Muharram Lebih Utama, Mengapa Nabi Lebih Banyak Puasa Sya’ban? Ini Jawaban Al-Imam An-Nawawi

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menyebutkan,
فَإِنْ قِيلَ: فِي الْحَدِيثِ أَنَّ أَفْضَلَ الصَّوْمِ بَعْدَ رَمَضَانَ صَوْمُ الْمُحَرَّمِ، فَكَيْفَ أَكْثَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ صِيَامِ شَعْبَانَ دُونَ الْمُحَرَّمِ؟ فَالْجَوَابُ عَنْهُ مِنْ وَجْهَيْنِ: أَحَدُهُمَا: لَعَلَّهُ لَمْ يَعْلَمْ فَضْلَهُ إِلَّا فِي آخِرِ حَيَاتِهِ قَبْلَ أَنْ يَتَمَكَّنَ مِنْ صِيَامِهِ. وَالثَّانِي: لَعَلَّهُ كَانَ يَعْرِضُ فِيهِ أَعْذَارٌ مِنْ سَفَرٍ أَوْ مَرَضٍ أَوْ غَيْرِهِمَا
“Jika ada yang bertanya: Di dalam hadits disebutkan bahwa puasa paling utama setelah Ramadhan adalah puasa Muharram, lalu mengapa Nabi shallallahu alaihi wasallam lebih banyak berpuasa di bulan Sya’ban daripada Muharram? Maka jawabannya ada dua sisi:
Pertama, bisa jadi beliau belum mengetahui keutamaannya kecuali di akhir hayat beliau sebelum beliau sempat (banyak) berpuasa di bulan tersebut.
Kedua, barangkali pada bulan Muharram beliau terhalang oleh berbagai udzur seperti safar (perjalanan), sakit, atau udzur lainnya.”
Sumber: al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj karya anNawawiy 8/37 – Maktabah Syamilah

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.