Beranda » Latest » Artikel » Tarbiyah » Bukan Sekadar Bakat, Ini Rahasia Membangun Karakter Pemimpin yang Dicintai dan Disegani

Bukan Sekadar Bakat, Ini Rahasia Membangun Karakter Pemimpin yang Dicintai dan Disegani

0
classroom-with-green-blackboard-wall-wooden-teacher-table-with-chairs_107791-4887

Syaikh Sholih bin Abdil Aziz Aalusy Syaikh menyatakan:

Karakter kepemimpinan adalah sebuah bakat, dan terkadang bisa dipelajari (diusahakan). Namun, kepemimpinan bukanlah sikap kasar atau keras sebagaimana yang telah saya sebutkan kepadamu.

​Kepemimpinan itu memiliki tingkatan-tingkatan:

  1. ​Rasa cinta dan saling menghormati membuat setiap orang menuju kepada kebenaran (kebaikan) berlandaskan rasa cinta dan penghormatan mereka.

  2. ​Tingkatan berikutnya adalah motivasi dan pemberian penghargaan. Jika motivasi dan imbalan tidak lagi bermanfaat, maka jalan terakhir adalah al-kayy (pengobatan tegas/memberikan hukuman), dan hal itu memang harus dilakukan. Oleh karena itulah Allah mensyariatkan hadd (hukuman syariat) dan sanksi-sanksi dalam syariat-Nya.

​Prinsip “Rambut Mu’awiyah” (Sya’ratu Mu’awiyah) merupakan kaidah mendasar dalam manajemen kepemimpinan: “Jika mereka menariknya (tegang), aku mengendurkannya; dan jika mereka mengendurkannya, aku menariknya.”

​Seseorang yang tidak mampu untuk bersikap tegas sekaligus penuh kasih sayang; bersikap tegas namun tetap menghormati dan dihormati; serta bersikap tegas tetapi tetap dicintai, mencintai, dan dicintai orang lain, maka ia tidak cocok (menjadi pemimpin). Artinya, keberhasilannya dalam berhubungan dengan orang lain sesuai dengan kadar itu.

​Dalam hal keberhasilan manajemen suatu program kerja, orang-orang itu berbeda-beda, para pejabat pun berbeda-beda tingkat keberhasilannya. Ada yang tingkat keberhasilannya 90%, ada yang 80%, atau 70%.

​Para Rasul —semoga salawat dan salam Allah tercurah kepada mereka— pun tidak berada pada satu derajat yang sama:

​تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۘ مِّنْهُم مَّن كَلَّمَ اللَّهُ ۖ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ

“Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka dari sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengannya) dan sebagiannya Allah tinggikan beberapa derajat.” [QS. Al-Baqarah: 253]

​Namun, kadar minimal yang harus ada adalah tidak boleh terjadi sesuatu yang merusak atau bertentangan antara dirinya dengan hati rekan-rekannya. Hal (keretakan) ini tidak boleh terjadi, karena menjaga hubungan baik adalah prinsip dasarnya dalam syariat.

​Keberhasilan adalah sesuatu yang sesuai dengan takdir yang telah ditetapkan baginya. Akan tetapi, hubungan dengan sesama manusia bukanlah hal yang bisa dipertaruhkan antara sukses atau gagal; melainkan hubungan tersebut hanya ada dua kemungkinan: engkau bersikap benar atau engkau bersikap salah, sesuai dengan kemampuan dan bakat yang engkau miliki.

Sumber: Potongan ceramah Syaikh Sholih bin Abdil Aziz Aalusy Syaikh bertajuk “الشخصية القيادية” (Karakter Kepemimpinan), dokumentasi channel @fawaeddiniya (diunggah 4 Februari 2025)

Transkrip dalam Bahasa Arab

قال الشيخ صالح بن عبد العزيز آل الشيخ : الشَّخْصِيَّةُ الْقِيَادِيَّةُ مَوْهِبَةٌ، وَقَدْ تُكْتَسَبُ، وَلٰكِنْ لَيْسَتْ هِيَ الْغِلْظَةَ كَمَا ذَكَرْتُ لَكَ، هِيَ مَرَاتِبُ: الْحُبُّ وَالِاحْتِرَامُ يَجْعَلُ الْجَمِيعَ يُقْبِلُونَ عَلَى الصَّوَابِ بِحُبِّهِمْ وَاحْتِرَامِهِمْ

​الْمَرْتَبَةُ الَّتِي بَعْدَهَا: التَّحْفِيزُ، الْعَطَاءُ، إِذَا لَمْ يَنْفَعِ التَّحْفِيزُ وَالْمُكَافَأَةُ، فَآخِرُ الدَّوَاءِ الْكَيُّ، لَا بُدَّ مِنْ ذٰلِكَ

​وَلِذٰلِكَ شَرَعَ اللهُ الْحُدُودَ وَالْعُقُوبَاتِ فِي شَرِيعَتِهِ. شعَرَةُ مُعَاوِيَةَ قَاعِدَةٌ أَسَاسِيَّةٌ فِي الْإِدَارَةِ: شَعَرَةُ مُعَاوِيَةَ إِذَا شَدُّوا رَخَا، وَإِذَا أَرْخَوْا شَدَّ

​وَالَّذِي لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَكُونَ حَازِمًا وَهُوَ رَحِيمٌ، وَأَنْ يَكُونَ حَازِمًا وَهُوَ يَحْتَرِمُ وَيُحْتَرَمُ، وَهُوَ حَازِمٌ وَهُوَ يَكُونُ مَحْبُوبًا يُحِبُّ وَيُحَبُّ، فَمَا يَصْلُحُ، يَعْنِي يَكُونُ نَجَاحُهُ فِي الْعَلَاقَةِ بِقَدَرِهَا

​النَّجَاحُ الْإِدَارِيُّ فِي الْبَرَامِجِ النَّاسُ يَخْتَلِفُونَ، الْمَسْؤُولُونَ يَخْتَلِفُونَ فِيهِ، يَعْنِي فِي وَاحِدٍ يَنْجَحُ ٩٠٪، وَوَاحِدٍ يَنْجَحُ ٨٠٪، ٧٠٪

​الرُّسُلُ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ لَيْسُوا بِدَرَجَةٍ وَاحِدَةٍ: ﴿تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۘ مِّنْهُم مَّن كَلَّمَ اللَّهُ ۖ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ﴾ [البقرة: ٢٥٣]

​لٰكِنِ الْقَدْرُ الَّذِي لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ هُوَ أَلَّا يَحْدُثَ شَيْءٌ مُخَالِفٌ بَيْنَهُ وَبَيْنَ نُفُوسِ زُمَلَائِهِ، هٰذَا لَا يَجِبُ أَنْ يَكُونَ لِأَنَّ هٰذَا أَصْلٌ شَرَعِيٌّ
​النَّجَاحُ شَيْءٌ بِقَدَرِ مَا كُتِبَ لَهُ، لٰكِنِ الْعَلَاقَةُ بِالنَّاسِ، الْعَلَاقَةُ بِالنَّاسِ هٰذِهِ مَا فِيهَا، يَعْنِي لَيْسَتْ قَابِلَةً لِأَنْ تَنْجَحَ أَوْ لَا تَنْجَحَ، هِيَ إِمَّا أَنْتَ مُصِيبٌ وإِمَّا مُخْطِئٌ بِحَسَبِ مَوَاهِبِكَ

​مقطع من محاضرة الشيخ صالح بن عبد العزيز آل الشيخ بعنوان «الشخصية القيادية»، من توثيق قناة
@fawaeddiniya
(تاريخ النشر: ٤ فبراير ٢٠٢٥م)

Penerjemah: Abu Utsman Kharisman