Beranda » Latest » Artikel » Ahkam » Tak Perlu Interogasi Imam: Panduan Lapang Dada dalam Shalat Berjamaah Menurut Penjelasan Ibnu Taimiyyah

Tak Perlu Interogasi Imam: Panduan Lapang Dada dalam Shalat Berjamaah Menurut Penjelasan Ibnu Taimiyyah

0
Photo by Pexels

Beliau ditanya:

Apakah sah shalat seorang makmum di belakang imam yang berbeda mazhab dengannya?

Beliau (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah) menjawab:

Adapun shalat seseorang di belakang imam yang berbeda mazhab dengannya, maka hal ini sah berdasarkan kesepakatan (ijmak) para Sahabat, para Tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik, serta Imam Mazhab yang Empat.

Akan tetapi, perselisihan ulama (dalam masalah ini) terjadi pada dua gambaran kasus:

Kasus Pertama: Perselisihan di dalamnya bersifat syadz (ganjil/lemah). Yaitu apabila imam melakukan perkara-perkara wajib sesuai dengan apa yang diyakini oleh makmum, namun sang imam sendiri tidak meyakini perkara tersebut sebagai kewajiban. Contohnya seperti tasyahud akhir; apabila dilakukan oleh imam yang tidak meyakini kewajibannya, sementara makmum meyakini bahwa itu wajib. Dalam masalah ini terdapat perselisihan yang syadz (lemah). Namun, pendapat yang benar yang dipegang oleh ulama Salaf dan mayoritas ulama Khalaf (kontemporer) adalah shalatnya tetap sah.

Kasus Kedua: Di dalamnya terdapat perselisihan yang masyhur (terkenal). Yaitu apabila imam meninggalkan perkara yang diyakini wajib oleh makmum.

Contohnya seperti imam meninggalkan membaca basmalah, baik secara lirih (sirr) maupun keras (jahr), sedangkan makmum meyakini membaca basmalah itu wajib.

Atau contoh lain seperti imam meninggalkan wudu setelah menyentuh kemaluan, menyentuh wanita, makan daging unta, tertawa terbahak-bahak (di dalam shalat), keluarnya najis (dari badan selain dua jalan), atau terkena najis yang jarang terjadi, sementara makmum berpandangan bahwa hal-hal tersebut wajib membatalkan wudu.

Dalam kasus kedua ini terdapat dua pendapat ulama, dan pendapat yang paling benar dari keduanya adalah sahnya shalat makmum tersebut. Ini merupakan mazhab Malik, dan merupakan riwayat yang paling tegas dari Ahmad dalam masalah-masalah seperti ini, serta salah satu dari dua pendapat dalam mazhab Syafi’i—bahkan merupakan pendapat yang ditegaskan langsung oleh beliau (Imam Syafi’i). Sebab, dahulu Imam Syafi’i pernah shalat di belakang para ulama mazhab Maliki yang tidak membaca basmalah, padahal mazhab beliau sendiri (Syafi’i) mewajibkan membacanya.

Dalil atas hal tersebut adalah apa yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan selainnya dari Nabi ﷺ, bahwasanya beliau bersabda (yang artinya): “Mereka (para imam) memimpin shalat untuk kalian. Jika mereka benar, maka pahalanya untuk kalian dan untuk mereka. Namun jika mereka salah, maka pahalanya untuk kalian dan dosanya (kesalahannya) ditanggung oleh mereka.”

Maka dalam hadits ini, Nabi ﷺ menjadikan kesalahan imam hanya ditanggung oleh dirinya sendiri, bukan oleh makmum.

Masalah-masalah ini, jika mazhab yang dipegang oleh imam adalah pendapat yang benar, maka tidak ada perselisihan lagi. Namun, jika imam tersebut keliru, maka kekeliruannya itu terbatas pada dirinya sendiri.

Pihak yang menyelisih (yang menganggap tidak sah) berargumen: “Makmum meyakini batalnya shalat imamnya.” Padahal kenyataannya tidaklah demikian! Melainkan, makmum meyakini bahwa imam tersebut shalat berdasarkan hasil ijtihad atau taklid (mengikuti ulama). Jika ijtihad sang imam benar, maka ia mendapatkan dua pahala, dan jika salah, maka ia mendapatkan satu pahala.

(Logikanya), makmum saja mau melaksanakan keputusan seorang hakim (qadhi) dalam masalah-masalah ijtihadiah, padahal bermakmum (dalam shalat) ini kedudukannya lebih agung daripada sekadar mengikuti keputusan hakim. Jika keputusan seorang mujtahid itu dianggap batal secara mutlak, tentu tidak boleh melaksanakan keputusan yang batal tersebut.

Selain itu, seandainya imam meninggalkan bersuci (lupa belum berwudu atau junub) karena faktor lupa, maka makmum tidak perlu mengulangi shalatnya menurut mayoritas ulama (jumhur), sebagaimana hal ini telah sahih keterangannya dari para Khulafaur Rasyidin. Padahal, orang yang lupa (yaitu si imam) wajib mengulangi shalatnya (setelah ia ingat), sedangkan orang yang salah karena takwil (berbeda ijtihad) tidak ada kewajiban mengulangi shalat baginya.

Jika shalat di belakang orang yang wajib mengulangi shalat saja dinyatakan sah (yaitu imam yang lupa belum wudu), maka tentu lebih sah lagi shalat di belakang orang yang tidak memiliki kewajiban mengulangi shalat (yaitu imam yang berbeda ijtihad). Imam yang lupa tersebut barulah mengulangi shalatnya apabila ia sudah ingat, tanpa mengikutsertakan makmum. Dan dalam hal ini tidak ada unsur kelalaian (tafrith) baik dari pihak imam maupun makmum, karena imam tidak mungkin meninggalkan keyakinan ijtihadnya hanya karena perkataan makmum.

Berbeda halnya jika makmum melihat ada najis yang menempel pada tubuh/pakaian imam namun ia tidak memperingatkannya. Dalam kondisi ini, makmum dianggap telah lalai (mufarrith). Jika ia tetap shalat (tanpa menegur), maka makmum tersebut wajib mengulangi shalatnya karena kelalaiannya itu.

Adapun sang imam, ia tidak perlu mengulangi shalatnya dalam gambaran kasus ini menurut pendapat yang paling benar dari dua pendapat ulama, sebagaimana pendapat Malik, Syafi’i dalam Qaul Qadim-nya, dan Ahmad dalam riwayat yang paling sahih dari beliau.

Pengetahuan makmum terhadap kondisi imam dalam konteks takwil (perbedaan ijtihad) konsekuensinya adalah: makmum mengetahui bahwa imam tersebut adalah seorang mujtahid yang kesalahannya telah diampuni (oleh Allah), sehingga shalat imam tersebut tidaklah batal. Dan pendapat inilah yang merupakan kebenaran yang sudah dipastikan. Wallahu a’lam (Dan Allah lebih mengetahui).

(al-Fatawa al-Kubro libni Taimiyyah 2/320-321)

Fatwa dalam Bahasa Arab

[صَلَاةُ الْمَأْمُومِ خَلْفَ مَنْ يُخَالِفُ مَذْهَبَهُ]

262 – 178 – سُئِلَ: هَلْ تَصِحُّ صَلَاةُ الْمَأْمُومِ خَلْفَ مَنْ يُخَالِفُ مَذْهَبَهُ؟

أَجَابَ: وَأَمَّا صَلَاةُ الرَّجُلِ خَلْفَ مَنْ يُخَالِفُ مَذْهَبَهُ، فَهَذِهِ تَصِحُّ بِاتِّفَاقِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ، وَالْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ، وَلَكِنَّ النِّزَاعَ فِي صُورَتَيْنِ: إحْدَاهَا: خِلَافُهَا شَاذٌّ، وَهُوَ مَا إذَا أَتَى الْإِمَامُ بِالْوَاجِبَاتِ كَمَا يَعْتَقِدُهُ الْمَأْمُومُ، لَكِنْ لَا يَعْتَقِدُ وُجُوبَهَا مِثْلَ التَّشَهُّدِ الْأَخِيرِ إذَا فَعَلَهُ مَنْ لَمْ يَعْتَقِدْ وُجُوبَهُ، وَالْمَأْمُومُ يَعْتَقِدُ وُجُوبَهُ، فَهَذَا فِيهِ خِلَافٌ شَاذٌّ. وَالصَّوَابُ الَّذِي عَلَيْهِ السَّلَفُ وَجُمْهُورُ الْخَلَفِ صِحَّةُ الصَّلَاةِ

وَالْمَسْأَلَةُ الثَّانِيَةُ: فِيهَا نِزَاعٌ مَشْهُورٌ، إذَا تَرَكَ الْإِمَامُ مَا يَعْتَقِدُ الْمَأْمُومُ وُجُوبَهُ مِثْلَ أَنْ يَتْرُكَ قِرَاءَةَ الْبَسْمَلَةِ سِرًّا وَجَهْرًا، وَالْمَأْمُومُ يَعْتَقِدُ وُجُوبَهَا

أَوْ مِثْلَ أَنْ يَتْرُكَ الْوُضُوءَ مِنْ مَسِّ الذَّكَرِ، أَوْ لَمْسِ النِّسَاءِ أَوْ أَكْلِ لَحْمِ الْإِبِلِ، أَوْ الْقَهْقَهَةِ، أَوْ خُرُوجِ النَّجَاسَاتِ، أَوْ النَّجَاسَةِ النَّادِرَةِ، وَالْمَأْمُومُ يَرَى وُجُوبَ الْوُضُوءِ مِنْ ذَلِكَ، فَهَذَا فِيهِ قَوْلَانِ: أَصَحُّهُمَا صِحَّةُ صَلَاةِ الْمَأْمُومِ، وَهُوَ مَذْهَبُ مَالِكٍ، وَأَصْرَحُ الرِّوَايَتَيْنِ عَنْ أَحْمَدَ فِي مِثْلِ هَذِهِ الْمَسَائِلِ هُوَ أَحَدُ الْوَجْهَيْنِ فِي مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ، بَلْ هُوَ الْمَنْصُوصُ عَنْهُ، فَإِنَّهُ كَانَ يُصَلِّي خَلْفَ الْمَالِكِيَّةِ الَّذِينَ لَا يَقْرَءُونَ الْبَسْمَلَةَ، وَمَذْهَبُهُ وُجُوبُ قِرَاءَتِهَا

وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ مَا رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَغَيْرُهُ عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنَّهُ قَالَ: «يُصَلُّونَ لَكُمْ فَإِنْ أَصَابُوا فَلَكُمْ وَلَهُمْ، وَإِنْ أَخْطَئُوا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ» فَجَعَلَ خَطَأَ الْإِمَامِ عَلَيْهِ دُونَ الْمَأْمُومِ

وَهَذِهِ الْمَسَائِلُ إنْ كَانَ مَذْهَبُ الْإِمَامِ فِيهَا هُوَ الصَّوَابَ فَلَا نِزَاعَ، وَإِنْ كَانَ مُخْطِئًا فَخَطَؤُهُ مُخْتَصٌّ بِهِ، وَالْمُنَازِعُ يَقُولُ: الْمَأْمُومُ يَعْتَقِدُ بُطْلَانَ صَلَاةِ إمَامِهِ، وَلَيْسَ كَذَلِكَ، بَلْ يَعْتَقِدُ أَنَّ الْإِمَامَ يُصَلِّي بِاجْتِهَادٍ أَوْ تَقْلِيدٍ، إنْ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِنْ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ، وَهُوَ يُنْفِذُ حُكْمَ الْحَاكِمِ فِي مَسَائِلِ الِاجْتِهَادِ، وَهَذَا أَعْظَمُ مِنْ اقْتِدَائِهِ بِهِ، فَإِنْ كَانَ الْمُجْتَهِدُ حُكْمُهُ بَاطِلًا لَمْ يَجُزْ إنْفَاذُ الْبَاطِلِ، وَلَوْ تَرَكَ الْإِمَامُ الطَّهَارَةَ نَاسِيًا لَمْ يُعِدْ الْمَأْمُومُ عِنْدَ الْجُمْهُورِ، كَمَا ثَبَتَ عَنْ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، مَعَ أَنَّ النَّاسِيَ عَلَيْهِ إعَادَةُ الصَّلَاةِ، وَالْمُتَأَوِّلُ لَا إعَادَةَ عَلَيْهِ

فَإِذَا صَحَّتْ الصَّلَاةُ خَلْفَ مَنْ عَلَيْهِ الْإِعَادَةُ، فَلَأَنْ تَصِحَّ خَلْفَ مَنْ لَا إعَادَةَ عَلَيْهِ أَوْلَى، وَالْإِمَامُ يُعِيدُ إذَا ذَكَرَ دُونَ الْمَأْمُومِ، وَلَمْ يَصْدُرْ مِنْ الْإِمَامِ وَلَا مِنْ الْمَأْمُومِ تَفْرِيطٌ: لِأَنَّ الْإِمَامَ لَا يَرْجِعُ عَنْ اعْتِقَادِهِ بِقَوْلِهِ

بِخِلَافِ مَا إذَا رَأَى عَلَى الْإِمَامِ نَجَاسَةً وَلَمْ يُحَذِّرْهُ مِنْهَا، فَإِنَّ الْمَأْمُومَ هُنَا مُفَرِّطٌ، فَإِذَا صَلَّى يُعِيدُ لِأَنَّ ذَلِكَ لِتَفْرِيطِهِ، وَأَمَّا الْإِمَامُ فَلَا يُعِيدُ فِي هَذِهِ الصُّورَةِ فِي أَصَحِّ قَوْلَيْ الْعُلَمَاءِ، كَقَوْلِ مَالِكٍ، وَالشَّافِعِيِّ فِي الْقَدِيمِ، وَأَحْمَدَ فِي أَصَحِّ الرِّوَايَتَيْنِ عَنْهُ

وَعِلْمُ الْمَأْمُومِ بِحَالِ الْإِمَامِ فِي صُورَةِ التَّأْوِيلِ يَقْتَضِي أَنَّهُ يَعْلَمُ أَنَّهُ مُجْتَهِدٌ مَغْفُورٌ لَهُ خَطَؤُهُ، فَلَا تَكُونُ صَلَاتُهُ بَاطِلَةً، وَهَذَا الْقَوْلُ هُوَ الصَّوَابُ الْمَقْطُوعُ بِهِ، وَاَللَّهُ أَعْلَمُ

الفتاوى الكبرى لابن تيمية 2\320-321

Penerjemah: Abu Utsman Kharisman