Antara Fana dan Kekal: Menyelami Makna Surah Ali Imran Ayat 185

Allah Ta’ala berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya. (Q.S Ali Imran ayat 185)
Kutipan Penjelasan dari Tafsir Al-Baghawi
Imam al-Baghawi rahimahullah berkata dalam tafsirnya:
“{Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya} (QS. Ali ‘Imran: 185). Maksudnya, dunia adalah manfaat dan kesenangan (sementara) seperti halnya kapak, panci, dan mangkuk; yang kemudian akan rusak dan tidak akan kekal.
Al-Hasan (Al-Bashri) berkata: ‘(Dunia itu) seperti hijaunya tumbuh-tumbuhan dan permainan anak perempuan; tidak ada hasilnya (tidak ada hakikat yang tersisa).’ Qatadah berkata: ‘Dunia adalah kesenangan yang akan ditinggalkan, yang sebentar lagi akan lenyap bersama para pemiliknya. Maka ambillah dari kesenangan ini ketaatan kepada Allah semampu kalian.’
Kutipan Penjelasan dalam Tafsir Ibnu Katsir
Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsirnya:
“Allah Ta’ala memberikan kabar secara umum yang mencakup seluruh makhluk, bahwa setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. Hal ini serupa dengan firman-Nya: ‘Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan’ (QS. Ar-Rahman: 26-27).
Maka Dialah Allah Ta’ala semata Yang Maha Hidup dan tidak akan mati, sementara manusia, jin, bahkan malaikat serta para pemikul ‘Arsy akan mati. Sang Tunggal, Yang Maha Esa, lagi Maha Mengalahkan akan sendirian dalam keabadian dan kekekalan, sehingga Dia menjadi Yang Akhir sebagaimana Dia adalah Yang Awal.
Ayat ini mengandung penghiburan bagi seluruh manusia, karena sesungguhnya tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang tersisa melainkan ia akan mati. Apabila masa telah habis, dan telah habis pula seluruh keturunan yang telah Allah takdirkan keberadaannya dari tulang sulbi Adam, serta berakhirlah seluruh makhluk—maka Allah akan menegakkan hari kiamat dan membalas setiap makhluk atas amal perbuatannya. Baik amalan yang besar maupun yang (dipandang) remeh, yang banyak maupun yang sedikit, yang besar maupun yang kecil. Dia tidak akan mendzhalimi siapa pun walau seberat dzarrah (biji sawi). Oleh karena itu Allah berfirman: ‘Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah diberikan bermacam-macam pahalamu’ (QS. Ali ‘Imran: 185).”
Kutipan Penjelasan dalam Tafsir as-Sa’di
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata:
“Ayat yang mulia ini mengandung ajakan untuk zuhud terhadap dunia karena kefanaannya dan ketidakkekalannya. Dunia hanyalah kesenangan yang menipu; ia memfitnah dengan perhiasannya, memperdaya dengan tipuannya, dan menggoda dengan keindahannya. Namun kemudian ia akan berpindah, dan manusia pun akan berpindah darinya menuju Darul Qarar (negeri yang kekal), tempat di mana jiwa-jiwa akan dibalas secara sempurna atas apa yang telah dikerjakan di dunia, baik berupa kebaikan maupun keburukan.
‘Barang siapa dijauhkan’ maksudnya dikeluarkan, ‘dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung’ (QS. Ali ‘Imran: 185). Maknanya, ia telah mendapatkan keberuntungan yang agung berupa keselamatan dari adzab yang pedih dan sampai ke surga yang penuh kenikmatan, yang di dalamnya terdapat apa yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia.
Mafhum dari ayat ini adalah: barang siapa yang tidak dijauhkan dari neraka dan tidak dimasukkan ke dalam surga, maka sesungguhnya ia tidak beruntung, bahkan ia telah celaka dengan kecelakaan abadi dan ditimpa adzab yang selamanya.
Dalam ayat ini juga terdapat isyarat halus mengenai nikmat dan adzab kubur (Barzakh). Bahwa orang-orang yang beramal akan dibalas di alam tersebut dengan ebagian balasan dari apa yang mereka kerjakan, dan ditampakkan kepada mereka contoh (permulaan) dari apa yang telah mereka lakukan sebelumnya. Hal ini dipahami dari firman-Nya: ‘Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah diberikan bermacam-macam pahalamu’ (QS. Ali ‘Imran: 185).
Maksudnya, pemberian balasan amal secara sempurna (total) hanyalah terjadi pada hari kiamat. Adapun yang selain itu (sebelum kiamat), maka terjadi di alam Barzakh, bahkan terkadang terjadi sebelumnya di dunia, sebagaimana firman Allah Ta’ala: ‘Dan sesungguhnya Kami rasakan kepada mereka sebagian adzab yang dekat sebelum adzab yang lebih besar’ (QS. As-Sajdah: 21).”
Naskah dalam Bahasa Arab
قال الله تعالى : كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
قال البغوي رحمه الله تعالى في تفسيره: {وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ} يَعْنِي مَنْفَعَةٌ وَمُتْعَةٌ كَالْفَأْسِ وَالْقِدْرِ وَالْقَصْعَةِ ثُمَّ تَزُولُ وَلَا تَبْقَى. وَقَالَ الْحَسَنُ: كَخُضْرَةِ النَّبَاتِ وَلَعِبِ الْبَنَاتِ لَا حَاصِلَ لَهُ. قَالَ قَتَادَةُ: هِيَ مَتَاعٌ مَتْرُوكَةٌ يُوشِكُ أَنْ تَضْمَحِلَّ بِأَهْلِهَا فَخُذُوا مِنْ هَذَا الْمَتَاعِ بِطَاعَةِ اللَّهِ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَالْغُرُورُ: الْبَاطِلُ
قال ابن كثير رحمه الله تعالى في تفسيره : يُخْبِرُ تَعَالَى إِخْبَارًا عَامًّا يَعُمُّ جَمِيعَ الْخَلِيقَةِ بِأَنَّ كُلَّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ، كَقَوْلِهِ: {كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ. وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ} فَهُوَ تَعَالَى وَحْدَهُ هُوَ الْحَيُّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَالْإِنْسُ وَالْجِنُّ يَمُوتُونَ، وَكَذَلِكَ الْمَلَائِكَةُ وَحَمَلَةُ الْعَرْشِ، وَيَنْفَرِدُ الْوَاحِدُ الْأَحَدُ الْقَهَّارُ بِالدَّيْمُومَةِ وَالْبَقَاءِ، فَيَكُونُ آخِرًا كَمَا كَانَ أَوَّلًا.وَهَذِهِ الْآيَةُ فِيهَا تَعْزِيَةٌ لِجَمِيعِ النَّاسِ، فَإِنَّهُ لَا يَبْقَى أَحَدٌ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ حَتَّى يَمُوتَ، فَإِذَا انْقَضَتِ الْمُدَّةُ وفَرَغَت النُّطْفَةُ الَّتِي قَدَّرَ اللَّهُ وُجُودَهَا مِنْ صُلْبِ آدَمَ وَانْتَهَتِ الْبَرِيَّةُ -أَقَامَ اللَّهُ الْقِيَامَةَ وَجَازَى الْخَلَائِقَ بِأَعْمَالِهَا جَلِيلِهَا وَحَقِيرِهَا، كَثِيرِهَا وَقَلِيلِهَا، كَبِيرِهَا وَصَغِيرِهَا، فَلَا يَظْلِمُ أَحَدًا مِثْقَالَ ذَرَّةٍ؛ وَلِهَذَا قَالَ: {وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ}
قال الشيخ عبد الرحمن بن ناصر السعدي رحمه الله تعالى : هذه الآية الكريمة فيها التزهيد في الدنيا بفنائها وعدم بقائها، وأنها متاع الغرور، تفتن بزخرفها، وتخدع بغرورها، وتغر بمحاسنها، ثم هي منتقلة، ومنتقل عنها إلى دار القرار، التي توفى فيها النفوس ما عملت في هذه الدار، من خير وشر. {فمن زحزح} أي: أخرج، {عن النار وأدخل الجنة فقد فاز} أي: حصل له الفوز العظيم من العذاب الأليم، والوصول إلى جنات النعيم، التي فيها ما لا عين رأت، ولا أذن سمعت، ولا خطر على قلب بشر. ومفهوم الآية، أن من لم يزحزح عن النار ويدخل الجنة، فإنه لم يفز، بل قد شقي الشقاء الأبدي، وابتلي بالعذاب السرمدي. وفي هذه الآية إشارة لطيفة إلى نعيم البرزخ وعذابه، وأن العاملين يجزون فيه بعض الجزاء مما عملوه، ويقدم لهم أنموذج مما أسلفوه، يفهم هذا من قوله: {وإنما توفون أجوركم يوم القيامة} أي: توفية الأعمال التامة، إنما يكون يوم القيامة، وأما ما دون ذلك فيكون في البرزخ، بل قد يكون قبل ذلك في الدنيا كقوله تعالى: {ولنذيقنهم من العذاب الأدنى دون العذاب الأكبر}
Penerjemah: Abu Utsman Kharisman

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.