Hukum Shalat Sunnah Antara Adzan dan Iqamah Bagi Musafir

Pertanyaan:
Apakah hadits “Di antara setiap dua adzan (adzan dan iqamah) terdapat shalat”⁽¹⁾ berlaku umum untuk orang yang mukim (tidak bepergian) dan musafir?
Jawaban Syaikh Robi’ bin Hadi al-Madkhaliy rahimahullah:
Inilah yang dzhahir (yang nampak). Para pendahulu yang sholih (salaf) dahulu melakukan shalat sunnah. Dahulu Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Seandainya aku melakukan shalat sunnah (dalam safar), niscaya aku akan menyempurnakan (shalat wajib empat rakaatku).” Akan tetapi, telah diriwayatkan dari banyak sahabat bahwasanya mereka tetap melakukan shalat sunnah.
Maka seorang musafir, jika ia menghendaki, ia boleh melakukan shalat sunnah dan mengerjakan shalat-shalat sunnah rawatib. Dan jika ia berkehendak untuk meninggalkannya, maka sunnah seperti ini—apabila adzan telah dikumandangkan sedangkan ia seorang musafir dan sedang duduk di dalam masjid—hendaknya ia shalat (dua rakaat) berdasarkan hadits tersebut.
Catatan Kaki:
(1) Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam bab «Al-Azan», hadits nomor [627], dan Muslim dalam bab «Sholatul Al-Musafirin», hadits nomor [838], dari Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu ‘anhu.
Sumber: adz-Dzari’ah ilaa Bayaani Maqooshidi Kitabisy Syari’ah karya Syaikh Robi’ bin Hadi al-Madkhaliy 1/291.
Transkrip dalam Bahasa Arab
سُؤَالٌ: هَلْ حَدِيثُ «بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ»⁽¹⁾ عَامٌّ لِلْمُقِيمِ وَالْمُسَافِرِ؟
أجاب عنه الشيخ ربيع بن هادي المدخلي رحمه الله تعالى: هَذَا الظَّاهِرُ، كَانَ السَّلَفُ يَتَنَفَّلُونَ، وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – يَقُولُ: «لَوْ تَنَفَّلْتُ لَأَتْمَمْتُ»، لَكِنْ وَرَدَ عَنْ كَثِيرٍ مِنَ الصَّحَابَةِ أَنَّهُمْ كَانُوا يَتَنَفَّلُونَ، فَالْمُسَافِرُ إِنْ شَاءَ تَنَفَّلَ وَجَاءَ بِالرَّوَاتِبِ، وَإِنْ شَاءَ لَهُ أَنْ يَتْرُكَ فَمِثْلُ هَذِهِ السُّنَّةِ، إِذَا أُذِّنَ وَهُوَ مُسَافِرٌ وَجَالِسٌ فِي الْمَسْجِدِ فَيُصَلِّي لِلْحَدِيثِ
الْحَاشِيَةُ
١ رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ فِي «الأَذَانِ»، حَدِيث [٦٢٧]، وَمُسْلِمٌ فِي «صَلَاةِ الْمُسَافِرِينَ»، حَدِيث [٨٣٨]، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ ابْنِ مُغَفَّلٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -.
مصدر: الذريعة إلى بيان مقاصد كتاب الشريعة ١/٢٩١
Penerjemah: Abu Utsman Kharisman

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.