Beranda » Latest » Artikel » Tarikh » Biografi » Mengenal Ulama Salaf: Tsabit Al-Bunaaniy
pen-4855775_1280

Beliau adalah Tsabit bin Aslam al-Bunaaniy. Al-Bunaaniy nisbat kepada kabilah Bani Bunaanah atau Bani Sa’ad bin Lu-ay bin Ghalib (keturunan Quraisy). Kuniahnya Abu Muhammad. Bermulazamah dengan Sahabat Nabi Anas bin Malik selama 40 tahun (atTaarikhul Kabiir karya al-Bukhari). Tinggal di Bashrah. Wafat tahun 127 H.

Sebagian guru beliau selain Sahabat Anas bin Malik di antaranya adalah Abdullah bin Umar, Abdullah bin az-Zubair, Umar bin Abi Salamah. Sedangkan murid-murid beliau di antaranya adalah Hammaad bin Salamah, Hammaad bin Zaid, Humaid ath-Thawiil, Syu’bah, Ma’mar bin Raasyid.

Beliau adalah seorang Ulama hadits yang menurut Ibnul Madiniy meriwayatkan sekitar 250 hadits. Dalam Shahih al-Bukhari hadits yang diriwayatkan oleh Tsabit al-Bunani tidak kurang dari 65 hadits.

Sangat Dicintai oleh Sahabat Anas bin Malik

حميد قَالَ : كُنَّا نَأْتِي أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ وَمَعَنَا ثابت ، فَكُلَّمَا مَرَّ بِمَسْجِدٍ صَلَّى فِيهِ ، فَكُنَّا نَأْتِي أنسا فَيَقُولُ : أَيْنَ ثابت أَيْنَ ثابت ؟ إِنَّ ثابتا دُوَيْبَّةٌ أُحِبُّهَا

Humayd berkata: “Dahulu kami mendatangi Anas bin Malik dan bersama kami ada Tsabit. Setiap kali Tsabit melewati sebuah masjid (di tengah perjalanan), beliau pasti mampir dan salat di dalamnya. Ketika kami sampai di hadapan Anas, Anas akan langsung bertanya: ‘Mana Tsabit? Mana Tsabit? Sesungguhnya Tsabit adalah duwaibbah (makhluk kecil/kesayangan) yang sangat aku cintai’.”(riwayat Abu Nuaim dalam Hilyatul Awliyaa’)

Diriwayatkan bahwa Anas bin Malik memuji Tsabit sebagai kunci pembuka pintu kebaikan:

إِنَّ ثَابِتًا لَمِفْتَاحٌ مِنْ مَفَاتِيحِ الخَيْرِ

Sesungguhnya Tsabit adalah benar-benar salah satu dari para pembuka kebaikan (atTaarikh al-Kabiir karya al-Imam al-Bukhari 2/617)

Pujian Ulama Lain terhadap Tsabit sebagai Ahli Ibadah

عَنْ بَكْرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ، قَالَ : مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى أَعْبَدِ أَهْلِ زَمَانِهِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ ، فَمَا أَدْرَكْنَا الَّذِي هُوَ أَعْبَدُ مِنْهُ

Dari Bakr bin Abdillah (al-Muzaniy) ia berkata: “Barang siapa yang ingin melihat orang yang paling kuat ibadahnya di zamannya, maka lihatlah Tsabit al-Bunani. Kami tidak pernah menjumpai orang yang lebih kuat ibadahnya daripada dia.”(riwayat Abu Nuaim dalam Hilyatul Awliyaa’)

شعبة قَالَ : كَانَ ثَابِتٌ الْبُنَانِيُّ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ، وَيَصُومُ الدَّهْرَ

Syu’bah berkata: Tsabit al-Bunaaniy mengkhatamkan alQuran dalam sehari semalam dan ia berpuasa sepanjang masa (selain hari-hari yang terlarang berpuasa, pen)(riwayat Abu Nuaim dalam Hilyatul Awliyaa’)

Membantu Menyampaikan Keperluan Seseorang dan Berdoa dalam Shalatnya

Harami menceritakan: Ada seorang laki-laki yang meminta bantuan kepada Tsabit al-Bunani untuk mengurus keperluannya di hadapan Hakim (Qadhi). Di tengah perjalanan, Tsabit tidak melewati satu masjid pun melainkan beliau mampir dan salat di dalamnya.

Hingga akhirnya mereka tiba di kantor Hakim, dan saat itu al-qamathir (kotak/arsip berkas perkara) sudah ditutup (jam kerja habis). Namun, Tsabit tetap berbicara kepada Hakim mengenai keperluan orang tersebut, dan sang Hakim pun langsung mengabulkannya.

Tsabit lalu berbalik kepada orang itu dan bertanya: “Barangkali kamu merasa kesal/terbebani dengan apa yang kamu lihat (aku banyak mampir salat tadi)?” Orang itu menjawab: “Iya (benar).” Tsabit berkata: “Tidaklah aku mendirikan satu salat pun (di masjid-masjid tadi), melainkan aku sengaja menggunakannya untuk memohon kepada Allah Ta’ala demi terpenuhinya keperluanmu ini.” (riwayat Abu Nu’aim dalam Hilyatul Awliyaa’)

Tidaklah ada Tiang Masjid Jami’ al-Bashrah Melainkan Tsabit Pernah Mengkhatamkan Quran dan Menangis di Dekatnya

ثَابِتٌ الْبُنَانِيَّ يَقُولُ : مَا تَرَكْتُ فِي مَسْجِدِ الْجَامِعِ سَارِيَةً إِلَّا وَقَدْ خَتَمْتُ الْقُرْآنَ عِنْدَهَا وَبَكَيْتُ عِنْدَهَا

Tsabit al-Bunani berkata: “Tidaklah aku meninggalkan satu pun tiang (sariyah) di dalam Masjid Jami’ (kota Bashrah), melainkan aku telah mengkhatamkan Al-Qur’an di dekat tiang tersebut, dan aku telah menangis di dekatnya.”(riwayat Abu Nuaim dalam Hilyatul Awliyaa’)

Jika Melewati Sebuah Masjid, Beliau akan Singgah untuk Shalat di Dalamnya

عَنِ ابن شوذب قَالَ : رُبَّمَا مَشَيْتُ مَعَ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ فَلَا يَمُرُّ بِمَسْجِدٍ إِلَّا دَخَلَ فَصَلَّى فِيهِ

Ibnu Syaudzab berkata: “Terkadang aku berjalan bersama Tsabit al-Bunani, dan tidaklah beliau melewati suatu masjid (di perjalanan) melainkan beliau pasti akan masuk ke dalamnya lalu mendirikan salat di sana.”(riwayat Abu Nuaim dalam Hilyatul Awliyaa’)

Demikian juga sebagaimana ucapan Humaid ath-Thawil pada kisah terdahulu tentang bagaimana Anas begitu mencintai Tsabit, setiap menemui masjid dalam perjalanan ke tempat Anas, Tsabit akan shalat di masjid itu.

عَنِ ابن شوذب قَالَ : رُبَّمَا مَشَيْنَا مَعَ ثابت ، فَإِذَا عُدْنَا مَرِيضًا بَدَأَ بِالْمَسْجِدِ الَّذِي فِي بَيْتِ الْمَرِيضِ فَرَكَعَ فِيهِ ، ثُمَّ يَأْتِي الْمَرِيضَ

Ibnu Syaudzab berkata: “Terkadang kami berjalan bersama Tsabit (al-Bunani). Apabila kami hendak menjenguk orang yang sedang sakit, beliau akan memulai dengan mendatangi masjid yang ada di dalam rumah orang sakit tersebut, lalu beliau salat (dua rakaat) di sana, setelah itu barulah beliau menemui si sakit.”(riwayat Abu Nuaim dalam Hilyatul Awliyaa’)

Berdoa kepada Allah agar Tetap Bisa Melaksanakan Shalat Meski Telah Meninggal di Dalam Kubur

عَنْ ثَابِتٍ قَالَ: إِنْ كُنْتَ أَعْطَيْتَ أَحَدًا الصَّلاةَ فِي قَبْرِهِ فَأَعْطِنِي الصَّلاةَ فِي قَبْرِي

Dari Tsabit ia berdoa: “(Ya Allah), jika Engkau memberikan karunia kepada seseorang untuk dapat mendirikan shalat di dalam kuburnya, maka berikanlah karunia shalat di dalam kubur itu kepadaku.” (riwayat Ibnu Sa’ad dalam atThobaqootul Kubro)

Saat Hendak Ditalqin Menjelang Kematian, Tsabit Justru Sibuk Menyelesaikan Wiridnya (Kebiasaan Baca Qurannya)

محمد بن ثابت البناني قَالَ : ذَهَبْتُ أُلَقِّنُ أَبِي وَهُوَ فِي الْمَوْتِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، فَقَالَ : يَا بُنَيَّ دَعْنِي ، فَإِنِّي فِي وِرْدِي السَّادِسِ ، أَوِ السَّابِعِ

Muhammad bin Tsabit al-Bunani menceritakan: “Aku mendatangi ayahku saat beliau menjelang wafatnya untuk menuntunnya (talqin) mengucapkan ‘Laa ilaha illallah’. Namun, ayahku justru berkata: ‘Wahai anakku, biarkanlah aku, karena sesungguhnya aku sedang berada pada wiridku yang keenam atau ketujuh’.” (riwayat Abu Nuaim dalam Hilyatul Awliyaa’)

Sebagian Mutiara Ucapan Tsabit al-Bunaaniy

الصَّلَاةُ خِدْمَةُ اللهِ فِي الْأَرْضِ لَوْ عَلِمَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا أَفْضَلَ مِنَ الصَّلَاةِ لَمَا قَالَ: {فَنَادَتْهُ الْمَلَائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ} [آل عمران: 39]

Shalat adalah bentuk pengabdian (khidmah) kepada Allah di bumi. Kalaulah Allah ‘Azza wa Jalla mengetahui ada suatu amalan yang lebih utama daripada salat, niscaya Allah tidak akan berfirman (mengenai Nabi Zakariya): ‘Kemudian Malaikat memanggilnya, sedang ia tengah berdiri melaksanakan salat di mihrab.’ (QS. Ali ‘Imran: 39).”(riwayat al-Marwaziy dalam Ta’dzhim Qodris Sholaah)

ثابت يَقُولُ : إِنَّ أَهْلَ ذِكْرِ اللَّهِ لَيَجْلِسُونَ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَإِنَّ عَلَيْهِمْ مِنَ الْآثَامِ كَأَمْثَالِ الْجِبَالِ ، وَإِنَّهُمْ لَيَقُومُونَ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ عُطْلًا مَا عَلَيْهِمْ مِنْهَا شَيْءٌ

Tsabit berkata: “Sesungguhnya ahli dzikir (orang-orang yang mengingat Allah Ta’ala) benar-benar duduk berkumpul untuk mengingat Allah, sementara mereka memikul dosa-dosa yang besarnya seperti gunung-gunung. Namun, ketika mereka berdiri (menyudahi) majelis zikir tersebut, mereka bangkit dalam keadaan ‘uthlan (bersih/kosong), tidak ada sedikit pun dosa yang tersisa pada diri mereka.” (riwayat Abu Nuaim dalam Hilyatul Awliyaa’)

ثابت يَقُولُ : إِذَا وُضِعَ الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ فِي قَبْرِهِ احْتَوَشَتْهُ أَعْمَالُهُ الصَّالِحَةُ

Tsabit berkata: “Apabila seorang hamba yang mukmin telah diletakkan di dalam kuburnya, maka amal-amal shalihnya akan segera mengepung/mengelilinginya (untuk melindunginya).”(riwayat Abu Nuaim dalam Hilyatul Awliyaa’)

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا [فصلت: 30]

Sesungguhnya orang-orang yang berkata: Tuhan kami adalah Allah, kemudian ia tetap istiqomah, akan turun para Malaikat kepada mereka dengan menyatakan: Janganlah kalian takut dan jangan bersedih (Q.S Fushshilat ayat 30)

Tsabit berkata: “Telah sampai sebuah riwayat kepada kami bahwa seorang hamba yang mukmin, ketika ia dibangkitkan dari kuburnya, ia langsung disambut oleh dua malaikat yang dulunya selalu menyertainya selama di dunia (Malaikat Hafazhah/Pencatat amal). Keduanya langsung menenangkan dengan berkata: ‘Jangan bersedih dan jangan takut, bergembiralah dengan surga yang dulu dijanjikan untukmu.’ Tsabit melanjutkan: ‘Maka Allah pun mengamankan rasa takutnya dan menyejukkan pandangan matanya (membuatnya bahagia). Sehingga, tidak ada satu pun kedahsyatan besar yang melanda manusia pada Hari Kiamat, melainkan orang mukmin tersebut berada dalam kondisi yang sejuk matanya; hal itu disebabkan oleh hidayah yang Allah berikan kepadanya, serta amal shaleh yang telah ia kerjakan demi hari ini selama di dunia.'” (riwayat Abu Nuaim dalam Hilyatul Awliyaa’)

Penulis: Abu Utsman Kharisman