Beranda » Latest » Artikel » Muamalah » Menyebarkan Kebaikan, Meredam Keburukan: Strategi Menjaga Keharmonisan Umat

Menyebarkan Kebaikan, Meredam Keburukan: Strategi Menjaga Keharmonisan Umat

0
29a92d8fe94c1aa06502b1e495b6d81d

Syaikh Sholih bin Abdil Aziz Aalusy Syaikh menyatakan:

Sesungguhnya pada diri umat Islam (pribadi muslim) terdapat kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan, baik mereka dari kalangan awam maupun tokoh khusus, baik pemerintah, ulama, penuntut ilmu, para dai, maupun rakyat biasa. Setiap orang pasti memiliki kebaikan dan keburukan, keduanya pasti ada. Apakah ada seseorang yang terbebas dari keburukan? Tidak. Dan apakah ada seorang muslim yang tidak memiliki kebaikan sama sekali? Tentu tidak demikian.

Oleh karena itu, di antara metode kita dalam berpikir adalah meneladani sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: ‘Barang siapa yang berkata: Orang-orang telah rusak (atau binasa), maka dialah yang paling rusak (atau yang menyebabkan mereka rusak).’ Barang siapa yang berkata ‘orang-orang telah rusak’, orang-orang ini buruk dan tidak perlu diperdulikan, ucapan ‘orang-orang telah rusak’ ini—beliau bersabda: dialah yang menyebabkan mereka rusak. Mengapa? Karena hal itu dibangun di atas kaidah yang akan aku sebutkan kepadamu.

Jadi, jika kebaikan dan keburukan itu sama-sama ada, bagaimana cara kita berpikir? Kita berpikir bahwa kebaikan-kebaikan harus kita sebarkan dan kita besarkan, karena orang-orang akan meneladani dan terpengaruh oleh hal tersebut. Sedangkan keburukan-keburukan kita sembunyikan dan tidak kita tampakkan.

Saat ini, di antara ciri masyarakat—atau ciri sebagian orang—adalah jika mereka mendengar berita buruk, baik berupa maksiat, kekurangan orang yang lalai, atau sejenisnya, mereka mulai membicarakannya. Hal ini memiliki dampak negatif yang sangat besar, bahkan terhadap ketaatan. Sebab, hal ini menyebabkan masyarakat meremehkan maksiat, berkurang minatnya terhadap kebaikan, dan membayangkan bahwa kejahatan itu sangat banyak, padahal kenyataannya tidak demikian.

Sebagai contoh, jika seseorang datang dan berkata: ‘Demi Allah, kerusakan telah merajalela dan terjadi ini dan itu,’ lalu hal tersebut ditinjau berdasarkan penilaian yang objektif dan benar, Anda akan mendapati bahwa hal itu tidak melebihi 5%, 10%, 15%, atau 20% di masyarakat kita misalnya. Namun, apakah hal itu menjadi dominan? Tidak. Tetapi jika metode berpikirnya tidak benar, maka yang dilirik hanyalah hal-hal negatif lalu dibesar-besarkan, sementara kebaikan-kebaikan dikecilkan, sehingga kerusakan pun bertambah sedikit demi sedikit.

Yang wajib adalah metode berpikir kita didasarkan pada menonjolkan kebaikan dan menyebut-nyebutnya, serta mewaspadai ucapan: ‘orang-orang telah rusak,’ atau ‘keadaan sudah rusak,’ atau ‘musibah ada pada ini,’ ‘ulama begini,’ ‘pemerintah di sini begitu,’ ‘masyarakat begini,’ ‘keluarga si Fulan sudah rusak,’ ‘kamu begini,’ dan ‘mereka melakukan ini…’ Hal seperti ini akan menyebarkan kerusakan sedikit demi sedikit.

Adapun jika Anda saling tolong-menolong dalam kebajikan dan ketakwaan, memperbanyak kebaikan, dan membuat keburukan berkurang bahkan dalam sebutan, maka pada saat itulah kebaikan akan bertambah. Perlu diperhatikan di sini bahwa salah satu bentuk bertambahnya keburukan dan kerusakan sedikit demi sedikit di tengah masyarakat adalah membicarakannya. Seseorang mungkin membicarakannya di depan anak-anaknya, atau di depan si Fulanah: ‘dia begini,’ ‘perempuan ini melakukan ini,’ dan ‘si Fulan melakukan ini…’ Hal itu akan merayu dan menggoda mereka serta mempermudah banyak perkara bagi mereka.

Maka, di antara metode berpikir kita yang benar adalah menampakkan kebaikan, menonjolkannya, dan memperbanyak pembicaraan mengenainya, karena hal itu melapangkan jiwa, menumbuhkan minat, dan membuat orang-orang berjalan di atasnya. Serta menyembunyikan keburukan dan menyembunyikan dampak-dampaknya.

Namun, bukan berarti kita tidak menyikapi keburukan sesuai kaidah-kaidah syariat. Jika menuntut untuk diberi nasihat, maka kita menasihati. Jika menuntut amar ma’ruf nahi munkar, maka kita memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran sesuai dengan batasan-batasan syariat. Jika menuntut tindakan tertentu, kita melakukannya. Jadi, ada cara pandang yang benar dalam melihat kebaikan dan keburukan.

Sumber: Sholih bin Abdul Aziz Aalusy Syaikh, “إظهار الحسنات منهج في التفكير الصحيح” (Menampilkan Kebaikan adalah Metode Berpikir yang Benar), video berdurasi 3:56, diunggah oleh Turats Asy-Syaikh Sholih Aalusy Syaikh, 17 Agustus 2026

Transkrip dalam Bahasa Arab

قال الشيخ صالح بن عبد العزيز آل الشيخ

​إنَّ الْمُسْلِمِينَ فِيهِمْ حَسَنَاتٌ وَفِيهِمْ سَيِّئَاتٌ، سَوَاءٌ أَكَانُوا عَامَّةً أَمْ خَاصَّةً، سَوَاءٌ أَكَانُوا وُلَاةً أَمْ عُلَمَاءَ أَمْ طَلَبَةَ عِلْمٍ أَمْ دُعَاةً أَمْ مِنْ عَامَّةِ الْمُسْلِمِينَ، كُلٌّ فِيهِ حَسَنَةٌ وَفِيهِ سَيِّئَةٌ، لَابُدَّ مِنْ وُجُودِ هَذَا وَهَذَا، فَهَلْ أَحَدٌ يَسْلَمُ مِنَ السَّيِّئَاتِ؟ لَا، وَهَلْ هُنَاكَ مُسْلِمٌ لَا تَكُونُ عِنْدَهُ حَسَنَاتٌ؟ لَيْسَ كَذَلِكَ

​فَإِذَنْ مِنْ مَنْهَجِنَا فِي التَّفْكِيرِ أَنْ نَمْتَثِلَ قَوْلَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ قَالَ هَلَكَ النَّاسُ (أَوْ فَسَدَ النَّاسُ) فَهُوَ أَهْلَكُهُمْ (وَفِي ضَبْطٍ: فَهُوَ أَهْلَكَهُمْ)». مَنْ قَالَ فَسَدَ النَّاسُ، هَؤُلَاءِ النَّاسُ سَيِّئُونَ لَا يَهُمُّونَكَ، «فَسَدَ النَّاسُ» يَقُولُ: هُوَ الَّذِي أَفْسَدَهُمْ، لِمَاذَا؟ لِأَنَّهُ مَبْنِيٌّ عَلَى الْقَاعِدَةِ الَّتِي سَأَذْكُرُهَا لَكَ

​إِذَنْ إِذَا كَانَ هُنَاكَ وُجُودٌ لِلْحَسَنَاتِ وَوُجُودٌ لِلسَّيِّئَاتِ، فَكَيْفَ نُفَكِّرُ؟ نُفَكِّرُ أَنَّ الْحَسَنَاتِ نَنْشُرُهَا وَنُضَخِّمُهَا لِأَنَّ النَّاسَ يَقْتَدُونَ وَيَتَأَثَّرُونَ بِذَلِكَ، وَالسَّيِّئَاتِ نَكْتُمُهَا وَلَا نُظْهِرُهَا

​الْآنَ مِنْ سِمَةِ النَّاسِ -أَوْ مِنْ سِمَةِ بَعْضِ النَّاسِ- أَنَّهُمْ إِذَا سَمِعُوا بِأَيِّ خَبَرٍ سَيِّئٍ إِمَّا مِنْ مَعْصِيَةٍ أَوْ قُصُورِ مُقَصِّرٍ أَوْ نَحْوِهِ، أَخَذُوا يَتَحَدَّثُونَ بِهِ. هَذَا لَهُ أَثَرٌ سَلْبِيٌّ كَبِيرٌ جِدًّا حَتَّى عَلَى الطَّاعَةِ؛ لِأَنَّ هَذَا يُؤَدِّي إِلَى أَنَّ النَّاسَ يَتَسَاهَلُونَ فِي الْمَعْصِيَةِ، وَيَقِلُّ عِنْدَهُمُ الرَّغْبَةُ فِي الْخَيْرِ، وَيَتَصَوَّرُونَ أَنَّ الشَّرَّ كَثِيرٌ، وَهَذَا لَيْسَ بِصَحِيحٍ

​فَإِذَا مَثَلًا جَاءَ أَحَدٌ وَقَالَ: «وَاللهِ انْتَشَرَ الْفَسَادُ وَصَارَ فِيهِ كَذَا وَكَذَا وَكَذَا»، وَجَاءَ النَّظَرُ فِيهِ وَفْقَ التَّقْيِيمِ الصَّحِيحِ، وَجَدْتَ أَنَّهُ لَا يَتَعَدَّى خَمْسَةً بِالْمِئَةِ، عَشَرَةً بِالْمِئَةِ، خَمْسَةَ عَشَرَ بِالْمِئَةِ، عِشْرِينَ بِالْمِئَةِ فِي مُجْتَمَعِنَا مَثَلًا. لَكِنْ هَلْ هَذَا صَارَ هُوَ الْغَالِبَ؟ لَا، لَكِنْ إِذَا صَارَ الْمَنْهَجُ غَيْرَ صَحِيحٍ، فَإِنَّهُ حِينَئِذٍ تُنْظَرُ لِلسَّلْبِيَّاتِ وَتُضَخَّمُ، وَلِلْحَسَنَاتِ فَتُضْعَفُ، وَبِالتَّالِي يَكْثُرُ الْفَسَادُ شَيْئًا فَشَيْئًا

​وَالْوَاجِبُ أَنْ يَكُونَ مَنْهَجُنَا فِي التَّفْكِيرِ قَائِمًا عَلَى إِبْرَازِ الْحَسَنَاتِ وَعَلَى ذِكْرِهَا، وَأَنْ نَحْذَرَ مِنْ قَوْلِ: «فَسَدَ النَّاسُ»، أَوْ «الْأُمُورُ صَارَتْ فَاسِدَةً»، أَوْ «الْبَلَاءُ فِي كَذَا»، «الْعُلَمَاءُ فِيهِمْ»، «الدَّوْلَةُ هُنَا فِيهَا»، «النَّاسُ فِيهِمْ»، «فَسَدَ بَيْتُ آلِ فُلَانٍ»، «فِيكَ كَذَا»، وَهَؤُلَاءِ عَمِلُوا كَذَا… هَذَا يَنْشُرُ الْفَسَادَ شَيْئًا فَشَيْئًا

​أَمَّا إِذَا تَعَاوَنْتَ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى فَأَكْثَرْتَ مِنَ الْحَسَنَاتِ، وَجَعَلْتَ السَّيِّئَاتِ تَقِلُّ حَتَّى بِالذِّكْرِ، فَإِنَّهُ حِينَئِذٍ يَزِيدُ الْخَيْرُ. وَالْلَحْظُ هُنَا أَنَّ مِنْ مَظَاهِرِ زِيَادَةِ السُّوءِ وَالْفَسَادِ شَيْئًا فَشَيْئًا فِي النَّاسِ التَّحَدُّثَ بِهِ؛ يَتَحَدَّثُ الْمَرْءُ بِهِ رُبَّمَا عِنْدَ أَوْلَادِهِ، أَوْ عِنْدَ فُلَانَةَ: «فِيهَا كَذَا»، وَ«هَذِهِ عَمِلَتْ كَذَا»، وَ«هَذَا فُلَانٌ عَمِلَ كَذَا»… يُغْرِيهِمْ، يُغْرِيهِمْ وَيُسَهِّلُ عَلَيْهِمْ كَثِيرًا مِنَ الْأُمُورِ

​فَإِذَنْ مِنْ مَنْهَجِنَا فِي التَّفْكِيرِ الصَّحِيحِ أَنْ نُظْهِرَ الْحَسَنَاتِ وَنُبْرِزَهَا وَنُكْثِرَ مِنَ الْحَدِيثِ عَنْهَا؛ لِأَنَّهَا تَشْرَحُ النَّفْسَ وَتُرَغِّبُ وَتَجْعَلُ النَّاسَ يَسِيرُونَ فِيهَا، وَنُخْفِي السَّيِّئَاتِ وَنُخْفِي آثَارَهَا

​لَكِنْ هَذَا لَا يَعْنِي أَنْ نَتَعَامَلَ مَعَ السُّوءِ [بِغَيْرِ] الْقَوَاعِدِ الشَّرْعِيَّةِ؛ إِذَا كَانَ مُقْتَضَى النَّصِيحَةِ فَنَنْصَحُ، مُقْتَضَى الْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ نَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَنَنَهَى عَنِ الْمُنْكَرِ وَفْقَ ضَوَابِطِ الشَّرِيعَةِ، مُقْتَضَى عَمَلٍ مَا نَعْمَلُ بِهِ. إِذَنْ فَهُنَاكَ نَظَرٌ صَحِيحٌ فِي النَّظْرَةِ لِلْحَسَنَاتِ وَلِلسَّيِّئَاتِ

مصدر: صالح بن عبد العزيز آل الشيخ، “إظهار الحسنات منهج في التفكير الصحيح”، مقطع فيديو على يوتيوب، قناة تراث الشيخ صالح آل الشيخ، ١٧ أغسطس ٢٠٢٦م

Penerjemah: Abu Utsman Kharisman