Beranda » Latest » Artikel » Tafsir » Jangan Jadi Pembela Orang-orang yang Berkhianat
knowledge-1052013_1280

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تُجَادِلْ عَنِ الَّذِينَ يَخْتَانُونَ أَنْفُسَهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ خَوَّانًا أَثِيمًا

Janganlah engkau berdebat untuk (membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat dan bergelimang dosa. (Q.S anNisaa’ ayat 107)

…وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا

…janganlah engkau menjadi pembela orang-orang yang berkhianat (Q.S an-Nisaa’ ayat 105)

Penjelasan Ulama

Ibnu Jarir atThobariy rahimahullah menyatakan: “Dan janganlah kamu menjadi ‘pembela’ bagi orang yang mengkhianati seorang muslim atau seorang mu’ahad (non-muslim yang terikat perjanjian damai) baik dalam urusan jiwanya maupun hartanya; (yaitu) kamu membela kepentingannya dan mempertahankan dirinya dari tuntutan orang yang menuntut hak yang telah dikhianatinya tersebut.” (Jami’ul Bayaan ‘an Ta’wiili Aayil Quran 9/176)

Al-Qurthubiy rahimahullah menyatakan: Maka Allah ‘Azza wa Jalla melarang Rasul-Nya untuk menyokong (menjadi pembela) orang-orang yang tertuduh (melakukan kejahatan) serta membela mereka dengan menggunakan argumen-argumen yang dikemukakan oleh lawan mereka. Dalam hal ini terdapat dalil bahwa mewakili orang yang berada di pihak yang batil atau orang yang tertuduh dalam suatu persengketaan hukum adalah tidak diperbolehkan. Oleh karena itu, tidak boleh bagi siapa pun untuk membela (menjadi pengacara/wakil/pembela) bagi orang lain kecuali setelah ia mengetahui bahwa orang yang dibelanya itu berada di pihak yang benar. (al-Jami’ li Ahkaamil Quran 5/377)

Ibnu Muflih rahimahullah menyatakan: Tidak diperbolehkan bagi siapa pun untuk melakukan pembelaan bagi orang lain, baik untuk menetapkan suatu hak atau menyangkalnya, sementara ia mengetahui kebenaran yang sesungguhnya dari perkara tersebut (bahwa orang yang dibelanya berada di pihak yang salah).(al-Aadaabusy Syar’iyyah 1/29)

Syaikh Abdurrahman as-Sa’diy rahimahullah menyatakan: Janganlah engkau membela orang yang telah engkau ketahui pengkhianatannya; baik dia seorang penggugat yang menuntut apa yang bukan miliknya, maupun orang yang mengingkari hak (kewajiban) yang ada pada dirinya, baik hal itu (kecurangannya) diketahui secara pasti maupun melalui dugaan yang kuat. Maka dalam hal ini terdapat dalil atas haramnya melakukan pembelaan dalam kebatilan, serta haramnya mewakili orang yang berbuat batil dalam persengketaan urusan agama maupun hak-hak duniawi. Dan mafhum (makna tersirat) dari ayat ini menunjukkan bolehnya bertindak sebagai wakil dalam suatu persengketaan bagi orang yang tidak diketahui adanya kezaliman pada dirinya.” (Taisir Karimir Rahman fi Tafsiri Kalamil Mannan halaman 199)

Naskah dalam Bahasa Arab

قال الله تعالى : وَلَا تُجَادِلْ عَنِ الَّذِينَ يَخْتَانُونَ أَنْفُسَهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ خَوَّانًا أَثِيمًا (النساء:107) …وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا (النساء:105)

قال ابن جرير الطبري رحمه الله تعالى في تفسيره : ولا تكن لمن خان مسلمًا أو معاهدًا في نفسه أو ماله=”خصيما” تخاصم عنه، وتدفع عنه من طالبه بحقِّه الذي خانه فيه

قال القرطبي رحمه الله تعالى في تفسيره : فَنَهَى اللَّهُ عز وجل رَسُولَهُ عَنْ عَضُدِ أَهْلِ التُّهَمِ وَالدِّفَاعِ عَنْهُمْ بِمَا يَقُولُهُ خَصْمُهُمْ مِنَ الْحُجَّةِ. وَفِي هَذَا دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ النِّيَابَةَ عَنِ الْمُبْطِلِ وَالْمُتَّهَمِ فِي الْخُصُومَةِ لَا تَجُوزُ. فَلَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ أَنْ يُخَاصِمَ عَنْ أَحَدٍ إِلَّا بَعْدَ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّهُ مُحِقٌّ

قال ابن مفلح في الآداب الشرعية: لَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ أَنْ يُخَاصِمَ لِغَيْرِهِ فِي إثْبَاتِ حَقٍّ أَوْ نَفْيِهِ وَهُوَ عَالِمٌ بِحَقِيقَةِ أَمْرِهِ

قال الشيخ عبد الرحمن السعدي رحمه الله تعالى في تفسيره: لا تخاصم عن مَن عرفت خيانته، من مدع ما ليس له، أو منكرٍ حقا عليه، سواء علم ذلك أو ظنه. ففي هذا دليل على تحريم الخصومة في باطل، والنيابة عن المبطل في الخصومات الدينية والحقوق الدنيوية.ويدل مفهوم الآية على جواز الدخول في نيابة الخصومة لمن لم يعرف منه ظلم

Oleh: Abu Utsman Kharisman