Beranda » Latest » Artikel » Ibadah » Benteng Kokoh di Balik Lisan yang Basah dan Hati yang Makmur dengan Dzikir

Benteng Kokoh di Balik Lisan yang Basah dan Hati yang Makmur dengan Dzikir

0
Benteng Kokoh di Balik Lisan yang Basah dan Hati yang Makmur dengan Dzikir

Syaikh Muhammad Aman al-Jamiy rahimahullah menyatakan:

Seorang hamba yang berlepas diri dari daya dan upayanya sendiri menuju daya dan upaya Allah serta penjagaan-Nya, dan ia berseru dengan nama Allah serta berlindung kepada-Nya, maka lisannya akan senantiasa basah dengan dzikir kepada Allah. Pada saat itulah, ia ada karena Allah dalam keadaan ini, bukan karena dirinya sendiri.

​Maka jatuhnya dosa darinya sama sekali tidak akan terjadi dalam kondisi seperti ini; karena tirai (penghalang) telah diangkat darinya. Ia telah menjadi hamba yang dekat dengan Allah, karena sesungguhnya ia memiliki benteng yang kokoh dari Allah.

Memperbanyak dzikir kepada Allah, memperbanyak istighfar, bersandar kepada Allah, berlepas diri dari daya dan upaya (pribadi), serta berlindung kepada Allah; inilah yang akan memasukkanmu ke dalam benteng yang kokoh dari Allah.

​Ia memperbanyak penunaian kewajiban, sehingga ia diberi taufik untuk memperbanyak amalan sunnah: sunnah dalam shalat, puasa, infak, dan seluruh amalan tambahan di luar yang wajib. Pada saat itulah, ia akan menjadi orang yang dicintai di sisi Allah. Allah mencintainya, lalu Allah memberinya taufik pada anggota tubuhnya. Di sinilah berlaku firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Hadis Qudsi yang diriwayatkan oleh Rasulullah ﷺ: “Maka dengan-Ku ia mendengar, dengan-Ku ia melihat, dengan-Ku ia memukul, dan dengan-Ku ia berjalan.”. Artinya, Allah memberinya taufik dalam setiap lintasan pikirannya, langkahnya, dan gerak-geriknya; ia tidak melakukan sesuatu kecuali dalam keridhaan Allah.

​Dalam kondisi ini, kemaksiatan tidak akan muncul darinya. Namun, jika telah mendahului dalam ilmu Allah bahwa ia pasti akan bermaksiat, maka ditetapkanlah baginya sebab-sebab, sebab-sebab terdahulu sehingga ia tergelincir. Hal itulah yang diisyaratkan (oleh hadis tsb) saat dikatakan: sesungguhnya ia memiliki benteng yang kokoh, “maka dengan-Ku ia mendengar, dengan-Ku ia melihat, dengan-Ku ia memukul, dengan-Ku ia berjalan” dan seterusnya. Maka dosa tidak terbayangkan muncul darinya dalam keadaan ini.

​Namun, jika ia terhalang dari pemandangan ini, ia keluar dari kedudukan ini menuju kedudukan yang lain, dari eksistensi ini menuju eksistensi yang lain—manusia itu memiliki berbagai macam jenis eksistensi. Ia pun terpaku pada dirinya sendiri, lalai dari Allah, dan di sinilah setan merasa gembira dengannya. Hukum hawa nafsu menguasainya, maka di sanalah dipasang jaring-jaring dan perangkap untuknya. Setan memburunya di sini, ia mengirimkan bala tentaranya, lalu mereka memasang perangkap dan jaring hingga mereka benar-benar menangkapnya. Pasti ia akan tertangkap dalam kondisi ini, yaitu sang hamba tertangkap oleh setan dalam keadaan lalai, berpaling dari dzikir kepada Allah, serta tidak memperbanyak dzikir dan istighfar.

​Yang dimaksud dengan dzikir kepada Allah bukanlah apa yang dikenal di kalangan kaum sufi berupa prosesi-prosesi itu, malam-malam itu, atau malam-malam tarian, bukan itu. Melainkan engkau memperbanyak dzikir kepada Allah, meski (seperti contoh) para sahabat berkumpul: “Kemarilah, mari kita beriman sejenak.”. Para sahabat jika ingin menguatkan iman, mereka berkumpul dan saling mengingatkan: “Bagaimana keadaan kita sebelum Rasulullah ﷺ datang kepada kita? Kita dahulu begini dan begitu, lalu Allah mengeluarkan kita melalui Nabi ini ﷺ menuju cahaya ini.”. “Dan kita sekarang dalam keadaan begini dan begitu,” inilah dzikir kepada Allah, ini termasuk dzikir yang paling agung. Dengan inilah hati menjadi hidup, dan dari sinilah mereka masuk ke dalam benteng tersebut.

​Adapun jika mereka melupakan hal itu; yang satu ini hanyut dalam syahwat dan kelezatan hidup, yang ini sibuk mengumpulkan harta, dan yang itu dalam berbagai jenis kemaksiatan, sementara mereka tidak mengingat Allah dan melupakan-Nya, maka di sinilah setan memburu dan menangkap mereka.

​Akan tetapi, jika Allah menghendaki kebaikan bagi mereka dan bersikap lembut kepada mereka—Allah itu Maha Lembut kepada hamba-hamba-Nya—mereka tidak akan terus-menerus dalam kondisi itu, mereka akan teringat lalu kembali. Jika kabut eksistensi alami (duniawi) yang mereka masuki dan mereka terjebak di dalamnya itu telah sirna, maka pada saat itulah hadir rasa sesal, taubat, dan kepasrahan. Di saat ia sedang hanyut dalam kesesatan dan penyimpangan di eksistensi sesuai tabiatnya ini, orang yang Allah kehendaki untuk mengingatkannya pun memberinya peringatan: “Berilah peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin.”. Di sini ia menyesal, rasa sesal itu datang, ia beristighfar dan merasa sedih. Kabut ini pun sirna, dan di sinilah datangnya taubat. Jika ia bertaubat, Allah akan menerima taubatnya dan gembira dengan taubatnya tersebut.

​Begitulah kehidupan ini dalam jihad ini, manusia terus berlanjut dan tetap berada dalam jihad ini. Ia sesekali tergelincir, lalu Allah memberinya karunia dan bersikap lembut kepadanya, sehingga ia menyesal lalu bertobat, ia mengingat Allah, lalu ia masuk ke dalam golongan orang-orang yang dekat dengan-Nya dan ia beramal. Ia mungkin tergelincir lagi di lain waktu, atau mungkin tidak tergelincir lagi hingga ia bertemu Tuhannya karena ia memang tidak maksum. Begitulah seterusnya, begitulah manusia berjalan dalam hidup ini dalam jihad yang terus-menerus. Ia tergelincir lalu bangkit, seperti anak kecil yang jatuh lalu berdiri lagi, begitulah seterusnya.

​Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, Allah akan menutup usianya dengan taubat yang nasuha. Barang siapa yang wafat di atas amal terbaiknya, maka harapkanlah kebaikan baginya. Jika ia telah meninggalkan eksistensi (lama) tempat ia berada dahulu, yaitu eksistensi sesuai tabiatnya, eksistensi saat ia bersama setan dan bala tentara setan, maka ia akan berada dalam eksistensi yang lain: eksistensi taubat, luluhnya hati, berlindung kepada Allah, dan merasa butuh kepada Allah. Maka ia akan tetap ada karena Tuhannya, bukan karena dirinya sendiri dalam keadaan ini.


Sumber:

Petikan video dalam Channel Ijtanibu atThaaghut yang diupload pada 19 Mei 2019 berjudul:
الشيخ محمد أمان الجامي موعظة تهز القلوب

Transkrip dalam Bahasa Arab

​قال الشيخ محمد أمان الجامي رحمه الله تعالى

​الْعَبْدُ الَّذِي يَتَبَرَّأُ مِنْ حَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ إِلَىٰ حَوْلِ اللَّهِ وَقُوَّتِهِ وَعِصْمَةِ اللَّهِ، وَيَجْأَرُ بِاسْمِ اللَّهِ وَيَلْتَجِئُ إِلَىٰ اللَّهِ، لَا يَزَالُ لِسَانُهُ رَطْبًا بِذِكْرِ اللَّهِ. عِنْدَ ذَٰلِكَ يَكُونُ بِاللَّهِ فِي هَٰذِهِ الْحَالَةِ لَا بِنَفْسِهِ

​فَوُقُوعُ الذَّنْبِ مِنْهُ لَا يَتَأَتَّىٰ فِي هَٰذِهِ الْحَالَةِ أَلْبَتَّةَ؛ لِأَنَّ الْحِجَابَ رُفِعَ عَنْهُ. صَارَ عَبْدًا مُقَرَّبًا إِلَىٰ اللَّهِ، فَإِنَّ عَلَيْهِ حِصْنًا حَصِينًا مِنَ اللَّهِ. الْإِكْثَارُ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ، وَالْإِكْثَارُ مِنَ الِاسْتِغْفَارِ وَاللُّجُوءِ إِلَىٰ اللَّهِ، وَالتَّبَرُّؤُ مِنَ الْحَوْلِ وَالْقُوَّةِ وَاللُّجُوءُ إِلَىٰ اللَّهِ؛ هَٰذَا يُدْخِلُكَ فِي حِصْنٍ حَصِينٍ مِنَ اللَّهِ

​يُكْثِرُ مِنْ أَدَاءِ الْفَرَائِضِ، فَيُوَفَّقُ لِيُكْثِرَ مِنَ النَّوَافِلِ: نَوَافِلِ الصَّلَاةِ، نَوَافِلِ الصِّيَامِ، نَوَافِلِ الْإِنْفَاقِ، جَمِيعِ النَّوَافِلِ الزَّائِدَةِ عَلَىٰ الْفَرَائِضِ. عِنْدَ ذَٰلِكَ يَكُونُ مَحْبُوبًا عِنْدَ اللَّهِ، اللَّهُ يُحِبُّهُ، فَيُوَفِّقُهُ فِي جَوَارِحِهِ. هُنَا يَأْتِي قَوْلُ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ فِي الْحَدِيثِ الْقُدُسِيِّ الَّذِي يَرْوِيهِ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: “فَبِي يَسْمَعُ، وَبِي يُبْصِرُ، وَبِي يَبْطِشُ، وَبِي يَمْشِي”. أَيْ يُوَفِّقُهُ اللَّهُ فِي جَمِيعِ خَطَرَاتِهِ وَخُطُوَاتِهِ وَحَرَكَاتِهِ؛ لَا يَفْعَلُ إِلَّا فِي مَرْضَاةِ اللَّهِ

​فِي هَٰذِهِ الْحَالَةِ لَا تَتَأَتَّىٰ مِنْهُ الْمَعْصِيَةُ. لَكِنْ إِذَا سَبَقَ فِي عِلْمِ اللَّهِ أَنَّهُ لَا بُدَّ يَعْصِي، تُقَدَّرُ عَلَيْهِ أَسْبَابٌ، أَسْبَابٌ سَابِقَةٌ فَيَهْفُو. إِلَىٰ ذَٰلِكَ يُشِيرُ فَيَقُولُ: فَإِنَّ عَلَيْهِ حِصْنًا حَصِينًا، فَبِي يَسْمَعُ وَبِي يُبْصِرُ وَبِي يَبْطِشُ وَبِي يَمْشِي إِلَىٰ آخِرِهِ. فَلَا يُتَصَوَّرُ مِنْهُ الذَّنْبُ فِي هَٰذِهِ الْحَالَةِ

​فَإِذَا حُجِبَ عَنْ هَٰذَا الْمَشْهَدِ، خَرَجَ مِنْ هَٰذَا الْمَقَامِ إِلَىٰ مَقَامٍ آخَرَ، مِنْ هَٰذَا الْوُجُودِ إِلَىٰ وُجُودٍ آخَرَ. لِلْإِنْسَانِ أَنْوَاعٌ مِنَ الْوُجُودِ. وَبَقِيَ بِنَفْسِهِ، غَفَلَ عَنِ اللَّهِ، وَهُنَا الشَّيْطَانُ يَفْرَحُ بِهِ. اسْتَوْلَىٰ عَلَيْهِ حُكْمُ النَّفْسِ، فَهُنَالِكَ نُصِبَتْ لَهُ الشِّبَاكُ وَالْأَشْرَاكُ. الشَّيْطَانُ يَصْطَادُهُ هُنَا، فَيُرْسِلُ إِلَيْهِ جُنُودَهُ، فَيَنْصِبُونَ لَهُ الْأَشْرَاكَ وَالشِّبَاكَ فَيَصِيدُونَهُ صَيْدًا. لَا بُدَّ أَنْ يُصَادَ فِي هَٰذِهِ الْحَالَةِ، أَيْ يُصَادُ الْعَبْدُ لِلشَّيْطَانِ فِي حَالِ الْغَفْلَةِ وَالْإِعْرَاضِ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَدَمِ الْإِكْثَارِ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَالِاسْتِغْفَارِ

​لَيْسَ الْمُرَادُ بِذِكْرِ اللَّهِ مَا هُوَ مَعْرُوفٌ عِنْدَ الْمُتَصَوِّفَةِ مِنْ تِلْكَ الْحَضَرَاتِ وَتِلْكَ اللَّيَالِي، لَيَالِي الرَّقْصِ، لَا. أَنْ تُكْثِرَ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ، وَلَوْ يَجْتَمِعُ الصَّحَابِيُّ: تَعَالَوْا بِنَا نُؤْمِنْ. الصَّحَابَةُ إِذَا أَرَادُوا أَنْ يُقَوُّوا إِيمَانَهُمْ يَجْتَمِعُونَ وَيَتَذَاكَرُونَ: كَيْفَ كُنَّا قَبْلَ أَنْ يَأْتِيَنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ؟ كُنَّا فِي كَذَا وَكَذَا وَكَذَا، وَأَخْرَجَنَا اللَّهُ بِهَٰذَا النَّبِيِّ ﷺ إِلَىٰ هَٰذَا النُّورِ. وَنَحْنُ فِي كَذَا وَكَذَا، هَٰذَا ذِكْرُ اللَّهِ، هَٰذَا مِنْ أَعْظَمِ الذِّكْرِ. بِهَٰذَا تَحْيَا الْقُلُوبُ، مِنْ هُنَا يَدْخُلُونَ فِي ذَٰلِكَ الْحِصْنِ

​أَمَّا إِذَا نَسُوا ذَٰلِكَ؛ هَٰذَا مَشَىٰ فِي شَهَوَاتِهِ وَمَلَذَّاتِ الْحَيَاةِ، وَهَٰذَا فِي جَمْعِ الْأَمْوَالِ، وَهَٰذَا فِي الْمَعَاصِي بِأَنْوَاعِهَا، وَلَمْ يَذْكُرُوا اللَّهَ وَنَسُوا اللَّهَ، هُنَا يَصْطَادُهُمُ الشَّيْطَانُ فَيَصِيدُهُمْ

​لَكِنْ إِذَا أَرَادَ اللَّهُ لَهُمُ الْخَيْرَ وَلَطَفَ بِهِمْ، اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ، لَا يُصِرُّونَ عَلَىٰ ذَٰلِكَ، يَتَذَكَّرُونَ فَيَتَرَاجَعُونَ. فَإِذَا انْقَشَعَ عَنْهُمْ ضَبَابُ ذَٰلِكَ الْوُجُودِ الطَّبِيعِيِّ الَّذِي وَقَعُوا فِيهِ وَصِيدُوا فِيهِ، فَهُنَالِكَ يَحْضُرُهُ النَّدَمُ وَالتَّوْبَةُ وَالْإِنَابَةُ. بَيْنَمَا هُوَ مَاضٍ فِي هَٰذَا الْغَيِّ وَالضَّلَالِ فِي هَٰذَا الْوُجُودِ الطَّبِيعِيِّ، يُذَكِّرُهُ مَنْ أَرَادَهُ اللَّهُ أَنْ يُذَكِّرَ: “فَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ”. هُنَا يَنْدَمُ، يَأْتِيهِ النَّدَمُ، وَيَسْتَغْفِرُ وَيَتَأَسَّفُ، يَنْقَشِعُ هَٰذَا الضَّبَابُ، هُنَا تَأْتِي التَّوْبَةُ. فَإِذَا تَابَ، تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَفَرِحَ بِتَوْبَتِهِ

​هَٰكَذَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ فِي هَٰذَا الْجِهَادِ، الْإِنْسَانُ يَسْتَمِرُّ وَيَبْقَىٰ فِي هَٰذَا الْجِهَادِ. يَهْفُو هَفَوَاتٍ، وَيَمُنُّ اللَّهُ عَلَيْهِ، وَيَلْطُفُ بِهِ، فَيَنْدَمُ فَيَتُوبُ، فَيَذْكُرُ اللَّهَ، فَيَدْخُلُ فِي الْمُقَرَّبِينَ فَيَعْمَلُ. قَدْ يَهْفُو مَرَّةً أُخْرَىٰ وَقَدْ لَا يَهْفُو حَتَّىٰ يَلْقَىٰ رَبَّهُ لِأَنَّهُ لَيْسَ بِمَعْصُومٍ. وَهَٰكَذَا، هَٰكَذَا الْإِنْسَانُ يَسِيرُ فِي هَٰذِهِ الْحَيَاةِ فِي جِهَادٍ مُسْتَمِرٍّ، يَهْفُو وَيَقُومُ مِثْلَ الطِّفْلِ الَّذِي يَقَعُ فَيَقُومُ، وَهَٰكَذَا

​مَنْ أَرَادَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا خَتَمَ لَهُ بِالتَّوْبَةِ النَّصُوحِ، مَنْ مَاتَ عَلَىٰ خَيْرِ عَمَلِهِ فَارْجُ لَهُ خَيْرًا. فَإِذَا فَارَقَ ذَٰلِكَ الْوُجُودَ الَّذِي كَانَ فِيهِ، الْوُجُودَ الطَّبِيعِيَّ، الْوُجُودَ الَّذِي كَانَ مَعَ الشَّيْطَانِ وَجُنُودِ الشَّيْطَانِ، صَارَ فِي وُجُودٍ آخَرَ: وُجُودِ التَّوْبَةِ، وَانْكِسَارِ الْقَلْبِ، وَاللُّجُوءِ إِلَىٰ اللَّهِ، وَالِافْتِقَارِ إِلَىٰ اللَّهِ، فَيَبْقَىٰ بِرَبِّهِ لَا بِنَفْسِهِ فِي هَٰذِهِ الْحَالَةِ

مقطع فيديو من قناة اجتنبوا الطاغوت ترفع ١٩ مايو ٢٠١٩ م

Penerjemah: Abu Utsman Kharisman