Beranda » Latest » Artikel » Ibadah » Enam Sifat Munafik Terkait Shalat
Untitled design (5)

Ibnul Qoyyim rahimahullah menyatakan:

فَهَذِهِ‌‌ ‌سِتُّ صِفَاتٍ في الصَّلَاةِ مِنْ عَلَامَاتِ النِّفَاقِ؛ الْكَسَلُ عِنْدَ الْقِيَامِ إِلَيْهَا، وَمُرَاءَاةُ النَّاسِ فِي فِعْلِهَا، وَتَأْخِيْرُهَا، وَنَقْرُهَا، وَقِلَّةُ ذِكْرِ اللَّهِ فِيْهَا، وَالتَّخَلُّفُ عَنْ جَمَاعَتِهَا

Ini adalah 6 sifat dalam shalat yang termasuk tanda-tanda kemunafikan: 1) Malas ketika bangun untuk mengerjakannya, 2) Riya’ ingin pamer kepada manusia saat mengerjakannya, 3) Mengakhirkan waktunya, 4) Mematuk (dalam shalat, tidak thuma’ninah), 5) Sedikit mengingat Allah di dalamnya, 6) Tertinggal dari shalat berjamaah (as-Sholaah karya Ibnul Qoyyim 1/284)

Sebagian Dalil yang Menunjukkan 6 Sifat Orang Munafik Berkaitan dengan Shalat dalam Ucapan Ibnul Qoyyim

Berikut ini adalah sebagian dalil yang menunjukkan 6 sifat orang munafik berkaitan dengan shalat tersebut:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

Sesungguhnya orang-orang munafik menipu Allah dan Dia membalas tipuan mereka. Jika mereka bangkit menuju shalat, mereka bangkit dengan malas, riya’ (pamer) kepada manusia, dan tidaklah mengingat Allah kecuali sedikit (Q.S anNisa’ ayat 142)

وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ

Dan tidaklah yang mencegah mereka untuk diterima infak-infak mereka melainkan karena mereka kufur terhadap Allah dan Rasul-Nya, mereka tidaklah mendatangi shalat kecuali dengan malas dan tidaklah berinfak kecuali dalam kondisi tidak suka (Q.S atTaubah ayat 54)

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5) الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (6)

Celakalah bagi orang yang shalat, yang lalai dari shalat mereka, yaitu orang-orang yang riya’ (pamer/tidak ikhlas)(Q.S al-Ma’un ayat 4-6)

تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِ، يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَيِ الشَّيْطَانِ، قَامَ فَنَقَرَهَا أَرْبَعًا، لَا يَذْكُرُ اللهَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا

Itu adalah shalat orang munafik. Duduk menunggu matahari. Hingga ketika (matahari akan terbenam) di antara 2 tanduk setan, ia bangkit mematuk 4 kali, tidak mengingat Allah kecuali sedikit (H.R Muslim dari Anas)

عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الْأَشْعَرِيِّ قَالَ: صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَصْحَابِهِ، ثُمَّ جَلَسَ فِي طَائِفَةٍ مِنْهُمْ، فَدَخَلَ رَجُلٌ، فَقَامَ يُصَلِّي، فَجَعَلَ يَرْكَعُ وَيَنْقُرُ فِي سُجُودِهِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَتَرَوْنَ هَذَا، مَنْ مَاتَ عَلَى هَذَا مَاتَ عَلَى غَيْرِ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ، يَنْقُرُ صَلَاتَهُ كَمَا يَنْقُرُ الْغُرَابُ الدَّمَ، إِنَّمَا مَثَلُ الَّذِي يَرْكَعُ وَيَنْقُرُ فِي سُجُودِهِ كَالْجَائِعِ لَا يَأْكُلُ إِلَّا التَّمْرَةَ وَالتَّمْرَتَيْنِ، فَمَاذَا تُغْنِيَانِ عَنْهُ، فَأَسْبِغُوا الْوُضُوءَ، وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ، أَتِمُّوا الرُّكُوعَ وَالسُّجُود

dari Abu Abdillah al-Asy’ariy ia berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam pernah shalat mengimami para Sahabatnya, kemudian duduk bersama mereka. Tiba-tiba masuklah seorang laki-laki, kemudian shalat, dia ruku’ (begitu cepat) dan mematuk dalam sujudnya. Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda: Tidakkah kalian melihat orang ini, barang siapa yang meninggal dalam keadaan seperti ini, ia meninggal di atas agama selain agama Muhammad. Ia mematuk dalam shalatnya sebagaimana gagak mematuk darah. Sesungguhnya permisalan orang yang ruku’ (cepat) dan mematuk dalam sujudnya seperti orang yang lapar tidaklah memakan kecuali satu dan dua kurma. Tidaklah mengenyangkannya. Maka sempurnakanlah wudhu’, celaka bagi tumit-tumit dari api neraka. Sempurnakanlah ruku’ dan sujud (H.R Ibnu Khuzaimah dari para pemimpin pasukan yaitu Amr bin al-Ash, Kholid bin al-Walid, Syurahbil bin Hasanah, dan Yazid bin Abi Sufyan, menyampaikan kepada Abu Abdillah al-Asy’ariy, dinilai sanadnya hasan oleh Syaikh al-Albaniy)

Sahabat Nabi Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu menyatakan:

وَمَا مِنْ رَجُلٍ يَتَطَهَّرُ فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَعْمِدُ إِلَى مَسْجِدٍ مِنْ هَذِهِ الْمَسَاجِدِ إِلَّا كَتَبَ اللهُ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةً يَخْطُوهَا حَسَنَةً وَيَرْفَعُهُ بِهَا دَرَجَةً وَيَحُطُّ عَنْهُ بِهَا سَيِّئَةً، وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلَّا مُنَافِقٌ ‌مَعْلُومُ ‌النِّفَاقِ

Tidaklah ada seorang yang bersuci dan memperbaiki wudhu’nya kemudian menuju salah satu masjid ini kecuali Allah menuliskan untuknya setiap satu langkah kaki tercatat satu kebaikan, meninggikan satu derajat dan menghapus satu keburukan. Sungguh aku telah melihat kami (para Sahabat Nabi), tidaklah yang tertinggal (dari shalat berjamaah di masjid) melainkan orang munafik (H.R Muslim)

أُبَيُّ بْنَ كَعْبٍ يَقُولُ: صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا صَلَاةَ الصُّبْحِ فَقَالَ: «أَشَهِدَ فُلَانٌ الصَّلَاةَ؟» قَالُوا: لَا. قَالَ: «فَفُلَانٌ؟» قَالُوا: لَا. قَالَ: «إِنَّ هَاتَيْنِ الصَّلَاتَيْنِ مِنْ أَثْقَلِ الصَّلَاةِ عَلَى الْمُنَافِقِينَ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا، وَالصَّفُّ الْأَوَّلُ عَلَى مِثْلِ صَفِّ الْمَلَائِكَةِ وَلَوْ تَعْلَمُونَ فَضِيلَتَهُ لَابْتَدَرْتُمُوهُ، وَصَلَاةُ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ وَحْدَهُ، وَصَلَاةُ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلَيْنِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ مَعَ الرَّجُلِ، وَمَا كَانُوا أَكْثَرَ فَهُوَ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Ubay bin Kaab berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam suatu hari melaksanakan shalat Subuh kemudian beliau bertanya: Apakah fulan hadir dalam shalat ini? Para Sahabat menyatakan: Tidak. Nabi bertanya lagi: Bagaimana dengan fulan? Para Sahabat menyatakan: Tidak. Nabi bersabda: Sesungguhnya dua shalat ini termasuk yang paling berat dilakukan oleh kaum munafik. Kalau seandainya mereka mengetahui pahala yang ada pada keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak. Shaf pertama adalah seperti shaf para Malaikat. Kalau seandainya kalian mengetahui keutamaannya, niscaya kalian akan bersegera mendapatkannya. Shalat seorang laki-laki bersama seorang laki-laki lebih banyak pahalanya dibandingkan shalatnya sendirian. Shalat seorang laki-laki bersama 2 laki-laki lebih banyak pahalanya dibandingkan shalatnya bersama seorang laki-laki. Semakin banyak jamaah shalatnya, semakin dicintai oleh Allah Azza Wa Jalla (H.R anNasaai, dihasankan oleh Syaikh al-Albaniy)


Penulis: Abu Utsman Kharisman