Di Balik Ruang Kelas TK: Ketika Hiburan Bertabrakan dengan Nilai Agama

Pertanyaan:
“Di negara kami, Kuwait, terdapat sebuah Taman Kanak-kanak (TK). Di TK ini diadakan kegiatan musik dan tarian untuk anak-anak. Apakah seseorang berdosa jika memasukkan anak-anaknya ke sana atau tidak?”
Jawaban Syaikh Ibn Utsaimin (rahimahullah ta’ala):
“Seseorang berdosa jika memasukkan anak-anaknya ke TK tersebut, karena tarian dan musik adalah haram.
Saya menyampaikan pesan kepada para pihak yang bertanggung jawab atas TK-TK ini agar bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap anak-anak kaum Muslimin, dan agar tidak membiasakan mereka dengan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Sesungguhnya alat musik (ma’azif) adalah haram, berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya dari Abu Malik Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : ‘Sungguh akan ada kaum dari umatku yang menghalalkan kemaluan yang haram, sutra, khamar, dan alat-alat musik.’
Mengenai al-hir, para ulama menjelaskan maknanya adalah zina. Sutra sudah maklum keharamannya bagi kaum lelaki. Khamar sudah maklum keharamannya berdasarkan Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijma’.
Adapun ma’azif adalah alat-alat musik yang melalaikan, dan hukumnya haram.
Oleh karena itu, para pengelola TK-TK ini wajib bertakwa kepada Allah, melarang penggunaan alat musik dan tarian, serta mempersiapkan para pemuda umat Islam untuk berjihad dan meninggikan kalimat Allah.
Bagaimana mungkin hati seseorang bisa merasa tenang atau jiwanya bisa tenteram, sementara saudara-saudara mereka di Bosnia dan Herzegovina sedang disembelih, anak-anak dimasukkan ke dalam alat pengaduk semen lalu diaduk layaknya adonan semen, dan kehormatan para gadis dilecehkan? Di manakah letak Islam di dalam hati kita? Di manakah letak Islam pada suatu kaum yang mendidik anak-anak mereka di atas apa yang diharamkan oleh Allah, padahal mereka mengetahui apa yang dilakukan terhadap saudara-saudara mereka di berbagai belahan dunia?
Namun, sangat disayangkan, sebagian hati manusia telah menjadi keras—wal ‘iyadzubillah—hingga menjadi seperti batu atau bahkan lebih keras lagi, kita memohon keselamatan kepada Allah.
Kepada mereka saya katakan: Hendaklah mereka bertakwa kepada Allah terhadap diri mereka sendiri dan terhadap para pemuda kaum Muslimin, serta didiklah mereka dengan didikan Islami.
Adapun kepada masyarakat (orang tua), saya menasihati dan memperingatkan mereka agar tidak memasukkan anak-anak mereka ke TK-TK tersebut. Sesungguhnya mereka berdosa dan turut membantu dalam perbuatan dosa dan permusuhan.
Hampir-hampir saja anak-anak mereka tidak berbakti kepada mereka ketika dewasa, dan tidak mendoakan mereka ketika mereka meninggal dunia. Karena mereka telah mendurhakai Allah Azza wa Jalla dalam urusan anak-anak tersebut, maka dikhawatirkan Allah akan menjadikan anak-anak itu mendurhakai orang tua mereka—sebagaimana orang tua mereka telah mendurhakai Allah dalam mendidik anak—serta menguasakan anak-anak itu untuk melawan mereka.
Saya tegaskan: Semoga Allah memberkahimu, tidak boleh memasukkan anak-anakmu ke TK-TK tersebut.
Saya katakan pula: Jika memang hal itu sangat diperlukan dan harus ada, maka hendaknya para orang tua mengumpulkan dana untuk mendirikan taman kanak-kanak (TK) dengan biaya mereka sendiri, yang di dalamnya terdapat adab-adab Islam, akhlak yang mulia, serta pendidikan yang mengarahkan mereka kepada kebaikan. Hal ini bukanlah sesuatu yang sulit—walhamdulillah—bagi orang-orang yang berada di negara seperti Kuwait. Mereka memiliki kekayaan dan harta yang luas yang hanya diketahui oleh Allah.
Kemudian, menjadi kewajiban saudara-saudara kita di Kuwait—dan juga kita semua—untuk mengambil pelajaran dari apa yang terjadi dua tahun lalu, di mana Allah menguasakan kepada kita para tetangga yang seharusnya bersama kita, tetapi justru berbalik melawan kita.
Mengapa kita tidak mengambil pelajaran? Dan apakah kita sekarang merasa aman jika suatu saat nanti bencana seperti ini, atau yang lebih besar lagi, akan terjadi?
Tidak boleh sama sekali kita melupakan bencana ini, agar tidak menimpa kita firman Allah Ta’ala (yang artinya): ‘Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami bukakanlah bagi mereka pintu-pintu segala sesuatu; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. Maka orang-orang yang zhalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.’ (QS. Al-An’am: 44-45).
Tidak boleh pula kita menyifatkan diri kita dengan sifat orang-orang yang difirmankan oleh Allah tentang mereka (yang artinya) : ‘Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika siksaan Kami datang menimpa mereka? Bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan setan telah menjadikan terasa indah bagi mereka apa yang selalu mereka kerjakan.’ (QS. Al-An’am: 43).”
Sumber: Silsilah Liqa’at Al-Bab Al-Maftuh, Pertemuan ke-40.
Transkrip dalam Bahasa Arab
السؤال: عندنا في الكويت روضة للأطفال، وهذه الروضة يقام فيها موسيقى ورقص للأطفال، فهل يأثم الإنسان إذا أدخل أولاده أم لا لا يأثم؟
أجاب عنه الشيخ ابن عثيمين رحمه الله تعالى
يأثم الإنسان إذا أدخل أولاده هذه الروضة؛ لأن الرقص والموسيقى حرام، وإنني أوجه كلمتي إلى المسئولين عن هذه الرياض بأن يتقوا الله -سبحانه وتعالى- في أطفال المسلمين، وألا يعودوهم على ما حرم الله ورسوله، فإن المعازف حرام لما رواه البخاري في صحيحه عن أبي مالك الأشعري -رضي الله عنه- أن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال:« ليكونن أقوام من أمتي يستحلون الحِرَ والحرير والخمر والمعازف» الحِر قال العلماء يعني: الزنا، والحرير معروف أنه حرام على الرجال، والخمر معروف أنه حرام بالكتاب والسنة والإجماع، والمعازف هي: آلات اللهو وهي حرام. فعلى القائمين على هذه الرياض أن يتقوا الله، وأن يمنعوا المعازف والرقص، وأن يعدوا شباب الأمة الإسلامية للجهاد وإعلاء كلمة الله، وكيف يطيب للإنسان قلب، أو تطمئن له نفس وإخوانه في البوسنة والهرسك يذبحون، ويُجعل الأطفال في خلاطات الإسمنت يخلطون خلط الإسمنت، وتنتهك أعراض الفتيات، أين الإسلام في قلوبنا؟ وأين الإسلام في قوم يربون أولادهم على ما حرم الله وهم يعلمون ما يفعل بإخوانهم في أقطار الدنيا؟ ولكن مع الأسف أن بعض الناس قسا قلبه والعياذ بالله، حتى صار كالحجارة أو أشد قسوة نسأل الله العافية. فأقول لهؤلاء: ليتقوا الله في أنفسهم وفي شباب المسلمين وليربوهم على التربية الإسلامية، أما بالنسبة للشعب فأنا أنصحهم وأحذرهم من إدخال أولادهم في هذه الرياض، فإنهم آثمون معينون على الإثم والعدوان، ويوشك ألا يبرهم أولادهم إذا كبروا، وألا يدعوا لهم إذا ماتوا؛ لأنهم عصوا الله -عز وجل- فيهم، فيوشك أن يجعل الله هؤلاء يعصون آباءهم كما عصى آباؤهم الله فيهم، ويُسلطون عليهم. أقول: بارك الله فيك لا يجوز أن تدخل أولادك في هذه الرياض، وأقول: إذا كان ولابد فيجب على الآباء أن يكوِّنوا رياضاً تكون على حسابهم، ويكون فيها آداب إسلامية وأخلاق فاضلة، وتربية توجههم إلى الخير، وهذا ليس بصعب -والحمد لله- على من كان في مثل الكويت ، عندهم -والحمد لله- من الثروة والمال ما الله به عليم، ثم يجب على إخواننا الكويتيين -وعلينا نحن أيضاً- أن نتعظ بما جرى قبل سنتين من أن الله سلط علينا جيراننا الذين يجب أن يكونوا معنا فصاروا علينا، لماذا لا نتعظ؟ وهل نأمن الآن أنه في يوم من الأيام تحصل مثل هذه الكارثة أو أكثر؟ لا يجوز أبداً أن ننسى هذه الكارثة، حتى لا يحق علينا قول الله -تعالى-:﴿ فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ ۞فَقُطِعَ دَابِرُ الْقَوْمِ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾ [الأنعام:44-45] لا يجوز أن نتصف بصفات من قال الله فيهم:﴿ فَلَوْلا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾ [الأنعام:43].
المصدر: سلسلة لقاءات الباب المفتوح > لقاء الباب المفتوح [40]

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.