Beranda » Latest » Artikel » Manhaj » Kapan Seorang Penuntut Ilmu Berhak Bicara? Menyelami Fatwa Syaikh Rabi’ tentang Batasan Tahdzir

Kapan Seorang Penuntut Ilmu Berhak Bicara? Menyelami Fatwa Syaikh Rabi’ tentang Batasan Tahdzir

0
balloon-1014411_1280

Pertanyaan:

Sebagian orang berlebih-lebihan dalam membungkam orang-orang yang melakukan tahdzir (peringatan) terhadap para pelaku bid’ah, dan mereka berkata: “Sesungguhnya ini adalah pekerjaan para ulama”.

Jawaban Syaikh Robi’ bin Hadi al-Madkhaliy rahimahullah:

Bagaimana pun juga, mereka ini telah bersikap sangat berlebihan dalam membungkam penuntut ilmu, sebuah sikap berlebihan yang keras dan menyerupai teror, serta menyumbat mulut para pemuda dengan batu agar mereka tidak mengatakan kebenaran tentang Ahlul Bid’ah. Mereka melakukan ghuluw (melampaui batas) dalam masalah ini.

Saat ini, ada masalah-masalah yang sifatnya tersembunyi; seorang penuntut ilmu, kamu tidak boleh membicarakannya tanpa ilmu. Namun, ada pula perkara-perkara yang jelas dan terang, seperti wajibnya zakat, wajibnya haji, haramnya istighatsah (meminta pertolongan kepada selain Allah), dan haramnya tawasul. Perkara-perkara ini sangat jelas, bisa dibicarakan oleh seorang alim maupun penuntut ilmu.

Adapun perkara-perkara tersembunyi yang membutuhkan ijtihad, maka ini diserahkan kepada para ulama. Apakah segala hal harus ditanyakan kepada ulama? Baik, Syaikh Bin Baz, Syaikh Ibnu Utsaimin, Syaikh Al-Albani, dan para ulama mu’tabar lainnya tidak pergi ke Eropa dan Amerika. Cukuplah di sana ada para penuntut ilmu yang berbicara sesuai dengan batas ilmu yang mereka ketahui.

Adapun masalah-masalah kontemporer (nawazil), maka mereka harus bertanya kepada para ulama melalui sarana-sarana yang tersedia saat ini. Setiap orang menyampaikan apa yang ia miliki.

Jika engkau ditanya tentang perkara-perkara yang samar bagimu, maka katakanlah: “Demi Allah, ini adalah perkara yang samar dan membutuhkan ulama yang lebih besar dariku, aku akan bertanya terlebih dahulu.”

Adapun perkara-perkara yang jelas, maka jelaskanlah dengan syarat engkau berilmu tentangnya serta mengetahui dalil-dalilnya. Jangan berbicara atas dasar kebodohan. Sekalipun perkara itu jelas, jika engkau tidak memiliki dalil, maka jangan membicarakannya. Jika perkara itu jelas dan engkau memiliki dalil, maka bicarakanlah dan jelaskanlah.

Ada perkara-perkara yang diketahui dari agama secara dharuri (pasti), yang boleh dibicarakan oleh para penuntut ilmu—yaitu seperti perbuatan istighatsah kepada selain Allah, yang merupakan perkara yang jelas, sebagaimana firman Allah Ta’ala (yang artinya) : {“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah selain Allah yang tidak dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari kiamat…”} (QS. Al-Ahqaf: 5)

Dan firman-Nya (yang artinya) : {“Dan janganlah engkau menyembah apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudarat kepadamu…”} (QS. Yunus: 106) dan seterusnya.

Jika ia memiliki dalil, maka ia menjelaskannya.

Ketika ia melihat seorang Syiah atau seorang Sufi yang bertawaf di kuburan, beristighatsah, menyembelih, dan bernadzar, apakah ia harus berkata: “Aku akan diam dari menjelaskan kebatilan ini dan memperingatkan darinya, serta menunggu hingga datang salah seorang ulama besar untuk melaksanakan kewajiban ini?”

Aku berkata: Sesungguhnya mereka itu ingin membungkam para pemuda Salafi khususnya; karena orang yang paling banyak mengingkari kemungkaran dan berdiri menentang kebatilan adalah para pemuda Salafi, sebagaimana yang kalian lihat.

Orang-orang politisi ini bersimpati kepada orang-orang Rafidhah (Syiah), Khawarij, dan seluruh Ahlul Bid’ah. Mereka tidak ingin perasaan kelompok-kelompok tersebut terluka, sehingga mereka datang dengan ucapan seperti ini dengan berkata: “Tidak ada yang boleh berbicara tentang hal ini kecuali para ulama! Bahkan anak-anak pun ikut berbicara! Bahkan orang yang tidak becus membaca surah Al-Fatihah pun ikut berbicara!”

Mereka berlebih-lebihan dalam mencemarkan nama baik para pemuda Salafi. Semua ini adalah bentuk pembelaan terhadap Ahlul Bid’ah, penyesatan dari jalan Allah, serta teror terhadap para pemuda Salafi yang mendedikasikan diri untuk berdakwah kepada Allah, amar ma’ruf nahi mungkar.

Dan kita katakan kepada para pemuda Salafi: Wahai saudara-saudaraku, janganlah kalian berbicara tanpa ilmu. Masalah-masalah jelas yang ada pada kalian dan kalian memiliki dalil tentangnya, maka bicarakanlah. Adapun hal-hal yang tersembunyi, maka tidak halal bagi kalian untuk mencampurinya. Kita katakan hal ini kepada mereka, kemudian kita katakan: Berdakwahlah kepada Allah, masing-masing orang berdakwah sesuai dengan kadar ilmu yang ia miliki. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda (yang artinya) : “Sampaikanlah dariku walau satu ayat.”

Sumber: Aunul Baariy bi Bayaani Maa Tadhommanahu Syarhus Sunnah lil Imam al-Barbahary 1/403-405

Naskah dalam Bahasa Arab

السؤال: بَعْضُ النَّاسِ يُبَالِغُونَ فِي إِسْكَاتِ الْمُحَذِّرِينَ مِنَ الْمُبْتَدِعَةِ، وَيَقُولُونَ: إِنَّ هَذَا عَمَلُ الْعُلَمَاءِ

أجاب عنه الشيخ ربيع بن هادي المدخلي رحمه الله تعالى: عَلَى كُلِّ حَالٍ هَؤُلَاءِ غَلَوْا فِي إِسْكَاتِ طَالِبِ الْعِلْمِ، غُلُوًّا جِدًّا، وَكَلَامٌ فِيهِ إِرْهَابٌ، وَإِلْقَامُ الشَّبَابِ أَحْجَارًا فِي أَفْوَاهِهِمْ؛ لِيَمْنَعُوهُمْ مِنْ قَوْلِ الْحَقِّ فِي أَهْلِ الْبِدَعِ، بِالْغُوَا فِي هَذِهِ الْأَشْيَاءِ، الْآنَ فِيهِ مَسَائِلُ خَفِيَّةٌ، أَنْتَ طَالِبُ الْعِلْمِ لَا تَتَكَلَّمُ فِيهَا بِغَيْرِ عِلْمٍ، وَهُنَاكَ أُمُورٌ وَاضِحَةٌ جَلِيَّةٌ، وُجُوبُ الزَّكَاةِ، وُجُوبُ الْحَجِّ، تَحْرِيمُ الِاسْتِغَاثَةِ، تَحْرِيمُ التَّوَسُّلِ، هَذِهِ الْأُمُورُ وِاضِحَةٌ، يَتَكَلَّمُ فِيهَا الْعَالِمُ وَطَالِبُ الْعِلْمِ، وَهُنَاكَ أُمُورٌ خَفِيَّةٌ تَحْتَاجُ إِلَى اجْتِهَادٍ، هَذِهِ تُوكَلُ إِلَى الْعُلَمَاءِ، أَمَّا كُلُّ شَيْءٍ! طَيِّبٌ ابْنُ بَازٍ وَابْنُ عُثَيْمِينَ وَالْأَلْبَانِيُّ وَغَيْرُهُم مِنَ الْعُلَمَاءِ الْمُعْتَبَرِينَ لَا يَذْهَبُونَ إِلَى أُورُبَّا وَأَمْرِيكَا، يَكْفِيهِمْ هُنَاكَ طُلَّابُ الْعِلْمِ، يَتَكَلَّمُونَ فِي حُدُودِ مَا يَعْلَمُونَ، أَمَّا النَّوَازِلُ فَلَا بُدَّ أَنْ يَسْأَلُوا عَنْهَا الْعُلَمَاءَ عَنْ طَرِيقِ الْوَسَائِلِ الْمُتَاحَةِ الْيَوْمَ، فَكُلُّ وَاحِدٍ يَبْلُغُ الَّذِي عِنْدَهُ، إِذَا سَأَلُوكَ فِي أُمُورٍ تَخْفَى عَلَيْكَ فَقُلْ: وَاللَّهُ هَذِهِ خَفِيَّةٌ وَتَحْتَاجُ إِلَى عُلَمَاءِ أَكْبَرَ مِنِّي، أَنَا أَسْأَلُ، أَمَّا الْأُمُورُ الْوَاضِحَةُ فَبَيِّنْهَا بِشَرْطِ أَنْ تَكُونَ عَالِماً بِهَا وَبِأَدِلَّتِهَا، لَا تَتَكَلَّمْ بِجَهْلٍ، إِذَا كَانَ -حَتَّى الْأُمُورُ وَاضِحَةً- مَا عِنْدَكَ أَدِلَّةٌ -مَا عِنْدَكَ أَدِلَّةٌ لَا تَتَكَلَّمْ بِهَا، إِذَا كَانَتِ الْأُمُورُ وَاضِحَةً وَعِنْدَكَ أَدِلَّةٌ تَتَكَلَّمُ وَتَبَيَّنُ، هُنَاكَ أُمُورٌ مَعْلُومَةٌ مِنَ الدِّينِ بِالضَّرُورَةِ يَتَكَلَّمُ فِيهَا طُلَّابُ الْعِلْمِ، يَعْنِي مِثْلَ الِاسْتِغَاثَةِ بِغَيْرِ اللَّهِ مِنَ الْأُمُورِ الْوَاضِحَةِ ﴿وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ﴾ [الأحقاف: 5] ﴿وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ﴾ [يونس: 106] إِلَى آخِرِهِ، عِنْدَهُ أَدِلَّةٌ يُبَيِّنُ، رَأَى شِيعِيًّا رَأَى صُوفِيًّا يَطُوفُ بِقَبْرٍ، يَسْتَغِيثُ، يَذْبَحُ، يَنْذُرُ، هَلْ يَقُولُ: أَنَا أَتَوَقَّفُ عَنْ بَيَانِ هَذَا الْبَاطِلِ وَالتَّحْذِيرِ مِنْهُ، وَأَنْتَظِرُ حَتَّى يَأْتِيَ أَحَدُ كِبَارِ الْعُلَمَاءِ لِيَقُومَ بِهَذَا الْوَاجِبِ؟

أَقُولُ: إِنَّ هَؤُلَاءِ يُرِيدُونَ أَنْ يَسْكُتُوا الشَّبَابَ السَّلَفِيَّ خَاصَّةً؛ لِأَنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ إِنْكَارًا لِلْمُنْكَرِ وَوُقُوفًا فِي وَجْهِ الْبَاطِلِ هُمُ الشَّبَابُ السَّلَفِيُّ، رَأَيْتُمْ

هَؤُلَاءِ السِّيَاسِيُّونَ يَتَعَاطَفُونَ مَعَ الرَّوَافِضِ، مَعَ الْخَوَارِجِ، مَعَ أَهْلِ الْبِدَعِ كُلِّهِمْ، لَا يُرِيدُونَ أَنْ تَجْرَحَ مَشَاعِرَهُمْ، فَيَأْتُونَ بِمِثْلِ هَذَا الْكَلَامِ يَقُولُونَ: مَا يَتَكَلَّمُ بِهِ إِلَّا الْعُلَمَاءُ! حَتَّى الْأَطْفَالُ يَتَكَلَّمُونَ! حَتَّى الَّذِي لَا يُحْسِنُ الْفَاتِحَةَ يَتَكَلَّمُ! وَيُبَالِغُونَ فِي تَشْوِيهِ الشَّبَابِ السَّلَفِيِّ، كُلُّ هَذَا مُحَامَاةٌ عَنْ أَهْلِ الْبِدَعِ، وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ، وَإِرْهَابٌ لِلشَّبَابِ السَّلَفِيِّ الَّذِي يَتَصَدَّى لِلدَّعْوَةِ إِلَى اللَّهِ وَالْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ

وَنَحْنُ نَقُولُ لِلشَّبَابِ السَّلَفِيِّ: أَنْتُمْ يَا إِخْوَتَاهُ لَا تَتَكَلَّمُوا بِغَيْرِ عِلْمٍ، الْقَضَايَا الْوَاضِحَةُ عِنْدَكُمُ الَّتِي عِنْدَكُمْ فِيهَا أَدِلَّةٌ تَكَلَّمُوا فِيهَا، وَالْأَشْيَاءُ الْخَفِيَّةُ لَا يَجُوزُ لَكُمْ أَنْ تَخُوضُوا فِيهَا، نَقُولُ لَهُمْ هَذَا، ثُمَّ نَقُولُ: ادْعُوا إِلَى اللَّهِ، كُلُّ وَاحِدٍ يَدْعُو بِقَدْرِ مَا عِنْدَهُ مِنَ الْعِلْمِ، وَيَقُولُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

عون الباري ببيان ما تضمنه شرح السنة للإمام البربهاري ١\٤٠٣-٤٠٥

Penerjemah: Abu Utsman Kharisman