Beranda » Latest » Artikel » Ibrah » Menjemput Ikhlas di Tengah Jalan: Tak Terputus Berbenah Saat Belajar

Menjemput Ikhlas di Tengah Jalan: Tak Terputus Berbenah Saat Belajar

0
29a92d8fe94c1aa06502b1e495b6d81d

al-Imam adz-Dzahabiy -semoga Allah merahmatinya- berkata:

“Dahulu, para ulama salaf (generasi pendahulu yang saleh) menuntut ilmu demi mengharapkan ridha Allah. Maka, mereka pun menjadi mulia dan menjelma sebagai para pemimpin yang diikuti (diteladani).

Lalu, ada pula sekelompok orang setelah mereka yang pada awalnya menuntut ilmu bukan karena Allah. Namun setelah berhasil meraihnya, mereka tersadar dan mulai mengevaluasi diri mereka sendiri. Akhirnya, ilmu tersebut menuntun mereka kepada keikhlasan di tengah perjalanan.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Mujahid dan ulama lainnya: “Dahulu kami menuntut ilmu ini tanpa memiliki niat yang besar (belum ikhlas), kemudian setelah itu Allah menganugerahkan niat (yang tulus) kepada kami.”

Sebagian yang lain berkata: ‘Dahulu kami menuntut ilmu demi selain Allah, namun ilmu itu enggan tunduk kecuali harus diniatkan hanya karena Allah.’ Hal yang seperti ini pun tergolong baik, yang kemudian mereka menyebarkan ilmu tersebut dengan niat yang saleh.

Di sisi lain, ada golongan yang menuntut ilmu dengan niat yang rusak demi kepentingan dunia dan agar dipuji oleh manusia. Maka, mereka hanya mendapatkan apa yang mereka niatkan. Rasulullah ﷺ bersabda: (Barang siapa yang berperang dengan niat hanya untuk mendapatkan seutas tali pengikat unta, maka baginya apa yang ia niatkan).

Anda akan melihat golongan jenis ini tidak disinari oleh cahaya ilmu. Mereka tidak memiliki wibawa atau pengaruh di dalam hati manusia, dan ilmu mereka tidak membuahkan banyak amal nyata. Padahal, sejatinya seorang ulama (orang berilmu) adalah ia yang takut kepada Allah Ta’ala.

Ada juga golongan yang berhasil meraih ilmu, lalu dengannya mereka memegang berbagai jabatan penting. Namun, mereka justru berbuat zalim, mengabaikan batasan-batasan ilmu yang mereka miliki, serta menerjang dosa-dosa besar dan kekejian. Celakalah mereka! Mereka itu sama sekali bukanlah ulama.

Sebagian lagi tidak bertakwa kepada Allah dalam ilmunya. Sebaliknya, mereka justru gemar mencari celah (tipu daya hukum/hilah), berfatwa dengan mencari-cari keringanan (kemudahan yang menyimpang), dan meriwayatkan hadis-hadis yang syadz (ganjil/menyimpang).

Bahkan, ada sebagian yang lancang terhadap Allah dengan memalsukan hadits-hadits. Maka, Allah pun membongkar aibnya, melenyapkan keberkahan ilmunya, dan ilmu tersebut justru menjadi bahan bakarnya menuju neraka.

Golongan-golongan di atas semuanya telah meriwayatkan ilmu dalam jumlah yang sangat banyak dan secara umum menguasainya dengan mendalam. Namun, setelah mereka, lahirlah generasi pengganti yang tampak jelas kekurangannya, baik dalam hal ilmu maupun amal.

Setelah itu, datanglah suatu kaum yang secara lahiriah menisbatkan diri pada ilmu, padahal mereka tidak menguasainya kecuali hanya sedikit sekali. Dengan ilmu yang sedikit itu, mereka mengesankan orang lain bahwa mereka adalah ulama yang mulia. Sama sekali tidak pernah terlintas dalam benak mereka untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan ilmu tersebut, karena mereka sendiri belum pernah melihat sosok guru yang layak diteladani dalam ilmu.

Akibatnya, mereka menjadi orang-orang yang kacau dan tak tentu arah (bagaikan buih). Puncak pencapaian seorang pengajar di antara mereka hanyalah sekadar mengumpulkan kitab-kitab berharga mahal untuk ditumpuk di lemari, yang sesekali mungkin akan ia baca suatu hari nanti. Lalu, ia salah dalam membaca (mushahhaf) apa yang ia kutip tanpa mampu memahaminya dengan benar.

Maka, kita memohon keselamatan dan ampunan kepada Allah.”

(Siyar A’laamin Nubalaa’ )

Naskah dalam Bahasa Arab

قال الذهبي في السير:

فَقَدْ كَانَ السَّلَفُ يَطلُبُوْنَ العِلْمَ للهِ، فَنَبُلُوا، وَصَارُوا أَئِمَّةً يُقتَدَى بِهِم، وطَلَبَهُ قَوْمٌ مِنْهُم أَوَّلاً لاَ للهِ، وَحَصَّلُوْهُ، ثُمَّ اسْتَفَاقُوا، وَحَاسَبُوا أَنْفُسَهُم، فَجَرَّهُمُ العِلْمُ إِلَى الإِخْلاَصِ فِي أَثنَاءِ الطَّرِيْقِ، كَمَا قَالَ مُجَاهِدٌ، وَغَيْرُهُ: طَلَبْنَا هَذَا العِلْمَ، وَمَا لَنَا فِيْهِ كَبِيْرُ نِيَّةٍ، ثُمَّ رَزَقَ اللهُ النِّيَّةَ بَعْدُ

وَبَعْضُهُم يَقُوْلُ: طَلَبْنَا هَذَا العِلْمَ لِغَيْرِ اللهِ، فَأَبَى أَنْ يَكُوْنَ إِلاَّ للهِ، فَهَذَا أَيْضاً حَسَنٌ، ثُمَّ نَشَرُوْهُ بِنِيَّةٍ صَالِحَةٍ

وَقَوْمٌ طَلَبُوْهُ بِنِيَّةٍ فَاسِدَةٍ لأَجْلِ الدُّنْيَا، وَلِيُثْنَى عَلَيْهِم، فَلَهُم مَا نَوَوْا. قَالَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ: (مَنْ غَزَا يَنْوِي عِقَالاً، فَلَهُ مَا نَوَى )

وَترَى هَذَا الضَّربَ لَمْ يَسْتَضِيْؤُوا بِنُوْرِ العِلْمِ، وَلاَ لَهُم وَقْعٌ فِي النُّفُوْسِ، وَلاَ لِعِلْمِهِم كَبِيْرُ نَتِيجَةٍ مِنَ العَمَلِ، وَإِنَّمَا العَالِمُ مَنْ يَخشَى اللهَ -تَعَالَى- وَقَوْمٌ نَالُوا العِلْمَ، وَوُلُّوا بِهِ المَنَاصِبَ، فَظَلَمُوا، وَتَرَكُوا التَّقَيُّدَ بِالعِلْمِ، وَرَكِبُوا الكَبَائِرَ وَالفَوَاحِشَ، فَتَبّاً لَهُم، فَمَا هَؤُلاَءِ بِعُلَمَاءَ!

وَبَعْضُهُم لَمْ يَتَقِّ اللهَ فِي عِلْمِهِ، بَلْ رَكِبَ الحِيَلَ، وَأَفْتَى بِالرُّخَصِ، وَرَوَى الشَّاذَّ مِنَ الأَخْبَارِ

وَبَعْضُهُم اجْتَرَأَ عَلَى اللهِ، وَوَضَعَ الأَحَادِيْثَ، فَهَتَكَهُ اللهُ، وَذَهَبَ عِلْمُهُ، وَصَارَ زَادَهُ إِلَى النَّار

وَهَؤُلاَءِ الأَقسَامُ كُلُّهُم رَوَوْا مِنَ العِلْمِ شَيْئاً كَبِيْراً، وَتَضَلَّعُوا مِنْهُ فِي الجُمْلَةِ، فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِم خَلْفٌ باَنَ نَقْصُهُم فِي العِلْمِ وَالعَمَلِ

وَتَلاَهُم قَوْمٌ انْتَمَوْا إِلَى العِلْمِ فِي الظَّاهِرِ، وَلَمْ يُتْقِنُوا مِنْهُ سِوَى نَزْرٍ يَسِيْرٍ، أَوْهَمُوا بِهِ أَنَّهُم عُلَمَاءُ فُضَلاَءُ، وَلَمْ يَدُرْ فِي أَذهَانِهِم قَطُّ أَنَّهُم يَتَقَرَّبُوْنَ بِهِ إِلَى اللهِ؛ لأَنَّهُم مَا رَأَوْا شَيْخاً يُقْتَدَى بِهِ فِي العِلْمِ، فَصَارُوا هَمَجاً رَعَاعاً، غَايَةُ المُدَرِّسِ مِنْهُم أَنْ يُحَصِّلَ كُتُباً مُثَمَّنَةً، يَخْزُنُهَا، وَيَنْظُرُ فِيْهَا يَوْماً مَا، فَيُصَحِّفُ مَا يُوْرِدُهُ، وَلاَ يُقَرِّرُهُ

فَنَسْأَلُ اللهَ النَّجَاةَ وَالعَفْوَ

Penerjemah: Abu Utsman Kharisman