Bukan Sekadar Bakat, Ini Rahasia Membangun Karakter Pemimpin yang Dicintai dan Disegani

Syaikh Sholih bin Abdil Aziz Aalusy Syaikh menyatakan:
Karakter kepemimpinan adalah sebuah bakat, dan terkadang bisa dipelajari (diusahakan). Namun, kepemimpinan bukanlah sikap kasar atau keras sebagaimana yang telah saya sebutkan kepadamu.
Kepemimpinan itu memiliki tingkatan-tingkatan:
- Rasa cinta dan saling menghormati membuat setiap orang menuju kepada kebenaran (kebaikan) berlandaskan rasa cinta dan penghormatan mereka.
Tingkatan berikutnya adalah motivasi dan pemberian penghargaan. Jika motivasi dan imbalan tidak lagi bermanfaat, maka jalan terakhir adalah al-kayy (pengobatan tegas/memberikan hukuman), dan hal itu memang harus dilakukan. Oleh karena itulah Allah mensyariatkan hadd (hukuman syariat) dan sanksi-sanksi dalam syariat-Nya.
Prinsip “Rambut Mu’awiyah” (Sya’ratu Mu’awiyah) merupakan kaidah mendasar dalam manajemen kepemimpinan: “Jika mereka menariknya (tegang), aku mengendurkannya; dan jika mereka mengendurkannya, aku menariknya.”
Seseorang yang tidak mampu untuk bersikap tegas sekaligus penuh kasih sayang; bersikap tegas namun tetap menghormati dan dihormati; serta bersikap tegas tetapi tetap dicintai, mencintai, dan dicintai orang lain, maka ia tidak cocok (menjadi pemimpin). Artinya, keberhasilannya dalam berhubungan dengan orang lain sesuai dengan kadar itu.
Dalam hal keberhasilan manajemen suatu program kerja, orang-orang itu berbeda-beda, para pejabat pun berbeda-beda tingkat keberhasilannya. Ada yang tingkat keberhasilannya 90%, ada yang 80%, atau 70%.
Para Rasul —semoga salawat dan salam Allah tercurah kepada mereka— pun tidak berada pada satu derajat yang sama:
تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۘ مِّنْهُم مَّن كَلَّمَ اللَّهُ ۖ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ
“Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka dari sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengannya) dan sebagiannya Allah tinggikan beberapa derajat.” [QS. Al-Baqarah: 253]
Namun, kadar minimal yang harus ada adalah tidak boleh terjadi sesuatu yang merusak atau bertentangan antara dirinya dengan hati rekan-rekannya. Hal (keretakan) ini tidak boleh terjadi, karena menjaga hubungan baik adalah prinsip dasarnya dalam syariat.
Keberhasilan adalah sesuatu yang sesuai dengan takdir yang telah ditetapkan baginya. Akan tetapi, hubungan dengan sesama manusia bukanlah hal yang bisa dipertaruhkan antara sukses atau gagal; melainkan hubungan tersebut hanya ada dua kemungkinan: engkau bersikap benar atau engkau bersikap salah, sesuai dengan kemampuan dan bakat yang engkau miliki.
Sumber: Potongan ceramah Syaikh Sholih bin Abdil Aziz Aalusy Syaikh bertajuk “الشخصية القيادية” (Karakter Kepemimpinan), dokumentasi channel @fawaeddiniya (diunggah 4 Februari 2025)
Transkrip dalam Bahasa Arab
قال الشيخ صالح بن عبد العزيز آل الشيخ : الشَّخْصِيَّةُ الْقِيَادِيَّةُ مَوْهِبَةٌ، وَقَدْ تُكْتَسَبُ، وَلٰكِنْ لَيْسَتْ هِيَ الْغِلْظَةَ كَمَا ذَكَرْتُ لَكَ، هِيَ مَرَاتِبُ: الْحُبُّ وَالِاحْتِرَامُ يَجْعَلُ الْجَمِيعَ يُقْبِلُونَ عَلَى الصَّوَابِ بِحُبِّهِمْ وَاحْتِرَامِهِمْ
الْمَرْتَبَةُ الَّتِي بَعْدَهَا: التَّحْفِيزُ، الْعَطَاءُ، إِذَا لَمْ يَنْفَعِ التَّحْفِيزُ وَالْمُكَافَأَةُ، فَآخِرُ الدَّوَاءِ الْكَيُّ، لَا بُدَّ مِنْ ذٰلِكَ
وَلِذٰلِكَ شَرَعَ اللهُ الْحُدُودَ وَالْعُقُوبَاتِ فِي شَرِيعَتِهِ. شعَرَةُ مُعَاوِيَةَ قَاعِدَةٌ أَسَاسِيَّةٌ فِي الْإِدَارَةِ: شَعَرَةُ مُعَاوِيَةَ إِذَا شَدُّوا رَخَا، وَإِذَا أَرْخَوْا شَدَّ
وَالَّذِي لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَكُونَ حَازِمًا وَهُوَ رَحِيمٌ، وَأَنْ يَكُونَ حَازِمًا وَهُوَ يَحْتَرِمُ وَيُحْتَرَمُ، وَهُوَ حَازِمٌ وَهُوَ يَكُونُ مَحْبُوبًا يُحِبُّ وَيُحَبُّ، فَمَا يَصْلُحُ، يَعْنِي يَكُونُ نَجَاحُهُ فِي الْعَلَاقَةِ بِقَدَرِهَا
النَّجَاحُ الْإِدَارِيُّ فِي الْبَرَامِجِ النَّاسُ يَخْتَلِفُونَ، الْمَسْؤُولُونَ يَخْتَلِفُونَ فِيهِ، يَعْنِي فِي وَاحِدٍ يَنْجَحُ ٩٠٪، وَوَاحِدٍ يَنْجَحُ ٨٠٪، ٧٠٪
الرُّسُلُ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ لَيْسُوا بِدَرَجَةٍ وَاحِدَةٍ: ﴿تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۘ مِّنْهُم مَّن كَلَّمَ اللَّهُ ۖ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ﴾ [البقرة: ٢٥٣]
لٰكِنِ الْقَدْرُ الَّذِي لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ هُوَ أَلَّا يَحْدُثَ شَيْءٌ مُخَالِفٌ بَيْنَهُ وَبَيْنَ نُفُوسِ زُمَلَائِهِ، هٰذَا لَا يَجِبُ أَنْ يَكُونَ لِأَنَّ هٰذَا أَصْلٌ شَرَعِيٌّ
النَّجَاحُ شَيْءٌ بِقَدَرِ مَا كُتِبَ لَهُ، لٰكِنِ الْعَلَاقَةُ بِالنَّاسِ، الْعَلَاقَةُ بِالنَّاسِ هٰذِهِ مَا فِيهَا، يَعْنِي لَيْسَتْ قَابِلَةً لِأَنْ تَنْجَحَ أَوْ لَا تَنْجَحَ، هِيَ إِمَّا أَنْتَ مُصِيبٌ وإِمَّا مُخْطِئٌ بِحَسَبِ مَوَاهِبِكَ
مقطع من محاضرة الشيخ صالح بن عبد العزيز آل الشيخ بعنوان «الشخصية القيادية»، من توثيق قناة
@fawaeddiniya
(تاريخ النشر: ٤ فبراير ٢٠٢٥م)
Penerjemah: Abu Utsman Kharisman

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.