Kapankah Setiap Langkah Kaki Menuju Shalat Jumat Bernilai Amalan Pahala Puasa dan Qiyamul Lail Setahun?

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ، ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ، وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ، وَدَنَا مِنَ الْإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا
Barang siapa yang mencuci rambut/menyebabkan istrinya mandi pada hari Jumat dan mandi, kemudian berangkat awal, berjalan kaki tidak berkendara, mendekat pada imam dan menyimak (khotbah dengan seksama), tidak berbuat hal yang sia-sia maka setiap langkah kakinya adalah bernilai pahala puasa dan qiyamul lail setahun (H.R Abu Dawud, dishahihkan Syaikh al-Albaniy)
Asy-Syaukaaniy rahimahullah menyatakan:
Hadits ini dinyatakan hasan oleh at-Tirmidzi, dan didiamkan (tidak dikomentari/diakui) oleh Abu Dawud serta al-Mundziri. Terjadi perbedaan pendapat mengenai periwayatannya dari Abu al-Asy’ats, dari Abdurrahman bin Yazid, dan dari Abdullah bin al-Mubarak.
At-Thabrani juga meriwayatkannya dengan sanad yang menurut al-Iraqi berstatus hasan dari Aus yang disebutkan. Imam Ahmad pun meriwayatkannya dalam Musnad-nya dari Aus, dari Abdullah bin ‘Amru, dari Nabi shollallahu alaihi wasallam.
Mengenai sabda beliau (غسل – Ghasala): diriwayatkan dengan tanpa tasydid (ghasala) dan dengan tasydid (ghassala). Ada beberapa pendapat mengenai maknanya:
• Pendapat Pertama: Maksudnya adalah mencuci kepalanya, sedangkan Ightasala berarti membasuh seluruh anggota tubuhnya.
• Pendapat Kedua: Bermakna ia menyetubuhi istrinya sehingga mewajibkan mandi bagi sang istri. Seolah-olah ia “memandikan” istrinya dan ia sendiri mandi untuk dirinya.
• Pendapat Ketiga: Kata tersebut diulang hanya untuk penekanan (taukid).
Tafsir pertama dikuatkan oleh riwayat Abu Dawud dalam hadits ini dengan redaksi: “Barang siapa yang mencuci kepalanya dan mandi.” Juga diperkuat oleh riwayat al-Bukhari dari Thawus yang berkata kepada Ibnu Abbas: “Mereka menyebutkan bahwa Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Mandilah kalian dan cucilah kepala kalian.'”
Selain itu, penulis kitab al-Muhkam menyatakan bahwa ghasala imra’atahu berarti sering menyetubuhinya. Az-Zamakhsyari juga menyebutkan bahwa ghasala al-mar’ah (baik dengan atau tanpa tasydid) berarti menyetubuhinya; hal serupa dikemukakan oleh penulis an-Nihayah dan lainnya. Ada pula yang berpendapat maksudnya adalah mencuci anggota wudu, lalu mandi untuk Jumat, atau mencuci pakaiannya lalu mandi untuk tubuhnya.
Mengenai sabda beliau (بكر – Bakkara): dengan tasydid menurut pendapat yang masyhur.
• Bakkara: Berangkat di awal waktu.
• Ibtakara: Mendapatkan bagian awal khotbah.
Pendapat ini dikuatkan oleh al-Iraqi. Namun, ada pula yang berpendapat bahwa pengulangan kata tersebut hanyalah untuk penekanan (taukid), dan pendapat inilah yang ditegaskan oleh Ibnu al-Arabi.
Hadits ini menunjukkan:
1. Masyru’nya (disyariatkannya) mandi pada hari Jumat, yang mana perbedaan pendapat mengenai hukumnya telah dijelaskan sebelumnya.
2. Anjuran untuk berangkat pagi-pagi (segera/ di awal waktu).
3. Anjuran untuk berjalan kaki.
4. Anjuran untuk mendekat kepada Imam.
5. Anjuran untuk mendengarkan khotbah dan meninggalkan perbuatan sia-sia.
Sesungguhnya menggabungkan perkara-perkara ini merupakan sebab untuk mendapatkan pahala yang sangat besar tersebut.
(Nailul Authar 1/295-296)
Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah menyatakan:
Adapun hadits pertama:
“Barang siapa yang mandi (ghassala) dan mandi (ightasala), berangkat awal (bakkara) dan segera (ibtakara), mendekat kepada imam, mendengarkan khotbah dan tidak berbuat sia-sia; maka baginya setiap langkah pahala amal satu tahun, baik pahala puasa maupun salat malamnya.”
Hadits ini dari sisi sanad tidak mengapa dan tidak ada celah untuk mencelanya. Namun, dari sisi besarnya pahala yang dijanjikan, sebagian orang mungkin merasa heran. Akan tetapi, wahai saudaraku, janganlah engkau merasa heran terhadap karunia Allah Azza wa Jalla. Terkadang suatu amalan itu sedikit namun memiliki pahala yang banyak, dan karunia Allah Ta’ala itu sangatlah luas.
Apa makna “Ghassala wa Ightasala”? Maknanya adalah membersihkan tubuh secara menyeluruh (ghassala), dan mandi dengan bersungguh-sungguh (ightasala), atau mandi seperti mandi janabah. “Bakkara wa Ibtakara” artinya bersungguh-sungguh dalam berangkat di awal waktu. “Dana minal Imam” (Mendekat kepada imam) sudah jelas maknanya. “Wastama’a wa lam yalghu” (Mendengar dan tidak berbuat sia-sia) juga sudah jelas.
Maka bersungguh-sungguhlah wahai saudaraku untuk mandi pada hari Jumat, karena mandi Jumat itu wajib bagi setiap orang yang sudah balig. Dalil kewajibannya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam:
“Mandi Jumat itu wajib bagi setiap orang yang sudah bermimpi (balig).” Hadits ini dikeluarkan oleh tujuh imam (al-Bukhari, Abu Dawud, Muslim, an-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Imam Ahmad), mereka semua meriwayatkannya. Ini adalah perkataan Rasulullah ‘alaihis shalatu was salam.
Apakah kalian menemukan seseorang yang lebih tahu tentang syariat Allah daripada Rasulullah? Tidak. Apakah kalian menemukan seseorang yang lebih tulus menasihati hamba Allah daripada Rasulullah? Tidak. Apakah kalian menemukan seseorang yang lebih fasih dalam mengungkapkan maksud hatinya daripada Rasulullah? Tidak.
Seluruh makhluk tidak ada yang mendekati Rasulullah ‘alaihis shalatu was salam dalam hal ini. Apakah kalian menemukan seseorang yang lebih sadar akan apa yang diucapkannya daripada beliau? Tidak pernah. Beliau telah bersabda: “Mandi Jumat itu wajib,” kemudian beliau mengaitkannya dengan sifat yang menuntut konsekuensi hukum yaitu balig, dengan bersabda: “bagi setiap orang yang sudah bermimpi (balig).”
Aku yakin, seandainya kalimat ini muncul dalam kitab fikih manapun, niscaya para pensyarah akan berkata: “Penulis berpendapat bahwa mandi itu wajib.” Lantas bagaimana lagi jika kalimat ini datang langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?!
Jika engkau sudah mandi, berusahalah untuk bersegera berangkat di waktu pertama, kedua, ketiga, keempat, lalu kelima.
“Barangsiapa datang di waktu pertama seolah berkurban unta, waktu kedua seolah berkurban sapi, waktu ketiga seolah berkurban domba bertanduk, waktu keempat seolah berkurban ayam, dan waktu kelima seolah berkurban sebutir telur.”
Awal perhitungan waktu ini dimulai dari terbitnya matahari. Bagilah durasi antara terbit matahari hingga datangnya imam ke dalam lima bagian waktu, baik durasi tersebut panjang maupun pendek; karena waktu itu berbeda-beda antara musim dingin dan musim panas.
(al-Liqa’ asy-Syahriy 74/6)
Naskah dalam Bahasa Arab
مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ، ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ، وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ، وَدَنَا مِنَ الْإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا (رواه الترمذي وصححه الألباني)
قال الشوكاني رحمه الله تعالى في نيل الأوطار:
الحديث حسنه الترمذي، وسكت عليه أبو داود والمنذري، وقد اختلف فيه على أبي الأشعث، وعلى عبد الرحمن بن يزيد، وعلى عبد الله بن المبارك، وقد رواه الطبراني بإسناد، قال العراقي: حسن عن أوس المذكور، ورواه أحمد في مسنده عنه عن عبد الله بن عمرو عن النبي – صلى الله عليه وسلم -.
قوله: (غسل) روي بالتخفيف والتشديد، قيل أراد غسل رأسه، واغتسل أي غسل سائر بدنه، وقيل: جامع زوجته فأوجب عليها الغسل، فكأنه غسلها واغتسل في نفسه، وقيل: كرر ذلك للتأكيد، ويرجح التفسير الأول ما في رواية أبي داود في هذا الحديث بلفظ: «من غسل رأسه واغتسل» ، وما في البخاري عن طاوس قال: قلت لابن عباس: ذكروا أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: «اغتسلوا واغسلوا رءوسكم» الحديث، وقال صاحب المحكم: غسل امرأته يغسلها غسلا أكثر نكاحها. وقال الزمخشري ويقال: غسل المرأة بالتخفيف والتشديد إذا جامعها، وحكاه صاحب النهاية وغيره أيضا، وقيل: المراد غسل أعضاء الوضوء، واغتسل للجمعة، وقيل: غسل ثيابه واغتسل لجسده.
قوله: (بكر) بالتشديد على المشهور، أي راح في أول الوقت وابتكر أي أدرك أول الخطبة، ورجحه العراقي، وقيل: كرره للتأكيد.
وبه جزم ابن العربي والحديث يدل على مشروعية الغسل يوم الجمعة وقد تقدم الخلاف فيه، وعلى مشروعية التبكير، والمشي والدنو من الإمام، والاستماع وترك اللغو، وإن الجمع بين هذه الأمور سبب لاستحقاق ذلك الثواب الجزيل
قال الشيخ محمد بن صالح العثيمين رحمه الله تعالى في اللقاء الشهري:
أما الحديث الأول: (من غسَّل واغتسل، وبكر وابتكر، ودنا من الإمام واستمع ولم يلغ؛ كان له بكل خطوة عمل سنة أجر صيامها وقيامها) الحديث من حيث الإسناد لا بأس به ولا مطعن فيه، لكن من حيث ترتب الثواب العظيم على ذلك قد يستغربه بعض الناس، ولكن -يا أخي- لا تستغرب فضل الله عز وجل، فقد يكون العمل عملاً قليلاً وله ثواب كثير، وفضل الله تعالى واسع، لكن ما معنى: غسَّل واغتسل؟ معناها: غسَّل بتنظيف الجسم، واغتسل أي: بالغ في ذلك، أو اغتسل كغسل الجنابة، وبكر وابتكر أي: بالغ في البكور، ودنا من الإمام واضح، واستمع ولم يلغ أيضاً واضح.
فاحرص -يا أخي- على أن تغتسل يوم الجمعة؛ لأن غسل الجمعة واجب على كل بالغ، والدليل على وجوبه قول النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم: (غسل الجمعة واجب على كل محتلم) هذا الحديث أخرجه السبعة البخاري وأبو داود ومسلم والنسائي وابن ماجة والإمام أحمد رحمه الله، كلهم أخرجوه (غسل الجمعة واجب على كل محتلم) هذا كلام الرسول عليه الصلاة والسلام.
وهل تجدون أحداً أعلم بشريعة الله من رسول الله؟ لا.
هل تجدون أحداً أنصح لعباد الله من رسول الله؟ لا.
هل تجدون أحداً أفصح فيما يعبر به عما في نفسه من رسول الله؟ لا.
كل الخلق لا يدانون الرسول عليه الصلاة والسلام في هذا هل تجدون أحداً أعلم بما يقول من رسول الله؟ أبداً، وقد قال: (غسل الجمعة واجب) ثم علقه بوصف يقتضي الإلزام وهو البلوغ، فقال: (على كل محتلم) وإنني أعتقد لو جاءت هذه العبارة في كتاب من كتب الفقه لكان الشارحون يقولون: إن المؤلف يرى وجوب الغسل، فكيف وقد جاءت عن الرسول صلى الله عليه وسلم؟! ثم إذا اغتسلت فاحرص على أن تبادر وتبكر في الساعة الأولى، ثم الثانية، ثم الثالثة، ثم الرابعة، ثم الخامسة (من جاء في الساعة الأولى فكأنما قرب بدنة، ومن جاء في الساعة الثانية فكأنما قرب بقرة، ومن جاء في الساعة الثالثة فكأنما قرب كبشاً أقرن، ومن جاء في الساعة الرابعة فكأنما قرب دجاجة، ومن جاء في الساعة الخامسة فكأنما قرب بيضة) .
وابتداء الساعات هذه من طلوع الشمس، واقسم ما بين طلوع الشمس إلى مجيء الإمام على خمسة أقساما، سواء طالت المدة أم قصرت؛ لأن الزمن يختلف بين الشتاء والصيف
Penerjemah: Abu Utsman Kharisman

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.