Saat Khatib Jumat Mengajak pada Kebatilan, Haruskah Kita Tetap Diam Menyimak?

Pertanyaan:
Apakah boleh mendengarkan khotbah dari khatib yang hizbiy (Ahlul Bid’ah)?
Jawaban Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’iy -semoga Allah merahmatinya-:
Nasihat kami kepada saudara-saudara kami Ahlussunnah—semoga Allah menjaga mereka—adalah hendaknya mereka tampil beda (memisahkan diri dari prinsip mereka). Sunnah tidak akan tersebar melainkan dengan kejelasan sikap/pembedaan tersebut.
Kecuali, jika mereka (Ahlussunnah) merasa takut terhadap sesuatu yang dapat menekan atau menyakiti mereka, maka mereka diperbolehkan untuk menghadirinya, wallahul musta’an (hanya kepada Allah kita memohon pertolongan).
Mereka mendengarkan apa saja yang sejalan dengan kebenaran. Namun, jika isinya tidak sejalan dengan kebenaran—seperti mengajak kepada pemilu, demokrasi, sosialisme, atau hal-hal semacamnya—maka kamu tidak wajib untuk diam menyimak ataupun mendengarkannya.
Untuk khotbah salat Id, seseorang diperbolehkan untuk pulang (meninggalkan tempat) karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam memberikan izin bagi siapa saja yang ingin pulang.
Adapun untuk khotbah Jumat, ia harus tetap tinggal demi menunaikan shalat. Meski begitu, ia diperbolehkan (menyibukkan diri) membaca istigfar.
Sebab, Allah Azza wa Jalla berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia (yang artinya) : ”Wahai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah…” (QS. Al-Jumu’ah: 9)
Dahulu, sebagian ulama salaf ada yang tidak mau mendengarkan ucapan khatib yang mencela Ahlul Bait (keluarga Nabi) di dalam khotbahnya. Ketika dikatakan kepada mereka, “Diamlah (simaklah)!”, mereka menjawab: “Bukan untuk ucapan seperti ini kita diperintahkan untuk diam menyimak.” Karena ayatnya berbunyi: “Apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah”. Kita tidak diperintahkan untuk diam menyimak ucapan yang seperti ini (mencela/menyimpang). Wallahul musta’an.
Sumber: Kaset rekaman: (As-ilah as-Salafiyyin fil ‘Udayn), Kaset Nomor: 37.
Transkrip Fatwa dalam Bahasa Arab
السوال : هل يستمع للخطيب الحزبي؟
أجاب عنه الشيخ مقبل بن هادي الوادعي رحمه الله تعالى: الذي ننصح به إخواننا أهل السنة ننصحهم حفظهم الله أن يتميزوا ، وما تنتشر السنة إلا بالتميز ؛ اللهم إلا أن يكونوا خائفين من شيء يضغط عليهم ويؤذيهم فلهم أن يحضروا والله المستعان ، ويستمعون ما وافق الحق ، وإذا لم يوافق إذا دعا إلى انتخابات أو إلى ديمقراطية أو دعا إلى اشتراكية إلى غير ذلك فلا يلزمك أن تنصت له ولا أن تستمع له
فخطبة العيد يجوز للشخص أن ينصرف لأن النبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم – أذن لمن أراد أن ينصرف ، أما خطبة الجمعة فيبقى من أجل الصلاة لكن يجوز له أن يستغفر لأن الله عز وجل يقول في كتابه الكريم : ” يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ” ، وقد كان بعض السلف لا يستمع إلى كلام من يسب أهل البيت في خطبته فيقال لهم : انصتوا ، فيقولون : ما لهذا الكلام أمرنا أن ننصت ، لأن الآية : ” إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ” ما أمرنا أن ننصت لهذا والله المستعان
المصدر : من شريط : ( أسئلة السلفيين في العدين ) رقم الشريط : 37
Penerjemah: Abu Utsman Kharisman

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.