Tafsir Surah Asy-Syarh Ayat 7 dan 8: Berpindah dan Berjuang Menuju Ibadah Berikutnya, Berharap Hanya Kepada Allah

Ayat 7-8 Surah asy-Syarh
فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ (7) وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ (8)
Apabila engkau telah selesai (dengan suatu kebajikan), teruslah bekerja keras (untuk kebajikan yang lain) dan hanya kepada Tuhanmu berharaplah! (Q.S asy-Syarh ayat 7-8)
Gharib (Kata Asing)
فَانْصَبْ
Bersusah payahlah; bekerja keraslah. anNashob sama dengan atTa’ab yang artinya capek atau payah. Bisa dilihat penjelasan dalam tafsir al-Baghowiy.
Kesesuaian dengan Ayat di Surah Lain yang Semakna
Ayat ke-8 Surah asy-Syarh semakna dengan ayat di surah lain, yaitu:
إِنَّا إِلَى اللَّهِ رَاغِبُونَ
Sesungguhnya Kami hanya berharap kepada Allah (Q.S atTaubah ayat 59)
(Iqtidho’ ash-Shirathil Mustaqim li Mukholafati Ashaabil Jahim karya Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah 2/366)
Hadits yang Berkaitan dengan Ayat
Pada ayat ke-7 surah asy-Syarh diperintahkan dengan kata fanshob yang artinya bersusah payahlah atau suatu perjuangan sampai kondisi capek, payah, letih.
Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda kepada Aisyah radhiyallahu anha:
إِنَّ لَكِ مِنَ الْأَجْرِ عَلَى قَدْرِ نَصَبِكِ وَنَفَقَتِكِ
Sesungguhnya engkau mendapatkan bagian dari pahala sesuai kadar kepayahan/capek yang engkau rasakan dan infaq yang engkau keluarkan (H.R al-Hakim dari Aisyah, dishahihkan Syaikh al-Albaniy dalam Shahih atTarghib, asalnya ada dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim)
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حَزَنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
Tidaklah seorang muslim mengalami capek, sakit, kecemasan, perasaan sedih, gangguan (dari pihak lain), kesempitan dalam hati, hingga sekalipun duri yang menusuknya, kecuali Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan sebab hal-hal itu (H.R al-Bukhari dari Abu Hurairah)
Nukilan dan Intisari Penjelasan Ulama
Ada beberapa ungkapan penafsiran terhadap ayat ke-7 surah asy-Syarh dari para Ulama, di antaranya:
Ungkapan penafsiran pertama: Apabila engkau sudah selesai dari perkara duniawimu, bersungguh-sungguhlah untuk shalat.
Mujahid rahimahullah -seorang tabi’i- menyatakan:
إِذَا فَرَغْتَ مِنْ أَمْرِ دُنْيَاكَ فَانْصَبْ، فَصَلِّ
Jika engkau selesai dari perkara duniawimu, bersusah payahlah (untuk ibadah), shalatlah (dengan khusyu’, pen)(riwayat atThobariy dalam Tafsirnya dengan sanad yang shahih)
Artinya, pelaksanaan ibadah semestinya dilakukan dengan khusyu’ tidak memikirkan hal-hal yang mengganggu baik kesibukan dunia maupun lainnya.
Dalam tafsir Ibn Katsir disebutkan hadits:
لَا صَلَاةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ، وَلَا هُوَ يُدَافِعُهُ الْأَخْبَثَانِ
Tidak ada shalat (yang sempurna) saat makanan telah dihidangkan maupun dalam kondisi menahan keluarnya sesuatu dari 2 jalan (keinginan buang air kecil, buang air besar, atau buang angin, pen)(H.R Muslim dari Aisyah)
إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ وَحَضَرَ العَشَاءُ، فَابْدَءُوا بِالعَشَاءِ
Jika ditegakkan shalat, sedangkan hidangan makan malam telah disediakan, dahulukanlah makan malam (H.R al-Bukhari dari Aisyah)
Para Ulama menjelaskan bahwa jika sudah dihidangkan makanan dan orang itu ingin makan, hendaknya ia mendahulukan makan terlebih dahulu. Agar jangan sampai ia masuk dalam shalat dengan memikirkan makanan ingin cepat-cepat menyelesaikannya, tidak khusyu’, yang berakibat kurang sempurna shalatnya.
Hendaknya menyingkirkan segala pikiran duniawi sebelum masuk ke dalam shalat. Apabila kita ingin sempurna dalam mempersembahkan ibadah shalat kepada Allah Ta’ala.
Sebagaimana Nabi shollallahu alaihi wasallam biasa membantu keluarga beliau di rumah, tapi jika terdengar panggilan adzan, beliau tinggalkan hal itu keluar menuju shalat berjamaah di masjid.
عَنِ الأَسْوَدِ، قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ فِي بَيْتِهِ؟ قَالَتْ: «كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ – تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ – فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلاَةِ»
Dari al-Aswad ia berkata: Aku bertanya kepada Aisyah apa yang dilakukan Nabi shollallahu alaihi wasallam di rumah? Aisyah berkata: Beliau biasa membantu keluarga beliau. Apabila datang waktu shalat, beliau keluar menuju shalat (H.R al-Bukhari)
Ungkapan penafsiran kedua: Jika telah selesai melaksanakan rangkaian shalat, bersungguh-sungguhlah untuk berdoa dan berharap penuh hanya kepada Allah Ta’ala. Baik doa dibaca di penghujung shalat sebelum salam, atau setelah salam.
Nabi banyak berdzikir selepas shalat wajib, juga diriwayatkan sebagian doa yang beliau baca untuk diri beliau sendiri (bukan diaminkan oleh para makmum) setelah selesai shalat. Di antaranya adalah seperti dalam hadits berikut ini:
عَنِ الْبَرَاءِ قَالَ: كُنَّا إِذَا صَلَّيْنَا خَلْفَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْبَبْنَا أَنْ نَكُونَ عَنْ يَمِينِهِ يُقْبِلُ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ. قَالَ: فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ: رَبِّ قِنِي عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ – أَوْ تَجْمَعُ – عِبَادَكَ
Dari al-Bara’ ia berkata: Kami jika selesai shalat di belakang Rasulullah shollallahu alaihi wasallam, kami suka berada di sebelah kanan beliau, saat beliau menghadapkan wajahnya kepada kami. Beliau mengucapkan (selesai shalat): ROBBI QINII ‘ADZAABAKA YAWMA TAB’ATSU – atau TAJMA’U – IBAADAK (Wahai Rabbku, lindungilah aku dari siksaan-Mu saat engkau membangkitkan atau mengumpulkan para hamba-Mu (H.R Muslim)
Sedangkan riwayat hadits tentang bacaan doa sebelum salam, lebih banyak lagi. Seperti misalkan dalam hadits berikut:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ بَعْدَ التَّشَهُّدِ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ
Dari Ibnu Abbas dari Nabi shollallahu alaihi wasallam bahwasanya beliau mengucapkan setelah tasyahhud: ALLAHUMMA INNII A’UDZU BIKA MIN ‘ADZAABI JAHANNAM WA A’UDZU BIKA MIN ‘ADZAABIL QOBRI WA A’UDZU BIKA MIN FITNATID DAJJAAL WA A’UDZU BIKA MIN FITNATIL MAHYAA WAL MAMAAT (Ya Allah, sesungguhnya aku meminta perlindungan kepada-Mu dari adzab Jahannam dan aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah Dajjal dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan maupun kematian)(H.R Abu Dawud, dishahihkan Syaikh al-Albaniy)
Ungkapan penafsiran ketiga: Jika engkau selesai dari melakukan ibadah, bersungguh-sungguhlah untuk melakukan ibadah berikutnya. Apabila telah selesai melakukan hal yang bermanfaat bagi dunia, yang itu bisa dinilai ibadah, berpindahlah ke ibadah lain. Penafsiran ini dirangkum oleh Ibnu Jarir atThobariy dalam tafsirnya dan juga disebutkan Syaikh Ibn Utsaimin dalam tafsir Juz Amma.
Sedangkan makna ayat ke-8 dari surah asy-Syarh:
وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ
Dan hanya kepada Rabbmu, maka berharaplah engkau (Q.S asy-Syarh ayat 8)
Ibnu Jarir atThobariy rahimahullah menyatakan: dan hanya kepada Rabbmu wahai Muhammad, gantungkanlah harapanmu. Bukan kepada selain-Nya dari para makhluk. Sedangkan orang-orang musyrikin tersebut dari kaummu, mereka menjadikan harapan dan kebutuhan mereka diarahkan pada sembahan-sembahan (lain) dan tandingan-tandingan bagi Allah (Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Quran 24/497)
Sebagian Pelajaran yang Bisa Dipetik
- Hidup adalah perpindahan dari satu ketaatan dan ibadah menuju ibadah berikutnya. Meskipun amal itu secara asal mubah untuk maslahat duniawi, namun jika diniatkan untuk menguatkan ketaatan kepada Allah, akan bernilai ibadah.
- Di penghujung shalat terdapat waktu mustajab untuk banyak berdoa.
- Berharap (roghbah) adalah salah satu ibadah hati yang hanya boleh dipersembahkan untuk Allah Ta’ala semata.
Penulis: Abu Utsman Kharisman

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.