Fikih Berdoa: 3 Hukum Mengangkat Tangan Menurut Syaikh Ibn Utsaimin

Pertanyaan:
Apa batasan (kaidah) dalam mengangkat kedua tangan ketika berdoa?
Jawaban Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin -semoga Allah merahmati beliau-:
Mengangkat kedua tangan dalam berdoa terbagi menjadi tiga bagian:
1. Bagian Pertama: Kondisi yang disebutkan oleh sunnah (untuk mengangkat tangan).
Dalam kondisi ini, jelas disunnahkan untuk mengangkat tangan.
Contohnya: Doa Istisqa’ (meminta hujan). Jika seseorang meminta hujan dalam khotbah Jumat atau khotbah salat Istisqa’, maka ia mengangkat kedua tangannya.
Contoh lain: Mengangkat tangan di atas bukit Shafa dan Marwah, mengangkat tangan saat berdoa di Arafah, serta mengangkat tangan di dekat Jamrah Ula (pertama) dan Jamrah Wustha (kedua) pada hari-hari Tasyriq.
Oleh karena itu, di dalam ibadah haji terdapat enam tempat berhenti (untuk berdoa):
- Di atas bukit Shafa.
- Di atas bukit Marwah.
- Di Arafah.
- Di Muzdalifah setelah salat Subuh.
- Di dekat Jamrah Ula pada hari-hari Tasyriq.
- Setelah Jamrah Wustha pada hari-hari Tasyriq.
Bagian ini tidak diragukan lagi bahwa seseorang dianjurkan mengangkat kedua tangannya karena adanya dalil sunnah yang melandasinya.
2. Bagian Kedua: Kondisi yang disebutkan oleh dalil untuk tidak mengangkat tangan
Contohnya: Doa di dalam shalat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca doa istiftah (pembuka) di dalam salat dan berdoa :
اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ، كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ
“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat…”(H.R al-Bukhari dan Muslim, pen)
Beliau juga berdoa di antara dua sujud: ROBBIGHFIRLII (“Wahai Rabbku, ampunilah aku”)
serta berdoa pada tasyahud akhir, dan beliau tidak mengangkat kedua tangannya pada semua kondisi tersebut.
Begitu pula dalam khotbah Jumat, khatib berdoa namun tidak mengangkat kedua tangannya, kecuali saat melakukan doa Istisqa’ (meminta hujan) atau Istish-haa’ (meminta agar hujan reda).
Barang siapa yang mengangkat kedua tangannya pada kondisi-kondisi ini dan yang seumpamanya, maka kita katakan bahwa perbuatan tersebut adalah bid’ah, dan kita melarangnya dari hal itu.
3. Bagian Ketiga: Kondisi yang tidak disebutkan dalil perintah mengangkat tangan maupun larangannya
Pada kondisi ini, hukum asalnya adalah termasuk adab berdoa bagi seseorang untuk mengangkat kedua tangannya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya): “Sesungguhnya Allah itu Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya jika sang hamba mengangkat kedua tangan kepada-Nya, lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong (tidak dikabulkan).” (H.R Abu Dawud, atTirmidzi, Ibnu Majah, dari Salman al-Farisiy, dishahihkan Syaikh al-Albaniy, pen)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah menceritakan (dalam hadits yang artinya): “Seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan berdebu, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit sambil berseru: ‘Wahai Rabbku! Wahai Rabbku!’ Padahal makanannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi asupan dari yang haram, maka bagaimana mungkin doanya dikabulkan?” (H.R Muslim dari Abu Hurairah, pen).
Dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan tindakan mengangkat kedua tangan kepada Allah sebagai salah satu sebab dikabulkannya doa.
Hukum Mengusap Wajah Setelah Berdoa
Namun, pada bagian di mana tangan diangkat (saat berdoa), apakah jika selesai berdoa ia mengusap wajah dengan kedua tangannya?
Pendapat yang shahih (benar): Ia tidak perlu mengusap wajah dengan kedua tangannya, karena hadis yang menyebutkan tentang hal itu berstatus dhaif (lemah) sehingga tidak bisa dijadikan hujah (pijakan hukum).
Jika kita melihat seseorang mengusap wajah dengan kedua tangannya setelah selesai berdoa, maka kita jelaskan kepadanya bahwa yang sesuai sunnah adalah tidak mengusap wajahmu dengan kedua tanganmu, karena hadis yang menerangkannya adalah hadis yang lemah.
Sumber: Silsilah Liqa’at al-Bab al-Maftuh > Liqa’ al-Bab al-Maftuh [Pertemuan ke-51]
Transkrip Fatwa dalam Bahasa Arab
السؤال: ما هو ضابط رفع اليدين في الدعاء؟
أجاب عنه الشيخ محمد بن صالح العثيمين رحمه الله تعالى
رفع اليدين في الدعاء على ثلاثة أقسام: القسم الأول: ما وردت به السنة، فهذا ظاهر أنه يسن فيه الرفع، مثل: دعاء الاستسقاء، إذا استسقى الإنسان في خطبة الجمعة أو في خطبة الاستسقاء فإنه يرفع يديه، وكرفع اليدين على الصفا وعلى المروة، وكرفع اليدين في عرفة بالدعاء، وكرفع اليدين عند الجمرة الأولى في أيام التشريق والجمرة الوسطى، ولهذا فإن في الحج ست وقفات: الوقفة الأولى: على الصفا
والثانية: على المروة
والثالثة: في عرفة
والرابعة: في مزدلفة بعد صلاة الفجر
والخامسة: عند الجمرة الأولى في أيام التشريق
والسادسة: بعد الجمرة الوسطى في أيام التشريق
هذا القسم لا شك أن الإنسان يرفع يديه فيه لورود السنة به
والقسم الثاني: ما ورد فيه عدم الرفع مثل: الدعاء في الصلاة، فإن النبي صلى الله عليه وسلم كان يستفتح في الصلاة ويدعو ويقول: (اللهم باعد بيني وبين خطاياي كما باعدت بين المشرق والمغرب) ويدعو بين السجدتين: (رب اغفر لي) ويدعو في التشهد الأخير، ولا يرفع يديه في ذلك كله، وكذلك في خطبة الجمعة يدعو ولا يرفع يديه إلا في الاستسقاء أو في الاستصحاء، ومن رفع يديه في هذه الأحوال وأشباهها قلنا: إنه بدعة، ونهيناه عن ذلك
القسم الثالث: ما لم يرد فيه الرفع ولا عدم الرفع، فهذا الأصل فيه أن من آداب الدعاء أن يرفع الإنسان يديه؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم: (إن الله حيي كريم يستحي من عبده إذا رفع إليه يديه أن يردهما صفراً) وذكر النبي صلى الله عليه وسلم: (الرجل يطيل السفر أشعث أغبر يمد يديه إلى السماء: يا رب! يا رب! ومطمعه حرام، وملبسه حرام، وغذي بالحرام، فأنى يستجاب لذلك) فجعل النبي صلى الله عليه وسلم رفع اليدين إلى الله من أسباب إجابة الدعاء
فهذه أقسام رفع اليدين، ولكن في القسم الذي ترفع فيه الأيدي هل إذا فرغ من الدعاء يمسح وجهه بيديه؟ الصحيح: أنه لا يمسح وجهه بيديه؛ لأن الحديث الوارد في ذلك ضعيف لا تقوم به حجة، فإذا رأينا شخصاً يمسح وجهه بيديه إذا انتهى من الدعاء بينا له أن السنة ألا تمسح وجهك بيديك؛ لأن الحديث الوارد في ذلك ضعيف
لقاء الباب المفتوح 51\15
Penerjemah: Abu Utsman Kharisman

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.