Al-Ajurrumiyyah: Warisan Ilmu Nahwu yang Tak Lekang Oleh Waktu

Di kalangan penuntut ilmu, kitab Al-Ajurrumiyyah merupakan salah satu kitab nahwu yang paling dikenal dan hampir selalu dipelajari. Meskipun berukuran kecil, kitab ini memperoleh penyebaran dan penerimaan yang sangat luas. Hal tersebut bukan karena besar kecilnya kitab, melainkan karena keikhlasan penulis serta ketelitian dalam penyusunannya.
Fenomena ini juga tampak pada kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik. Ketika diberitahu bahwa banyak kitab hadits lain mulai bermunculan, beliau berkata:
ما كان لله فهو يبقى
“Apa yang dikerjakan karena Allah akan tetap bertahan.”
Makna tersebut sejalan dengan firman Allah Ta’ala:
فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً ۖ وَأَمَّا مَا يَنفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ
“Adapun buih akan hilang sebagai sesuatu yang tidak berguna, sedangkan apa yang bermanfaat bagi manusia akan tetap tinggal di bumi.” (QS. Ar-Ra’d: 17)
Biografi Penulis
Informasi tentang kehidupan penulis tidak banyak ditemukan karena beliau bukan termasuk ulama yang cukup masyhur pada zamannya. Namun beberapa kitab biografi menyebutkan keterangan berikut.
Nama beliau adalah Muhammad bin Muhammad bin Dawud Ash-Shanhaji. Nisbah Ash-Shanhaji merujuk kepada kabilah Shanhajah yang berasal dari wilayah Maghrib (Afrika Utara). Kunyah beliau adalah Abu Abdillah.
Beliau lebih dikenal dengan nama Ibnu Ajurrum. Sebagian ulama menjelaskan bahwa kata “Ajurrum” dalam bahasa Barbar berarti “orang fakir yang zuhud”, meskipun pendapat ini diperselisihkan oleh sebagian ahli bahasa Barbar.
Beliau lahir di kota Fas, Maroko. Mayoritas riwayat menyebut tahun 672 H, sementara riwayat lain menyebutkan 674 H atau 682 H. Menurut Ibnu Al-‘Imad, beliau wafat di kota Fas pada bulan Shafar tahun 724 H.
Di antara karya Ibnu Ajurrum ialah:
- Al-Muqaddimah Al-Ajurrumiyyah, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Al-Ajurrumiyyah. Nama ini diberikan oleh para ulama karena penulis tidak memberikan judul khusus.
- Fara’id Al-Ma’ani fi Syarh Hirz Al-Amani fi Al-Qira’at, yaitu syarah terhadap qasidah Hirz Al-Amani dalam ilmu qira’at.
Ibnu Maktum dalam Tadzkirahnya menyebutkan bahwa Ibnu Ajurrum merupakan seorang ahli nahwu yang menguasai bidangnya, memahami ilmu faraidh dan hisab, seorang sastrawan, memiliki banyak karya tulis, serta dikenal wara’ dan zuhud.
Ulama lain juga menegaskan bahwa beliau diberkahi dengan keshalihan. Bukti terbesarnya ialah luasnya manfaat kitab Al-Ajurrumiyyah yang terus dipelajari sepanjang zaman.
Mazhab Ibnu Ajurrum dalam Penulisan Kitab ini
As-Suyuthi menjelaskan bahwa Ibnu Ajurrum mengikuti mazhab Kufah dalam beberapa istilah nahwu, seperti menggunakan istilah khafadh sebagai pengganti jarr serta menganggap fi’il amr berstatus majzum, bukan mabni atas sukun sebagaimana pendapat mazhab Bashrah.
Selain itu, beliau juga memasukkan kayfama (كيفما) ke dalam kelompok al-jawazim (amil yang menyebabkan fi’il mudhari’ menjadi majzum), yang merupakan salah satu pendapat khas mazhab Kufah.
Hal tersebut menunjukkan bahwa meskipun Al-Ajurrumiyyah merupakan kitab ringkas, penulis tetap memiliki manhaj ilmiah yang tampak dalam pilihan istilah dan metode penyampaiannya.
Kedudukan Al-Ajurrumiyyah sebagai Kitab Dasar Ilmu Nahwu
Ibnu Al-Hajj menyatakan bahwa setelah mempelajari Al-Qur’an, banyak penuntut ilmu memulai pembelajaran nahwu melalui Al-Ajurrumiyyah karena manfaatnya dapat diperoleh dalam waktu singkat.
Ibnu Maktum juga menegaskan bahwa keberkahan dan keshalihan Ibnu Ajurrum tercermin dari besarnya manfaat kitab tersebut. Dalam Kasyf Azh-Zhunun disebutkan pula bahwa Al-Ajurrumiyyah merupakan mukadimah yang sangat bermanfaat bagi para pemula.
Penyebaran Al-Ajurrumiyyah
Al-Ajurrumiyyah termasuk kitab nahwu yang paling awal dicetak dalam bahasa Arab. Kitab ini pertama kali dicetak di Roma pada tahun 1592 M, kemudian di Bologna (1623 M), Cambridge (1632 M) , Beirut (1841 M), Aljazair (1846 M), dan Hungaria (1882 M). Beberapa di antaranya disertai terjemahan bahasa Latin.
Sejak itu Al-Ajurrumiyyah terus dicetak dan dipelajari di berbagai negeri Islam hingga menjadi salah satu kitab dasar ilmu nahwu yang paling luas penyebarannya.
Besarnya Perhatian Ulama terhadap Kitab Al-Ajurrumiyyah
Al-Ajurrumiyyah merupakan salah satu kitab nahwu yang paling banyak mendapat perhatian ulama. Berbagai karya lahir sebagai bentuk khidmat kepada kitab ini, di antaranya berupa i’rab (analisis tata bahasa), nazham (penyusunan dalam bentuk syair), tahdzib (penyusunan ulang agar lebih mudah dipahami), syarah (penjelasan rinci isi kitab), hasyiyah (catatan pelengkap), mukhtashar (versi ringkas), hingga penyusunan materi dalam bentuk tanya jawab.
Di antara kitab yang disusun dalam bentuk tanya jawab ialah Al-Bunyah An-Nahwiyyah fi As’ilah Al-Ajurrumiyyah karya Ismail bin Muhammad Al-Anshari. Dalam penyusunannya, beliau banyak mengambil manfaat dari At-Tuhfah As-Saniyyah karya Syaikh Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid.
Di antara berbagai bentuk perhatian tersebut, syarah merupakan karya yang paling banyak disusun. Sejak masa-masa awal hingga sekarang, lahir banyak syarah Al-Ajurrumiyyah yang menjadi rujukan dalam pembelajaran ilmu nahwu. Beberapa yang paling dikenal ialah karya Al-Khathib Asy-Syarbini, Ahmad Ash-Shabban, Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, dan Al’Allamah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin.
Syarah Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid termasuk yang paling populer pada masa kini. Kitab ini menggunakan bahasa yang mudah dipahami, penyusunan yang sistematis, contoh-contoh praktis, penjelasan i’rab yang sederhana, serta latihan-latihan yang membantu pelajar memahami kaidah nahwu. Karena kelebihannya, kitab ini banyak diajarkan di sekolah, pesantren, dan berbagai lembaga pendidikan Islam.
Adapun syarah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin memiliki kedudukan tersendiri karena merupakan transkrip dari pelajaran beliau yang kemudian ditahqiq dan disempurnakan sebelum diterbitkan, sehingga layak dijadikan salah satu rujukan ilmiah.
Banyaknya karya ilmiah yang lahir seputar Al-Ajurrumiyyah menjadi bukti besarnya manfaat kitab ini. Kitab tersebut diterima oleh para ulama dari berbagai negeri, lintas generasi, dan berbagai mazhab, sehingga terus dipelajari dan diajarkan hingga sekarang.
Luasnya penyebaran serta keberkahan yang terus dirasakan menunjukkan kedudukan Al-Ajurrumiyyah sebagai salah satu kitab dasar ilmu nahwu yang paling berpengaruh dalam sejarah.
Semoga Allah Ta’ala mengampuni Imam Ibnu Ajurrum dan menerima amal beliau sebagaimana Allah telah menjadikan risalahnya diterima dan bermanfaat bagi umat manusia.
Sumber:
Muqoddimah Kitab Mafatih Al ‘Arobiyyah ala Matn Al Ajurrumiyyah, karya Al ‘Allamah Faishol bin Abdil Aziz Alu Mubarak rahimahullah
Penerjemah: Abu Dzayyal Muhammad Wafi

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.