Pengaruh Maksiat Terhadap Pelaksanaan Ketaatan

Pertanyaan:
Fadhilatus Syaikh, apa pengaruh maksiat terhadap pelaksanaan ketaatan? Apakah pengaruhnya bersifat maknawi (spiritual) ataukah secara indrawi/nyata? Mengingat seseorang terkadang melakukan maksiat namun ia tetap salat dan membaca Al-Qur’an. Lalu bagaimana pengaruh maksiat tersebut terhadap ketaatannya atau terhadap dirinya sendiri?
Jawaban Syaikh al-Utsaimin rahimahullah:
Pengaruh maksiat itu sangat buruk. Terkadang seseorang dihukum dengan hukuman yang sangat besar, yaitu berpaling dari agama Allah, sebagaimana firman Allah Ta’ala (yang artinya) : “Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka.” (QS. Al-Ma’idah: 49)
Maka orang yang melakukan maksiat berada dalam bahaya yang besar. Kemudian di hari kiamat kelak—jika Allah tidak memaafkannya—akan dilakukan penimbangan antara kebaikan dan keburukan. Jika keburukannya lebih berat, maka ia akan masuk neraka untuk disucikan darinya (kecuali jika Allah mengampuninya).
Apabila kebaikan dan keburukannya seimbang, maka ia termasuk golongan Ashabul A’raf, yang tertahan di antara surga dan neraka. Ia melihat penduduk neraka dan melihat penduduk surga, namun tempat kembalinya (pada akhirnya) adalah surga. Saya memohon kepada Allah agar menjadikan saya dan Anda semua termasuk penghuni surga.
Selanjutnya, maksiat juga memiliki hukuman yang bersifat indrawi/nyata, sebagaimana firman Allah Tabaraka wa Ta’ala (yang artinya): “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya…” (QS. Al-A’raf: 96-99)
Dan Allah Azza wa Jalla berfirman (yang artinya): “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)
Di antara maksiat yang paling kuat pengaruhnya adalah memakan harta haram, yang telah tersebar luas di zaman kita sekarang. Memakan harta haram menjadi sebab terhalangnya doa. Seseorang berdoa, namun tidak dikabulkan karena ia memakan yang haram. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya): Beliau menyebutkan tentang seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan berdebu, ia menadahkan kedua tangannya ke langit seraya berseru: ‘Wahai Rabbku, wahai Rabbku!’ Padahal makanannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi asupan dari yang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?”
Betapa banyak hal haram di zaman kita ini: riba, judi, penipuan, kebohongan, manipulasi (tadlis), serta kezaliman terhadap pekerja. Begitu banyak hal yang tak terhitung, yang semuanya mengakibatkan penghasilan menjadi haram.
Jika seseorang menipu dalam penjualannya dan mendapatkan satu dirham haram dari sepuluh dirham, maka satu dirham yang masuk ini merusak seluruh hartanya. Sekarang, riba—kita berlindung kepada Allah darinya—diumumkan secara nyata, baik melalui tindakan maupun lisan.
Beberapa hari lalu tersebar selebaran dari salah satu bank yang berbunyi: “Siapa yang ingin mendapatkan keuntungan dua belas kali lipat dari gajinya, datanglah kepada kami.” Mereka memperlakukan manusia seperti ayam! Mereka menaruh biji-bijian yang dicampur racun; ayam itu memakannya tanpa tahu, lalu racun itu memutus usus-ususnya.
Bagaimana caranya? Seseorang datang ke bank, lalu pihak bank berkata: “Kemarilah! Gajimu seribu riyal setiap bulan. Kami akan berikan sekarang dua belas ribu riyal tunai.” Mereka kemudian menetapkan berbagai jaminan yang dianggap perlu. Lalu mereka berkata: “Jika sudah genap satu tahun, kami tambahkan sekian persen dari dua belas ribu riyal tadi, lalu kamu lunasi.”
Ini adalah riba yang nyata, yang menggabungkan antara riba nasi’ah (karena penundaan) dan riba fadhl (karena kelebihan nilai). Kita berlindung kepada Allah. Mungkin sebagian orang tertipu dan menganggap hal ini tidak mengapa. Namun kami sampaikan sekarang—dan wajib bagi kami untuk menyampaikannya—bahwa ini adalah haram dan riba yang sangat jelas. Tidak boleh bertransaksi dengannya.
Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar menyadarkan para pejabat/pihak berwenang atas permainan orang-orang yang ingin menerapkan sistem kapitalisme di negeri kaum muslimin. Kita memohon kepada Allah agar memukul mundur mereka dalam kegagalan, dan menyucikan negeri kita dari orang-orang semisal mereka.
Sumber: Silsilah al-Liqa’ al-Syahri (Pertemuan Bulanan), Pertemuan ke-25.
Transkrip Fatwa dalam Bahasa Arab
أثر المعصية على فعل الطاعة
السؤال:
فضيلة الشيخ: ما هو أثر المعصية على فعل الطاعة؟ هل هو أثر معنوي أم أثر حسي، حيث أن الإنسان قد يكون على معصية ويصلي ويقرأ القرآن، فكيف يكون أثر المعصية على الطاعة أو على الشخص نفسه؟
الجواب:
أثر المعصية سيئ، وربما يعاقب الإنسان بعقوبة عظيمة وهي الإعراض عن دين الله، كما قال الله تعالى: ﴿فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ﴾ [المائدة:49] فالإنسان الذي يفعل المعاصي على خطر عظيم، ثم إنه يوم القيامة إذا لم يعف الله عنه فإنه يوازن بين الحسنات والسيئات، إذا رجحت السيئات فإنه يدخل النار يطهر منها إن لم يعف الله عنه، وإذا تساوت الحسنات والسيئات صار من أهل الأعراف، يحبس بين الجنة والنار يشاهد أهل النار ويشاهد أهل الجنة ومآله إلى الجنة، أسأل الله أن يجعلني وإياكم من أهل الجنة، ثم إن المعاصي لها عقوبات حسية، كما قال الله -تبارك وتعالى-: ﴿وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ۞ أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتاً وَهُمْ نَائِمُونَ ۞ أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحىً وَهُمْ يَلْعَبُونَ ۞أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ﴾ [الأعراف:96-99] وقال -جل وعلا-: ﴿ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ﴾ [الروم:41] ومن أشد المعاصي تأثيراً أكل الحرام الذي شاع وذاع في وقتنا الحاضر، فأكل الحرام يكون سبباً لمنع إجابة الدعاء، يدعو الإنسان فلا يستجاب له إذا أكل الحرام؛ لأن النبي -صلى الله عليه وسلم-: «ذكر الرجل أشعث أغبر يطيل السفر يمد يديه إلى السماء: يا رب.. يا رب! ومطعمه حرام، وملبسه حرام، وغذي بالحرام، فأنى يستجاب له» وما أكثر الحرام في وقتنا هذا، الربا موجود، الميسر موجود، الغش موجود، الكذب موجود، التدليس موجود، ظلم العمال موجود، أشياء كثيرة تعجز عن عدها، كلها الأكل فيها حرام، الإنسان إذا غش في بيعه، وكسب درهماً من عشرة، هذا الدرهم الذي دخل عليه وهو حرام أفسد ماله، صار الربا والعياذ بالله يعلن إعلاناً فعلياً، وإعلاناً قولياً، نشر قبل أيام منشوراً من أحد البنوك، يقول: من أراد أن يربح اثني عشر ضعفاً على راتبه فليأت إلينا، يعاملون الناس معاملة الدجاج!! يجعل له الحب المدسوس بالسم، والدجاجة تأكل ولا تدري، فيقطع أمعاءها، كيف الطريق؟ يأتي إلى البنك ويقول: تعال! أنت راتبك ألف ريال كل شهر، سوف أعطيك الآن اثنا عشر ألف ريال نقداً، ويضرب عليه التوثيقات التي يرى أنه لا بد من التوثق، ثم يقول: إذا تمت السنة نضيف إلى الاثنا عشر ألف ريال كذا وكذا بالمائة وتوفي، وهذا رباً صريح جامع بين ربا النسيئة وربا الفضل، والعياذ بالله، وربما يغتر بعض الناس فيظن أن هذا لا بأس به، لكننا نبلغ الآن، وواجب علينا أن نبلغ أن هذا حراماً، وأنه رباً صريح، ولا يجوز التعامل به، ونسأل الله تعالى أن يوقظ المسئولين عندنا لتلاعب هؤلاء الذين أرادوا أن يجعلوا أنظمة الرأسمالية في بلاد المسلمين.
نسأل الله أن يردهم على أعقابهم خائبين، وأن يطهر بلادنا من أمثالهم.
المصدر: سلسلة اللقاء الشهري > اللقاء الشهري [25]

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.