Beranda » Latest » Artikel » Fiqh » Sakit Saat Umrah, Apakah Ihram Otomatis Batal?
traditional-islamic-mosque-among-palm-trees-sunny-weather

Pertanyaan:

Pertanyaan terakhir darinya, pertanyaan dari Shalih: “Apa hukum orang yang sakit setelah berniat umrah dan haji secara tamattu’, lalu ia sakit setelah tiba di Makkah, dan ia mengenakan pakaian biasa (berjahit) karena sakitnya tersebut?”

Jawaban Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah:

Hukumnya adalah ia tetap berada dalam keadaan ihramnya, selama ia telah berihram untuk umrah dan haji atau untuk umrah saja dengan maksud tamattu’ hingga haji, kemudian ia sakit setelah memasuki Makkah.

Hukumnya ia tetap dalam keadaan ihram. Jika Allah telah menyembuhkannya, wajib baginya untuk bertawaf dan bersa’i.

Ia juga wajib melepas pakaian yang berjahit dan kembali mengenakan izar (kain sarung ihram) serta rida’ (kain atasan ihram). Kecuali jika dokter menyatakan bahwa ia membutuhkan penghangat sehingga perlu menutup kepala atau mengenakan pakaian berjahit, maka hal itu tidak mengapa. Namun, ia wajib membayar fidyah, yaitu:

  • Memberi makan 6 orang miskin, atau

  • Menyembelih seekor kambing, atau

  • Berpuasa selama 3 hari.

Fidyah ini berlaku atas pelanggaran mengenakan pakaian berjahit, dan begitu pula atas pelanggaran menutup kepala jika ia menutupnya karena kebutuhan akibat sakit.

Semua ketentuan di atas berlaku jika ia tidak mengucapkan syarat (isytirat) saat berihram. Adapun jika ia mengucapkan syarat, misalnya mengatakan:

“Jika aku terhalang oleh suatu penghalang, maka tempat tahallulku adalah di mana Engkau menahanku.” (Fain habasani habisun fa mahillii haitsu habastani)

Maka dalam kondisi ini, jika ia ditimpa penyakit yang menghalanginya untuk menyelesaikan manasik, ia boleh bertahallul dan tidak dikenakan sanksi/fidyah apa pun, karena ia telah mensyaratkannya.

Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda kepada Dhuba’ah binti Az-Zubair (putri dari paman beliau, Az-Zubair bin Abdul Muthallib) ketika beliau mengunjunginya dalam keadaan sakit dan Dhuba’ah berkata: “Wahai Rasulullah, sungguh aku ingin berhaji?” Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Berhajilah dan ucapkanlah syarat: ‘Bahwa tempat tahallulku adalah di mana Engkau menahanku’.”

Para ulama menjelaskan maknanya: Jika seorang wanita atau pria mensyaratkan dalam ihramnya bahwa tempat bertahallulnya adalah di mana ia terhalang, atau mengucapkan: “Jika aku terhalang oleh suatu penghalang, maka tempat tahallulku adalah di mana Engkau menahanku”, atau mengatakan: “Jika aku terhalang oleh suatu penghalang, maka aku telah bebas (bertahallul)”, atau ungkapan senada lainnya; maka apabila ia terhalang oleh suatu penghalang seperti sakit, kehabisan/kehilangan bekal, atau hal semisal yang menghalanginya dari berhaji, ia diperbolehkan untuk bertahallul (bebas dari ihram). Na’am.

Sumber: Program Fatwa Radio: Nur ‘ala ad-Darb

Transkrip dalam Bahasa Arab

السؤال: سؤاله الأخير، سؤال صالح يقول: ما حكم من مرض بعد نية العمرة والحج متمتعًا؟ ومرض بعد وصوله مكة، ولبس ثيابه لمرضه؟

أجاب عنه الشيخ عبدالعزيز بن عبد الله بن باز رحمه الله تعالى

حكمه أنه لا يزال في إحرامه، ما دام أحرم بالعمرة والحج أو بالعمرة، قاصدًا التمتع بها إلى الحج، ثم مرض بعد دخوله مكة، حكمه أنه لا يزال في إحرامه، وعليه إذا شفاه الله أن يطوف ويسعى، وعليه أن يزيل الملابس المخيط، ويبقى في الإزار والرداء، إلا إذا قال الطبيب: إنه يحتاج إلى التدفئة، ويغطي رأسه، ويلبس لباسًا، يعني: مخيطًا، فلا بأس، وعليه الفدية، وهي إطعام ستة مساكين، أو ذبح شاة، أو صوم ثلاثة أيام كما تقدم، عن اللبس، وهكذا عن تغطية الرأس إذا غطاه لحاجته، للمرض

هذا كله إذا كان لم يستثن، أما إذا كان استثنى، قال: فإن حبسني حابس؛ فمحلي حيث حبستني؛ فإنه يحل، ولا شيء عليه، أصابه مرض يمنعه من أداء النسك، فإنه يتحلل، ولا شيء عليه؛ لأنه اشترط

والنبي قال لـضباعة بنت الزبير، بنت عمه الزبير بن عبدالمطلب؛ لما دخل عليها وهي شاكية، وقالت: يا رسول الله، إني أريد الحج؟ قال: حجي واشترطي: أن محلي حيث حبستني قال العلماء: معناه: أنه إذا اشترطت المرأة، أو اشترط الرجل في إحرامه أن محله حيث يحبس، أو فإن حبسني حابس؛ فمحلي حيث حبستني، أو قال: فإن حبسني حابس؛ فأنا حلال، أو فأنا في حل، أو ما أشبهها من العبارات، فإنه إذا حبسه حابس من مرض، أو ضياع نفقة، أو ما أشبه ذلك مما يمنعه من الحج، فإنه يحل، نعم

نور على الدرب

Penerjemah: Abu Utsman Kharisman