Beranda » Latest » Artikel » Ahkam » Fatwa Komprehensif Syaikh Ibn Utsaimin tentang Foto, Gambar, dan Patung Makhluk Bernyawa

Fatwa Komprehensif Syaikh Ibn Utsaimin tentang Foto, Gambar, dan Patung Makhluk Bernyawa

0
camera-4914690_1280

Pertanyaan:

“Syaikh (Muhammad bin Sholih al-Utsaimin) ditanya tentang: Hukum tashwir (membuat gambar/mengambil foto), hukum iqtina’ (memiliki/menyimpan) gambar, serta hukum gambar yang menampilkan wajah dan tubuh bagian atas?”

Jawaban Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin -semoga Allah merahmatinya-:

Tashwir (Membuat Gambar/Mengambil Foto)

Tashwir terbagi menjadi dua jenis:

Pertama: Tashwir (menggambar/membuat patung makhluk bernyawa) dengan tangan.

Hukumnya haram, bahkan termasuk dosa besar (kaba’ir) karena Nabi ﷺ melaknat pelakunya. Tidak ada perbedaan antara gambar yang memiliki bayangan (tiga dimensi/patung) atau sekadar lukisan (dua dimensi) menurut pendapat yang rajih (kuat) berdasarkan keumuman hadits.

Jika tashwir ini termasuk dosa besar, maka seseorang yang membiarkan orang lain memfoto/melukis dirinya berarti telah menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan, sehingga hal tersebut tidak halal.

Kedua: Tashwir dengan alat (kamera).

Yaitu gambar yang terlukis dengannya tanpa ada peranan pemfoto dalam mereka bentuk atau garis-garis wajahnya. Ini menjadi objek perselisihan di kalangan ulama kontemporer:

  • Pendapat yang melarang: Melihat pada lafadz hadits, sebab pengambilan gambar dengan alat tetap masuk dalam kategori tashwir. Jika bukan karena kerja manusia yang menggerakkan, mengatur, dan memproses gambar tersebut, niscaya gambar tidak akan tercipta.
  • Pendapat yang membolehkan: Melihat pada makna dan ‘illat (alasan hukum). Alasan diharamkannya gambar adalah mudhahat (menyerupai) ciptaan Allah, sedangkan mengambil gambar dengan kamera bukanlah menyerupai ciptaan Allah, melainkan sekadar memindahkan gambar yang diciptakan Allah itu sendiri. Ia adalah pemindah ciptaan Allah, bukan penyerupa. Mereka mencontohkan: Jika seseorang meniru tulisan tangan orang lain, tulisan orang kedua itu bukan tulisan orang pertama, melainkan hanya mirip. Namun jika ia memindahkan tulisan tersebut dengan potokopi (fotografi), maka salinan itu adalah tulisan orang pertama itu sendiri meskipun proses pemindahannya dilakukan oleh orang kedua. Demikian pula memindahkan gambar dengan kamera; gambar tersebut adalah ciptaan Allah yang dipindahkan melalui perantara alat fotografi.

Sikap berhati-hati adalah meninggalkannya karena hal itu termasuk perkara syubhat (al-mutasyabihat), dan barang siapa menjaga diri dari syubhat maka ia telah memelihara agama dan kehormatannya. Namun jika ada kebutuhan tertentu (hajah) seperti pembuatan dokumen identitas diri (KTP/paspor), maka tidak mengapa; karena kebutuhan dapat menghilangkan syubhat.

Hukum Menyimpan dan Memiliki Gambar (Iqtina’)

Hukum memiliki gambar terbagi menjadi dua jenis:

Jenis Pertama: Gambar Berwujud 3 Dimensi (Mujassamah).

Memilikinya hukumnya haram. Ibnul Arabi telah menukil adanya ijmak (kesepakatan ulama) atas diharamkannya hal ini (sebagaimana dinukil dalam Fathul Bari juz 10 hlm. 388 cet. As-Salafiyah). Ibnul Arabi berkata: “Letak ijmak ini adalah pada selain mainan anak perempuan (lu’ab al-banat).” Al-Hafizh Ibn Hajar menjelaskan riwayat Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa beliau bermain boneka di sisi Nabi ﷺ. Hadits ini dijadikan dalil bolehnya memiliki boneka mainan untuk anak perempuan sebagai pengecualian dari keumuman larangan.

Sangat disayangkan sebagian orang saat ini memajang patung-patung ini di ruang tamu atau pintu masuk rumah mereka, menurunkan derajat mereka ke tingkat anak-anak seraya menanggung dosa dan kemaksiatan.

Jenis Kedua: Gambar Tidak Berwujud 3 Dimensi (Gambar 2 Dimensi/Lukisan/Foto)

Ini terbagi menjadi beberapa rincian:

Bagian 1: Digantung untuk Pengagungan. Seperti memajang foto raja, presiden, menteri, ulama, tokoh, orang tua, atau kakak tertua. Hukumnya haram karena mengandung pengagungan (ghuluw) terhadap makhluk dan menyerupai penyembah berhala, serta dapat menyeret kepada kesyirikan jika yang dipajang adalah foto ulama atau ahli ibadah.

Bagian 2: Digantung untuk Kenang-kenangan. Seperti memajang foto teman atau sahabat di kamar pribadi. Hukumnya terlarang karena dua alasan:

  1. Menyebabkan keterikatan hati kepada teman secara berlebihan yang memengaruhi kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.
  2. Hadits shahih Al-Bukhari dari Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu: “Malaikat tidak akan masuk ke rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar.” Ini adalah hukuman, dan tidak ada hukuman melainkan atas perbuatan yang diharamkan.

Bagian 3: Digantung untuk Keindahan/Hiasan. Hukumnya haram berdasarkan hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika beliau menutup biliknya dengan tirai bergambar, lalu Rasulullah ﷺ merobeknya dan bersabda: “Manusia yang paling keras azabnya pada hari kiamat adalah orang-orang yang menyerupai ciptaan Allah.” Aisyah kemudian menjadikannya satu atau dua bantal sandaran. Juga hadits Aisyah tentang bantal (namraqah) bergambar di mana Nabi ﷺ enggan masuk rumah hingga bantal itu dijadikan alas duduk/sandaran.

Bagian 4: Gambar pada Objek yang Dihinakan. Seperti gambar pada karpet, bantal, bejana, atau taplak meja. An-Nawawi menukil dari mayoritas ulama (Sahabat dan Tabi’in) tentang kebolehannya. Ini adalah pendapat Ats-Tsauri, Malik, Abu Hanifah, Asy-Syafi’i, dan madzhab Hanbali.

Pendapat yang terkuat adalah jika gambar tersebut berada pada benda yang diinjak atau diduduki, maka hukumnya boleh meskipun gambarnya masih utuh/lengkap, sebagaimana ditunjukkan oleh riwayat An-Nasa’i dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Bagian 5: Gambar yang Sulit Dihindari (Ta’ammu bihi al-Balwa). Seperti gambar pada koran, majalah, buku pelajaran, atau uang kertas (yang memuat gambar raja/pemimpin). Jika gambar tersebut tidak bermaksud disimpan/diniatkan secara khusus, bahkan ia membencinya namun sulit untuk menghindarinya, maka yang tampak bagi saya tidak ada dosa/halangan baginya. Allah tidak menjadikan kesukaran dalam agama dan tidak membebani hamba-Nya di luar kemampuan.

Gambar Wajah dan Tubuh Bagian Atas Saja

Mengenai pertanyaan Anda tentang gambar yang hanya menampilkan wajah dan dada/tubuh bagian atas: Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menunjukkan bahwa syarat bentuk tersebut kehilangan statusnya sebagai “gambar” adalah dengan memotong kepalanya secara sempurna dari bagian tubuh yang lain.

Jika kepala masih menyatu dengan dada, maka itu tidak ubahnya seperti orang yang sedang duduk (tetap berwujud sosok). Berbeda jika kepalanya dipisahkan secara total dari badan. Oleh karena itu, Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Gambar itu adalah kepala.” Apabila beliau ingin menghapus gambar, beliau memotong/mengikis bagian kepalanya. Hal ini juga diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma: “Gambar itu adalah kepala, apabila kepalanya dipotong maka ia bukan lagi gambar.” Maka sikap meremehkan masalah ini oleh sebagian orang adalah hal yang wajib diwaspadai.

Sumber: Majmu’ Fatawa wa Rosaail al-Utsaimin (2/253-258)

Transkrip dalam Bahasa Arab

سئل فضيلة الشيخ: عن حكم التصوير؟ وحكم اقتناء الصور؟ وحكم الصور التي تمثل الوجه وأعلى الجسم؟

فأجاب-حفظه الله- بقوله: التصوير نوعان

أحدهما: تصوير باليد
والثاني: تصوير بالآلة

فأما التصوير باليد فحرام بل هو كبيرة من كبائر الذنوب؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم، لعن فاعله، ولا فرق بين أن يكون للصورة ظل أو تكون مجرد رسم على القول الراجح لعموم الحديث، وإذا كان التصوير هذا من الكبائر، فتمكين الإنسان غيره أن يصور نفسه إعانة على الإثم والعدوان فلا يحل

وأما التصوير بالآلة وهي (الكاميرا) التي تنطبع الصورة بواسطتها من غير أن يكون للمصور فيها أثر بتخطيط الصورة وملامحها فهذه موضع خلاف بين المتأخرين فمنهم من منعها، ومنهم من أجازها، فمن نظر إلى لفظ الحديث منع؛ لأن التقاط الصورة بالآلة داخل في التصوير، ولولا عمل الإنسان بالآلة بالتحريك والترتيب وتحميض الصورة لم تلتقط الصورة، ومن نظر إلى المعنى والعلة أجازها؛ لأن العلة هي مضاهاة خلق الله، والتقاط الصورة بالآلة ليس مضاهاة لخلق الله، بل هو نقل للصورة التي خلقها الله تعالى نفسها فهو ناقل لخلق الله لا مضاه له، قالوا: ويوضح ذلك أنه لو قلد شخص كتابة شخص لكانت كتابة الثاني غير كتابة الأول

بل هي مشابهة لها ولو نقل كتابته بالصورة الفوتوغرافية لكانت الصورة هي كتابة الأول وإن كان عمل نقلها من الثاني، فهكذا نقل الصورة بالآلة الفوتغرافية (الكاميرا) الصورة فيه هي تصوير الله نقل بواسطة آلة التصوير

والاحتياط الامتناع من ذلك؛ لأنه من المتشابهات ومن اتقى الشبهات فقد استبرأ لدينه وعرضه، لكن لو احتاج إلى ذلك لأغراض معينة كإثبات الشخصية فلا بأس به؛ لأن الحاجة ترفع الشبهة لأن المفسدة لم تتحقق في المشتبه فكانت الحاجة رافعة لها

وأما اقتناء الصور فعلى نوعين

النوع الأول: أن تكون الصورة مجسمة أي ذات جسم فاقتناؤها حرام، وقد نقل ابن العربي الإجماع عليه، نقله عنه في فتح الباري ص 388 ج10ط. السلفية قال: “وهذا الإجماع محله في غير لعب البنات كما سأذكره في باب من صور صورة” وقد أحال في الباب المذكور على كتاب الأدب، وذكره في كتاب الأدب في باب الانبساط إلى الناس ص 527 من المجلد المذكور على حديث عائشة رضي الله عنها قالت: «كنت ألعب بالبنات عند النبي صلى الله عليه وسلم، وكان لي صواحب يلعبن معي فكان رسول الله صلى الله عليه وسلم، إذا دخل يتقمعن منه فيسر بهن إلي فيلعبن معي

قال في شرحه: واستدل بهذا الحديث على جواز اتخاذ صور البنات واللعب من أجل لعب البنات بهن، وخص ذلك من عموم النهي عن اتخاذ الصور وبه جزم عياض ونقله عن الجمهور، قال: وذهب بعضهم إلى أنه منسوخ وخصه بعضهم بالصغار

وإن المؤسف أن بعض قومنا الآن، صاروا يقتنون هذه الصور ويضعونها في مجالسهم أو مداخل بيوتهم، نزلوا بأنفسهم إلى رتبة الصبيان مع اكتساب الإثم والعصيان نسأل الله لنا ولهم الهداية

النوع الثاني: أن تكون الصورة غير مجسمة بأن تكون رقمًا على شيء فهذه أقسام

القسم الأول: أن تكون معلقة على سبيل التعظيم والإجلال مثل ما يعلق من صور الملوك، والرؤساء، والوزراء، والعلماء، والوجهاء، والآباء، وكبار الإخوة ونحوها، فهذا القسم حرام لما فيه من الغلو بالمخلوق والتشبه بعباد الأصنام والأوثان، مع أنه قد يجر إلى الشرك فيما إذا كان المعلق صورة عالم أو عابد ونحوه

القسم الثاني: أن تكون معلقة على سبيل الذكرى مثل من يعلقون صور أصحابهم وأصدقائهم في غرفهم الخاصة فهذه محرمة فيما يظهر لوجهين

الوجه الأول: أن ذلك يوجب تعلق القلب بهؤلاء الأصدقاء تعلقًا لا ينفك عنه، وهذا يؤثر تأثيرًا بالغًا على محبة الله ورسوله وشرعه ويوجب تشطير المحبة بين هؤلاء الأصدقاء وما تجب محبته شرعًا وكأن قارعًا يقرع قلبه كلما دخل غرفته. انتبه. انتبه. صديقك صديقك وقد قيل: أحبب حبيبك هونًا ما … فعسى أن يكون بغيضك يومًا ما

الوجه الثاني: أنه ثبت في صحيح البخاري من حديث أبي طلحة رضي الله عنه قال سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول: «لا تدخل الملائكة بيتًا فيه كلب ولا صورة» وهذه عقوبة ولا عقوبة إلا على فعل محرم

القسم الثالث: أن تكون معلقة على سبيل التجميل والزينة، فهذه محرمة أيضًا لحديث عائشة رضي الله عنها قالت: «قدم رسول الله صلى الله عليه وسلم، من سفر وقد سترت بقرام لي على سهوة لي فيها تماثيل، فلما رآه رسول الله صلى الله عليه وسلم هتكه، وقال: “أشد الناس عذابًا يوم القيامة الذين يضاهون بخلق الله”. قالت: فجعلته وسادة أو وسادتين» رواه البخاري. والقرام: خرقة تفرش في الهودج أو يغطى بها يكون فيها رقوم ونقوش. والسهوة بيت صغير في جانب الحجرة يجعل فيه المتاع

وعن عائشة رضي الله عنها «أنها اشترت نمرقة فيها تصاوير فلما رآها النبي صلى الله عليه وسلم، قام على الباب فلم يدخل فعرفت في وجهه الكراهية، قالت: فقلت: أتوب إلى الله ماذا أذنبت؟ قال: “ما هذه النمرقة؟ ” قلت: لتجلس عليها وتوسدها فقال النبي صلى الله عليه وسلم: “إن أصحاب هذه الصور يعذبون يوم القيامة يقال لهم: أحيوا ما خلقتم وإن الملائكة لا تدخل بيتًا فيه الصورة» . رواه البخاري

النمرقة: الوسادة العريضة تصلح للاتكاء والجلوس

القسم الرابع: أن تكون ممتهنة كالصورة التي تكون في البساط والوسادة، وعلى الأواني وسماط الطعام ونحوها، فنقل النووي عن جمهور العلماء من الصحابة والتابعين جوازها، وقال: هو قول الثوري ومالك وأبي حنيفة والشافعي، وهو كذلك مذهب الحنابلة. ونقل في فتح الباري – ص 391ج 10ط. السلفية- حاصل ما قيل في ذلك عن ابن العربي فقال: حاصل ما في اتخاذ الصور؛ أنها إن كانت ذات أجسام حرم بالإجماع، وإن كانت رقمًا فأربعة أقوال

الأول: يجوز مطلقًا على ظاهر قوله في حديث الباب: “إلا رقمًا في ثوب
الثاني: المنع مطلقًا حتى الرقم
الثالث: إن كانت الصورة باقية الهيئة قائمة الشكل حرم، وإن قطعت الرأس أو تفرقت الأجزاء جاز قال: وهذا هو الأصح
الرابع: إن كان مما يمتهن جاز وإن كان معلقًا لم يجز ا. هـ

والذي صححه هو ظاهر حديث النمرقة، والقول الرابع هو ظاهر حديث القرام ويمكن الجمع بينهما بأن النبي صلى الله عليه وسلم لما هتك الستر تفرقت أجزاء الصورة فلم تبق كاملة بخلاف النمرقة فإن الصورة كانت فيها كاملة فحرم اتخاذها، وفي حديث أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «أتاني جبريل فقال: أتيتك البارحة فلم يمنعني أن أكون دخلت إلا أنه كان على الباب تماثيل، وكان في البيت قرام ستر فيه تماثيل، وكان في البيت كلب فمر برأس التمثال الذي على باب البيت يقطع فيصير كهيئة الشجرة، ومر بالستر فليقطع فليجعل منه وسادتان منبوذتان توطآن، ومر بالكلب فليخرج» ففعل رسول الله صلى الله عليه وسلم، رواه أهل السنن. وفي رواية النسائي «إما أن تقطع رءوسها أو تجعل بسطًا توطأ» . ذكر هذا الحديث في فتح الباري ص 392 من المجلد العاشر السابق، وزعم في ص390 أنه مؤيد للجمع الذي ذكرناه، وعندي أن في ذلك نظرًا فإن هذا الحديث ولا سيما رواية النسائي تدل على أن الصورة إذا كانت في شيء يمتهن فلا بأس بها، وإن بقيت كاملة وهو رأي الجمهور كما سبق

القسم الخامس: أن تكون مما تعم به البلوى ويشق التحرز منه كالذي يوجد في المجلات والصحف وبعض الكتب، ولم تكن مقصودة لمقتنيها بوجه من الوجوه بل هي مما يكرهه ويبغضه ولكن لا بد له منها

والتخلص منها فيه عسر ومشقة وكذلك ما في النقود من صور الملوك والرؤساء والأمراء مما ابتليت به الأمة الإسلامية، فالذي يظهر لي أن هذا لا حرج فيه على من وقع في يده بغير قصد منه إلى اتخاذه من أجل صوره بل هو يكرهه أشد الكراهة، ويبغضه ويشق عليه التحرز منه فإن الله تعالى لم يجعل على عباده في دينهم من حرج ولا يكلفهم شيئًا لا يستطيعونه إلا بمشقة عظيمة أو فساد مال، ولا يصدق على مثل هذا أنه متخذ للصورة ومقتن لها

وأما سؤالكم عن الصورة التي تمثل الوجه وأعلى الجسم، فإن حديث أبي هريرة الذي أشرنا إليه يدل على أنه لا بد من قطع الرأس وفصله فصلًا تامًّا عن بقية الجسم، فأما إذا جمع إلى الصدر فما هو إلا رجل جالس، بخلاف ما إذا أبين الرأس إبانة كاملة عن الجسم، ولهذا قال الإمام أحمد رحمه الله: الصورة الرأس. وكان إذا أراد طمس الصورة حك رأسها، وروي عن ابن عباس رضي الله عنهما أنه قال: الصورة الرأس فإذا قطع الرأس فليس هو صورة. فتهاون بعض الناس في ذلك مما يجب الحذر منه

مجموع فتاوى ورسائل العثيمين ٢\٢٥٣-٢٥٨

Penerjemah: Abu Utsman Kharisman