Beruntunglah Orang yang Dalam Catatan Amalnya Terdapat Banyak Istighfar

Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda:
طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا
Beruntunglah bagi orang yang mendapati dalam catatan (kebaikannya) istighfar yang banyak (H.R Ibnu Majah dari Abdullah bin Busr, dihasankan oleh Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’iy dalam as-Shahihul Musnad mimmaa Laysa fis Shahihayn)
Aisyah radhiyallahu anha menyatakan:
طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا
Beruntunglah bagi orang yang mendapati dalam catatan (kebaikannya) istighfar yang banyak (riwayat al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iman, dinilai oleh al-Baihaqiy shahih mauquf)
Abu Hurairah radhiyallahu anhu menyatakan:
إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ كُلَّ يَوْمٍ اثْنَيْ عَشَرَ أَلْفِ مَرَّةً، وَذَلِكَ عَلَى قَدْرِ دِيَتِي
Sesungguhnya aku benar-benar beristighfar memohon ampunan Allah dan bertobat kepada-Nya sebanyak 12 ribu kali setiap hari. Yang demikian itu sesuai dengan kadar diyatku (riwayat Abu Nuaim dalam Hilyatul Awliyaa’ dengan sanad yang jayyid)
Abul Minhaal rahimahullah (seorang Ulama pada generasi Tabiin) menyatakan:
مَا جَاوَرَ عَبْدٌ فِي قَبْرِهِ مِنْ جَارٍ خَيْرٍ مِنِ اسْتِغْفَارٍ كَثِيرٍ
Tidak ada jiran (tetangga) yang mendampingi seorang hamba di dalam kuburnya yang lebih baik daripada istighfar yang banyak (riwayat al-Imam Ahmad dalam az-Zuhud)
As-Shon’aaniy rahimahullah menjelaskan makna hadits di atas: “(Beruntunglah bagi orang yang mendapati di dalam lembaran catatannya)” pada hari catatan tersebut diberikan kepadanya di hari kiamat “(istighfar yang banyak)” karena sesungguhnya ia akan mendapatinya saat ia sangat membutuhkannya dan berada dalam fakir/kesulitan. Dikatakan: ‘Mengapa beliau (Nabi ﷺ) tidak bersabda “bagi orang yang banyak beristighfar”?’ Hal itu karena dengan dijumpainya istighfar tersebut di dalam lembaran catatannya, itu menunjukkan bahwa ia telah mengikhlaskannya karena Allah, sehingga (amalan tersebut diterima dan) dicatat dalam lembaran-lembaran amal perbuatannya. (atTanwiir Syarh al-Jami’ ash-Shaghir 7/160)
Penulis: Abu Utsman Kharisman

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.