Beranda » Latest » Artikel » Manhaj » Menilai Orang Lain Secara Adil: Menghindari Labeling Singkat Tanpa Bukti

Menilai Orang Lain Secara Adil: Menghindari Labeling Singkat Tanpa Bukti

0
gavel-2492011_1280

Syaikh Sholih bin Abdil Aziz Aalusy Syaikh menyatakan:

Sifat moderat (sikap pertengahan) dalam menilai orang lain (begitu penting) —terkadang Anda mendapati seseorang memberikan penilaian akhir secara mutlak kepada orang lain.

Padahal, memperhatikan keistimewaan yang dimiliki setiap orang, baik dalam kepribadian, ilmu, maupun peran dan kewajiban yang mereka jalankan, merupakan ciri seorang muslim yang moderat dalam apa yang dia katakan dan apa yang dia tinggalkan.

​Penilaian terhadap seseorang hendaknya dilakukan secara menyeluruh (komprehensif), baik orang tersebut berkedudukan tinggi maupun di bawahnya. Anda perlu melihat gambaran utuh dari apa yang ada pada dirinya, sehingga Anda sampai pada pemahaman yang mendekati kebenaran dalam benak Anda tentang bagaimana seharusnya memandang orang tersebut.

​Di antara hal-hal yang dapat merusak sikap moderat dan pertengahan dalam masalah ini ada banyak, namun yang paling berpengaruh ada dua hal:

​Hal Pertama:

Menghakimi niat dan maksud orang lain. Seseorang sudah memberikan penilaian terlebih dahulu terhadap niat lawan bicaranya. Padahal, di antara manhaj yang diajarkan dalam Sunnah dan ditegaskan oleh para ulama Salaf—ketika dikatakan tentang seseorang bahwa dia mengucapkan kalimat (syahadat) hanya untuk berlindung/menyelamatkan diri—Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Usamah:

​«أَفَلَا شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ؟ هَلَّا شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ؟»

“Mengapa tidak engkau belah saja hatinya? Mengapa tidak engkau belah hatinya?!”

​Bagaimana engkau tahu bahwa dia mengucapkannya hanya untuk menyelamatkan diri? Bisa jadi dia memang masuk Islam karena benar-benar menginginkannya! Dan sebenarnya, atas hak apa engkau membunuhnya atau atas hak apa engkau menganiayanya?

​Maka, di antara hal yang merusak sikap moderat adalah menghakimi niat dan maksud orang lain: “Tidak, maksud dia itu begini,” atau “Tidak, niat mereka itu begitu,” “Mereka menginginkan ini.” Mana bukti dan argumennya? Bukti dan argumen sama sekali tidak mendukung tuduhan tersebut.

​Hal Kedua: Memiliki informasi awal (prasangka), lalu informasi tersebut belum tentu benar, namun dia menganggapnya benar hanya karena informasi itu sampai kepadanya. Hari ini, di zaman sekarang ini—sebagaimana yang kalian lihat—informasi telah menjadi sangat banyak hingga tak terhitung. Informasi yang beranekaragam, laporan-laporan khusus di internet, apa yang dipublikasikan di majalah-majalah, apa yang disiarkan di saluran televisi, atau apa yang saling disebarkan oleh orang-orang; segala sesuatu disebarkan.

​Padahal petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

​«مَنْ حَدَّثَ بِحَدِيثٍ يَرَى -وَفِي ضَبْطٍ: يُرَى- أَنَّهُ كَذِبٌ، فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ»

“Barang siapa yang menyampaikan suatu perkataan yang dia duga—atau diduga—bahwa perkataan itu adalah dusta, maka dia adalah salah satu dari para pendusta.”

​Jika engkau menyampaikan suatu berita kepada orang lain padahal engkau sendiri ragu akan kebenarannya, maka engkau telah masuk ke dalam kedustaan. Sebab dengan cara itulah kebohongan merajalela, desas-desus menyebar tanpa diteliti, masyarakat menjadi lemah, atau terbangun opini, pandangan, serta sikap-sikap yang semuanya berlandaskan pada penyampaian hal-hal yang tidak benar.

​Oleh karena itu, dalam mengandalkan apa yang sampai kepadamu, engkau harus memilah apa yang datang tersebut: Apakah itu benar atau tidak benar? Supaya engkau dapat menyiapkan sikap, penilaian, atau perkataan yang tepat bagi dirimu.

​Wajib hukumnya untuk melakukan tabayyun (klarifikasi/konfirmasi). Dan banyak dari apa yang disiarkan hari ini tidak mungkin untuk dikonfirmasi kebenarannya, melainkan hanya perkataan-perkataan yang gampang disebarkan oleh orang-orang tanpa penglihatan hati (ilmu) dan pertimbangan yang matang.

​Referensi video:

الاعتدال في الحكم على الأشخاص | الشيخ صالح آل الشيخ
Channel تراث الشيخ صالح آل الشيخ

Transkrip dalam Bahasa Arab

قال الشيخ صالح بن عبد العزيز آل الشيخ

الِاعْتِدَالُ فِي الْحُكْمِ عَلَى الْأَشْخَاصِ، تَجِدُ أَنَّهُ يَحْكُمُ عَلَى الشَّخْصِ حُكْمًا نِهَائِيًّا. وَمُرَاعَاةُ مَا يَتَمَيَّزُ بِهِ النَّاسُ فِي شَخْصِيَّاتِهِمْ، وَفِي عِلْمِهِمْ، وَمَا يُؤَدُّونَهُ مِنْ دَوْرٍ، وَمَا يُؤَدُّونَهُ مِنْ وَاجِبٍ، هُوَ سِمَةُ الْمُسْلِمِ الْمُعْتَدِلِ فِيمَا يَقُولُهُ وَمَا يَذَرُهُ

​الْحُكْمُ عَلَى الْأَشْخَاصِ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ كُلِّيًّا، سَوَاءٌ كَانَ هَؤُلَاءِ الْأَشْخَاصُ كِبَارًا فِي مَقَامٍ أَمْ كَانَ أَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ، تَنْظُرُ إِلَى مُجْمَلِ مَا عِنْدَهُ فِي ذَلِكَ، حَتَّى تَصِلَ فِيهِ إِلَى تَقْرِيبٍ لِذِهْنِكَ كَيْفَ تَنْظُرُ إِلَى هَذَا الشَّخْصِ

​وَمِمَّا يُؤَثِّرُ عَلَى الِاعْتِدَالِ وَالْوَسَطِيَّةِ فِي هَذَا الْجَانِبِ أَشْيَاءُ، وَلَكِنْ مِمَّا يُؤَثِّرُ أَمْرَانِ

​الْأَمْرُ الْأَوَّلُ: الْحُكْمُ عَلَى النَّوَايَا وَالْمَقَاصِدِ، هُوَ يَحْكُمُ سَلَفًا عَلَى نِيَّةِ الْمُقَابِلِ. وَمِنَ الْمَنَهَجِ الَّذِي جَاءَ فِي السُّنَّةِ وَقَرَّرَهُ عَدَدٌ مِنَ السَّلَفِ، أَنَّهُ لَمَّا قِيلَ عَنْ فُلَانٍ أَنَّهُ قَالَهَا مُتَعَوِّذًا، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأُسَامَةَ: «أَفَلَا شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ؟ هَلَّا شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ؟» تَعْرِفُ أَنَّهُ قَالَهَا تَعَوُّذًا؟ يُمْكِنُ أَنَّهُ دَخَلَهَا فِي الْإِسْلَامِ، دَخَلَهَا رَاغِبًا فِي ذَلِكَ! وَحَقِيقَةً، بِأَيِّ حَقٍّ تَقْتُلُ أَوْ بِأَيِّ حَقٍّ تَعْتَدِي عَلَيْهِ؟ فَإِذًا مِمَّا يُعَكِّرُ عَلَى الِاعْتِدَالِ الْحُكْمُ عَلَى النَّوَايَا وَعَلَى الْمَقَاصِدِ: “لَا، هُوَ قَصْدُهُ كَذَا”، أَوْ “لَا، يَنْوُونَ كَذَا”، “يُرِيدُونَ كَذَا”. مَا الْبُرْهَانُ وَمَا الدَّلِيلُ؟ تُقَصِّرُ الْبَرَاهِينُ وَالْأَدِلَّةُ عَنْ ذَلِكَ

​الْأَمْرُ الثَّانِي: أَنْ يَكُونَ عِنْدَهُ مَعْلُومَاتٌ سَلَفًا، وَهَذِهِ الْمَعْلُومَاتُ لَا تَكُونُ صَحِيحَةً، لَكِنَّهُ جَعَلَهَا صَحِيحَةً لِأَجْلِ أَنَّهَا وَصَلَتْ إِلَيْهِ. وَالْيَوْمَ فِي هَذَا الزَّمَانِ، كَمَا تَرَوْنَ، أَنَّ الْمَعْلُومَاتِ أَصْبَحَتْ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ تُحْصَى، مَعْلُومَاتٌ مُتَنَوِّعَةٌ، وَتَقَارِيرُ خَاصَّةٌ فِي الْإِنْتِرْنِتِ، أَوْ مَا يُنْشَرُ فِي الْمَجَلَّاتِ، أَوْ مَا يُبَثُّ فِي الْقَنَوَاتِ الْفَضَائِيَّةِ، أَوْ مَا يَتَنَاقَلُهُ النَّاسُ، كُلُّ شَيْءٍ يُنْقَلُ

​مَعَ أَنَّ الْهَدْيَ النَّبَوِيَّ يَقُولُ: «مَنْ حَدَّثَ بِحَدِيثٍ يَرَى -وَفِي ضَبْطٍ: يُرَى- أَنَّهُ كَذِبٌ، فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ». ​إِذَا حَدَّثْتَ غَيْرَكَ بِحَدِيثٍ أَنْتَ شَاكٌّ فِيهِ، فَأَنْتَ دَاخِلٌ فِي الْكَذِبِ؛ لِأَنَّهُ يَنْتَشِرُ الْكَذِبُ، وَتَنْتَشِرُ الشَّائِعَاتُ بِدُونِ نَظَرٍ، وَيَضْعُفُ الْمُجْتَمَعُ، أَوْ تَتَكَوَّنُ آَرَاءٌ، أَوْ تَتَكَوَّنُ أَشْيَاءُ أَوْ مَوَاقِفُ أَوْ اتِّجَاهَاتٌ كُلُّهَا بِنَقْلِ أَشْيَاءَ غَيْرِ صَحِيحَةٍ

​إِذًا، اعْتِمَادُ مَا يَصِلُ إِلَيْكَ لَابُدَّ أَنْ تُمَيِّزَ مَا وَصَلَ إِلَيْكَ: هَلْ هُوَ صَحِيحٌ أَمْ غَيْرُ صَحِيحٍ؟ حَتَّى تُهَيِّئَ لِنَفْسِكِ مَوْقِفًا أَوْ حُكْمًا أَوْ قَوْلًا. لَابُدَّ مِنَ التَّثَبُّتِ، وَكَثِيرٌ مِمَّا يُذَاعُ الْيَوْمَ لَا يُمْكِنُ التَّثَبُّتُ مِنْهُ، بَلْ هِيَ أَقْوَالٌ يَسْتَسِيغُ النَّاسُ أَنْ يَنْقُلُوهَا دُونَ بَصِيرَةٍ وَلَا نَظَرٍ

Penerjemah: Abu Utsman Kharisman