Beranda » Latest » Artikel » Aqidah » Membedah Hak Orang Saleh: Antara Pemuliaan dan Pengultusan

Membedah Hak Orang Saleh: Antara Pemuliaan dan Pengultusan

0
carpet-100103_1280

Syaikh Muhammad Aman al-Jamiy – semoga Allah merahmatinya – menyatakan:

Dan apakah hak-hak orang saleh yang dituduhkan kepada orang yang mengikhlaskan ibadahnya hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa ia telah menyia-nyiakannya dan lalai terhadap hak-hak tersebut? Apa sebenarnya hak-hak ini? Di mana penyebutannya dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya ‘alaihis shalatu was salam, sehingga hal ini menyibukkan pikiran banyak orang; yaitu perhatian terhadap hak orang saleh, mengagungkan mereka, mencintai mereka, hingga bersikap ekstrem (ghuluw) terhadap mereka?

​Benar dan merupakan suatu hakikat bahwa orang-orang saleh di antara hamba-hamba Allah yang saleh, wajib bagi kita untuk mencintai mereka karena Allah. Namun, hal itu harus didahului oleh kecintaan kepada Allah, dan janganlah mereka dicintai bersama Allah (menyamakan kedudukan cintanya dengan Allah).

​Bukanlah termasuk hak orang saleh jika seseorang mencintai orang saleh tersebut bersamaan dengan Allah hingga menjadikannya sekutu bagi Allah. Akan tetapi, haknya atas kita adalah kita mencintainya karena Allah.

​Pembedaan antara dua perkara inilah (antara cinta karena Allah dan cinta bersama Allah) yang gagal dipahami oleh banyak orang yang cerdas—sebagaimana yang dikatakan oleh penulis risalah ini (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab)—sehingga mereka tidak bisa membedakan antara Al-Hubb fillah (cinta karena Allah) dan Al-Hubb ma’allah (cinta bersama Allah).

​Apa yang terjadi saat ini di tengah masyarakat Islam, pada umumnya di sisi makam-makam yang mereka sebut sebagai orang saleh, adalah cinta bersama Allah, bukan cinta karena Allah. Padahal, cinta bersama Allah merupakan salah satu jenis syirik akbar (syirik besar) yang paling nyata.

​Barang siapa mencintai selain Allah bersamaan dengan Allah, mengagungkannya sebagaimana kaum muwahhidun (orang yang bertauhid) mengagungkan Rabb semesta alam, merendahkan diri di hadapannya sebagaimana seorang muwahhid merendahkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta berlebihan dalam mengagungkannya hingga pada tingkat meyakini bahwa ia mengetahui apa yang ada di dalam dada, atau ia dapat memberi manfaat dan mudarat; maka inilah syirik akbar yang menjerat orang awam di banyak makam orang saleh (maupun yang dianggap saleh).

​Hal ini diperparah oleh dorongan dari banyak orang yang menisbatkan diri pada ilmu (tokoh agama). Mereka menghiasi perbuatan tersebut dengan anggapan bahwa apa yang dilakukan di kuburan orang saleh—seperti tawaf di sekelilingnya, menyembelih untuknya, dan bernazar untuknya—semua itu hanyalah bentuk ‘mencintai orang saleh’ dan ‘tawasul kepada orang saleh’, serta bukan merupakan ibadah sedikit pun. Inilah realitanya. Seolah-olah penulis risalah ini (Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab dalam Ushul as-Sittah,pen) sedang membedah kondisi dan realitas umat Islam saat ini, khususnya di luar negeri ini (Arab Saudi).”

Sumber: Syarh Ushul as-Sittah lisy Syaikh Muhammad Aman al-Jamiy, pembahasan landasan yang pertama

Naskah dalam Bahasa Arab

قال الشيخ محمد أمان الجامي رحمه الله تعالى في شرح الأصول الستة

​وما هي حقوق الصالحين التي يتهم من أخلص العبادة لله سبحانه وتعالى بأنه ضيعها وأنه قصر في حقوق الصالحين ماهي هذه الحقوق؟ أين جاء ذكرها في كتاب الله وسنة رسوله عليه الصلاة والسلام حتى شغلت بال كثير من الناس؛ الاهتمام بحقوق الصالحين وتعظيم الصالحين ومحبة الصالحين والغلو في الصالحين؟

​حقيقي وصحيح أن الصالحين من عباد الله الصالحين الواجب علينا محبتهم في الله؛ لكن فليسبق ذلك محبة الله وألا يحبوا مع الله

​ليس من حقوق الصالحين أن يحب الرجل الصالح مع الله حتى يجعل شريكاً لله بل من حقه علينا أن نحبه في الله

​التفريق بين الأمرين هو الذي قصر فيه كثير من الأذكياء كما قال الجامع لهذه الأصول حتى لم يفرقوا بين الحب في الله والحب مع الله

​الذي يجري الآن في المجتمعات الإسلامية في الغالب الكثير لدى أضرحة من سموهم بالصالحين الحب مع الله لا الحب في الله، الحب مع الله من أعظم أنواع الشرك الأكبر

​من أحب غير الله مع الله وعظمه كما يعظم الموحدون رب العالمين وتذلل له كما يتذلل الموحد لله سبحانه وتعالى، وبالغ في تعظيمه إلى درجة اعتقاد أنه يعلم ما في الصدور وأنه ينفع ويضر هذا هو الشرك الأكبر الذي تورط فيه عوام المسلمين لدى كثير من أضرحة الصالحين أو غير الصالحين، وشجعهم على ذلك كثير من المنتسبين إلى العلم وزينوا لهم أن ما يفعلونه عند قبور الصالحين من الطواف بها والذبح لها والنذر لها كل ذلك من محبة الصالحين ومن التوسل بالصالحين وليست من العبادة في شيء هذا هو الواقع. كأن جامع هذه الأصول يدرس أحوال المسلمين وواقع المسلمين اليوم وخصوصاً في خارج هذا البلد

Penerjemah: Abu Utsman Kharisman