Beranda » Latest » Artikel » Muamalah » Antara Sunnah dan Maslahat Dakwah: Kapan Kita Boleh Mengalah?

Antara Sunnah dan Maslahat Dakwah: Kapan Kita Boleh Mengalah?

0
Photo by Alexas_Fotos

Pertanyaan:

​Apakah Anda berpendapat bahwa demi kemaslahatan dakwah, para pemuda diperbolehkan meninggalkan sebagian sunnah yang tetap (tsabit) dari Rasulullah ﷺ demi menarik simpati manusia kepada agama dan dakwah? Apa dalilnya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah?

​Jawaban Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’iy rahimahullah:

​Jika perkara tersebut memang ada riwayatnya dari Nabi ﷺ (yakni ada beberapa variasi cara yang sama-sama warid), namun salah satunya lebih shahih atau salah satunya memiliki pahala yang lebih banyak, maka tidak mengapa (memilih salah satunya demi maslahat).

​Contohnya: Shalat menggunakan alas kaki (sandal). Nabi ﷺ pernah shalat dengan telanjang kaki dan pernah pula dengan memakai sandal. Jika Anda melihat orang-orang akan menjauh atau bahkan menimbulkan fitnah (keributan), maka janganlah shalat dengan sandalmu, meskipun shalat dengan sandal itu lebih utama karena Nabi ﷺ bersabda: “Shalatlah dengan alas kaki kalian, selisihilah kaum Yahudi.”

​Contoh lainnya: Mengeraskan bacaan Basmalah (jahr) atau melirihkannya (israr). Keduanya ada riwayatnya, namun melirihkannya lebih shahih berdasarkan riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku shalat di belakang Rasulullah ﷺ, Abu Bakar, dan Umar, mereka semua membuka shalat dengan ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin’ (tanpa mengeraskan basmalah).” Namun, ada juga riwayat bahwa Nabi ﷺ mengeraskannya. Maka kedua cara ini boleh. Jika Anda khawatir terjadi fitnah saat berada di tengah orang-orang yang mengingkari orang yang melirihkan basmalah, maka tidak mengapa Anda mengeraskannya, atau sebaliknya.

​Adapun jika sampai melakukan bid’ah demi agar orang tidak menjauh, maka tidak boleh. Misalnya, mengumandangkan azan dengan tambahan “Hayya ‘ala khairil ‘amal”, ini tidak boleh.

​Prinsip utamanya:

​Janganlah engkau melakukan bid’ah, jangan meninggalkan kewajiban, dan jangan melakukan keharaman demi alasan “kemaslahatan dakwah”. Allah lebih cemburu terhadap agama-Nya daripada engkau.

​Begitu pula dalam masalah Qunut (Subuh). Jika mereka berkata kepadamu: “Engkau harus qunut subuh, jika tidak maka jangan mengimami kami,” maka katakanlah kepada mereka: “Silakan kalian shalat (mencari imam lain), saya tidak akan qunut (jika menjadi imam shalat Subuh, pen) ,” karena hal itu tidak tsabit (shahih) dari Nabi ﷺ.

​Adapun hadits: “Nabi ﷺ terus-menerus melakukan qunut sampai beliau meninggalkan dunia,” adalah hadits dhaif (lemah) karena melalui jalur Abu Ja’far Ar-Razi yang diperselisihkan, dan pendapat yang kuat adalah dia lemah.

​Jika mereka menginginkanmu melakukan bid’ah, meninggalkan kewajiban, atau melakukan keharaman, maka jangan ditaati.

​Jika mereka berkata: “Jangan ucapkan ‘Aamiin’ setelah imam membaca ‘Waladhdhallin’,” maka katakan: “Saya akan tetap mengucapkannya. Jika kalian ingin saya mengimami, saya akan imami, jika tidak maka silakan kalian shalat (jadi imam) dan shalat di belakang kalian itu sah.”

​Begitu pula jika mereka berkata: “Jangan letakkan tangan kanan di atas tangan kiri (sedekap) dalam shalat,” katakanlah: “Saya akan tetap bersedekap.”

​Hal-hal seperti ini adalah sunnah yang tidak memiliki dua cara (yakni hanya ada satu cara yang shahih dari Nabi ﷺ). Maka jangan sekali-kali meninggalkan sunnah demi mencari rida manusia. Wallahul Musta’an (Hanya Allah tempat memohon pertolongan).


Sumber: Qam’ul Mu’anid (2/398-399)

Transkrip Fatwa dalam Bahasa Arab

راجع كتاب قمع المعاند ( 2 / 398 – 399 )

هل ترون أن من مصلحة الدعوة أن يترك الشباب بعض السنن الثابتة عن رسول الله لأجل استقطاب الناس للدين والدعوة وماهي الأدلة من الكتاب والسنة ..؟

إذا كان هذا وارداً عن النبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم – وذاك وارد ، ولكن أحدهما أصح أو أحدهما فيه الأجر أكثر فلا بأس ،ومثال ذلك : الصلاة في النعال ، فالنبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم – صلى حافياً ومنتعلاً ، فإذا رأيت أن الناس ينفرون وربما تحدث فتنة فلا تصلي في نعليك مع أن الصلاة في النعال أفضل لأن النبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم – يقول : صلوا في نعالكم خالفوا اليهود

 ومثله أيضاً : الجهر ببسم الله الرحمن الرحيم ، والإسرار بها ، فهذا وارد وذاك وارد والإسرار أصح لما روى البخاري ومسلم في صحيحيهما عن أنس رضي الله عنه قال : صليت خلف رسول الله – صلى الله عليه وعلى آله وسلم – وأبي بكر وعمر فكانوا يستفتحون الصلاة بـ”الحمد لله رب العالمين ” . وجاء أن النبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم – جهر بها ، فهذا وذاك جائز .

 فإذا خشيت أن تقع فتنة ووقعت عند أناس ينكرون على من أسر بها فلا بأس أن تجهروا أو العكس ، أما أن يقال أذن بـ(حي على خير العمل ) من أجل ألا ينفر عنك الناس فلا

 فلا ترتكب بدعة ، ولا تترك واجباً ، ولا ترتكب محرماً من أجل مصلحة الدعوة ، فالله أغير منك على دينه ، وهكذا القنوت ، فلو قالوا لك : يجب أن تقنت في الفجر وإلا فلا تصلي بنا ، فقل لهم : صلوا وأنا لا أقنت ، لأنه لم يثبت عن النبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم – . وحديث : ما زال النبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم – يقنت حتى فارق الدنيا ، ضعيف لأنه من طريق أبي جعفر الرازي مختلف فيه والراجح ضعفه .

 فإذا أرادوا أن تعمل البدعة ، أو تترك واجباً أو ترتكب محرماً فلا ، ولو قالوا لك : لا تقل آمين بعد قول الإمام ” ولا الضالين ” فتقول لهم : سأؤمن ، فهل تريدون أن أصلي بكم صليت بكم ، وإلا فصلوا والصلاة بعدكم جائزة ، وأيضاً لو قالوا : لا تضع يدك اليمنى على يدك اليسرى في الصلاة ، قل لهم : سأضعها ، وغير هذا من السنن التي لم ترد عن النبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم – على الوجهين ، فلا تتركن سنة من أجل رضا الناس . والله المستعان

Penerjemah: Abu Utsman Kharisman