Beranda » Latest » Artikel » Ahkam » Sarang Laba-laba di Rumah: Dibiarkan Atau Dibersihkan? Ini Fiqih Ringkasnya

Sarang Laba-laba di Rumah: Dibiarkan Atau Dibersihkan? Ini Fiqih Ringkasnya

0
Ensemble de réalisme de toile d'araignée_ _ Vecteur Premium

Penanya:

Apa hukum membersihkan sarang laba-laba dari sudut-sudut rumah? Mohon penjelasannya mengenai pertanyaan ini.

Jawaban Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin -semoga Allah merahmatinya-:

Alhamdulillah Rabbil ‘alamin, aku bershalawat dan bersalam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabatnya, serta siapa saja yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari pembalasan.

Membersihkan sarang laba-laba dari sudut-sudut rumah itu tidak mengapa (boleh). Hal tersebut dikarenakan laba-laba dapat mengganggu dan mengotori dinding-dinding rumah, bahkan terkadang bersarang di atas buku-buku maupun pakaian. Laba-laba termasuk jenis serangga yang mengganggu, meskipun gangguannya tergolong ringan dibandingkan dengan hewan/serangga lainnya. Jika timbul gangguan darinya, maka tidak mengapa untuk membersihkan atau membuang sarang yang dibuatnya. Apabila gangguannya tidak bisa dihindari kecuali dengan membunuhnya, maka boleh juga untuk membunuhnya.

Kaidah Syariat terkait hal ini:

Serangga-serangga seperti ini berada dalam beberapa kondisi:

Memang memiliki sifat mengganggu secara alamiah (mu’dziyah bi thabi’atiha): Hewan jenis ini disunnahkan untuk dibunuh, seperti kalajengking, tikus, ular, dan sejenisnya.

Hanya mengganggu karena kondisi tertentu (mu’dziyah li sababin ‘aridh): Hewan jenis ini tidak disunnahkan untuk dibunuh secara mutlak, melainkan hanya dibunuh ketika ia menimbulkan gangguan. Adapun jika dalam kondisi tidak mengganggu, maka tidak perlu dibunuh. Sebab, membunuhnya saat ia tidak mengganggu dapat menjadi pemicu membiasakan diri berbuat zalim/aniaya terhadap makhluk ciptaan Allah. Akan tetapi, (menahan diri dari membunuhnya) di sini bukan berstatus haram atau makruh, melainkan atas dasar wara’ (kehati-hatian) dan hal yang lebih utama.

Sebab, petunjuk As-Sunnah mengenai hukum serangga dan sejenisnya terbagi menjadi tiga kelompok:

Kelompok Pertama: Yang diperintahkan untuk dibunuh. Ini berlaku untuk hewan yang sifat dasarnya mengganggu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَمْسٌ مِنَ الدَّوَابِّ كُلُّهُنَّ فَاسِقٌ يُقْتَلْنَ فِي الْحِلِّ وَالْحَرَمِ: الْغُرَابُ وَالْحِدَأَةُ وَالْعَقْرَبُ وَالْفَأْرَةُ وَالْكَلْبُ الْعَقُورُ

“Ada lima jenis hewan fasik yang semuanya boleh dibunuh, baik di tanah halal maupun tanah haram: burung gagak, burung elang, kalajengking, tikus, dan anjing galak/buas.” (H.R al-Bukhari dan Muslim, pen)

Maka lima jenis hewan ini, serta hewan lain yang serupa atau yang tingkat gangguannya lebih parah, disyariatkan untuk dibunuh dalam kondisi apa pun—baik gangguan tersebut benar-benar telah terjadi maupun belum. Sebab, jika gangguannya sudah terjadi berarti ia dibunuh karena tindakannya, dan jika belum terjadi pun pada dasarnya ia memang berpotensi untuk mengganggu.

Kelompok Kedua: Yang dilarang oleh syariat untuk dibunuh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang membunuh empat jenis hewan: semut, lebah, burung hud-hud, dan burung shurad (sejenis burung kecil) (H.R Abu Dawud dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas, pen) . Hewan-hewan ini tidak boleh dibunuh.

Kelompok Ketiga: Yang didiamkan oleh pembuat syariat (tidak diperintah dan tidak dilarang). Untuk kelompok ini, yang lebih utama adalah tidak membunuhnya. Namun, jika dibunuh, maka tidak ada dosa/halangan padanya.

Sumber: Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, Kaset No. 211a

Transkrip Fatwa dalam Bahasa Arab

السائل : ما حكم إزالة العنكبوت من زوايا البيوت؟ أرجو الإفادة بهذا السؤال.
الشيخ محمد بن صالح العثيمين رحمه الله تعالى : الحمد لله رب العالمين وأصلي وأسلم على نبينا محمد وعلى ءاله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، إزالة العنكبوت من زوايا البيوت لا بأس بها وذلك لأن العنكبوت تؤذي وتلوّث الحيطان وربما تُعشّش على الكتب وعلى الملابس فهي من الحشرات المؤذية وإن كانت أذيتها خفيفة بالنسبة لغيرها فإذا حصل منها أذية فإنه لا بأس بإزالة ما بنته من العش وإذا لم يندفع أذاها إلا بقتلها فلا بأس بقتلها أيضا.
والقاعدة الشرعية: أن هذه الحشرات إما أن تكون مؤذية بطبيعتها فهذه يُسنّ قتلها كالعقرب والفأرة والحية ونحوها وإما أن تكون مؤذية لسبب عارض فهذه لا يُسن قتلها مطلقا ولكن تُقتل في حال أذيتها ولا تُقتل إذا كانت في حال لا تؤذي فيها لأن قتلها في حال لا تؤذى فيه قد يكون سببا لتعوّد النفس على العدوان على مخلوقات الله ولكن ليس هذا على سبيل التحريم أو الكراهة إنما على سبيل التورّع والأوْلى لأن الحشرات وشبهها جاءت السنّة بها على ثلاثة وجوه، الوجه الأول: الأمر بقتلها وهذا في المؤذيات بطبيعتها فقد قال النبي عليه الصلاة والسلام: (خَمْسٌ مِنَ الدَّوَابِّ كُلُّهُنَّ فَاسِقٌ يُقْتَلْنَ فِي الْحِلِّ وَالْحَرَمِ: الْغُرَابُ وَالْحِدَأَةُ وَالْعَقْرَبُ وَالْفَأْرَةُ وَالْكَلْبُ الْعَقُورُ ) فهذه الخمس ما كان مثلها أو أشد أذية يُشرع قتلها بكل حال سواء حصلت منها الأذية فعلا أم لم تحصل لأنها إن حصلت منها الأذية فقد قُتِلت بتلبسها بالأذية وإن لم تحصل فهي مهيأة للأذية.
والقسم الثاني: ما نهى الشرع عن قتله فقد نهى النبي صلى الله عليه وسلم عن قتل أربع من الدواب: ( النملة والنحلة والهدهد والصُرَد ) فهذه لا تقتل.
والقسم الثالث: ما سكت الشارع عنه فالأوْلى ألا تقتل وإن قتِلت فلا حرج فيها.

فتاوى نور على الدرب 211a