Beranda » Latest » Artikel » Roqoiq » Menatap Tanpa Memikirkan, Mendengar Tanpa Memahami: Teguran Al-Qur’an untuk Hati yang Lalai

Menatap Tanpa Memikirkan, Mendengar Tanpa Memahami: Teguran Al-Qur’an untuk Hati yang Lalai

0
e660d6b01ec40d31b08116ced4f42e2e

Syaikh Shalih al-Fauzan menyatakan dalam Syarh Ighatsatil Lahfan (Kaset Ke-2):

“Maka apabila hati telah rusak, tidak ada lagi gunanya tubuh ini—meskipun ia termasuk orang yang paling sehat secara fisik. Jika ia sakit dengan penyakit ma’nawi (ruhani/spiritual), maka kesehatan fisik tidak ada gunanya; seluruh jasad ikut rusak disebabkan rusaknya hati.

Kerusakan hati memiliki sebab-sebab yang wajib diketahui dan dijauhi oleh seorang muslim jika ia menginginkan kebaikan bagi hatinya. Maka hendaklah seorang muslim memperhatikan hatinya. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman: “Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, melainkan yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj: 46)

وَلَقَدْذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَايَفقَهونَ بِها

Dan firman-Nya:“Dan sungguh, Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka memiliki hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami…” (QS. Al-A’raf: 179)

Mereka ini adalah penghuni neraka: “Dan sungguh, Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka memiliki hati…”

Allah memulainya dengan hati: “Dan sungguh, Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka memiliki hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami…”

Maksudnya, mereka tidak memahami dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah.

وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا

“…dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat…”

Mereka melihat tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta ini, namun mereka tidak mengambil manfaat dengannya dan tidak menjadikannya petunjuk akan keagungan serta kemahakuasaan Allah. Mereka hanya mengaguminya dari segi pemandangan saja, yang mereka sebut sebagai rekreasi (wisata). Mereka berekreasi di sana, memandangnya dari sudut pemandangan alam—sebagaimana istilah mereka—dan tidak bertafakur tentang hikmah di balik semua itu.

Allah Azza wa Jalla berfirman: “Katakanlah: ‘Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” (QS. Al-An’am: 11)

Maka memandang tanda-tanda kekuasaan-Nya ini sejatinya adalah untuk mengambil pelajaran dan peringatan, bukan sekadar untuk rekreasi atau menyegarkan pikiran semata. Melainkan untuk mengambil pelajaran dan peringatan, khususnya peninggalan bangsa-bangsa terdahulu. Peninggalan tersebut dipandang dengan pandangan mengambil pelajaran, bukan pandangan sekadar menonton, rekreasi, atau membanggakan peninggalan sejarah sebagaimana yang dikatakan orang-orang. Bukan seperti itu!

Oleh karena itu, Allah Jalla wa ‘Ala berfirman: “Dan berapa banyak tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi…” (QS. Yusuf: 105) Yakni tanda-tanda kekuasaan di alam semesta (Aayaat kauniyyah). “…yang mereka lalui, sedang mereka berpaling daripadanya.” (QS. Yusuf: 105)

Tidak ada yang mereka ambil manfaatnya selain sekadar refreshing, menonton, dan rekreasi saja. Ini sama seperti hewan ternak ketika memandang, tidak memberi manfaat bagi pemiliknya.

وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا

“…dan mereka memiliki telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar…”

Sebagaimana mereka tidak mau memandang tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta (dengan pandangan i’tibar), mereka juga tidak mau mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan pendengaran yang memahami dan mengambil pelajaran. Mereka mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an hanya karena indahnya suara qari’, indahnya irama tartil, serta menyenangkan jiwa dengan keindahan suara dan bacaan tersebut semata.

Oleh karena itu, mereka membacanya namun tidak mengambil manfaat darinya. Mereka membacanya di majelis-majelis, seminar-seminar, dan dalam segala hal, tetapi tidak membacanya untuk mengambil pelajaran. Sebab itulah hati mereka tidak khusyuk dan mata mereka tidak menangis, padahal mereka mendengarkan Kalamullah—yang sekiranya Allah turunkan Al-Qur’an tersebut kepada gunung, niscaya engkau akan melihatnya tunduk terpecah belah karena takut kepada Allah.”

Transkrip dalam Bahasa Arab

قال الشيخ صالح الفوزان في شرح إغاثة اللهفان الشريط الثاني

فإذا فسدت القلوب فلا فائدة في الجسم، ولو كان من أصح الناس، لو كان من أصح الناس صحة عضوية؛ إلا أنه إذا كان مريضا مرضا معنويا فلا فائدة للصحة العضوية يفسد الجسد كله بفساد القلب

وفساد القلب له أسباب يجب على المسلم أن يعرفها وأن يتجنبهاإذا كان يريد صلاح قلبه، فيعتني المسلم بقلبه، الله جلَّ وعلا قال: {فَإِنَّهَا لا تَعْمَى الأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ}

{وَلَقَدْذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ} هؤلاء أهل النار
{وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ} بدأ بالقلوب {وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ} يعني لا يفهمون أدله الكتاب والسنة،

ولهم أعين لايبصرون بها، ينظرون إلى الأشياء من آيات الله الكونية ولا يستفيدون، ويستدلون بها على عظمة الله وقدرته وإنما يعجبون بها من ناحية المناظر؛ يسمونها التنزه، يتنزهون فيها، ينظرون لها من ناحية المناظر الطبيعية كما يسمونها، ولا يتفكرون فيما وراء ذلك، الله عز وجل يقول: {سِيرُوا فِي الْأَرْضِ ثُمَّ انْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ}

فالنظر في هذه الآيات إنما هو للاعتبار والاتعاظ لا للنزهة فقط والترويح عن النفس؛ و إنما هو للاعتبار والاتعاظ، لاسيما آثار الأمم لسابقة؛ فيُنظر فيها نظر اعتبار واتعاظ، لا؛ نظر تَفرُّج ونزهة وافتخار بالآثار كما يقولون؛ لا، ولهذا قال الله جلَّ وعلا : {وَكَأَيِّن مِّنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ} آيات كونية {وَكَأَيِّن مِّنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ} ما يستفيدون منها إلا الترويح عن النفس، تَفرُّج، النزهة فقط، وهذا مثل نظر البهائم، لا يفيد صاحبه

وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا كما أنهم لاينظرون إلى الآيات الكونية فهم لا يسمعون للآيات القرآنية سماع فقه واعتبار؛ وإنما يستمعون الآيات القرآنية لحسن صوت القارئ والترتيل فقط وتمتيع النفس بالصوت، وترتيل الآيات، ولذلك يقرأونه ولا يستفيدون منه، يقرأونه في المحافل في الندوات ، في كل شيء، ما يقرأونه للاعتبار ولذلك لا تخشع قلوبهم ولا تبكي عيونهم، وهم يسمعون كلام الله، الذي لو أنزله الله على جبل لرأيته خاشعا متصدعا من خشية الله

Penerjemah: Abu Utsman Kharisman