Beranda » Latest » Artikel » Tarikh » Biografi » Mengenal Ulama: Abu Ishaq Asy-Syathibiy
lake-6641880_1280

Beliau dikenal dengan sebutan asy-Syathibiy karena keluarga beliau dari Bani Lakhm yang merupakan migran Arab-Yaman menempati daerah Xativa. Meskipun beliau terlahir di Granada, sehingga disebut pula dengan nisbat al-Gharnathiy. Baik Xativa maupun Granada adalah daerah di Spanyol, atau Andalus.

Beliau adalah Abu Ishaq Ibrahim bin Musa al-Lakhmiy al-Maalikiy al-Gharnaathiy asy-Syathibiy yang wafat tahun 790 H. Seorang pakar di bidang Ushul, ahli Nahwu, ahli tafsir, ahli fiqh, sekaligus ahli hadits.

Guru-Guru Beliau

Beliau menimba ilmu bahasa Arab dan ilmu lainnya dari para imam besar, di antaranya:

• Ibnul Fakhkhar al-Ilbiri: Imam yang dikaruniai kelapangan dalam ilmu bahasa Arab yang tidak bisa ditandingi orang lain, baik dalam riset, hafalan, maupun argumentasi. Asy-Syathibiy mendampinginya hingga wafat.

• Abul Qasim as-Sabti: Imam syarif, pemimpin ilmu-ilmu bahasa, dan penulis syarah Maqshurah Hazim.

• Asy-Syarif Abu Abdullah at-Tilimsani: Imam peneliti dan orang paling alim di zamannya.

• Abu Abdullah al-Maqqari: Imam yang disepakati sebagai ulama besar di masanya.

• Abu Said bin Lubb: Pusat rujukan, syekh bagi para tokoh terkemuka, dan pangeran yang masyhur.

• Ibnu Marzuq al-Jadd: Imam yang agung, rujukan pengembara ilmu, dan khatib.

• Abu Ali Manshur bin Muhammad az-Zawawi: Ulama besar, peneliti, pengajar, dan ahli ushul fikih.

• Abu Abdullah al-Balansi: Ulama besar ahli tafsir dan penulis.

• Abu Ja’far asy-Syaquri: Haji, ulama besar, pengembara ilmu, dan khatib.

Adapun di antara ulama yang pernah berkumpul dan mengambil faedah dari beliau adalah: Abu al-Abbas al-Qabbab (seorang alim, hafizh, dan ahli fikih), Abu Abdullah al-Haffar (seorang mufti dan ahli hadis), serta selain mereka.

(Nail al-Ibtihaj bi Tathriz ad-Dibaj karya Ahmad bin Ahmad bin Umar Aqiit)

Murid-murid Beliau

Di antara yang menimba ilmu dari beliau adalah Abu Bakar bin ‘Ashim, dan saudaranya yaitu Abu Yahya Muhammad (sahabat beliau yang mengambil manfaat darinya dan mewarisi metodenya), Abdullah al-Bayani, serta masih banyak lagi yang lain.

Beliau memiliki diskusi-diskusi ilmiah yang mulia dengan banyak imam terkemuka mengenai masalah-masalah yang pelik, seperti dengan al-Qabbab, al-Fasytali, Ibnu Arafah, dan Ibnu Abbad. Diskusi-diskusi tersebut menyingkap keunggulan beliau, kuatnya argumentasi, serta keimamannya. (Dikutip dari kitab Syajaratun Nur az-Zakiyyah fi Thabaqat al-Malikiyyah karya Muhammad Makhluf)

Pujian Ulama terhadap Beliau

Abul Abbas at-Tunbukti menyatakan: “(asy-Syathibiy adalah) Seorang Imam, Al-Allamah, peneliti mendalam yang menjadi teladan, seorang Hafizh yang agung lagi mujtahid. Beliau adalah ahli ushul, ahli tafsir, ahli fikih, ahli hadits, pakar bahasa, pakar bayan, ahli debat yang tepercaya, warak, saleh, zuhud, seorang sunni yang menjadi imam mutlak, peneliti yang jeli lagi ahli dialektika, menguasai berbagai macam disiplin ilmu, termasuk salah satu dari mutiara ulama peneliti yang tepercaya, serta tokoh terbesar dari para imam yang mutqin lagi kredibel. Beliau memiliki rekam jejak yang mendalam dan keimaman yang agung dalam berbagai cabang ilmu, baik fikih, ushul, tafsir, hadits, bahasa Arab, dan selainnya, disertai dengan sikap penuh kehati-hatian dan penelitian mendalam (Nayl al-Ibtihaj bi Tathriz al-Dibaj (17/48).

Muhammad bin Makhluf menyatakan: “(asy-Syathibiy adalah) Al-Allamah, penulis, peneliti mendalam lagi ahli debat, salah satu dari para pakar pilihan. Beliau memiliki rekam jejak yang mendalam dalam seluruh disiplin ilmu dan pengetahuan, salah satu ulama yang tepercaya dan tokoh terbesar dari para imam yang kredibel, seorang ahli fikih yang ahli ushul, ahli tafsir lagi ahli hadits. Beliau memiliki hasil istinbath yang agung, faedah yang lembut, serta pembahasan yang mulia, disertai dengan kesalehan, kesucian diri, kewarakan, kepatuhan pada sunnah, serta sikap menjauhi bid’ah (Syajarah an-Nur al-Zakiyah (1/332).

Karya-karya Beliau

Di antara kitab-kitab karya beliau adalah:

  1. Al-Muwaafaqaat fi Ushul al-Fiqh terdiri dari empat jilid. Awalnya beliau namai Unwan at-Ta’rif bi Ushul at-Takalif. Melalui kitab ini asy-Syathibiy dinilai memiliki kontribusi besar dalam merumuskan dan membuat lebih tersistem ilmu Maqashid asy-Syari’ah (tujuan-tujuan ditetapkannya hukum Islam). Sebelum beliau, gagasan tentang Maqashid sudah ada (seperti pada karya Al-Juwaini dan Al-Ghazali), namun Asy-Syatibi adalah orang yang pertama kali menjadikannya sebagai kerangka teoritis yang utuh dan mandiri dalam Ushul Fiqh. Bahkan saudara kita dari NU juga banyak yang mengutip karya fenomenal beliau ini.

  2. Al-Majaalis, yang beliau gunakan untuk mensyarah (menjelaskan) bab jual beli dari kitab Shahih al-Bukhari.

  3. Al-Ifadat wa al-Insyadat sebuah risalah dalam bidang sastra (adab)

  4. Al-Ittifaq fi Ilmi al-Isytiqaq.

  5. Ushul an-Nahwi.

  6. Al I’tishom, kitab yang sangat baik dalam membahas tentang bahaya bid’ah, definisi bid’ah, sebab-sebab munculnya, dan pentingnya berpegang teguh pada Sunnah Nabi. Kitab ini sering dijadikan rujukan utama oleh para ulama Ahlussunnah dalam membantah kelompok-kelompok yang menyimpang.

  7. Syarh al-Alfiyyah, yang beliau beri nama Al-Maqashid asy-Syafiyah fi Syarh Khulashah al-Kafiyah

Sebagian Mutiara Nasihat Abu Ishaq asy-Syathibiy

فَرَأَيْتُ أَنَّ الْهَلَاكَ فِي اتِّبَاعِ السُّنَّةِ هُوَ النَّجَاةُ، وَأَنَّ النَّاسَ لَنْ يُغْنُوا عَنِّي مِنَ اللَّهِ شَيْئًا

Maka aku melihat bahwasanya kebinasaan dalam mengikuti sunnah (menurut manusia) itulah sebenarnya keselamatan, dan sesungguhnya manusia tidaklah bisa menyelamatkan aku dari Allah sedikitpun (al I’tishom 1/24)

فَقَدَ اتَّفَقَت الْأُمَّةُ -بَلْ سَائِرُ الْمِلَلِ- عَلَى أَنَّ الشَّرِيعَةَ وُضِعَتْ لِلْمُحَافَظَةِ عَلَى الضَّرُورِيَّاتِ الْخَمْسِ -وَهِيَ: الدِّينُ، وَالنَّفْسُ، وَالنَّسْلُ، وَالْمَالُ، وَالْعَقْلُ

Umat Islam—bahkan seluruh penganut agama—telah bersepakat bahwa syariat ini ditetapkan demi menjaga lima perkara darurat (al-dharuriyat al-khams), yaitu: agama, jiwa, keturunan, harta, dan akal (al-Muwaafaqaat 1/31)

لَا مَفْسَدَةَ فِي الدُّنْيَا تُوَازِي مَفْسَدَةَ إِمَاتَةِ السُّنَّةِ

Tidak ada kerusakan di dunia yang menandingi kerusakan dimatikannya sunnah (al I’tishom 1/465)

فَإِنَّ السَّلَفَ الصَّالِحَ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَمَنْ يَلِيهِمْ كَانُوا أَعْرَفَ بِالْقُرْآنِ وَبِعُلُومِهِ وَمَا أُودِعَ فِيهِ

Sesungguhnya generasi Salafus Sholih dari kalangan Sahabat, Tabiin, dan generasi yang setelah mereka (Atbaut Tabi’in), adalah orang-orang yang paling mengetahui tentang Al-Qur’an, ilmu-ilmunya, serta apa yang terkandung di dalamnya (al-Muwaafaqaat 2/127)

Ketergelinciran asy-Syathibiy dalam Sebagian Permasalahan

Meskipun beliau Ulama besar, namun tidak luput dari ketergelinciran. Ketergelinciran dalam sebagian masalah akidah, juga terpengaruh dengan sebagian pandangan Ulama Kalam dan al-Asya’iroh.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa melimpahkan rahmat, taufiq, pertolongan dan ampunan-Nya kepada kita dan segenap kaum muslimin.

Penulis: Abu Utsman Kharisman