Kisah Hijrah Umar Bersama Dua Rekannya yang Merekam Persahabatan Indah, Pengorbanan, dan Luasnya Ampunan

Malam-malam mencekam di Makkah, tatkala gelombang siksaan kaum Quraisy semakin menjadi-jadi. Iman adalah cahaya anugerah yang harus diselamatkan. Di tengah malam gulita itu, tiga orang lelaki sahabat Nabi—Umar bin al-Khaththab, ‘Ayyasy bin Abi Rabi’ah, dan Hisyam bin al-Ash—berbisik merajut sebuah janji suci: hijrah meninggalkan kota kelahiran demi mempertahankan akidah menuju Madinah.
Mereka sepakat menentukan titik temu rahasia: Mi-dha-ah Bani Ghifar, sebuah tempat air di atas wilayah Sarif.
“Barang siapa di antara kita yang tidak tiba dan mendapati pagi di tempat ini, itu tandanya ia tertahan atau terhalang. Maka, biarlah dua sahabatnya yang lain tetap melanjutkan perjalanan tanpa menunggunya,” pesan Umar penuh ketegasan.
Fajar menyingsing. Umar dan ‘Ayyasy benar bisa berada di tempat yg disepakati. Namun, batang hidung Hisyam bin al-Ash tak kunjung menampakkan wujud. Ia tertahan di Makkah, terbelenggu oleh cengkeraman keluarganya sendiri.
Umar dan ‘Ayyasy akhirnya melanjutkan langkah hingga tiba di Madinah, menumpang di perkampungan Bani Amr bin Auf di Quba.
Air Mata Ibu dan Jerat Rindu yang Mematikan
Namun, kisah dramatis sesungguhnya baru saja dimulai di Makkah. Dua orang yang masih ada hubungan kekerabatan dengan ‘Ayyasy—yakni Abu Jahal bin Hisyam dan Al-Harits bin Hisyam—tidak tinggal diam. Mereka melacak keberadaan ‘Ayyasy bin Abi Rabi’ah (yang masih memiliki hubungan kekerabatan sebagai sepupu dan saudara seibu dengan mereka).
Keduanya bergegas menyusul ‘Ayyasy hingga ke Madinah. Dengan siasat psikologis yang memilukan, mereka membawakan pesan bernada iba:”Wahai ‘Ayyasy! Sungguh, ibumu telah bersumpah dalam nazarnya. Ia tidak akan biarkan kepalanya dinaungi oleh atap atau naungan apa pun, dan ia mengharamkan air menyentuh kepalanya untuk disisir atau dibasuh, sampai ia bisa melihat wajahmu lagi!”
Hati ‘Ayyasy mendadak luluh. Perasaan bakti seorang anak bergejolak hebat di dadanya.
Melihat kegalauan itu, Umar bin al-Khaththab—dengan ketajaman mata hatinya—langsung mendekat dan memperingatkan dengan nada keras: “Wahai ‘Ayyasy! Demi Allah, mereka tidak ingin apa-apa selain merusak agamamu dan menarikmu kembali pada kekafiran! Waspadalah terhadap tipu daya mereka! Demi Allah, jika kutu rambut ibumu sudah terlalu banyak menyiksanya, ia pasti akan menyisir rambutnya sendiri. Dan jika panasnya terik Makkah menyengatnya, ia pasti akan mencari naungan!”
‘Ayyasy terdiam. Namun bayangan wajah ibunya yang merana meruntuhkan pertahanannya. “Aku punya harta di sana, aku hanya ingin mengambilnya,” kilah ‘Ayyasy.
Melihat tekad ‘Ayyasy yang mulai goyah, Umar menawarkan sebagian hartanya demi mencegah sang sahabat kembali ke jurang bahaya:”Demi Allah, wahai ‘Ayyasy, engkau tahu aku adalah salah seorang Quraisy yang paling banyak hartanya. Ambil separuh hartaku! Asalkan engkau tidak pergi bersama mereka!”
Sayang, ‘Ayyasy menolak. Ia tetap berkeras ingin pulang sejenak.
Melihat sahabatnya sudah bulat tekadnya, Umar mengalah dengan memberikan perlindungan terakhir. “Baiklah! Jika engkau tetap memilih pergi, ambillah untaku ini! Ia adalah unta yang jinak dan tenang. Tetaplah berada di punggungnya. Jika engkau merasakan gelagat buruk atau tipu daya dari mereka, segera larilah menyelamatkan diri di atasnya!”
Pengkhianatan di Tengah Padang Pasir
‘Ayyasy berangkat menunggangi unta pemberian Umar bersama Abu Jahal dan Al-Harits. Perjalanan pun membentang sunyi di tengah padang pasir.
Hingga di tengah jalan yang sepi, Abu Jahal tiba-tiba berhenti dan berkata dengan senyum penuh muslihat: “Demi Allah, untaku ini jalannya lambat dan melelahkan. Tidakkah engkau mau memboncengku atau membiarkanku menumpang di atas untamu yang tangguh ini?”
Tanpa curiga, ‘Ayyasy menjawab, “Tentu, silakan.”
Ia pun menderumkan untanya. Abu Jahal dan Al-Harits ikut turun. Namun, seketika ‘Ayyasy turun untuk mempersiapkan perpindahan, kedua orang itu berbalik menyerangnya secara serentak! Mereka melumpuhkannya, mengikatnya dengan tali pengikat yang kuat, lalu menyeretnya kembali masuk ke kota Makkah dalam keadaan terhina. Di sana, mereka menyiksa dan memaksanya meninggalkan Islam hingga ‘Ayyasy sempat goyah (terfitnah).
Keputusasaan yang Berubah Menjadi Harapan Abadi
Di Madinah, berita itu sampai kepada para sahabat. Umar dan kaum muslimin lainnya diliputi rasa geram sekaligus kepedihan yang mendalam. Di masa-masa awal Islam itu, pandangan para sahabat terhadap orang yang sempat murtad karena tersiksa sangatlah keras. Umar berkata dengan nada berat:”Demi Allah, Allah tidak akan pernah menerima tobat dari orang yang telah terfitnah (murtad), dan tidak pula diterima amalnya. Bagaimana bisa mereka mengenal Allah, lalu kembali kepada kekafiran hanya karena cobaan dunia?”
Bahkan, ‘Ayyasy dan Hisyam pun meratapi nasib mereka sendiri dengan keputusasaan yang sama, mengira pintu ampunan telah tertutup rapat bagi mereka.
Hingga akhirnya, rahmat Allah Yang Maha Luas menyapa bumi. Allah Ta’ala menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pelipur lara bagi jiwa-jiwa yang nyaris tenggelam dalam penyesalan:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Katakanlah: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Az-Zumar: 53]
Begitu ayat itu turun, Umar bin al-Khaththab tidak menyia-nyiakan waktu. Dengan tangan yang bergetar karena terharu, ia segera menuliskan ayat penuh cinta dan pengampunan itu pada sebuah lembaran kulit, lalu mengutus seseorang untuk membawakannya khusus kepada Hisyam bin al-Ash di Makkah.
Hisyam berkisah: “Ketetapan itu sampai kepadaku. Aku terus membaca lembaran itu sambil mendaki bukit Dzi Thuwa berulang-ulang, hingga aku benar-benar meresapi maknanya. Hatiku bergemuruh, seolah Allah sedang memanggilku secara langsung. Seketika itu pula, kutunggangi untaku, aku melesat meninggalkan Makkah, dan aku menyusul Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah!”
Sebuah kisah nyata tentang persahabatan yang tulus, kepedulian seorang Umar yang melampaui batas harta, ujian iman yang berat, serta luasnya ampunan Allah Ta’ala yang mendekap kembali jiwa-jiwa yang hampir tersesat di tengah badai gurun dan bujuk rayu dunia.
Penulis: Abu Utsman Kharisman
Sumber:
- Musnad al-Bazzar riwayat hadits nomor 155 yang dinilai para perawinya adalah terpercaya oleh al-Haitsamiy
- Al-Ahaadiits al-Mukhtaaroh karya Dhiya-ud Dien al-Maqdisiy nomor riwayat 214

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.