Mengenal Ulama Salaf: Sufyan bin Uyainah

Biografi Singkat
Nama: Sufyan bin Uyainah bin Abi Imran
Kuniah: Abu Muhammad
Lahir: Kufah, tahun 107 H
Wafat: Makkah, tahun 198 H (di usia 91 tahun)
Guru-guru Beliau
Ibnu Syihab az-Zuhriy, Amr bin Dinar, dan masih banyak lainnya.
Dihikayatkan oleh al-Humaidiy bahwa Sufyan bin Uyainah berkata:
أَدْرَكْتُ سَبْعًا وَثَمَانِيْنَ تَابِعِيًّا
Aku telah menjumpai 87 Tabiin (Tahdzibut Tahdzib karya Ibnu Hajar al-Asqolaaniy 4/121)
Ini menunjukkan bahwa Sufyan bin Uyainah termasuk dalam generasi ke-3 Salaf: Atbaut Tabi’in. Karena guru-guru beliau berada di generasi Tabiin.
Murid-Murid Beliau
Al-A’masy, Ibnu Juraij, Syu’bah (ketiga orang ini sekaligus merupakan gurunya), asy-Syafi’i, Ibnul Mubarak, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih, Waki’, dan masih banyak lagi lainnya.
Sebagian Pujian Para Ulama (al-Imam asy-Syafii dan Ahmad bin Hanbal)
Al-Imam Asy-Syafii rahimahullah menyatakan:
لَوْلَا مَالِكٌ وَسُفْيَانُ لَذَهَبَ عِلْمُ الْحِجَازِ
Kalaulah bukan Malik dan Sufyan (bin Uyainah) niscaya ilmu Hijaz telah pergi (Musnad asy-Syafi’i)
أُصُوْلُ الأَحكَامِ نَيِّفٌ وَخَمْسُ مائَةِ حَدِيْثٍ، كُلُّهَا عِنْدَ مَالِكٍ، إِلَاّ ثَلَاثِيْنَ حَدِيْثاً، وَكُلُّهَا عِنْدَ ابْنِ عُيَيْنَةَ، إِلَاّ سِتَّةَ أَحَادِيْثَ
“Asy-Syafi’i berkata: Dasar-dasar hukum (hadits-hadits hukum) itu berjumlah lima ratus sekian hadits. Semuanya ada pada (diriwayatkan oleh) Malik kecuali tiga puluh hadits, dan semuanya ada pada (diriwayatkan oleh) Ibnu ‘Uyainah kecuali enam hadits.” (riwayat adz-Dzahabiy dalam Siyar A’lamin Nubalaa’)
مَا رَأَيْتُ أَحَداً فِيْهِ مِنْ آلَةِ العِلْمِ مَا فِي سُفْيَانَ بنِ عُيَيْنَةَ، وَمَا رَأَيْتُ أَكَفَّ عَنِ الفُتْيَا مِنْهُ، قَالَ: وَمَا رَأَيْتُ أَحَداً أَحْسَنَ تَفْسِيْراً لِلْحَدِيْثِ مِنْهُ
Aku tidak pernah melihat seseorang yang memiliki perangkat keilmuan seperti yang ada pada Sufyan bin Uyainah. Aku tidak pernah melihat seseorang yang sangat menjaga diri dari berfatwa dibandingkan beliau. Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih baik dalam menjelaskan makna hadits dibandingkan beliau (Manaqib asy-Syafi’i karya al-Baihsqiy 1/561)
al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah menyatakan:
مَا رَأَيْتُ أَحَدًا مِنَ الْفُقَهَاءِ أَعْلَمَ بِالْقُرْآنِ وَالسُّنَنِ مِنْهُ
Aku tidak melihat seorang pun dari para ahli fiqh yang lebih berilmu tentang alQuran dan sunnah-sunnah dibandingkan beliau (Sufyan bin Uyainah) (Tahdzibut Tahdzib karya Ibnu Hajar 4/121)
Berhaji Tidak Kurang dari 70 Kali
“Al-Hasan bin ‘Imran bin ‘Uyainah bin Abi ‘Imran—putra dari saudara laki-laki (keponakan) Sufyan—mengabarkan kepadaku, ia berkata: Aku pergi haji bersama pamanku, Sufyan (bin Uyainah), pada haji terakhir yang beliau laksanakan yaitu tahun 197 Hijriah. Ketika kami berada di Jam’ (Muzdalifah) dan beliau telah selesai salat, beliau berbaring di atas tempat tidurnya, kemudian berkata: ‘Sungguh, aku telah mendatangi tempat ini selama tujuh puluh tahun. Setiap tahun aku selalu berdoa: Ya Allah, janganlah Engkau jadikan haji ini sebagai saat terakhirku di tempat ini. Dan sesungguhnya, kini aku merasa malu kepada Allah karena saking seringnya aku memohon hal itu kepada-Nya.’ Maka beliau pun pulang, lalu wafat pada tahun berikutnya, tepat pada hari Sabtu, hari pertama di bulan Rajab tahun 198 Hijriah.” (riwayat Ibnu Sa’ad dalam atThobaqot)
Sebagian Mutiara Nasihat dari Sufyan bin Uyainah
Sufyan bin Uyainah rahimahullah menyatakan:
أَوَّلُ الْعِلْمِ الِاسْتِمَاعُ , ثُمَّ الْإِنْصَاتُ , ثُمَّ الْحِفْظُ، ثُمَّ الْعَمَلُ، ثُمَّ النَّشْرُ
Tahapan ilmu yang pertama adalah menyimak, kemudian diam, kemudian menghafal, kemudian mengamalkan, kemudian menyebarkan (ilmu)(riwayat Abu Nuaim dalam Hilyatul Awliyaa’)
لَيْسَ الْعَالِمُ الَّذِي يَعْرَفُ الْخَيْرَ وَالشَّرَّ , إِنَّمَا الْعَالِمُ الَّذِي يَعْرَفُ الْخَيْرَ فَيَتْبَعُهُ , وَيَعْرِفُ الشَّرَّ فَيَجْتَنِبُهُ
Bukanlah orang yang berilmu itu yang mengenal kebenaran dan keburukan. Sesungguhnya hanyalah seorang berilmu itu yang mengenal kebaikan kemudian ia mengikutinya dan mengenal keburukan kemudian ia menjauhinya (riwayat Abu Nuaim dalam Hilyatul Awliyaa’)
مَنْ كَانَتْ مَعْصِيَتُهُ فِي الشَّهْوَةِ فَارْجُ لَهُ التَّوْبَةَ , فَإِنَّ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ عَصَى مُشْتَهِيًا فَغُفِرَ لَهُ , وَإِذَا كَانَتْ مَعْصِيَتُهُ فِي كِبْرٍ فَاخْشَ عَلَى صَاحِبِهِ اللَّعْنَةَ فَإِنَّ إِبْلِيسَ عَصَى مُسْتَكْبِرًا فَلُعِنَ
Barang siapa yang kemaksiatannya berkaitan dengan (hawa nafsu) syahwat, harapkanlah taubat darinya. Karena (Nabi) Adam -semoga keselamatan tercurah kepada beliau- bermaksiat karena syahwat, sehingga beliaupun diampuni. Jika kemaksiatan itu karena kesombongan, khawatirkanlah laknat terhadap pelakunya, karena Iblis bermaksiat karena sombong sehingga ia dilaknat (riwayat Abu Nuaim dalam Hilyatul Awliyaa’ dan al-Baihaqiy dalam Syuabul Iman)
Sebagian Penafsiran Ayat alQuran dari Sufyan bin Uyainah
عَنِ ابْنِ عُيَيْنَةَ: فِي قَوْلِهِ: {وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُفْتَرِينَ} [الأعراف: 152] قَالَ: كُلُّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ ذَلِيلٌ
Dari Ibnu Uyainah tentang firman Allah (yang artinya): dan demikianlah Kami membalas setiap orang yang mengada-adakan perkara baru (Q.S al-A’raaf ayat 152) ia mengatakan: Setiap Ahlul Bid’ah hina (riwayat atThobariy dalam tafsirnya)
قَالَ سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ فِي قَوْلِهِ: {وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ} [آل عمران: 159] قَالَ: هِيَ لِلْمُؤْمِنِينَ أَنْ يَتَشَاوَرُوا فِيمَا لَمْ يَأْتِهِمْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِ أَثَرٌ
Sufyan bin Uyainah berkata (menafsirkan) firman Allah (yang artinya): “Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan-urusan (Q.S Ali Imran ayat 159): Itu adalah untuk kaum beriman agar mereka bermusyawarah antar mereka selama tidak sampai kepada mereka atsar dari Nabi shollallahu alaihi wasallam tentang hal itu (selama tidak ada wahyu dari Allah sebagai sebuah kepastian hukum, hal itu perlu dimusyawarahkan, pen)(riwayat atThobariy dalam tafsirnya)
ابْنَ عُيَيْنَةُ يَقُولُ فِي قَوْلِ اللَّهِ: {سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ} [الأعراف: 146] قَالَ: يَقُولُ: أَنْزِعُ عَنْهُمْ فَهْمَ الْقُرْآنِ، وَأَصْرِفُهُمْ عَنْ آيَاتِيَ
Ibnu Uyainah berkata tentang firman Allah (yang artinya): Aku akan palingkan dari ayat-ayat-Ku, orang-orang yang sombong tanpa kebenaran di muka bumi (Q.S al-A’raaf ayat 146): Allah menyatakan: Aku akan mencabut pemahaman alQuran dari mereka dan Aku palingkan mereka dari ayat-ayatKu (riwayat atThobariy dalam tafsirnya)
سفيان يقول: في هذه الآية: {فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ} [النساء: 69] قال: الصالحون: هم أصحاب الحديث
Sufyan (bin Uyainah) berkata tentang ayat ini (yang artinya): Maka mereka bersama orang-orang yang Allah beri nikmat dari kalangan para Nabi, shiddiq, syuhada’, dan orang-orang sholih (Q.S anNisaa’ ayat 69): Orang-orang sholih itu adalah para Ulama hadits (yang mempelajari dan mengamalkan hadits)(riwayat al-Marruziy dalam al-Muntakhab min Mu’jamisy Syuyukhis Sam’aaniy)
Penulis: Abu Utsman Kharisman

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.