Menyebarkan Ilmu Adalah Termasuk Sebab Mendapatkan Ampunan Allah

Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلَّا النَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (174) أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَى وَالْعَذَابَ بِالْمَغْفِرَةِ فَمَا أَصْبَرَهُمْ عَلَى النَّارِ (175)
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Kitab (Taurat), dan menukarkannya dengan harga murah, mereka hanya menelan api neraka ke dalam perutnya. Allah tidak akan menyapa mereka pada hari Kiamat dan tidak akan menyucikan mereka. Bagi mereka adzab yang sangat pedih.Mereka itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan adzab dengan ampunan. Maka, alangkah beraninya mereka menentang api neraka (Q.S al-Baqoroh ayat 174-175)
Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah menyatakan:
Di antara pelajaran yang bisa dipetik dari ayat ini:
Keadilan Adzab Allah
Bahwasanya hukuman Allah terhadap mereka bukanlah suatu kedzhaliman dari-Nya. Sebaliknya, merekalah yang menjadi penyebab datangnya hukuman tersebut, karena mereka telah “membeli” kesesatan dengan petunjuk. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla sama sekali tidak mendzhalimi hamba-hamba-Nya.
Menyebarkan Ilmu sebagai Sebab Ampunan
Menyebarkan, menampakkan, dan menjelaskan ilmu merupakan salah satu sebab turunnya ampunan (maghfirah). Hal ini karena Allah menjadikan adzab bagi mereka sebagai balasan atas tindakan menyembunyikan ilmu, serta pilihan mereka yang lebih mengambil adzab daripada ampunan, dan kesesatan daripada petunjuk. Ini menunjukkan bahwa menyebarkan ilmu adalah faktor penyebab diampuninya dosa-dosa.
Hubungan Timbal Balik antara Dosa dan Ilmu
Sebagaimana dosa dapat menghalangi seseorang untuk mendapatkan ilmu, maka menyembunyikan ilmu pun dapat menghalangi seseorang untuk mendapatkan ampunan. Sebagian ulama berdalil bahwa dosa menghalangi ilmu berdasarkan firman Allah Ta’ala (yang artinya): “Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat, dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 105-106).
Dalam ayat tersebut, Allah berfirman “supaya kamu mengadili” lalu diikuti dengan “mohonlah ampun kepada Allah”. Ini menunjukkan bahwa beristighfar (memohon ampunan) adalah salah satu sebab terbukanya pintu ilmu—dan hal ini sudah sangat jelas.
Dosa sebagai Penghalang Cahaya Hati
Dalil lainnya adalah firman Allah Ta’ala (yang artinya): “(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami laknat mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya.” (QS. Al-Ma’idah: 13).
Karena dosa—kita berlindung kepada Allah darinya—adalah noda (rayn) yang menutupi hati, sebagaimana firman-Nya: “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka” (QS. Al-Muthaffifin: 14). Jika dosa adalah noda penutup, maka sesungguhnya istighfar akan menghapus noda tersebut, sehingga hati tetap bercahaya, mampu memahami, dan terjaga kesadarannya. (Tafsir al-Utsaimin: al-Fatihah wal Baqoroh 2/270)
Naskah dalam Bahasa Arab
قال الله تعالى : إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلَّا النَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (174) أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَى وَالْعَذَابَ بِالْمَغْفِرَةِ فَمَا أَصْبَرَهُمْ عَلَى النَّارِ (175)
قال الشيخ ابن عثيمين رحمه الله تعالى في تفسير سورة البقرة:
ومن فوائد الآية: أن عقوبة الله لهم ليست ظلماً منه؛ بل هم الذين تسببوا لها، حيث اشتروا الضلالة بالهدى؛ والله عز وجل ليس بظلام للعبيد. ومنها: أن نشر العلم، وإظهاره، وبيانه من أسباب المغفرة؛ لأنه جعل لهم العذاب في مقابلة الكتمان، واختيارهم العذاب على المغفرة، والضلالة على الهدى؛ فدل ذلك على أن نشر العلم من أسباب مغفرة الذنوب؛ كما أن الذنوب أيضاً تحول بين الإنسان، والعلم، فكذلك كتم العلم يحول بين الإنسان، والمغفرة؛ وقد استدل بعض العلماء بأن الذنوب تحول بين الإنسان، والعلم بقوله تعالى: {إنا أنزلنا إليك الكتاب بالحق لتحكم بين الناس بما أراك الله ولا تكن للخائنين خصيماً * واستغفر الله إن الله كان غفوراً رحيماً} [النساء: 105، 106]؛ فقال تعالى: {لتحكم}، ثم قال تعالى: {واستغفر الله}؛ فدل هذا على أن الاستغفار من أسباب فتح العلم ــ وهو ظاهر ــ؛ وبقوله تعالى: {فبما نقضهم ميثاقهم لعناهم وجعلنا قلوبهم قاسية يحرفون الكلم عن مواضعه ونسوا حظاً مما ذكروا به} [المائدة: 13]؛ لأن الذنوب ــ والعياذ بالله ــ رين على القلوب، كما قال تعالى: {كلا بل ران على قلوبهم ما كانوا يكسبون} [المطففين: 14]؛ فإذا كانت ريناً عليها فإن الاستغفار يمحو هذا الرين، وتبقى القلوب نيرة مدركة واعية.
(diterjemahkan dengan penambahan sub judul untuk menguatkan makna)

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.