Beranda » Latest » Artikel » Tafsir » Dua Jalan Dua Muara: Kisah Fir’aun yang Binasa dan Sang Mukmin yang Dijaga (Tadabbur Quran Surah Ghafir Ayat 36-46)

Dua Jalan Dua Muara: Kisah Fir’aun yang Binasa dan Sang Mukmin yang Dijaga (Tadabbur Quran Surah Ghafir Ayat 36-46)

0
sea-3572237_640

Ayat 36-37 Surah Ghafir

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا هَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَبْلُغُ الْأَسْبَابَ (36) أَسْبَابَ السَّمَاوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ كَاذِبًا وَكَذَلِكَ زُيِّنَ لِفِرْعَوْنَ سُوءُ عَمَلِهِ وَصُدَّ عَنِ السَّبِيلِ وَمَا كَيْدُ فِرْعَوْنَ إِلَّا فِي تَبَابٍ (37)
Fir‘aun berkata, “Hai Haman, buatkanlah untukku sebuah bangunan yang tinggi agar aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, agar aku dapat melihat Tuhannya Musa. Sesungguhnya aku benar-benar meyakininya sebagai seorang pendusta.” Demikianlah dijadikan terasa indah bagi Fir‘aun perbuatan buruknya itu, dan dia tertutup dari jalan (yang benar). Tipu daya Fir‘aun itu tidak lain kecuali membawa kerugian (Q.S Ghafir ayat 36-37)
قال أبو محمد عبد الله بن يوسف (والد إمام الحرمين الجويني) في كتابه رسالة في إثبات الاستواء والفوقية ومسألة الحرف والصوت في القرآن  ص 33 : وَهَذَا يدل على أَن مُوسَى أخبرهُ بِأَن ربه تَعَالَى فَوق السَّمَاء وَلِهَذَا قَالَ وَإِنِّي لأظنه كَاذِبًا
Abu Muhammad Abdullah bin Yusuf (ayah Imam al-Haramain al-Juwainiy) menyatakan dalam kitabnya: Risalah fi Itsbaatil Istiwaa’ wal Fawqiyyah wa Mas-alatil Harfi was-Shout fil Qur’aan halaman 33: Ini menunjukkan bahwasanya Musa memberitahukan kepadanya bahwasanya Tuhannya yang Maha Tinggi berada di atas langit, karena itulah Firaun menyatakan: Sesungguhnya aku benar-benar meyakini bahwa dia dusta.
قال ابن جرير: (أي: وإني لأظن موسى كاذبًا فيما يقول ويدعي من أن له في السماء ربًا أرسله إلينا)
Ibnu Jarir (atThobariy) berkata: Artinya, sesungguhnya aku meyakini Musa berdusta atas ucapan dan pengakuannya bahwasanya dia memiliki Tuhan di atas langit yang mengutus dia kepada kita
وَمَا كَيْدُ فِرْعَوْنَ إِلَّا فِي تَبَابٍ قال ابن عباس: (يقول: في خسران). وقال قتادة: (أي في ضلال وخسار). وقال ابن زيد: التباب والضلال واحد
Tabaab menurut Ibnu Abbas adalah kerugian. Qotadah menyatakan: kesesatan dan kerugian. Ibnu Zaid berkata: Tabaab dan Dholaal (kesesatan) adalah satu hal yang sama.
Pelajaran yang bisa dipetik, di antaranya:
1. Kesombongan dan kecongkakan Firaun
2. Mengangkat Menteri atau pendukung itu sudah sejak dahulu. ِ Ada juga wazir dalam kebaikan:
«{وَاجْعَلْ لِي وَزِيرًا مِنْ أَهْلِي (29) هَارُونَ أَخِي} [طه: 29، 30]»
Jadikanlah untukku pendukungmu dari keluargaku, Harun saudaraku (Q.S Thoha ayat 29-30)
3. Penisbatan suatu pekerjaan terhadap orang yang memerintahkan. Haman yang akan memerintahkan pekerjaan membangun bangunan tinggi untuk dikerjakan para pekerja, dan ia yang ternilai membangunkan untuk Firaun.
4. Ketinggian Allah Ta’ala sudah merupakan hal yang dimaklumi dari syariat Nabi terdahulu. Karena Nabi Musa menyampaikan kepada Firaun bahwa Allah berada di atas langit, maka Firaunpun dengan congkaknya ingin menentang hal itu dengan mengatakan akan membangun bangunan tinggi untuk melihat sembahan Musa.
5. Di antara balaghah penyampaian bahasa yang indah adalah menyebutkan secara global, kemudian dijelaskan. Tidak langsung mendetailkannya.
6. Langit itu berbentuk jamak, menunjukkan bukan hanya 1 lapisan. Sehingga disebut as-Samawaat.

Ayat 38-39 Surah Ghafir

وَقَالَ الَّذِي آمَنَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُونِ أَهْدِكُمْ سَبِيلَ الرَّشَادِ (38) يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ (39)
Orang yang beriman itu berkata, “Wahai kaumku, ikutilah aku! Aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Wahai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. (Q.S Ghafir ayat 38-39)
Pelajaran yang bisa diambil, di antaranya:
1. Menggunakan kalimat penarik perhatian dan pelembut. Seperti ungkapan: Wahai kaumku.
2. Jalan itu berbeda-beda. Jalannya orang beriman itu yang mengarah kepada jalan petunjuk. Sedangkan jalan Firaun jalan kesesatan meski Firaun menyatakan di ayat 29 surah Ghafir bahwa tidaklah yang ia arahkan adalah jalan petunjuk, padahal itu batil.

Ayat 40 Surah Ghafir

مَنْ عَمِلَ سَيِّئَةً فَلَا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ يُرْزَقُونَ فِيهَا بِغَيْرِ حِسَابٍ غافر: 40
Siapa yang mengerjakan keburukan tidak dibalas, kecuali sebanding dengan keburukan itu. Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan dia dalam keadaan beriman, akan masuk surga. Mereka dianugerahi rezeki di dalamnya tanpa perhitungan. (Q.S Ghafir ayat 40)
Pelajaran yang bisa diambil, di antaranya:
1. Keburukan hanya dibalas setara, tidak dilipatgandakan.
2. Amalan yang diterima adalah amal sholih (ikhlas dan sesuai sunnah Nabi) dan yang dilandasi iman.
3. Balasan surga tanpa hisab, artinya tidak meminta bayaran dari manusia.

Ayat 41-43 Surah Ghafir

وَيَاقَوْمِ مَا لِي أَدْعُوكُمْ إِلَى النَّجَاةِ وَتَدْعُونَنِي إِلَى النَّارِ (41) تَدْعُونَنِي لِأَكْفُرَ بِاللَّهِ وَأُشْرِكَ بِهِ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَأَنَا أَدْعُوكُمْ إِلَى الْعَزِيزِ الْغَفَّارِ (42) لَا جَرَمَ أَنَّمَا تَدْعُونَنِي إِلَيْهِ لَيْسَ لَهُ دَعْوَةٌ فِي الدُّنْيَا وَلَا فِي الْآخِرَةِ وَأَنَّ مَرَدَّنَا إِلَى اللَّهِ وَأَنَّ الْمُسْرِفِينَ هُمْ أَصْحَابُ النَّارِ [غافر: 41 – 43]
Wahai kaumku, bagaimanakah ini? Aku menyerumu kepada keselamatan, sedangkan kamu menyeruku kepada neraka. Kamu menyeruku agar kufur kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu yang tidak ada padaku pengetahuan tentangnya, padahal aku menyerumu (beriman) kepada Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. Sudah pasti bahwa apa yang kamu serukan kepadaku (agar menyembah)-nya bukanlah seruan yang layak sama sekali di dunia dan di akhirat. Sesungguhnya tempat kembali kita pasti kepada Allah dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas akan menjadi penghuni neraka. (Q.S Ghafir ayat 41-43)
Di antara pelajaran yang bisa dipetik:
1. Semua kesyirikan tidak didasari ilmu (hujjah).
2. Allah adalah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
3. Segala yang diibadahi selain Allah adalah batil.
4. Kita semua akan kembali kepada Allah.
5. Haramnya sikap melampaui batas yang bisa mengarahkan pelakunya ke neraka.

Ayat 44 Surah Ghafir

فَسَتَذْكُرُونَ مَا أَقُولُ لَكُمْ وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ [غافر: 44]
Kelak kamu akan mengingat apa yang kukatakan kepadamu. Aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (Q.S Ghafir ayat 44)
Di antara pelajaran yang bisa dipetik:
1. Peringatan bahwa nasihat yang ia sampaikan akan diingat oleh orang-orang itu saat sudah tidak bermanfaat lagi waktunya.
2. Kuatnya tawakkal orang beriman tsb kepada Allah.
3. Penetapan ilmu Allah (dan penglihatan Allah) terhadap para hamba-Nya.

Ayat 45-46 Surah Ghafir

فَوَقَاهُ اللَّهُ سَيِّئَاتِ مَا مَكَرُوا وَحَاقَ بِآلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ (45) النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ} [غافر: 45، 46]
Maka, Allah melindunginya (orang yang beriman) dari berbagai kejahatan tipu daya mereka, sedangkan Fir‘aun beserta kaumnya dikepung oleh seburuk-buruk azab. Neraka diperlihatkan kepada mereka (di alam barzakh) pada pagi dan petang. Pada hari terjadinya kiamat, (dikatakan,) “Masukkanlah Fir‘aun dan kaumnya ke dalam azab yang paling dahsyat (Neraka)!” (Q.S Ghafir ayat 45-46)
Di antara pelajaran yang bisa dipetik:
1. Allah melindungi orang yang bertawakkal kepada-Nya.
2. Peringatan terhadap makar musuh-musuh kaum muslimin.
3. Allah membalas orang berbuat baik dengan kebaikan dan keburukan bagi orang yang berbuat buruk.
4. Penetapan adanya siksa kubur.
5. Penetapan adanya hari kiamat.
6. Neraka adalah siksaan terbesar.
(Penjelasan pelajaran-pelajaran yang bisa diambil pada masing-masing ayat kebanyakan disarikan dari Tafsir Syaikh Ibn Utsaimin terhadap Surah Ghafir)
Penulis: Abu Utsman Kharisman