Beranda » Latest » Artikel » Muamalah » Mencoba Menyambung Silaturahmi Tapi Malah Diserang, Harus Bagaimana?

Mencoba Menyambung Silaturahmi Tapi Malah Diserang, Harus Bagaimana?

0
Photo by Monfocus

Pertanyaan:

Jika seorang muslim memiliki saudara seiman atau kerabat yang selalu menyerangnya, memaki, dan berbuat kasar kepadanya tanpa alasan—maka setiap kali ia mendiamkannya lalu mencoba kembali menyambung hubungan dengannya, perlakuan buruk itu selalu terulang lagi—apakah ia boleh terus menjauhinya (memutus hubungan) jika cara yang baik tidak lagi mempan?

Jawaban ​Syaikh Bin Baz:

Jika masih memungkinkan untuk menasihatinya, maka itu yang lebih utama. Hendaknya ia menasihatinya, mudah-mudahan Allah memberinya petunjuk.

Namun, apabila berhubungan dengannya justru membawa kepada keburukan, maka tidak perlu berhubungan dengannya, walhamdulillah. Jika orang tersebut berakhlak buruk (la’im), fasik, tidak peduli, dan nasihat sudah tidak berguna lagi baginya, maka diputuskan saja hubungannya, walhamdulillah. Paling tidak, hukum menjauhinya adalah sunnah/dianjurkan.

Pertanyaan:

Dan hal itu tidak dianggap sebagai bentuk permusuhan/kebencian yang dilarang?

Jawaban ​Syaikh Bin Baz:

Tidak, tidak. Tidak apa-apa (tidak berdosa), karena dialah pihak yang berbuat dzhalim.

Transkrip Fatwa dalam Bahasa Arab

س: إذا كان أحد المسلمين أخوه في الله أو قريبه يتهجم عليه دائما ويسبه ويغلط عليه بدون سبب، فكلما قاطعه ورجع إليه تكرر منه هذا، فهل يستمر في المقاطعة إن لم يجدِ معه الطيب؟

الشيخ ابن باز: إن تيسرت النصيحة فهو أولى، يناصحه لعل الله يهديه، فإذا كان الاتصال به يفضي إلى شر فلا يتصل به والحمد لله، إذا كان رجل لئيما فاسقا لا يبالي ولا ينفع معه النصيحة يقطع الحمد لله أقل أحواله السنية

س: ولا يعتبر من الشحناء؟

الشيخ ابن باز : لا لا، ما فيه شيء، هو الظالم

Sumber: https://binbaz.org.sa/audios/2699/399-من-باب-استحباب-صوم-ثلاثة-ايام-من-كل-شهر

Catatan Penerjemah:

Upaya membalas keburukan dengan kebaikan tentu adalah suatu hal yang penting diupayakan di awal. Siapa tahu dia berubah menjadi baik. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَلَا تَسۡتَوِي ٱلۡحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُ ۚ ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِي بَيۡنَكَ وَبَيۡنَهُۥ عَدَٰوَةٞ كَأَنَّهُۥ وَلِيٌّ حَمِيمٞ

“Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia.” (QS. Fussilat ayat 34)

Namun, apabila berbagai upaya perbaikan dan nasihat tidak nampak hasilnya, dan justru memudaratkan kita, tidak mengapa menjaga jarak dengannya, sebagaimana dijelaskan Syaikh Bin Baz tersebut.

Wallaahu A’lam.

Penerjemah: Abu Utsman Kharisman