Sekilas Biografi Ulama Salaf: Sufyan Ats-Tsauriy

Nama dan Nasab
Nama: Sufyan bin Said bin Masruq
Kuniah: Abu Abdillah
Lahir: sekitar 96 H
Wafat: 161 H (di usia sekitar 64 tahun)
Nisbat ats-Tsauriy adalah terhadap kakek beliau yang ke-14, yaitu Tsaur. Karena nasab beliau hingga kakek tersebut menurut Ibnu Sa’ad dan adz-Dzahabiy adalah: Sufyan bin Said bin Masruq bin Habiib bin Raafi’ bin Abdillah bin Mauhibah bin Ubay bin Abdillah bin Munqidz bin Nashr bin al-Harits bin Tsa’labah bin ‘Aamir bin Milkaan bin Tsaur.
Guru-Guru Beliau
Di antaranya adalah ayah beliau sendiri (Said bin Masruq) yang tidak kurang dari 9 hadits terdapat dalam Shahih al-Bukhari, Manshur bin al-Mu’tamir, al-A’masy (Sulaiman bin Mihran), ‘Alqomah bin Martsad, Abdullah bin Dinar, Zaid bin Aslam, Ayyub as-Sakhtiyaaniy dan masih banyak lagi yang lain. Level tertinggi dari guru-guru beliau adalah para Tabiin. Sehingga Sufyan ats-Tsauriy masuk dalam kategori generasi Atbaut Tabiin.
Murid-Murid Beliau
Di antaranya Abdurrahman bin Mahdiy, Waki’ bin al-Jarraah, Qobiishoh bin Uqbah, Abdurrazzaq bin Hammaam, Sufyan bin Uyainah, Abdullah bin al-Mubarak. Serta masih banyak lagi yang lain.
Sebagian Pujian Ulama terhadap Beliau
سُفْيَانَ بْنَ عُيَيْنَةَ يَقُولُ: أَئِمَّةُ النَّاسِ ثَلَاثَةٌ بَعْدَ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ابْنُ عَبَّاسٍ فِي زَمَانِهِ، وَالشَّعْبِيُّ فِي زَمَانِهِ، وَسُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ فِي زَمَانِهِ
Sufyan bin Uyainah berkata: “Para imam yang menjadi panutan manusia setelah para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ada tiga: Ibnu Abbas pada zamannya, Asy-Sya’bi pada zamannya, dan Sufyan ats-Tsauriy pada zamannya.” (riwayat Abu Nuaim dalam Hilyatul Awliyaa’)
عَبْدَ اللهِ ابْنُ الْمُبَارَكِ يَقُولُ: مَا أَعْلَمُ عَلَى الْأَرْضِ أَعْلَمَ مِنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ رَحِمَهُ اللهُ
Abdullah Ibnu al-Mubarak berkata: “Aku tidak mengetahui di muka bumi ini seseorang yang lebih berilmu daripada Sufyan ats-Tsauriy, semoga Allah merahmatinya.” (riwayat Abu Nuaim dalam Hilyatul Awliyaa’)
الْأَوْزَاعِيُّ يَقُولُ: لَوْ قِيلَ لِي: اخْتَرْ رَجُلًا يَقُومُ بِكِتَابِ اللهِ تَعَالَى وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَاخْتَرْتُ لَهُمَا الثَّوْرِيَّ
Al-Auza’i berkata: “Sekiranya dikatakan kepadaku: Pilihlah seorang laki-laki yang akan menegakkan Kitabullah Ta’ala dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam, niscaya aku akan memilih ats-Tsauriy (Sufyan ats-Tsauriy) untuk keduanya.”(riwayat Abu Nuaim dalam Hilyatul Awliyaa’)
Syu’bah, Sufyan bin Uyainah, Abu ‘Aashim, Yahya bin Ma’in dan Sebagian Ulama lain menggelari Sufyan ats-Tsauriy sebagai Amirul Mukminin fil Hadits (Pemimpin kaum beriman dalam hadits).
Ahli Hadits yang Banyak Riwayat Haditsnya dan Sangat Kuat Hafalannya
قَالَ شُعْبَةُ: سُفْيَانُ أَحْفَظُ مِنِّي، وَمَا حَدَّثَنِي عَنْ شَيْخٍ فَلَقِيتُ الشَّيْخَ إِلَّا وَجَدْتُهُ كَمَا قَالَ سُفْيَانُ
Syu’bah berkata: Sufyan (ats-Tsauriy) lebih kuat hafalannya dibandingkan aku. Apa yang beliau sampaikan hadits dari seorang guru melainkan aku dapati memang benar seperti yang disampaikan Sufyan (riwayat Ibnul Ja’ad dalam Musnadnya)
سُفْيَانُ الثَّوْرِيّ يَقُولُ: مَا اسْتَوْدَعْتُ أُذُنِي شَيْئًا قَطُّ إِلَّا حَفِظْتُهُ حَتَّى أَنِّي أَمُرُّ بِكَذَا – كَلِمَةً قَالَهَا – فَأَسُدُّ أُذُنِي مَخَافَةَ أَنْ أَحْفَظَ مَا يَقُولُ
Sufyan ats-Tsauriy berkata: Tidaklah telingaku mendengar sesuatu kecuali aku menghafalnya. Hingga jika aku melewati suatu tempat (yang aku khawatir mendengar percakapan atau suaranya), aku tutup telingaku khawatir aku menghafal ucapan orang itu (diriwayatkan Abu Nuaim dalam Hilyatul Awliyaa’)
الأَشْجَعِيُّ يَقُوْلُ: سَمِعْتُ مِنَ الثَّوْرِيِّ ثَلَاثِيْنَ أَلْفَ حَدِيْثٍ
Al-Asyja’iy berkata: Aku mendengar dari (Sufyan) ats-Tsauriy 30 ribu hadits (Tahdzibut Tahdzib karya Ibnu Hajar 7/35)
Ahli Ibadah
Sufyan ats-Tsauriy banyak melakukan shalat sunnah. Sujudnya lama. Seorang yang thawaf 7 kali putaran pernah melihat beliau tidak mengangkat kepala dari satu sujud sejak ia memulai thawaf hingga putaran ke-7 yang terahir.
عَلِيُّ بْنُ فُضَيْلِ بْنِ عِيَاضٍ قَالَ: رَأَيْتُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيَّ سَاجِدًا بِمَكَّةَ حَوْلَ الْبَيْتِ، فَطُفْتُ سَبْعَةَ أَسَابِيعَ قَبْلَ أَنْ يَرْفَعَ رَأْسَهُ
Ali bin Fudhail bin Iyadl berkata: Aku melihat Sufyan ats-Tsauriy sujud di Makkah sekitar Ka’bah. Aku melakukan thawaf 7 kali putaran sebelum ia mengangkat kepalanya (dari sekali sujud itu)(riwayat Abu Ya’laa al-Kholiliy dalam Fawaidnya dan Abu Nuaim dalam Hilyatul Awliyaa’)
قَالَ ابْنُ وَهْبٍ: رَأَيتُ الثَّوْرِيَّ فِي الحَرَمِ بَعْدَ المَغْرِبِ صَلَّى ثُمَّ سَجَدَ سَجدَةً فَلَمْ يَرْفَعْ حَتَّى نُودِيَ بِالعشَاءِ
Ibnu Wahb berkata: Aku melihat atTsauriy di al-Haram setelah Maghrib shalat kemudian sujud dengan sujud yang lama, tidaklah bangkit hingga dikumandangkan adzan Isya (Siyar A’lamin Nubalaa’)
Banyak memanfaatkan waktu antara Dzhuhur dan Ashar untuk shalat demikian juga antara Maghrib hingga Isya untuk shalat. Kecuali jika ada diskusi murajaah hadits.
يَحْيَى القَطَّانَ يَقُوْلُ: مَا رَأَيتُ رَجُلاً أَفْضَلَ مِنْ سُفْيَانَ لَوْلاَ الحَدِيْثُ كَانَ يُصَلِّي مَا بَيْنَ الظُّهرِ وَالعَصْرِ، وَبَيْنَ المَغْرِبِ وَالعِشَاءِ, فَإِذَا سَمِعَ مُذَاكَرَةَ الحَدِيْثِ, تَرَكَ الصَّلاَةَ، وَجَاءَ. (سير أعلام النبلاء)
Yahya al-Qoththon berkata: Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih utama dibandingkan Sufyan. Kalaulah bukan karena (belajar) hadits, beliau shalat (sunnah mutlak) antara Dzhuhur dengan Ashar dan antara Maghrib dengan Isya. Apabila beliau mendengar majelis (diskusi; pengajaran; murajaah) hadits, beliau meninggalkan shalat (sunnah) dan datang bergabung di majelis itu (Siyar A’lamin Nubalaa’)
Sifat Tawadhu’ dan Pemaaf
قَالَ أَحْمَدُ بنُ عَبْدِ اللهِ العِجْلِيُّ: آجَرَ سُفْيَانُ نَفْسَه مِنْ جَمَّالٍ إِلَى مَكَّةَ، فَأَمَرُوْهُ يَعْمَلُ لَهُم خُبزَةً، فَلَمْ تَجِئْ جَيِّدَةً، فَضَرَبَهُ الجَمَّالُ. فَلَمَّا قَدِمُوا مَكَّةَ، دَخَلَ الجَمَّالُ، فَإِذَا سُفْيَانُ قَدِ اجْتَمَعَ حَوْلَهُ النَّاسُ، فَسَأَلَ، فَقَالُوا: هَذَا سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ. فَلَمَّا انْفَضَّ عَنْهُ النَّاسُ، تَقَدَّمَ الجمَّالُ إِلَيْهِ، وَقَالَ: لَمْ نَعْرِفْكَ يَا أَبَا عَبْدِ اللهِ. قَالَ: مَنْ يُفسِدُ طَعَامَ النَّاسِ، يُصِيْبُهُ أَكْثَرُ مِنْ ذَلِكَ.
Ahmad bin Abdillah al-‘Ijli berkata: “Sufyan (ats-Tsauri) menyewakan dirinya (sebagai pekerja yang diupah) kepada para penggembala unta (ketika hendak pergi) ke Makkah. (Di perjalanan) mereka menyuruhnya membuat roti, tetapi roti bikinan Sufyan ats-Tsauriy itu tidaklah baik. Maka penggembala unta itu memukulnya. Ketika mereka tiba di Makkah, penggembala unta itu masuk (masjid) dan melihat banyak orang mengelilingi Sufyan (belajar ilmu di majelis Sufyan). Ia pun bertanya kepada orang-orang di sana, lalu mereka menjawab: ‘Ini adalah Sufyan ats-Tsauri (Ulama besar, pen).’ Ketika orang-orang telah bubar, penggembala unta itu mendekati Sufyan (dan meminta maaf seraya berkata): Kami tidak mengenal anda (sebelumnya) wahai Abu Abdillah. Maka Sufyan berkata: (Tidak mengapa). ‘Barang siapa yang merusak makanan orang lain, maka ia layak ditimpa (keburukan) yang lebih besar dari itu'”(Siyar A’lamin Nubalaa’)
Membaca dan Menelaah Quran dan Hadits Tiap Malam Sebelum Tidur
قَالَ عَبْدُ الرَّزَّاقِ: كَانَ الثَّوْرِيُّ جَعَلَ عَلَى نَفْسِهِ لِكُلِّ لَيْلَةٍ جُزْءًا مِنَ الْقُرْآنِ، وَجُزْءًا مِنَ الْحَدِيثِ، قَالَ: فَيَقْرَأُ جُزْأَهُ مِنَ الْقُرْآنِ، ثُمَّ يَجْلِسُ عَلَى الْفِرَاسِ، فَيَقْرَأُ جُزْأَهُ مِنَ الْحَدِيثِ، ثُمَّ يَنَامُ
Abdurrazzaq berkata: “Sufyan ats-Tsauriy mewajibkan atas dirinya setiap malam: satu bagian dari Al-Qur’an dan satu juz dari hadits.” Ia (Abdurrazzaq) berkata: “Maka ia membaca bagiannya dari Al-Qur’an, kemudian ia duduk di atas firas (tikar/karpet kecil), lalu ia membaca juznya dari hadits, kemudian ia tidur.” (diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam al-Jarh wat Ta’dil)
Di waktu-waktu lain, Sufyan ats-Tsauriy sering membaca mushaf alQuran.
الْوَلِيدُ بْنُ عُقْبَةَ قَالَ: كَانَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ يُدِيمُ النَّظَرَ فِي الْمُصْحَفِ فَيَوْمَ لَا يَنْظُرُ فِيهِ يَأْخُذُهُ فَيَضَعُهُ عَلَى صَدْرِهِ
Al-Walid bin Uqbah berkata: Sufyan ats-Tsauriy sering memandang mushaf. Pada suatu hari beliau tidak membacanya, beliau letakkan di dada beliau (diriwayatkan Abu Nuaim dalam Hilyatul Awliyaa’)
Menulis Nasihat Ringkas dan Selalu Membaca Ulang Nasihat untuk Diri Sendiri
وَكَانَ فِي جَيْبِهِ رُقْعَةٌ يَنْظُرُ فِيهَا كَثِيرًا فَوَقَعَتْ مِنْهُ فَنَظَرُوا فِيهَا فَإِذَا فِيهَا مَكْتُوبٌ: سُفْيَانُ اذْكُرْ وُقُوفَكَ بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ
Di saku beliau terdapat suatu kertas yang sering beliau melihatnya berulang-ulang, ternyata tertulis: Sufyan, ingatlah akan masa berdirimu di hadapan Allah (diriwayatkan Abu Nuaim dalam Hilyatul Awliyaa’ dan dinukil oleh Ismail al-Ashbahaaniy dalam Siyar Salaf ash-Shalihin)
Semangat Sufyan ats-Tsauriy dalam Menyampaikan Ilmu Hadits
لَوْ أَنِّي أَعْلَمُ أَنَّ أَحَدًا يَطْلُبُ الْحَدِيثَ بِنِيَّةٍ لَأَتَيْتُهُ فِي مَنْزِلِهِ حَتَّى أُحَدِّثَهُ
Seandainya aku mengetahui bahwa seseorang menuntut hadits dengan niat (yang ikhlas), niscaya aku akan mendatanginya di rumahnya hingga aku meriwayatkan hadits kepadanya. (riwayat Abu Nuaim dalam Hilyatul Awliyaa’ dengan beberapa jalur)
Sufyan ats-Tsauriy juga tidak pernah meremehkan ilmu maupun penuntut ilmu. Meski ada yang memandang remeh sebagian penuntut ilmu yang datang karena dianggap kurang ikhlas, Sufyan ats-Tsauriy mengarahkan untuk tetap menghargai mereka.
يَحْيَى بْنُ يَمَانٍ قَالَ: مَا سَمِعْتُ سُفْيَانَ يَعِيبُ الْعِلْمَ قَطُّ وَلَا مَنْ يَطْلُبُهُ قَالُوا: لَيْسَتْ لَهُمْ نِيَّةٌ قَالَ: طَلَبُهُمُ الْعِلْمَ نِيَّةٌ
Yahya bin Yamaan berkata: Aku tidak pernah mendengar Sufyan mencela ilmu ataupun penuntut ilmu. Sebagian orang berkata: Para penuntut ilmu itu tidak punya kesungguhan niat (ketika belajar kepada anda). Sufyan mengatakan: Mereka menuntut ilmu itu saja sudah niat (yang patut dihargai)(diriwayatkan oleh Abu Nuaim dalam Hilyatul Awliyaa’)
Mengamalkan Hadits
مَا بَلَغَنِي عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم حَدِيْثٌ قَطُّ، إِلَاّ عَمِلْتُ بِهِ وَلَوْ مَرَّةً
Tidaklah sampai kepadaku suatu hadits dari Rasulullah shollallahu alaihi wasallam melainkan aku mengamalkannya meskipun hanya sekali (Siyar A’lamin Nubalaa’)
Semangat Tinggi dalam Memerintahkan kepada yang Ma’ruf dan Melarang dari yang Munkar Secara Benar
قَالَ شُجَاعُ بنُ الوَلِيْدِ: كُنْتُ أَحجُّ مَعَ سُفْيَانَ، فَمَا يَكَادُ لِسَانُهُ يَفتُرُ مِنَ الأَمْرِ بِالمَعْرُوْفِ، وَالنَّهْيِ عَنِ المُنْكَرِ، ذَاهِباً وَرَاجِعاً
Syujaa’ bin al-Waliid berkata: Aku pernah berhaji bersama Sufyan (ats-Tsauriy), lisan beliau tidak putus untuk memerintahkan kepada yang ma’ruf (kebaikan) dan melarang dari kemunkaran baik saat berangkat maupun pulang (Siyar A’lamin Nubalaa’)
قَالَ يَحْيَى بنُ يَمَانٍ: سَمِعْتُ سُفْيَانَ يَقُوْلُ: إِنِّيْ لأَرَى المُنْكَرَ، فَلاَ أَتكلَّمُ، فَأَبُولُ أَكدمَ دَماً
Yahya bin Yaman berkata: Aku mendengar Sufyan berkata: “Sesungguhnya aku melihat kemungkaran, tetapi aku tidak berbicara (mengingkarinya), maka (itu menjadi tekanan batin yang hebat pada diriku sehingga) aku buang air kecil (keluar) darah.” (Siyar A’lamin Nubalaa’)
Takut Keimanan Beliau Tercabut Sebelum Kematian
عبد الرحمن بْنُ مَهْدِيٍّ قَالَ لَمَّا اشْتُدَّ بِسُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ قَالَ إِنِّي أَخَافُ أَنْ أُسْلَبُ الإِيمَانُ قَبْلَ أَنْ أَمُوتَ
Abdurrahman bin Mahdiy berkata: Ketika sakit Sufyan ats-Tsauriy demikian parah, ia berkata: Aku takut imanku tercabut sebelum aku meninggal (diriwayatkan oleh Ibnul Jauziy dalam ats-Tsabaat indal Mamaat)
Sebagian Nasihat Sufyan ats-Tsauriy
إِنَّمَا يُطْلَبُ الْعِلْمُ لِيُتَّقَى اللهَ بِهِ فَمِنْ ثَمَّ فُضِّلَ، فَلَوْلَا ذَلِكَ لَكَانَ كَسَائِرِ الْأَشْيَاءِ
“Sesungguhnya ilmu itu dituntut agar dengannya menjadi bertakwa kepada Allah. Maka karena itulah (ilmu) itu diutamakan (lebih utama dari yang lain). Sekiranya bukan karena itu, niscaya (ilmu) itu akan seperti hal-hal lainnya (tidak memiliki keistimewaan).”(riwayat Abu Nuaim dalam Hilyatul Awliyaa’)
سُفْيَانُ الثَّوْرِيّ يَقُولُ: «مَنْ أَصْغَى بِسَمْعِهِ إِلَى صَاحِبِ بِدْعَةٍ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ صَاحِبُ بِدْعَةٍ خَرَجَ مِنْ عِصْمَةِ اللهِ وَوُكِلَ إِلَى نَفْسِهِ
Sufyan ats-Tsauriy berkata: Barang siapa yang mengarahkan pendengarannya kepada Ahlul Bid’ah dalam keadaan ia mengetahui bahwa itu adalah Ahlul Bid’ah, ia keluar dari penjagaan Allah dan diserahkan kepada dirinya (tanpa pertolongan Allah, pen)(diriwayatkan Abu Nuaim dalam Hilyatul Awliyaa’ dan Ibnu Baththoh dalam al-Ibanah al-Kubro)
قَالَ الثَّوْرِيُّ: مَنْ سَمِعَ بِدْعَةً، فَلَا يَحْكِهَا لِجُلَسَائِهِ , لَا يُلْقِيهَا فِي قُلُوبِهِمْ
Ats-Tsauriy berkata: Barang siapa yang mendengar bid’ah, janganlah ia ceritakan kepada rekan duduknya, jangan sampai ia melemparkan (syubhat bid’ah itu) ke hati mereka (diriwayatkan oleh Abu Nuaim dalam Hilyatul Awliyaa’)
Adz-Dzahabiy mengomentari 2 pernyataan Sufyan ats-Tsauriy tentang bahaya mendengarkan kebid’ahan dengan kalimat:
أَكْثَرُ أَئِمَّةِ السَّلَفِ عَلَى هَذَا التَّحذِيرِ، يَرَوْنَ أَنَّ القُلُوْبَ ضَعِيْفَةٌ، وَالشُّبَهُ خَطَّافَةٌ
Kebanyakan para Imam Salaf memperingatkan akan hal ini (bahaya mendengarkan ceramah kebid’ahan) dan mereka berpandangan bahwasanya hati itu lemah sedangkan syubhat-syubhat menyambar begitu cepat (Siyar A’lamin Nubalaa’)
Beberapa Catatan Lain tentang Sufyan ats-Tsauriy
- Beliau memiliki pemahaman tasyayyu’ yasir menurut adz-Dzahabiy, yaitu meyakini bahwa Ali lebih utama dibandingkan Utsman. Demikian juga meyakini halalnya minuman nabidz yang memabukkan. Namun ada sebagian referensi yang menyebutkan bahwa beliau telah rujuk dari pendapat tersebut.
- Beliau berpindah-pindah bersembunyi menjauhi tawaran sebagai hakim dari Khalifah. Beliau berpindah dari Kufah ke Makkah kemudian ke Bashrah dan wafat di sana.
Penulis: Abu Utsman Kharisman

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.