Beranda » Latest » Artikel » Tauhid » Hakikat Kemahakuasaan Allah: Tanpa Batas dan Tanpa Kecuali

Hakikat Kemahakuasaan Allah: Tanpa Batas dan Tanpa Kecuali

0
Hakikat Kemahakuasaan Allah: Tanpa Batas dan Tanpa Kecuali

Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah menyatakan:

​Pernyataan (dalam firman Allah maupun hadits Nabi): “Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” Artinya: Segala sesuatu, maka Allah Maha Kuasa atasnya, dan tidak ada sesuatu pun yang mustahil bagi-Nya jika Dia—Azza wa Jalla—menghendakinya. Baik itu dalam hal mewujudkan sesuatu yang tiada, melenyapkan sesuatu yang ada, mengubah keadaan, atau mengubah sifat. Yang terpenting adalah bahwa Dia—Azza wa Jalla—Maha Kuasa atas segala sesuatu; berdasarkan firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala (yang artinya) : “Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ maka terjadilah ia.” (QS. Yasin: 82).

​Tidak ada kekuasaan yang lebih agung daripada yang Allah jelaskan dalam firman-Nya (yang artinya) : “Maka sesungguhnya kebangkitan itu hanyalah dengan satu teriakan saja. Maka seketika itu mereka hidup kembali di permukaan bumi.” (QS. An-Nazi’at: 13-14). Maka seluruh orang mati (dibangkitkan dengan) “satu teriakan saja”, mereka keluar dari kubur “maka seketika itu mereka berada di permukaan bumi”, seolah-olah mereka keluar dari satu jiwa yang sama dengan izin Allah. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, tidak ada pengecualian dalam hal ini.

​Adapun apa yang sering muncul dalam ungkapan sebagian orang: “Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas apa yang Dia kehendaki” (Innahu ‘ala ma yasya’u qadir), maka ini adalah salah. Karena ungkapan tersebut mengkhususkan (membatasi) apa yang telah Allah umumkan, dan memberikan persyaratan (restriksi) padanya. Padahal Dia (Allah) Maha Kuasa atas apa yang Dia kehendaki maupun atas apa yang tidak Dia kehendaki, Maha Suci Dia. Terlebih lagi, ungkapan ini terkadang memberi kesan seolah-olah Allah tidak berkuasa atas perbuatan hamba-hamba-Nya; karena menurut kaum Mu’tazilah, perbuatan hamba tidak masuk dalam kehendak Allah, sehingga (menurut mereka) Allah tidak berkuasa atas perbuatan tersebut. Oleh karena itu, sudah sepatutnya menjauhi ungkapan ini, dan hendaknya kita mengucapkan sebagaimana Allah berfirman tentang diri-Nya: “Dan bahwasanya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Hajj: 6).

Sumber: Syarh Shahih al-Bukhari libni Utsaimin 10/71

Naskah dalam Bahasa Arab

قال الشيخ ابن عثيمين رحمه الله تعالى في شرح صحيح البخاري ١٠\٧١: وقولُه: «وهو على كلِّ شيءٍ قديرٌ». أي: كلُّ شيءٍ فاللهُ قديرٌ عليه، ولا يَمْتَنِعُ عليه شيءٌ أرادَهُ -عزَّ وجلَّ-، سواءٌ كان في إيجادِ معدومٍ، أو إعدامِ موجودٍ، أو تغييرِ حالٍ، أو تغييرِ وصفٍ، المهمُّ أنَّه -عزَّ وجلَّ- على كلِّ شيءٍ قديرٌ؛ لقوله سبحانه: ﴿إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ﴾ [يس: ٨٢]

​ولا أعظمَ من قدرةٍ بيَّنَها اللهُ في قوله: ﴿فَإِنَّمَا هِيَ زَجْرَةٌ وَاحِدَةٌ * فَإِذَا هُمْ بِالسَّاهِرَةِ﴾ [النازعات: ١٣-١٤]. فالأمواتُ كلُّهم ﴿زَجْرَةٌ وَاحِدَةٌ﴾، يخرجون من القبور ﴿فَإِذَا هُمْ بِالسَّاهِرَةِ﴾، كأنَّما خرجوا من نفسٍ واحدةٍ، بإذن اللهِ، واللهُ على كلِّ شيءٍ قديرٌ، ولا يُستثنى من هذا شيءٌ

​وأمَّا ما يقعُ في عبارةِ بعضِ الناس: «إنه على ما يشاءُ قديرٌ»، فهذا غلطٌ؛ لأنَّه تخصيصٌ لما عمَّمَه اللهُ، وتقييدٌ له، فهو قديرٌ على ما يشاءُ وعلى ما لا يشاءُ سبحانه، ثم إنَّ هذه العبارةَ ربما توهمُ أنَّه لا يقدِرُ على أفعالِ العباد؛ لأنَّ أفعالَ العبادِ عند المعتزلةِ ليست داخلةً في مشيئةِ اللهِ، وعلى هذا فلا يكونُ قادرًا عليها، ولذلك ينبغي تجنُّبُ هذه العبارةِ، وأن نقولَ كما قال اللهُ عن نفسه: ﴿وَأَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ﴾ [الحج: ٦]