Perjuangan Para Ulama dalam Membela Akidah yang Benar Melalui Karya Tulis

Imam Ahmad bin Hanbal, sang imam Ahlus Sunnah dan hadits yang wafat tahun 241 H menulis kitab “Ar-Radd ‘ala al-Jahmiyyah wa az-Zanadiqah”, beliau menulis pula kitab “As-Sunnah”. Putranya, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, juga menulis kitab “As-Sunnah”.
Abu Bakr bin Abi Syaibah (wafat tahun 235 H) menulis kitab “Al-Iman”.
Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari (wafat tahun 256 H) menulis kitab “Khalq Af‘al al-‘Ibad”, yang di dalamnya memuat bantahan terhadap Jahmiyyah dan kaum yang meniadakan sifat-sifat Allah serta yang berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah makhluk.
Dalam kitabnya “Al-Jami‘ ash-Shahih” beliau juga memasukkan tiga kitab dalam bidang ini: kitab “Al-Iman” yang di dalamnya terdapat bantahan terhadap Murji’ah; kitab “At-Tauhid” yang di dalamnya terdapat bantahan terhadap kaum Jahmiyyah yang meniadakan sifat; dan kitab “Al-I‘tishom” yang di dalamnya terdapat kewajiban mengikuti Al-Kitab dan As-Sunnah, serta bantahan terhadap ahli ra’yu yang berlebihan dalam qiyas, dan bantahan terhadap orang-orang yang mengingkari hujjah khabar ahad.
Al Imam Abu Dawud (wafat tahun 275 H) menulis kitab “As-Sunan”, dan memasukkan di dalamnya kitab “As-Sunnah” yang berisi bantahan terhadap Qadariyyah, Murji’ah, dan Jahmiyyah yang meniadakan sifat Allah. Beliau juga membuat judul-judul bab dengan nama-nama kelompok tersebut dengan jelas, seperti: “Bab bantahan terhadap Jahmiyyah” pada dua tempat dalam kitab As-Sunnah; pada tempat pertama beliau membantah pengingkaran mereka terhadap istiwa’ Allah di atas ‘Arsy, dan pada tempat kedua beliau membantah pengingkaran mereka terhadap nuzul (turunnya Allah).
Imam Abu ‘Abdillah Muhammad bin Yazid bin Majah (wafat tahun 273 H) menyusun mukadimah untuk kitab “As-Sunan” tentang kewajiban mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ yang mencapai 98 halaman, berisi 266 hadits, dan di dalamnya terdapat banyak bab, di antaranya: “Bab tentang apa yang diingkari oleh Jahmiyyah”, beliau menyebutkan pengingkaran mereka terhadap ru’yah (melihat Allah), kalam (firman Allah), dan istiwa’ di atas ‘Arsy; serta membawakan hadits-hadits sebagai bantahan terhadap mereka. Beliau juga menyebutkan (bantahan terhadap) Khawarij dan selain mereka dari kalangan ahlul bid‘ah, serta membuat bab tentang menjauhi ra’yu (menjadikan akal sebagai dasar beragama).
Utsman bin Sa‘id ad-Darimi (wafat tahun 280 H) menulis kitab “Ar-Radd ‘ala al-Jahmiyyah” dan kitab “Ar-Radd ‘ala Bisyr al-Marisi”.
Abu Bakr Ahmad bin ‘Ali bin Sa‘id al-Marwazi (wafat tahun 292 H) menulis kitab “As-Sunnah”.
Abu Bakr Muhammad bin al-Husain bin ‘Abdillah al-Ajurri (wafat tahun 360 H) menulis kitab “Asy-Syari‘ah” dan kitab “At-Tashdiq bin Nazhar ila Wajhillah wa ma A‘addahu li Awliya’ihi”.
Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub al-Lakhmi asy-Syafi‘i ath-Thabarani, sang penulis banyak karya (wafat tahun 360 H) menulis kitab “As-Sunnah”.
Imam Ahmad bin Muhammad bin Hani’ Abu Bakr al-Atsram (wafat tahun 273 H) menulis kitab “As-Sunnah”.
Imam Abu ‘Ali Hanbal bin Ishaq asy-Syaibani, sepupu Imam Ahmad bin Hanbal sekaligus murid beliau (wafat tahun 273 H) menulis kitab “As-Sunnah”.
Imam Abu Bakr Ahmad bin Muhammad bin Harun al-Khallal, pengumpul ilmu Imam Ahmad (wafat tahun 311 H) menulis kitab “As-Sunnah” dalam 3 jilid.
Imam Abusy Syaikh ‘Abdullah bin Muhammad bin Ja‘far bin Hayyan al-Ashbahani, sang penyusun banyak karya (wafat tahun 369 H) menulis kitab “As-Sunnah”.
Abu Bakr Ahmad bin ‘Amr bin Abi ‘Ashim an-Nabil asy-Syaibani (wafat tahun 287 H) menulis kitab “As-Sunnah”.
Abu Hafsh ‘Umar bin Ahmad bin ‘Utsman al-Baghdadi, sang pemberi nasihat, yang dikenal dengan Ibnu Syahin, seorang hafizh besar dan penulis banyak karya yang menakjubkan (wafat tahun 385 H), menulis kitab “As-Sunnah”.
Imam Abul Hasan ‘Ali bin Isma‘il al-Asy‘ari (wafat tahun 324 H) menulis kitab “Al-Ibanah” dan kitab “Al-Mujaz ‘ala Thariqah Ahl al-Hadits fi Itsbat ash-Shifat”, yang di dalamnya terdapat bantahan terhadap Jahmiyyah dan kelompok penolak sifat lainnya.
Al Imam Al Hafizh Khusyaisy bin Ashram (wafat tahun 253 H) menulis kitab “Al-Istiqamah wa ar-Radd ‘ala Ahli al-Bida‘”.
Sang penghulu para imam, Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah (wafat tahun 311 H), menulis kitab “At-Tauhid wa Itsbat Shifat ar-Rabb ‘Azza wa Jalla”.
Imam ahli tafsir Abu Ja‘far Muhammad bin Jarir ath-Thabari (wafat tahun 310 H) menulis sebuah kitab aqidah di atas manhaj Ahlul Hadits (yaitu kitab “Shorih as-Sunnah”), dan dalam tafsir besarnya yang masyhur beliau juga menempuh manhaj yang sama.
Abu ‘Abdillah Muhammad bin Yahya bin Mandah, seorang hafizh yang banyak melakukan perjalanan tholabul ilmi (wafat tahun 301 H), menulis kitab “As-Sunnah”.
Imam Abu Bakr Ahmad bin Ishaq asy-Syafi‘i an-Naisaburi (wafat tahun 342 H), yang dikenal dengan ash-Shibghi, menulis kitab “Al-Asma’ wa ash-Shifat” dan kitab “Al-Iman bil Qadar”.
Abu Ahmad Muhammad bin Ahmad bin Ibrahim al-‘Assal al-Ashbahani (wafat tahun 349 H) menulis kitab “As-Sunnah”.
Abu al-Husain Muhammad bin Ahmad bin ‘Abdurrahman al-Malathi asy-Syafi‘i (wafat tahun 377 H) menulis kitab “At-Tanbih wa ar-Radd ‘ala Ahl al-Ahwa’ wal Bida‘”.
Imam Abu al-Hasan ‘Ali bin ‘Umar ad-Daraquthni, seorang hafidz besar, Amirul mukminin fil hadits (wafat tahun 385 H) menulis kitab “Ash-Shifat”, kitab “An-Nuzul”, dan kitab “Ar-Ru’yah”.
Al Imam Al Hafizh ‘Ubaidullah bin Muhammad bin Baththah al-‘Ukbari (wafat tahun 387 H) menulis kitab “Al-Ibanah ‘an Syari‘ah al-Firqah an-Najiyah wa Mujanabat al-Firaq al-Madzmumah”, juga “Al-Ibanah ash-Shughra”, dan “As-Sunnah”.
Al Imam Al Hafizh, seorang alim yang banyak melakukan rihlah tholabul ilmi dan memiliki banyak karya, Muhammad bin Ishaq bin Yahya bin Mandah (wafat tahun 395 H), menulis kitab “At-Tauhid” dan kitab “Al-Iman”.
Al Imam Abu al-Fath Nashr bin Ibrahim al-Maqdisi asy-Syafi‘i, Syaikhul Islam lagi seorang yang zuhud (wafat tahun 490 H), menulis kitab “Al-Hujjah” dalam satu jilid.
Imam Abul Qasim Hibatullah bin al-Hasan bin Manshur ath-Thabari ar-Razi al-Lalika’i, ahli hadits dari Baghdad (wafat tahun 418 H), menulis kitab “Syarh Ushul as-Sunnah”.
Imam Abu Muhammad ‘Abdullah bin Yusuf al-Juwaini (wafat tahun 438 H) menulis sebuah risalah tentang penetapan istiwa’ dan ketinggian Allah.
Imam Abu Isma‘il ‘Abdullah bin Muhammad al-Anshari al-Harawi (wafat tahun 481 H) menulis kitab “Al-Faruq fi Shifatillah” dan kitab “Dzamm al-Kalam”.
Imam Abu Muhammad al-Husain bin Mas‘ud al-Baghawi asy-Syafi‘i, sang penghidup sunnah (wafat tahun 516 H) membuka kitabnya “Syarh as-Sunnah” dengan kitab iman dari halaman 7–231, dan di dalamnya terdapat bab-bab berikut: Bab iman kepada takdir, Bab ancaman terhadap Qadariyyah, Bab bantahan terhadap Jahmiyyah, Bab bantahan terhadap orang yang mengatakan Al-Qur’an makhluk, Bab berpegang teguh kepada Al-Kitab dan As-Sunnah, Bab menolak bid‘ah dan hawa nafsu, dan Bab menjauhi ahlul hawa (pengekor hawa nafsu sehingga enggan mengikuti sunnah).
Dan dalam kitab tafsirnya, beliau menempuh manhaj Ahlul Hadits dan Sunnah dalam menetapkan sifat-sifat Allah serta menyelisihi ahlul hawa dalam hal tersebut.
Al-‘Allamah Abu al-Hasan Muhammad bin ‘Abdul Malik al-Karji asy-Syafi‘i, sahabat Syaikhul Islam al-Harawi (wafat tahun 532 H) menulis sebuah kitab aqidah di atas manhaj salaf.
Imam Abul Qasim Isma‘il bin Muhammad bin al-Fadhl at-Taimi ath-Thalhi al-Ashbahani (wafat tahun 535 H) menulis kitab “Al-Hujjah fi Bayan al-Mahajjah ‘ala Manhaj Ahlil Hadits”.
Al Imam Al Hafizh, seorang ahli hadits dalam Islam, ‘Abdul Ghani bin ‘Abdul Wahid bin Surur al-Maqdisi al-Hanbali (wafat tahun 600 H) menulis sebuah kitab tentang sifat-sifat Allah dalam dua bagian.
Al Imam Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim Ibnu Taimiyyah (wafat tahun 728 H) menulis sejumlah kitab dalam aqidah, menyeru untuk kembali kepada Al-Kitab dan As-Sunnah, serta memerangi bid‘ah, seperti “Al-‘Aqidah al-Wasithiyyah”, “Al-‘Aqidah al-Hamawiyyah”, “Al-‘Aqidah at-Tadmuriyyah”, “Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim”, “Minhaj as-Sunnah”, “Ar-Radd ‘ala al-Bakri”, “Ar-Radd ‘ala al-Akhnaai”, dan “Al-Fatawa”; semuanya bertujuan mengembalikan umat Islam kepada Al-Kitab dan As-Sunnah serta kepada manhaj salafus shalih.
Murid beliau, Imam Syamsuddin Abu ‘Abdillah Muhammad bin Abi Bakr yang dikenal dengan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (wafat tahun 751 H), menulis kitab “Ash-Shawa‘iq al-Mursalah ‘ala al-Jahmiyyah wal Mu‘aththilah”, kitab “Ijtima‘ al-Juyush al-Islamiyyah ‘ala Ghazw al-Mu‘aththilah wal Jahmiyyah”, “Al-Qashidah an-Nuniyyah” dalam bidang aqidah, dan “I‘lam al-Muwaqqi‘in” dalam pembahasan berpegang kepada sunnah.
Al Imam Al Hafizh Syamsuddin Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman adz-Dzahabi (wafat tahun 748 H) menulis kitab “Al-‘Uluw lil ‘Aliyy al-Ghaffar”, yang di dalamnya beliau mengumpulkan nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah tentang ketinggian Allah, serta berbagai ucapan para sahabat, tabi‘in, para imam hadits, imam fiqih, dan pengikut mereka hingga zaman beliau hidup.
Al ‘Allamah Al Qadhi Shadruddin ‘Ali bin ‘Ali bin Abil ‘Izz al Hanafi ad Dimasyqi (wafat tahun 792 H) menulis risalah yang beliau beri judul “Al-Ittiba‘” yang temanya adalah kewajiban mengikuti sunnah. Beliau juga mensyarah “Al-‘Aqidah ath-Thahawiyyah” sesuai manhaj Ahlul Hadits dalam masalah sifat, Al-Qur’an, takdir, dan selainnya dari berbagai keyakinan dalam Islam.
Kemudian bangkitlah berbagai gerakan dakwah yang menyeru kepada Al-Kitab dan As-Sunnah, yang menitikberatkan pada pemurnian akidah serta pemberantasan berbagai bentuk bid‘ah di dunia Islam.
Di antara dakwah tersebut adalah dakwah al-Imam ash-Shan‘ani (wafat 1182 H) dan al-Imam asy-Syaukani (wafat 1250 H) di Yaman, dakwah al-Imam al-Mujaddid Muhammad bin ‘Abdul Wahhab (wafat 1206 H) di Jazirah Arab, serta dakwah Ahlul Hadits di India yang merupakan kelanjutan dari dakwah dan manhaj Ahlul Hadits. Dakwah ini akan senantiasa tetap eksis hingga hari kiamat, sebagaimana telah diberitakan oleh Nabi ﷺ yang jujur lagi terpercaya:
لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ، لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلَا مَنْ خَالَفَهُمْ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ
“Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang berada di atas kebenaran dalam keadaan tampak (menang/tegak). Tidak akan membahayakan mereka orang yang menelantarkan mereka dan tidak pula orang yang menyelisihi mereka, hingga datang hari Kiamat.”
Sumber: Kitab Ushul wa Mumayyizat Ahlissuunnah wal Jama’ah karya Syaikh Robi’ bin Hadi al Madkhali rahimahullah (hal. 74-79)
Penerjemah: Abu Dzayyal Muhammad Wafi

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.