Beranda » Latest » Artikel » Roqoiq » Titik Balik Kesadaran: Saat Manusia Berhenti Menyalahkan Keadaan, Mengenal Dirinya, dan Merasakan Berlimpah Kebaikan Tuhannya

Titik Balik Kesadaran: Saat Manusia Berhenti Menyalahkan Keadaan, Mengenal Dirinya, dan Merasakan Berlimpah Kebaikan Tuhannya

0
Photo by k-e-k-u-l-é

Ibnul Qoyyim rahimahullah menyatakan:

Pasal: Beruntunglah Orang Yang Berlaku Adil Kepada Rabbnya, Lalu Ia Mengakui Kebodohan Dalam Dirinya, Berbagai Penyakit/Cacat Dalam Amalnya, Aib-Aib Pada Dirinya, Sikap Menyia-Nyiakan Dalam Hak-Nya, Serta Kezaliman Dalam Interaksinya Dengan-Nya.

Jika Allah menghukumnya karena dosa-dosanya, ia melihat itu sebagai keadilan-Nya.

Jika Allah tidak menghukumnya karena dosa-dosa tersebut, ia melihat itu sebagai karunia-Nya.

Jika ia beramal baik, ia melihat amal itu berasal dari anugerah dan sedekah (pemberian) Allah kepadanya.

Jika Allah menerimanya, maka itu adalah anugerah dan sedekah yang kedua.

Jika Allah menolaknya, maka itu dikarenakan amal tersebut tidak layak untuk dijadikan sarana menghadap kepada-Nya.

Jika ia melakukan keburukan (dosa), ia melihat hal itu terjadi karena Allah membiarkannya, meninggalkannya, serta menahan penjagaan-Nya dari dirinya; dan yang demikian itu adalah keadilan Allah terhadapnya. Melalui hal itu, ia menyadari kefakirannya kepada Rabbnya dan kezalimannya terhadap dirinya sendiri.

Jika Allah mengampuni dosa tersebut, maka itu semata-mata karena kebaikan, kemurahan, dan kemuliaan-Nya.

Inti dan rahasia permasalahan ini: Bahwa ia tidak melihat Rabbnya kecuali sebagai Zat yang Maha Baik (Muhsin), dan ia tidak melihat dirinya sendiri kecuali sebagai orang yang berbuat buruk, melalaikan kewajiban, atau meremehkan.

Oleh karena itu:

Setiap hal yang menyenangkan dirinya, ia pandang sebagai karunia Rabbnya dan kebaikan-Nya kepada dirinya.

Setiap hal yang menyusahkan dirinya, ia pandang berasal dari dosa-dosanya sendiri dan keadilan Allah terhadapnya.

Para pencinta (hamba-hamba yang mencintai Allah), apabila rumah-rumah orang yang mereka cintai telah runtuh dan hancur, mereka akan berkata: “Semoga curahan hujan menyirami para penghuninya!”

Demikian pula seorang pencinta (hamba yang mencintai Allah); apabila telah berlalu tahunan lamanya ia berada di bawah tanah (di alam kubur), saat itulah ia mengenang kebaikan ketaatannya di dunia, kasih sayang Allah kepadanya, terbaharuinya rahmat-Nya, serta curahan rahmat bagi siapa saja yang dahulu menjadi penghuni jasad-jasad yang kini telah hancur lebur tersebut.

(al-Fawaid 1/33)

Naskah dalam Bahasa Arab

قال ابن القيم رحمه الله تعالى في الفوائد:
فَصْلٌ: طُوبَى لِمَنْ أَنْصَفَ رَبَّهُ، فَأَقَرَّ لَهُ بِالْجَهْلِ فِي عِلْمِهِ، وَالْآفَاتِ فِي عَمَلِهِ، وَالْعُيُوبِ فِي نَفْسِهِ، وَالتَّفْرِيطِ فِي حَقِّهِ، وَالظُّلْمِ فِي مُعَامَلَتِهِ؛ فَإِنْ آخَذَهُ بِذُنُوبِهِ رَأَى عَدْلَهُ، وَإِنْ لَمْ يُؤَاخِذْهُ بِهَا رَأَى فَضْلَهُ.
وَإِنْ عَمِلَ حَسَنَةً رَأَاهَا مِنْ مِنَّتِهِ وَصَدَقَتِهِ عَلَيْهِ، فَإِنْ قَبِلَهَا فَمِنَّةٌ وَصَدَقَةٌ ثَانِيَةٌ، وَإِنْ رَدَّهَا فَلِكَوْنِ مِثْلِهَا لَا يَصْلُحُ أَنْ يُوَاجَهَ بِهِ. وَإِنْ عَمِلَ سَيِّئَةً رَأَاهَا مِنْ تَخَلُّيهِ عَنْهُ وَخِذْلَانِهِ لَهُ وَإِمْسَاكِ عِصْمَتِهِ عَنْهُ، وَذَلِكَ مِنْ عَدْلِهِ فِيهِ، فَيَرَى فِي ذَلِكَ فَقْرَهُ إِلَى رَبِّهِ وَظُلْمَهُ فِي نَفْسِهِ، فَإِنْ غَفَرَهَا لَهُ فَبِمَحْضِ إِحْسَانِهِ وَجُودِهِ وَكَرَمِهِ.
وَنُكْتَةُ الْمَسْأَلَةِ وَسِرُّهَا: أَنَّهُ لَا يَرَى رَبَّهُ إِلَّا مُحْسِنًا، وَلَا يَرَى نَفْسَهُ إِلَّا مُسِيئًا أَوْ مُفَرِّطًا أَوْ مُقَصِّرًا، فَيَرَى كُلَّ مَا يَسُرُّهُ مِنْ فَضْلِ رَبِّهِ عَلَيْهِ وَإِحْسَانِهِ إِلَيْهِ، وَكُلَّ مَا يَسُوءُهُ مِنْ ذُنُوبِهِ وَعَدْلِ اللهِ فِيهِ.
الْمُحِبُّونَ إِذَا خَرِبَتْ مَنَازِلُ أَحِبَّائِهِمْ قَالُوا: «سُقْيًا لِسُكَّانِهَا!»، وَكَذَلِكَ الْمُحِبُّ إِذَا أَتَتْ عَلَيْهِ الْأَعْوَامُ تَحْتَ التُّرَابِ، ذَكَرَ حِينَئِذٍ حُسْنَ طَاعَتِهِ فِي الدُّنْيَا وَتَوَدُّدَهُ إِلَيْهِ، وَتَجَدُّدَ رَحْمَتِهِ وَسُقْيَاهُ لِمَنْ كَانَ سَاكِنًا فِي تِلْكَ الْأَجْسَامِ الْبَالِيَةِ.

Penerjemah: Abu Utsman Kharisman