Beranda » Latest » Artikel » Fatwa » Mitos ‘Zina adalah Utang’ dan Penjelasan Syaikh Abdullah Al-Ghudayyan

Mitos ‘Zina adalah Utang’ dan Penjelasan Syaikh Abdullah Al-Ghudayyan

0
Photo by klausdie

Pertanyaan :

Penanya berkata: “Kami sering mendengar ungkapan bahwa ‘Perzinahan adalah utang yang harus dibayar oleh keluarga si pezina’. Pertanyaan saya: Apa dosa para wanita tersebut? Apakah mereka akan dihukum dengan terjerumus ke dalam perzinahan disebabkan kesalahan dari salah seorang anak (keluarga) mereka?”

Jawaban Syaikh Abdullah al-Ghudayyan:

Di antara kaidah syariat adalah seseorang tidak dituntut/dihukum atas perbuatan jahat orang lain. Salah satu dalil yang menetapkan kaidah ini adalah firman Allah Jalla wa ‘Ala:

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى

Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain (Q.S al-An’am ayat 164, al-Isra’ ayat 15, Fathir ayat 18, az-Zumar ayat 7, dan semakna dengan an-Najm ayat 38, pen)

Kekacauan yang terjadi di tengah masyarakat timbul ketika terjadi suatu kejahatan dari sebagian orang, lalu setelah itu orang lain—yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pelaku—justru ikut dihukum. Hubungan kekerabatan tersebut dijadikan alasan untuk menindaknya, sebagaimana yang terjadi saat ini pada aksi-aksi pemboman. Aksi pemboman yang ada saat ini termasuk dalam kategori ini.

Mengenai maksiat, mereka memiliki dosa yang menyebabkan mereka dihukum, atau mereka tidak memiliki dosa yang membuat mereka berhak dihukum. Sebab, orang yang dihukum atau menjadi korban kejahatan tersebut bisa jadi adalah seorang mu’ahad (non-Muslim yang terikat perjanjian keamanan) atau seorang Muslim. Artinya, ia masuk ke negeri ini melalui prosedur yang syar’i (sah) atau ia adalah seorang Muslim. Dalam kedua kondisi ini, tidak boleh ada tindakan melampaui batas kepadanya kecuali jika muncul sebab darinya yang menuntut adanya hukuman, seperti jika ia berzina atau mencuri. Begitu pula seorang mu’ahad, apabila ia melanggar salah satu syarat perjanjian, maka ia akan dihukum.

Berdasarkan seluruh penjelasan tersebut, seorang pezina wanita ketika Allah menghukumnya, Allah menghukumnya berdasarkan kejahatan/dosa yang telah ia lakukan sendiri—hal ini apabila ia melakukannya secara sukarela. Namun, jika ia dipaksa dan kehilangan kebebasan memilih secara mutlak, maka di antara dalil paling jelas yang terdapat dalam Al-Qur’an yang menunjukkan bahwa ia tidak dihukum adalah firman Allah Jalla wa ‘Ala:

مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ

Allah tidak hendak menyulitkan kalian (Q.S al-Maidah ayat 6)

Maka wanita ini tidak menanggung dosa/kesulitan jika ia dipaksa dengan paksaan yang membuatnya kehilangan kendali dalam situasi tersebut. Wa billahit-taufiq (Dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk).

Sumber: Fatwa Syaikh Abdullah al-Ghudayyan, “Yaqulu Nasma’u Da’iman Anna az-Zina Dainun…”, diunggah oleh kanal resmi @SheikhAlgudayan (23 Januari 2025).

Transkrip Fatwa dalam Bahasa Arab

السُّؤَالُ: يَقُولُ: نَسْمَعُ دَائِمًا أَنَّ الزِّنَا دَيْنٌ لَا بُدَّ أَنْ يُقْضَى مِنْ أَهْلِ الزَّانِي، سُؤَالِي: مَا ذَنْبُ هَؤُلَاءِ النِّسْوَةِ؟ هَلْ يُعَاقَبْنَ بِالْوُقُوعِ فِي الزِّنَا بِسَبَبِ خَطَأِ أَحَدِ أَبْنَائِهِ؟

أجاب عنه الشيخ عبد الله الغديان: مِنْ قَوَاعِدِ الشَّرِيعَةِ أَنَّهُ لَا يُؤْخَذُ أَحَدٌ بِجَرِيرَةِ غَيْرِهِ، وَمِنَ الْأَدِلَّةِ الَّتِي قَرَّرَتْ هَذِهِ الْقَاعِدَةَ قَوْلُهُ جَلَّ وَعَلَا: وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ

فَالْتَّخَبُّطُ الَّذِي يَقَعُ فِي مُجْتَمَعَاتِ النَّاسِ مِنْ جِهَةِ أَنَّهُ يَحْصُلُ جُرْمٌ مِنْ بَعْضِ النَّاسِ وَبَعْدَ ذَلِكَ يُعَاقَبُ شَخْصٌ آخَرُ لَيْسَتْ لَهُ عَلَاقَةٌ بِهَذَا الشَّخْصِ، وَتَكُونُ هَذِهِ الْعَلَاقَةُ مُسَوِّغًا لِلْأَخْذِ بِهِ، مِثْلَ مَا يُوجَدُ الْآنَ فِي التَّفْجِيرَاتِ، التَّفْجِيرَاتُ الْمَوْجُودَةُ الْآنَ هِيَ مِنْ هَذَا الْبَابِ

فَالْمَعَاصِي لَهُمْ ذَنْبٌ يُعَاقَبُونَ عَلَيْهِ، لَيْسَ لَهُمْ ذَنْبٌ يُعَاقَبُونَ عَلَيْهِ لِأَنَّ الشَّخْصَ الَّذِي عُوقِبَ أَوْ الشَّخْصَ الَّذِي حَصَلَ عَلَيْهِ الْجُرْمُ إِمَّا أَنْ يَكُونَ مُعَاهَدًا وَإِمَّا أَنْ يَكُونَ مُسْلِمًا، يَعْنِي إِمَّا أَنْ يَكُونَ دَخَلَ بِصِفَةٍ شَرِعِيَّةٍ لِهَذِهِ الْبِلَادِ وَإِمَّا أَنْ يَكُونَ مُسْلِمًا. وَفِي كُلِّ حَالَةٍ مِنَ الْحَالَتَيْنِ لَا يَجُوزُ أَنْ يُتَعَدَّى عَلَيْهِ إِلَّا إِذَا حَصَلَ مِنْهُ سَبَبٌ يُوجِبُ عُقُوبَةً كَمَا إِذَا زَنَى وَلَا سَرَقَ، وَإِلَّا فَالْمُعَاهَدُ إِذَا أَخَلَّ بِشَرْطٍ مِنْ شُرُوطِ الْمُعَاهَدَةِ فَإِنَّهُ يُعَاقَبُ

وَبِنَاءً عَلَى ذَلِكَ كُلِّهِ، فَالزَّانِيَةُ عِنْدَمَا يُعَاقِبُهَا اللَّهُ، يُعَاقِبُهَا بِالنَّظَرِ إِلَى الْجُرْمِ الَّذِي ارْتَكَبَتْهُ، هَذَا إِذَا كَانَتْ مُطَاوِعَةً. لَكِنْ لَوْ كَانَتْ مُجْبَرَةً وَفَقَدَتِ الِاخْتِيَارَ مُطْلَقًا، فَمِنْ أَبْلَغِ الْأَدِلَّةِ الَّتِي جَاءَتْ فِي الْقُرْآنِ دَالَّةً عَلَى أَنَّهَا لَا تُعَاقَبُ قَوْلُ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا: ﴿مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ﴾، فَهَذِهِ لَيْسَ عَلَيْهَا حَرَجٌ إِذَا أُكْرِهَتْ إِكْرَاهًا يَفْقِدُهَا السَّيْطَرَةَ فِي الْمَوْقِفِ. وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ

المصدر: فتوى للشيخ عبد الله الغديان بعنوان «يقول نسمع دائماً أن الزنا دين…»، قناة الشيخ عبد الله الغديان على يوتيوب (23 يناير 2025م).

Penerjemah: Abu Utsman Kharisman