang cukup luas untuk mengerjakan shalat tersebut, dan pendapat ini adalah yang lebih shahih.

Dan yang mendekati masalah ini adalah perselisihan mereka dalam masalah apabila waktu shalat telah masuk pada wanita tersebut dalam keadaan suci kemudian ia mengalami haid, apakah wajib baginya meng-qadha shalat tersebut ataukah tidak? Terdapat dua pendapat:

  • Pendapat pertama: Tidak wajib baginya meng-qadha, sebagaimana yang dikatakan oleh Malik dan Abu Hanifah.
  • Pendapat kedua: Wajib baginya meng-qadha, sebagaimana yang dikatakan oleh Asy-Syafi’i dan Ahmad.

Kemudian para ulama yang mewajibkan shalat atas wanita tersebut berselisih mengenai apa yang menetapkan kewajiban tersebut dalam dua pendapat:

  • Pendapat pertama: Seukuran takbir, dan ini adalah pendapat yang masyhur dalam madzhab Ahmad.
  • Pendapat kedua: Berlalu waktu yang memungkinkan baginya untuk bersuci dan melaksanakan shalat, dan ini adalah pendapat kedua dalam madzhab Ahmad dan Asy-Syafi’i.

Kemudian mereka berselisih setelah itu: Apakah wajib baginya mengerjakan shalat kedua dari dua shalat yang digabung (jam’) bersama shalat yang pertama? Terdapat dua pendapat, dan keduanya merupakan dua riwayat dari Imam Ahmad.

Pendapat yang lebih tampak (al-azhar) berdasarkan dalil adalah madzhab Abu Hanifah dan Malik, bahwasanya tidak ada kewajiban apa pun atas wanita tersebut (untuk meng-qadha); karena qadha itu hanyalah wajib dengan adanya perintah baru (amr jadid), sedangkan di sini tidak ada perintah yang mewajibkannya meng-qadha. Dan juga karena wanita tersebut melambatkan shalat dengan pengakhiran yang diperbolehkan, sehingga ia tidak termasuk orang yang meremehkan/melalaikan (ghairu mufarrithah).

Adapun orang yang tidur atau lupa—meskipun ia tidak termasuk orang yang meremehkan/melalaikan juga—maka apa yang ia lakukan bukanlah qadha, melainkan hal tersebut merupakan waktu shalat yang sebenarnya dalam hak mereka ketika mereka terbangun dan ingat.

Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Barang siapa yang tertidur dari suatu shalat atau melupakannya, maka hendaklah ia mendoakannya/melaksanakannya ketika ia ingat, karena sesungguhnya itulah waktunya.”

Dan tidak ada satu hadits pun dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai qadha shalat setelah keluar waktunya. Sunnah yang ada hanyalah perintah mengulang shalat (al-i’adah) di dalam waktunya bagi orang yang meninggalkan salah satu kewajiban dari kewajiban-kewajiban shalat, seperti perintah beliau kepada orang yang buruk shalatnya (al-musii’ fi shalaatih) untuk mengulang shalatnya ketika ia meninggalkan tumaninah yang diperintahkan, dan seperti perintah beliau kepada orang yang shalat di belakang saf secara sendirian untuk mengulang shalatnya ketika ia meninggalkan lurus/bersatunya saf (al-mushaffah) yang wajib, dan seperti perintah beliau kepada orang yang meninggalkan seukuran anggota tubuh pada kakinya yang tidak terkena air untuk mengulang shalatnya ketika ia meninggalkan wudu yang diperintahkan.

Dan beliau memerintahkan orang yang tidur dan orang yang lupa untuk melaksanakan shalat ketika mereka ingat, dan hal tersebut merupakan waktu shalat dalam hak mereka berdua.

Wallahu subhanahu wa ta’ala a’lam.

Sumber: Al-Fatawa Al-Kubra karya Ibn Taimiyyah, 2/300-303

Naskah dalam Bahasa Arab

سُئِلَ شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله تعالى عَمَّا تُدْرَكُ بِهِ الْجُمُعَةُ وَالْجَمَاعَةُ؟

الْجَوَابُ: اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِيمَا تُدْرَكُ بِهِ الْجُمُعَةُ وَالْجَمَاعَةُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَقْوَالٍ: أَحَدُهَا: أَنَّهُمَا لَا يُدْرَكَانِ إلَّا بِرَكْعَةٍ، وَهُوَ مَذْهَبُ مَالِكٍ، وَأَحْمَدَ فِي إحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ عَنْهُ اخْتَارَهَا جَمَاعَةٌ مِنْ أَصْحَابِهِ، وَهُوَ وَجْهٌ فِي مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ، وَاخْتَارَهُ بَعْضُ أَصْحَابِهِ أَيْضًا كَأَبِي الْمَحَاسِنِ الرَّيَّانِيِّ، وَغَيْرِهِ.
وَالْقَوْلُ الثَّانِي: أَنَّهُمَا يُدْرَكَانِ بِتَكْبِيرَةٍ، وَهُوَ مَذْهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ.
وَالْقَوْلُ الثَّالِثُ: أَنَّ الْجُمُعَةَ لَا تُدْرَكُ إلَّا بِرَكْعَةٍ، وَالْجَمَاعَةُ تُدْرَكُ بِتَكْبِيرَةٍ، وَهَذَا
الْقَوْلُ هُوَ الْمَشْهُورُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ، وَأَحْمَدَ، وَالصَّحِيحُ هُوَ الْقَوْلُ الْأَوَّلُ؛ لِوُجُوهٍ: أَحَدُهَا: أَنَّ قَدْرَ التَّكْبِيرَةِ لَمْ يُعَلِّقْ بِهِ الشَّارِعُ شَيْئًا مِنْ الْأَحْكَامِ، لَا فِي الْوَقْتِ، وَلَا فِي الْجُمُعَةِ، وَلَا الْجَمَاعَةِ، وَلَا غَيْرِهَا.
فَهُوَ وَصْفٌ مُلْغًى فِي نَظَرِ الشَّارِعِ، فَلَا يَجُوزُ اعْتِبَارُهُ.
الثَّانِي: أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم إنَّمَا عَلَّقَ الْأَحْكَامَ بِإِدْرَاكِ الرَّكْعَةِ، فَتَعْلِيقُهَا بِالتَّكْبِيرَةِ إلْغَاءٌ لِمَا اعْتَبَرَهُ، وَاعْتِبَارٌ لِمَا أَلْغَاهُ، وَكُلُّ ذَلِكَ فَاسِدٌ فِيمَا اُعْتُبِرَ فِيهِ الرَّكْعَةُ – وَعَلَّقَ الْإِدْرَاكَ بِهَا فِي الْوَقْتِ.
فَفِي الصَّحِيحَيْنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: «إذَا أَدْرَكَ أَحَدُكُمْ رَكْعَةً مِنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَلْيُتِمَّ صَلَاتَهُ، وَإِذَا أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَلْيُتِمَّ صَلَاتَهُ» .
وَأَمَّا مَا فِي بَعْضِ طُرُقِهِ: «إذَا أَدْرَكَ أَحَدُكُمْ سَجْدَةً» فَالْمُرَادُ بِهَا الرَّكْعَةُ التَّامَّةُ، كَمَا فِي اللَّفْظِ الْآخَرِ؛ وَلِأَنَّ الرَّكْعَةَ التَّامَّةَ تُسَمَّى بِاسْمِ الرُّكُوعِ، فَيُقَالُ: رَكْعَةٌ، وَبِاسْمِ السُّجُودِ فَيُقَالُ سَجْدَةٌ، وَهَذَا كَثِيرٌ فِي أَلْفَاظِ الْحَدِيثِ، مِثْلَ هَذَا الْحَدِيثِ وَغَيْرِهِ.
الثَّالِثُ: أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم عَلَّقَ الْإِدْرَاكَ مَعَ الْإِمَامِ بِرَكْعَةٍ، وَهُوَ نَصٌّ فِي الْمَسْأَلَةِ.
فَفِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم: «مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنْ الصَّلَاةِ مَعَ الْإِمَامِ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ» وَهَذَا نَصٌّ رَافِعٌ لِلنِّزَاعِ.
الرَّابِعُ: أَنَّ الْجُمُعَةَ لَا تُدْرَكُ إلَّا بِرَكْعَةٍ، كَمَا أَفْتَى بِهِ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: مِنْهُمْ ابْنُ عُمَرَ، وَابْنُ مَسْعُودٍ، وَأَنَسٌ وَغَيْرُهُمْ. وَلَا يُعْلَمُ لَهُمْ فِي الصَّحَابَةِ مُخَالِفٌ.
وَقَدْ حَكَى غَيْرُ وَاحِدٍ أَنَّ ذَلِكَ إجْمَاعُ الصَّحَابَةِ، وَالتَّفْرِيقُ بَيْنَ الْجُمُعَةِ وَالْجَمَاعَةِ غَيْرُ صَحِيحٍ؛ وَلِهَذَا أَبُو حَنِيفَةَ طَرَدَ أَصْلَهُ، وَسَوَّى بَيْنَهُمَا، وَلَكِنَّ الْأَحَادِيثَ الثَّابِتَةَ، وَآثَارَ الصَّحَابَةِ تُبْطِلُ مَا ذَهَبَ إلَيْهِ.
الْخَامِسُ: أَنَّ مَا دُونَ الرَّكْعَةِ لَا يُعْتَدُّ بِهِ مِنْ الصَّلَاةِ، فَإِنَّهُ يَسْتَقْبِلُهَا جَمِيعَهَا مُنْفَرِدًا، فَلَا يَكُونُ قَدْ أَدْرَكَ مَعَ الْإِمَامِ شَيْئًا يُحْتَسَبُ لَهُ بِهِ، فَلَا يَكُونُ قَدْ اجْتَمَعَ هُوَ وَالْإِمَامُ فِي جُزْءٍ مِنْ أَجْزَاءِ الصَّلَاةِ يُعْتَدُّ لَهُ بِهِ، فَتَكُونُ صَلَاتُهُ جَمِيعًا صَلَاةَ مُنْفَرِدٍ.
يُوَضِّحُ هَذَا أَنَّهُ لَا يَكُونُ مُدْرِكًا لِلرَّكْعَةِ إلَّا إذَا أَدْرَكَ الْإِمَامَ فِي الرُّكُوعِ، وَإِذَا أَدْرَكَهُ بَعْدَ الرُّكُوعِ لَمْ يَعْتَدَّ لَهُ بِمَا فَعَلَهُ مَعَهُ، مَعَ أَنَّهُ قَدْ أَدْرَكَ مَعَهُ الْقِيَامَ مِنْ الرُّكُوعِ وَالسُّجُودَ، وَجَلْسَةَ الْفَصْلِ، وَلَكِنْ لَمَّا فَاتَهُ مُعْظَمُ الرَّكْعَةِ وَهُوَ الْقِيَامُ وَالرُّكُوعُ فَاتَتْهُ الرَّكْعَةُ، فَكَيْفَ يُقَالُ مَعَ هَذَا أَنَّهُ قَدْ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ مَعَ الْجَمَاعَةِ، وَهُوَ لَمْ يُدْرِكْ مَعَهُمْ مَا يُحْتَسَبُ لَهُ بِهِ، فَإِدْرَاكُ الصَّلَاةِ بِإِدْرَاكِ الرَّكْعَةِ، نَظِيرُ إدْرَاكِ الرَّكْعَةِ بِإِدْرَاكِ الرُّكُوعِ؛ لِأَنَّهُ فِي الْمَوْضُوعَيْنِ قَدْ أَدْرَكَ مَا يُعْتَدُّ لَهُ بِهِ، وَإِذَا لَمْ يُدْرِكْ مِنْ الصَّلَاةِ رَكْعَةً كَانَ كَمَنْ لَا يُدْرِكُ الرُّكُوعَ مَعَ الْإِمَامِ فِي فَوْتِ الرَّكْعَةِ؛ لِأَنَّهُ فِي الْمَوْضِعَيْنِ لَمْ يُدْرِكْ مَا يُحْتَسَبُ لَهُ بِهِ، وَهَذَا مِنْ أَصَحِّ الْقِيَاسِ.
السَّادِسُ: أَنَّهُ يَنْبَنِي عَلَى هَذَا: أَنَّ الْمُسَافِرَ إذَا ائْتَمَّ بِمُقِيمٍ وَأَدْرَكَ مَعَهُ رَكْعَةً فَمَا فَوْقَهَا فَإِنَّهُ يُتِمُّ الصَّلَاةَ، وَإِنْ أَدْرَكَ مَعَهُ أَقَلَّ مِنْ رَكْعَةٍ صَلَّاهَا مَقْصُورَةً، نَصَّ عَلَيْهِ الْإِمَامُ أَحْمَدُ فِي إحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ عَنْهُ، وَهَذَا لِأَنَّهُ بِإِدْرَاكِ الرَّكْعَةِ قَدْ ائْتَمَّ بِمُقِيمٍ فِي جُزْءٍ مِنْ صَلَاتِهِ فَلَزِمَهُ الْإِتْمَامُ، وَإِذَا لَمْ يُدْرِكْ مَعَهُ رَكْعَةً فَصَلَاتُهُ صَلَاةُ مُنْفَرِدٍ فَيُصَلِّيهَا مَقْصُورَةً.
وَيُبْنَى عَلَيْهِ أَيْضًا أَنَّ الْمَرْأَةَ الْحَائِضَ إذَا طَهُرَتْ قَبْلَ غُرُوبِ الشَّمْسِ بِقَدْرِ رَكْعَةٍ لَزِمَهَا الْعَصْرُ، وَإِنْ طَهُرَتْ قَبْلَ الْفَجْرِ بِقَدْرِ رَكْعَةٍ لَزِمَهَا الْعِشَاءُ.
وَإِنْ حَصَلَ ذَلِكَ بِأَقَلَّ مِنْ مِقْدَارِ رَكْعَةٍ لَمْ يَلْزَمْهَا شَيْءٌ.
وَأَمَّا الظُّهْرُ وَالْمَغْرِبُ، فَهَلْ يَلْزَمُهَا بِذَلِكَ؟ فِيهِ خِلَافٌ مَشْهُورٌ؟ فَقِيلَ: لَا يَلْزَمُهَا وَهُوَ قَوْلُ أَبِي حَنِيفَةَ.
وَقِيلَ: يَلْزَمُهَا وَهُوَ مَذْهَبُ مَالِكٍ، وَالشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ، وَرَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ، وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ.
ثُمَّ اخْتَلَفَ هَؤُلَاءِ فِيمَا تَلْزَمُ بِهِ الصَّلَاةُ الْأُولَى عَلَى قَوْلَيْنِ: أَحَدُهُمَا: تَجِبُ بِمَا تَجِبُ بِهِ الثَّانِيَةُ، وَهَلْ هُوَ رَكْعَةٌ؟ أَوْ تَكْبِيرَةٌ؟ عَلَى قَوْلَيْنِ: وَالثَّانِي: لَا تَجِبُ، إلَّا بِأَنْ تُدْرِكَ زَمَنًا يَتَّسِعُ لِفِعْلِهَا، وَهُوَ أَصَحُّ.
وَقَرِيبٌ مِنْ هَذَا اخْتِلَافُهُمْ فِيمَا إذَا دَخَلَ عَلَيْهَا الْوَقْتُ وَهِيَ طَاهِرَةٌ ثُمَّ حَاضَتْ، هَلْ يَلْزَمُهَا قَضَاءُ الصَّلَاةِ أَمْ لَا؟ عَلَى قَوْلَيْنِ: أَحَدُهُمَا: لَا يَلْزَمُهَا، كَمَا يَقُولُهُ مَالِكٌ، وَأَبُو حَنِيفَةَ.
وَالثَّانِي: يَلْزَمُهَا، كَمَا يَقُولُهُ الشَّافِعِيُّ، وَأَحْمَدُ.
ثُمَّ اخْتَلَفَ الْمُوجِبُونَ عَلَيْهَا الصَّلَاةَ فِيمَا يَسْتَقِرُّ بِهِ الْوُجُوبُ عَلَى قَوْلَيْنِ: أَحَدُهُمَا: قَدْرُ تَكْبِيرَةٍ، وَهُوَ الْمَشْهُورُ فِي مَذْهَبِ أَحْمَدَ.
وَالثَّانِي: أَنْ يَمْضِيَ عَلَيْهَا زَمَنٌ تَتَمَكَّنُ فِيهِ مِنْ الطَّهَارَةِ وَفِعْلِ الصَّلَاةِ، وَهُوَ الْقَوْلُ الثَّانِي فِي مَذْهَبِ أَحْمَدَ وَالشَّافِعِيِّ.
ثُمَّ اخْتَلَفُوا بَعْدَ ذَلِكَ: هَلْ يَلْزَمُهَا فِعْلُ الثَّانِيَةِ مِنْ الْمَجْمُوعَتَيْنِ مَعَ الْأُولَى؟ عَلَى قَوْلَيْنِ، وَهُمَا رِوَايَتَانِ عَنْ الْإِمَامِ أَحْمَدَ.
وَالْأَظْهَرُ فِي الدَّلِيلِ مَذْهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ وَمَالِكٍ أَنَّهَا لَا يَلْزَمُهَا شَيْءٌ؛ لِأَنَّ الْقَضَاءَ إنَّمَا يَجِبُ بِأَمْرٍ جَدِيدٍ، وَلَا أَمْرَ هُنَا يَلْزَمُهَا بِالْقَضَاءِ، وَلِأَنَّهَا أَخَّرَتْ تَأْخِيرًا جَائِزًا فَهِيَ غَيْرُ مُفَرِّطَةٍ، وَأَمَّا النَّائِمُ أَوْ النَّاسِي – وَإِنْ كَانَ غَيْرَ مُفَرِّطٍ أَيْضًا – فَإِنَّ مَا يَفْعَلُهُ لَيْسَ قَضَاءً، بَلْ ذَلِكَ وَقْتُ الصَّلَاةِ فِي حَقِّهِ حِينَ يَسْتَيْقِظُ وَيَذْكُرُ، كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: «مَنْ نَامَ عَنْ صَلَاةٍ أَوْ نَسِيَهَا فَلْيُصَلِّهَا إذَا ذَكَرَهَا فَإِنَّ ذَلِكَ وَقْتُهَا» وَلَيْسَ عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم حَدِيثٌ وَاحِدٌ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ بَعْدَ وَقْتِهَا، وَإِنَّمَا وَرَدَتْ السُّنَّةُ بِالْإِعَادَةِ فِي الْوَقْتِ لِمَنْ تَرَكَ وَاجِبًا مِنْ وَاجِبَاتِ الصَّلَاةِ كَأَمْرِهِ لِلْمُسِيءِ فِي صَلَاتِهِ بِالْإِعَادَةِ لَمَّا تَرَكَ الطُّمَأْنِينَةَ الْمَأْمُورَ بِهَا، وَكَأَمْرِهِ لِمَنْ صَلَّى خَلْفَ الصَّفِّ مُنْفَرِدًا بِالْإِعَادَةِ لَمَّا تَرَكَ الْمُصَافَّةَ الْوَاجِبَةَ، وَكَأَمْرِهِ لِمَنْ تَرَكَ لُمْعَةً مِنْ قَدَمِهِ لَمْ يُصِبْهَا الْمَاءُ بِالْإِعَادَةِ لَمَّا تَرَكَ الْوُضُوءَ الْمَأْمُورَ بِهِ وَأَمَرَ النَّائِمَ وَالنَّاسِيَ بِأَنْ يُصَلِّيَا إذَا ذَكَرَا، وَذَلِكَ هُوَ الْوَقْتُ فِي حَقِّهِمَا وَاَللَّهُ سبحانه وتعالى أَعْلَمُ.

الفتاوى الكبرى لابن تيمية 2\300-303