Adab Bersin dan Saling Mendoakan: Menghidupkan Kembali Hadits Riwayat Al-Bukhari

Hadits Riwayat Al-Bukhari tentang Adab Bersin dan Saling Mendoakan
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ: الحَمْدُ لِلَّهِ، وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ: يَرْحَمُكَ اللَّهُ، فَإِذَا قَالَ لَهُ: يَرْحَمُكَ اللَّهُ، فَلْيَقُلْ: يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ
Dari Abu Hurairah -semoga Allah meridhainya- dari Nabi shollallahu alaihi wasallam beliau bersabda: Jika salah seorang dari kalian bersin, hendaknya ia mengucapkan: ALHAMDULILLAH (Segala puji bagi Allah). Kemudian saudara atau rekannya hendaknya mengucapkan: YARHAMUKALLAH (Semoga Allah memberikan rahmat kepadamu). Apabila saudara atau rekannya itu mengucapkan YARHAMUKALLAH, hendaknya (orang yang bersin tadi) mengucapkan: Semoga Allah memberikan petunjuk dan memperbaiki keadaan anda sekalian (H.R al-Bukhari)
Penjelasan
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah ta’ala menyatakan dalam kitab Fath Dzi al-Jalali wa al-Ikram bi Syarh Bulugh al-Maram:
Bersin adalah sesuatu yang sudah dikenal luas. Para ulama menjelaskan: Bersin adalah udara yang merayap di dalam tubuh. Di antara nikmat Allah kepada hamba-Nya adalah mengeluarkan udara tersebut. Oleh karena itu, dari satu sisi, seseorang disyariatkan untuk memuji Allah (atas keluarnya udara ini).
Di sisi lain, bersin merupakan tanda dari kondisi tubuh yang aktif dan bugar, berbeda halnya dengan menguap (yang menandakan kemalasan). Bersin adalah tanda kebugaran, yaitu keluarnya udara yang tertahan, yang jika tetap berada di dalam tubuh justru akan membahayakannya. Maka sangat tepat jika manusia mengucapkan ‘Alhamdulillah’.
Baca Juga: Hukum Mengucapkan Alhamdulillah Saat Berserdawa
Arti Al-Hamdu adalah menyifati pihak yang dipuji dengan sifat-sifat kesempurnaan, yang disertai dengan rasa cinta dan pengagungan, meskipun hanya diucapkan sekali. Jika Anda menyifati seseorang dengan sifat sempurna disertai rasa cinta dan pengagungan kepadanya, maka tindakan ini disebut Hamd (pujian). Jika penyifatan sifat sempurna tersebut diulang-ulang, maka ia berubah menjadi Tsana’ (sanjungan).
Argumen bagi perbedaan ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits qudsi bahwa Allah Ta’ala berfirman (yang artinya):
“Aku membagi shalat (surah Al-Fatihah) antara Diri-Ku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. Jika hamba-Ku mengucapkan: ‘Alhamdulillahi rabbil ‘alamin’, Allah berfirman: Hamba-Ku telah memuji-Ku (Hamidani). Jika ia mengucapkan: ‘Ar-Rahmanir Rahim’, Allah berfirman: Hamba-Ku telah menyanjung-Ku (Atsna ‘alayya). Dan jika ia mengucapkan: ‘Maliki yawmiddin’, Allah berfirman: Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku (Majjadani).”
Di sini Allah Ta’ala membedakan antara Hamd (pujian) dan Tsana’ (sanjungan). Namun, jika pujian diucapkan tanpa rasa cinta dan tanpa pengagungan, melainkan hanya sekadar untuk meminta sesuatu atau mencari simpati, maka hal itu tidak dinamakan Hamd, melainkan dinamakan Madh (pujian biasa/rayuan). Hal ini menjadi bukti mendalamnya bahasa Arab; huruf-huruf penyusunnya sama saja (yaitu Mim-Daal-Haa’ dan Haa’-Mim-Daal), tetapi dengan mengubah urutan posisi hurufnya, maknanya pun menjadi berbeda.
Lalu mengenai kalimat “Alhamdulillah”, huruf Lam di sini apakah bermakna Istihqaq (hak berhak) atau Ikhtishash (kekhususan), atau mencakup keduanya sekaligus? Jawabannya adalah mencakup keduanya sekaligus. Sebab, pujian yang sempurna dan mutlak adalah hak milik Allah, dan pujian yang sempurna dan mutlak itu tidak boleh ditujukan kecuali hanya kepada Allah. Oleh karena itu, huruf Lam di sini mengandung dua makna sekaligus: kekhususan dan hak milik.
Kalimat “Hendaklah saudaranya mengucapkan kepadanya: Yarhamukallah.” Siapakah saudaranya yang dimaksud? Yaitu sesama muslim. Ini menunjukkan bahwa orang yang bersin tersebut adalah seorang muslim. Jadi, jika seorang muslim bersin lalu mengucapkan Alhamdulillah, hendaklah saudaranya sesama muslim mendoakannya: Yarhamukallah. Kalimat Yarhamukallah ini secara struktur bahasa berbentuk kalimat berita (khabar), tetapi maknanya adalah permohonan (thalab), yaitu doa. Ucapanmu Yarhamukallah sama maknanya dengan ucapan: “Ya Allah, rahmatilah dia.”
Di dalam kata Rahmat terkandung pencapaian atas apa yang diinginkan serta hilangnya apa yang dikhawatirkan. Jika kata rahmat digandangkan dengan kata ampunan (maghfirah), maka rahmat bermakna tercapainya apa yang diinginkan, sedangkan ampunan bermakna hilangnya apa yang dikhawatirkan, karena ampunan berpasangan dengan dosa.
Kalimat “Jika saudaranya telah mengucapkan ‘Yarhamukallah’ kepadanya, hendaklah ia membalas…” Maksudnya, orang yang bersin membalas doa saudaranya dengan mengucapkan: “Yahdikumullah wa yushlihu balakum.” Kata Yahdikum (Semoga Allah memberimu petunjuk) juga berbentuk kalimat berita tetapi bermakna permohonan/doa. Hidayah di sini mencakup dua jenis hidayah: hidayah petunjuk (penjelasan ilmu) dan hidayah taufik (bimbingan untuk beramal). Jadi, jika Anda mengucapkan kepada saudara Anda: Yahdikumullah, artinya: “Semoga Allah membimbingmu dengan ilmu dan memberikanmu taufik untuk mengamalkannya.” Sementara kalimat wa yushlihu balakum bermakna: “dan memperbaiki urusan serta keadaanmu.” Doa ini bersifat umum, mencakup urusan agama maupun urusan dunia. Jika kita renungkan, kita akan dapati bahwa orang yang bersin membalas doa dengan hal yang lebih baik atau lebih banyak daripada doa yang diterimanya, karena ia mendoakan: Yahdikumullah wa yushlihu balakum.
Baca Juga: Adab Islamiy Saat Bersin (Serial Kajian Kitabul Jami’ min Bulughil Maram Bag.10)
Kesimpulan Faedah-Faedah Hadits
1. Disyariatkannya memuji Allah (Alhamdulillah) ketika bersin.
Hal ini didasarkan pada sabda beliau: “Hendaklah ia mengucapkan…” Kata perintah di sini menunjukkan perintah. Apakah hukumnya wajib atau sunnah? Mayoritas ulama berpendapat hukumnya sunnah. Namun sebagian ulama mengatakan hukumnya wajib, karena pujian ini merupakan bentuk syukur atas nikmat yang Allah berikan kepalanya. Terlebih lagi, jika seseorang tidak memuji Allah, ia akan dihukum dengan cara diharamkan dari doa saudaranya (saudaranya tidak boleh mendoakannya). Ini menunjukkan wajibnya mengucapkan Alhamdulillah, karena hukuman/sanksi tidak diberikan kecuali akibat meninggalkan kewajiban. Pendapat yang mewajibkan ini cukup kuat, namun ada sedikit ganjalan karena dalam hadits lain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian bersin dan ia memuji Allah, maka doakanlah ia (tasymit).” Secara tekstual, kalimat “dan ia memuji Allah” memberikan kelonggaran bagi orang yang bersin, apakah ia mau memuji Allah atau tidak.
2. Bersin termasuk di antara nikmat-nikmat Allah ‘Azza wa Jalla.
Oleh karena itu, disyariatkan memuji Allah atas bersin, sebagaimana disyariatkan memuji Allah setelah makan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Sesungguhnya Allah benar-benar ridha kepada seorang hamba yang memakan suatu makanan lalu ia memuji-Nya atas makanan tersebut, dan meminum suatu minuman lalu ia memuji-Nya atas minuman tersebut.”
Jika ada yang bertanya: “Apakah bersendawa (jusyaa’) juga disamakan dengan bersin?” Jawabannya: Tidak. Meskipun bersendawa juga merupakan keluarnya udara, namun tidak disyariatkan mengucapkan Alhamdulillah setelahnya. Mengapa? Karena bersendawa sudah ada di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun beliau tidak mensyariatkan umatnya untuk memuji Allah saat bersendawa. Kaidah syariat menyebutkan: “Segala sesuatu yang sebabnya sudah ada di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam namun beliau tidak menjadikannya sebagai sunnah, maka meninggalkannya (tidak mengucapkannya) adalah bentuk sunnah yang sebenarnya.” Atas dasar ini, sunnahnya adalah tidak memuji Allah ketika bersendawa, berbeda dengan kebiasaan banyak orang awam yang jika bersendawa langsung mengucapkan Alhamdulillah.
Namun, dikecualikan jika seandainya bersendawa tersebut terjadi di luar kewajaran. Misalnya, ada orang yang tidak bisa bersendawa karena menderita suatu penyakit, lalu pada suatu hari ia akhirnya bisa bersendawa. Kejadian ini dianggap sebagai nikmat baru yang datang. Jika kondisinya berupa nikmat baru yang datang (kesembuhan), maka disyariatkan memuji Allah. Adapun bersendawa yang biasa/normal, maka tidak disyariatkan memuji Allah di dalamnya.
3. Tidak mendoakan (tasymit) orang non-muslim.
Hal ini berdasarkan sabda beliau: “Hendaklah saudaranya mengucapkan…” Dahulu orang-orang Yahudi sengaja bersin di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar beliau mengucapkan Yarhamukullah kepada mereka, namun beliau tidak mengucapkan itu kepada mereka. Lalu, apa yang kita ucapkan jika ada orang kafir bersin kemudian ia memuji Allah? Kita doakan dia agar mendapat hidayah dengan mengucapkan: “Hadaakallah” (Semoga Allah memberimu hidayah).
4. Wajib bagi orang yang mendengar orang bersin memuji Allah untuk mendoakannya (Yarhamukallah).
Sisi pendalilannya adalah bahwa doa ini merupakan bentuk balasan atas kebaikan. Kebaikan apa yang dimaksud? Yaitu kenyataan bahwa ia telah mendoakan rahmat untukmu. Ini menunjukkan bahwa mendoakannya dengan rahmat adalah hal yang wajib, sebagai bentuk apresiasi atas pujian yang ia panjatkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dari sini didapatkan faedah lain: siapa saja yang melakukan suatu ibadah, maka sepatutnya ia didukung dan dimotivasi dengan segala cara.
5. Kewajiban mendoakan bagi yang mendengar orang bersin memuji Allah.
Sebagian ulama berpendapat hukumnya adalah Fardhu Kifayah (kewajiban kolektif), karena sabda beliau: “Hendaklah saudaranya mengucapkan…” Jika sudah ada satu orang yang mengucapkannya, maka saudaranya yang lain dianggap sudah mengucapkannya. Namun, ada hadits lain yang berbunyi: “Maka menjadi hak yang wajib bagi setiap orang yang mendengarnya untuk mengucapkan ‘Yarhamukallah’.” Oleh karena itu, sebagian ulama berpendapat bahwa mendoakan orang bersin (tasymit al-‘athis) hukumnya adalah Fardhu ‘Ain (kewajiban individu bagi setiap yang mendengar).
6. Orang yang bersin membalas doa dengan ucapan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu: Yahdikumullah wa yushlihu balakum.
Apakah wajib mengucapkan kedua kalimat tersebut atau cukup salah satunya saja? Makna tekstual hadits menunjukkan bahwa yang wajib adalah mengucapkan kedua kalimat tersebut secara lengkap: Yahdikumullah wa yushlihu balakum.
Dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memang tidak menyebutkan tindakan fisik apa yang harus dilakukan oleh orang yang bersin. Namun, dalam hadits lain disebutkan bahwa hendaknya seseorang meletakkan kedua tangannya di wajahnya agar tidak terlihat (saat bersin). Sebagian ulama menyebutkan hal yang lebih umum, yaitu: hendaknya ia menutup wajahnya, karena terkadang ada sesuatu yang kotor keluar dari hidungnya yang bisa membuat orang lain merasa jijik.
(Fathu Dzil Jalaali wal Ikraam 6/260-262)
Naskah dalam Bahasa Arab
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ: الحَمْدُ لِلَّهِ، وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ: يَرْحَمُكَ اللَّهُ، فَإِذَا قَالَ لَهُ: يَرْحَمُكَ اللَّهُ، فَلْيَقُلْ: يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ ” (رواه البخاري
قال الشيخ محمد بن صالح العثيمين رحمه الله تعالى في فتح ذي الجلال والإكرام بشرح بلوغ المرام
العطاس: معروف، قال أهل العلم: العطاس ريح تتخلل البدن من نعمة الله على العبد أن يخرجها، فمن ثم صار يحمد الله هذا من وجه، من وجه آخر أن العطاس دليل على النشاط بخلاف التثاؤب، فالعطاس دليل على النشاط وهو إخراج ريح محتبسة بقاؤها يضر بالبدن فناسب أن يقول الإنسان: الحمد لله والحمد معناه: وصف المحمود بالكمال مع المحبة والتعظيم ولو مرة واحدة فإذا وصفت أحدًا بصفة كمال مع محبتك وتعظيمك له فإن هذا حمد فإن كرر الصوف – وصف الكمال – صار ثناء وبدل لهذا قوله صلى الله عليه وسلم قال الله تعالى: «قسمت الصلاة بيني وبين عبدي نصفين، فإذا قال: الحمد لله رب العالمين قال: حمدني عبدي، وإذا قال: الرحمن الرحيم قال: أثنى علي عبدي، وإذا قال مالك يوم الدين قال: مجدني عبدي»، ففرق الله تعالى بين الحمد والثناء وإذا كان حمدًا بلا محبة ولا تعظيم ولكنه استجداء واستعطاف فهذا لا يسمى حمدًا وإنما يسمى مدحًا، وفي هذا دليل على عمق اللغة العربية فالحروف واحدة مدح حمد لكن بتقديم بعضها على بعض يختلف المعنى، وقوله الحمد لله “اللام” هنا هل هي للاستحقاق أو للاختصاص أو لهما جميعًا؟
لهما جميعًا فالحمد الكامل المطلق مستحق لله والحمد الكامل المطلق لا يكون إلا لله، فاللام إذن تحمل معنيين الاختصاص والاستحقاق، وليقل له أخوه: يرحمك الله، من أخوه؟ المسلم: إذن فالعاطس مسلم، فإذا عطس المسلم وقال: الحمد لله، فليقل له أخوه: يرحمك الله، يرحمك الله هذه جملة صيغتها صيغة الخبر، لكنها بمعنى: الطلب، أي: بمعنى الدعاء فقولك يرحمك الله، مثل قول: اللهم ارحمه، وقوله: “يرحمك الله” الرحمة بها حصول المطلوب وزوال المكروه، فإن قرنت بالمغفرة صار بها حصول المطلوب، وبالمغفرة زوال المكروه؛ لأن المغفرة في مقابل الذنب، “فإذا قال له: يرحمك الله فليقل له” أي: العاطس يقول لأخيه: “يهديكم الله ويصلح بالكم”، قوله: “يهديكم” أيضًا خبر بمعنى: الطلب، والهداية هنا تشمل الهدايتين: هداية الدلالة، وهداية التوفيق، فإذا قلت لأخيك: يهديكم الله، أي: يرشدكم بالعلم ويوفقكم للعمل ويصلح بالكم، أي يصلح شأنكم، أي: أمروكم، وهو عام لأمور الدين وأمور الدنيا، وبالتأمل لما أمامنا نجد أن المجيب أجاب بأحسن أو بأكثر مما دعي له به، حيث قيل له: يهديكم الله ويصلح بالكم.
من فوائد الحديث: أولاً: مشروعية الحمد لله عند العطاس؛ لقوله: “فليقل” واللام هنا للأمر وهل هذا واجب أو سنة؟
جمهور العلماء على أنه سنة وقال بعض أهل العلم: إنه واجب لأنه في مقابل نعمة من الله عليك ولأن الإنسان إذا لم يحمد عوقب بحرمانه من الدعاء أي: أنه إذا لم يحمد الله فلا تقل له: يرحمك الله، وهذا يدل على وجوب قول الحمد لله؛ لأنه لا تعزيز إلا على ترك واجب، والقول بالوجوب قوي لكن يشكل عليه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «إذا عطس أحدكم وحمد الله فشمته» كما مر علينا في أول حديث، فهذا يقال: إن ظاهر قوله وحمد الله يدل على أن العاطس قد وسع له أن يحمد الله وألا يحمد الله.
ومن فوائد الحديث: أن العطاس من نعم الله عز وجل ولهذا شرع الحمد عليه كما شرع الحمد على الأكل قال النبي صلى الله عليه وسلم: «إن الله ليرضى عن العبد يأكل الأكلة فيحمده عليها ويشرب الشربة ويحمده عليها»، فإن قال قائل: وهل مثل ذلك الجشاء؟
فالجواب: لا، مع أن الجشاء خروج ريح، لكنه لا يشرع له الحمد، وذلك لأن الجشاء كان موجودًا في عهد الرسول صلى الله عليه وسلم ومع ذلك لم يشرع للأمة أن يحمدوا الله عنده والقاعدة الشرعية أن كل شيء وجد سببه في عهد الرسول صلى الله عليه وسلم ولم يتخذ فيه سنة فتركه أي: ترك الكلام عليه هو السنة وعلى هذا فالسنة ألا تحمد عند التجشي خلافًا لكثير من العامة، فإن كثيرًا من العامة إذا تجشأ قال: الحمد لله، نعم، لو فرض أن هذا التجشي على خلاف العادة بأن يكون الإنسان قد «احتبس تجشيه لمرض أصابه، ثم تجشأ يومًا من الأيام فهذا يعتبر تجدد نعمة، وإذا كان تجدد نعمة فإن النعم يشرع الحمد لها أما التجشأ العادي فلا يشرع الحمد فيه.
ومن فوائد الحديث: أنه لا يشمت غير المسلم؛ لقوله: “فليقل له أخوه” وكان اليهود يتعاطسون عند الرسول صلى الله عليه وسلم لأجل أن يقول لهم: يرحمكم الله، ولكنه لا يقول لهم ذلك. إذن ماذا نقول لو أن الكافر عطس فحمد الله؟
ندعو له بالهداية فنقول: هداك الله
ومن فوائد الحديث: أنه يجب على من سمعه يقول: الحمد الله أن يشتمه فيقول: يرحمك الله.
وجه الدلالة من الحديث: أن هذا مكافأة على معروف ما هو المعروف؟
كونه دعا لك بالرحمة، هذا يدل على أن الدعاء له بالرحمة واجب، وذلك مكافأة له على حمده لله عز وجل، فيؤخذ منه فائدة أخرى وهي أن من قام بشيء من العبادة، فإنه ينبغي أن يشجع عليه بكل وسيلة.
ومن فوائد الحديث: أنه يجب على من سمعه يحمد الله أن يقول له: يرحمك الله، وقد يقال: إنه فرض كفاية؛ لأن قوله: “فليقل له أخوه” إذا قال واحد من الناس. فقد قال له أخوه لكن هنا حديث يقول كان حقًا على كل من سمعه أن يقول له: يرحمك الله، ومن ثم قال بعض العلماء: إن تشميت العاطس فرض عين.
ومن فوائد الحديث: أن العاطس يجيب بما قال النبي صلى الله عليه وسلم وهو يهديكم الله ويصلح بالكم وهل الواجب أن يقول الكلمتين أو تكفي إحداهما؟
ظاهر الحديث أن الواجب أن يقول الكلمتين: يهديكم الله ويصلح بالكم. في هذا الحديث لم يقل النبي صلى الله عليه وسلم شيئًا حول ما يفعل العاطس لكن ورد حديث أنه ينبغي أن يضع يديه على وجهه؛ لئلا يرى، وبغض العلماء ذكر ما هو أعم فقال: ينبغي أن يغطي وجهه لأنه ربما خرج من أنفه شيء مستقذر تقزز النفوس منه.
diterjemahkan dengan tetap menjaga konteks tanpa mengurangi substansi, Abu Utsman Kharisman

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.