Menimbang Prioritas: Ketaatan Anak dan Harapan Ayah Bunda

Pertanyaan:
Fadhilatusy Syaikh, apakah boleh bagi seorang pemuda melakukan suatu sunnah seperti puasa, mengangkat pakaian hingga setengah betis, atau menuntut ilmu yang tidak wajib, padahal kedua orang tuanya tidak menyukai hal tersebut? Apa arahan Anda, wahai Syaikh?
Jawaban Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah:
Pertama: Kami menasihati sebagian orang tua yang merasa berat jika anaknya istikamah, baik anak laki-laki maupun perempuan. Sebagaimana yang kami dengar bahwa sebagian orang—kita memohon keselamatan kepada Allah—merasa sakit hati jika putra atau putrinya istikamah, lalu mereka berusaha menghalanginya dari mengingat Allah dan dari ketaatan kepada-Nya. Maka aku menasihati para orang tua tersebut agar meninggalkan keadaan yang buruk ini.
Sungguh mengherankan, padahal Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”
Mereka justru berusaha menghalangi anak dari kesalehannya, sehingga si anak tidak diberi taufik untuk mendoakan keduanya setelah mereka wafat. Berbeda dengan anak yang saleh, ia akan diberi taufik untuk mendoakan kedua orang tuanya setelah mereka tiada.
Adapun bagi si anak:
Ia tidak boleh menaati kedua orang tuanya dalam meninggalkan ketaatan kepada Allah, sebagaimana ia tidak boleh menaati mereka dalam bermaksiat kepada Allah. Namun, menaati mereka dalam bermaksiat kepada Allah hukumnya haram, sedangkan menaati mereka dalam meninggalkan ketaatan yang tidak wajib (sunnah) urusannya kembali kepada si anak. Sebab, perkara yang mustahab (disukai/sunnah) itu urusannya diserahkan kepada manusia; jika ia mau maka ia kerjakan, jika tidak maka tidak mengapa.
Akan tetapi, jika ia ingin mengerjakannya, hendaknya ia bersikap lembut kepada keduanya dengan menyembunyikan amal salehnya semampu mungkin.
Terkait pakaian hingga setengah betis: Masalah ini mudah. Saya informasikan kepada saudara penanya bahwa berpakaian hingga setengah betis adalah sunnah, dan berpakaian hingga di bawah setengah betis (namun di atas mata kaki) juga sunnah. Yang dilarang adalah jika pakaian tersebut berada di bawah kedua mata kaki (isbal).
Para sahabat radhiyallahu ‘anhum—yang kedudukannya lebih agung dan lebih mencintai kebaikan daripada orang-orang setelah mereka—pakaian mereka (hampir, pen) mencapai mata kaki atau sedikit di atasnya.
Sebagaimana perkataan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu kepada Nabi shallallaahu alaihi wasallam :
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya salah satu sisi sarungku sering melorot kecuali jika aku menjaganya.”
Ini menunjukkan bahwa sarung beliau turun melewati setengah betisnya. Karena jika sarungnya hanya sampai setengah betis lalu melorot hingga menyentuh tanah, niscaya aurat bagian atasnya akan tersingkap. Inilah yang dikenal di kalangan para sahabat.
Maka, jika Anda melihat misalnya orang-orang membenci pakaian hingga setengah betis atau lebih tinggi lagi, sementara jika Anda berpakaian sebagaimana orang-orang berpakaian (selama bukan israf/berlebihan dan bukan karena sombong) itu lebih memudahkan perkataan Anda diterima, maka alhamdulillah, tinggalkanlah apa yang ingin Anda lakukan tersebut demi melembutkan hati mereka dan agar ucapan Anda diterima.
Oleh karena itu, saya mendapati orang-orang saat ini hatinya lebih lembut kepada pemberi nasihat yang pakaiannya sesuai kebiasaan masyarakat (selama tidak haram), dibandingkan kecenderungan mereka kepada orang-orang yang mengangkat pakaiannya hingga setengah betis atau lebih. Terkadang seseorang meninggalkan perkara yang mustahab untuk meraih sesuatu yang lebih utama darinya.
Dalam hal ini, saya berpendapat jika orang tuanya berkata: “Turunkan pakaianmu hingga di bawah setengah betis,” ia sebaiknya menaati keduanya dalam kondisi ini. Karena semuanya adalah sunnah, walhamdulillah, dan semuanya pernah diamalkan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum.
Sumber: Silsilah Liqa’at al-Bab al-Maftuh, Pertemuan ke-83
Transkrip dalam Bahasa Arab
السؤال: فضيلة الشيخ,هل يجوز للشاب أن يفعل سنة من السنن كالصيام أو رفع الثوب إلى نصف الساق أو طلب العلم غير الواجب مع أن والديه يكرهان له ذلك. فما توجيهكم يا شيخ؟
أجاب عنه الشيخ ابن عثيمين رحمه الله تعالى:
أولاً: ننصح بعض الوالدين الذين يثقل عليهم إذا استقام الولد سواءً كان ذكراً أم أنثى، كما سمعنا أن بعض الناس -نسأل الله العافية- إذا استقام ابنه أو ابنته تألم من ذلك وحاول أن يصده عن ذكر الله، وعن طاعة الله فأنصح هؤلاء الوالدين من هذه الحالة القبيحة، والعجب أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «إذا مات الإنسان انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له» وهؤلاء يحاولون أن يحولوا بين الولد وصلاحه حتى لا يوفق الولد بالدعاء لهما بعد موتهما، بخلاف الولد الصالح فإنه يوفق بالدعاء لوالديه بعد موتهم. أما بالنسبة للولد فلا يطع والديه في ترك طاعة الله، كما أنه لا يطيعهما في معصية الله، لكن طاعتهما في معصية الله حرام عليه، وطاعتهما في ترك طاعة الله غير الواجبة أمرها إليه؛ لأن المستحب أمرها إلى الإنسان إن شاء فعل وإن شاء لم يفعل، لكنه إذا أراد أن يفعل ينبغي أن يداريهما فيخفي ما أمكن إخفاؤه من عمله الصالح، وأما ما يتعلق باللباس إلى نصف الساق فهذا أمره سهل، وأخبر الأخ: أن اللباس إلى نصف الساق سنة، وإلى ما تحت نصف الساق سنة، الممنوع أن يكون أسفل من الكعبين. فإن الصحابة رضوان الله عليهم وهم أجل قدراً ممن بعدهم وأحب للخير لمن بعدهم كانت ألبستهم تصل إلى الكعب، أو إلى ما فوقه يسيراً، كما قال أبو بكر رضي الله عنه للنبي صلى الله عليه وسلم: (يا رسول الله! إن أحد شقي إزاري يسترخي عليَّ إلا أن أتعهده) وهذا يدل على أن إزاره ينزل عن نصف ساقه؛ لأنه لو كان إلى نصف ساقه واسترخى عليه حتى يصل إلى الأرض لزم من ذلك انكشاف عورته من فوق، وهذا هو المعروف بين الصحابة. فإذا رأيت مثلاً: أن الناس يكرهون اللبس إلى نصف الساق أو أعلى، وأنك لو لبست كما يلبس الناس في غير إسراف ولا مخيلة أدعى لقبول كلامك، الحمد لله اترك هذا الذي تريد أن تفعله تأليفاً للقلوب وقبولاً للكلام، ولهذا أجد الناس الآن تلين قلوبهم للناصح إذا كان لباسه على العادة لكنه ليس محرماً أكثر مما تميل إلى الذين يرفعون لباسهم إلى نصف الساق أو أكثر، والإنسان قد يدع المستحب لحصول ما هو أفضل منه، هذا وأرى أنه إذا قال له والداه: أنزل ثوبك إلى أسفل من نصف الساق، أرى أنه يطيعهما في هذا الحال؛ لأنه كله سنة والحمد لله، كلٌّ عمل به الصحابة رضي الله عنهم.
المصدر: سلسلة لقاءات الباب المفتوح > لقاء الباب المفتوح [83]
البر والصلة والآداب والأخلاق > البر والصلة
Penerjemah: Abu Utsman Kharisman

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.