Beranda » Latest » Artikel » Nasihat » Mengingat Mati Tanpa Manipulasi: Bahaya Bumbu Cerita Dusta Dalam Ceramah Agama

Mengingat Mati Tanpa Manipulasi: Bahaya Bumbu Cerita Dusta Dalam Ceramah Agama

0
audio-1844798_1280

Pertanyaan:

Imam Ahmad bin Hanbal berkata: «Manusia yang paling berdusta adalah para penceramah kisah (Qushshas) dan para peminta-minta. Betapa butuhnya manusia kepada penceramah yang jujur, karena mereka mengingatkan tentang kematian dan azab kubur», maka apa makna dari perkataan Imam Ahmad rahimahullah: «(Betapa butuhnya manusia) kepada penceramah yang jujur, karena mereka mengingatkan tentang kematian dan azab kubur»?

Jawaban Syaikh Robi’ bin Hadi al-Madkhaliy -semoga Allah merahmatinya-:

Ya, memang banyak kedustaan pada para penceramah kisah dan mayoritas dari mereka adalah orang-orang jahil (bodoh). Jika seseorang menyampaikan nasihat—artinya mengambil dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ untuk membuat takut manusia dengannya—maka manusia memang membutuhkan hal seperti ini.

Jadi, ini adalah syarat dari beliau bagi seorang penceramah: hendaklah ia seorang yang jujur dan terpercaya, tidak berdusta atas nama Allah dan atas nama Rasul-Nya ﷺ. Sebab, banyak dari para penceramah kisah yang tidak merasa ragu/takut untuk berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya ﷺ, serta tidak merasa ragu/takut untuk mengubah (menyelewengkan) ayat-ayat Al-Qur’an.

Di antara kalian ada Jamaah Tabligh, betapa banyaknya mereka menyelewengkan Al-Qur’an; ayat-ayat tentang jihad mereka selewengkan untuk mendukung pemahaman keluar (khuruj) mereka yang rusak. Mereka termasuk penceramah kisah yang buruk.

Seandainya ada seorang salafi yang jujur lagi ikhlas mengingatkan manusia tentang tauhid kepada Allah, mengingatkan mereka tentang surga dan neraka, mempertakuti mereka dengan Allah, serta membawakan ayat-ayat dan hadits-hadits—hal inilah yang dibutuhkan oleh manusia.

Rasulullah dahulu juga menasihati para sahabatnya; (para sahabat berkata): “Rasulullah memberikan nasihat kepada kami dengan nasihat yang membuat hati bergetar dan air mata menetes. Kami pun berkata: Wahai Rasulullah, seolah-olah ini adalah nasihat dari orang yang akan berpisah, maka berilah kami wasiat!” Beliau bersabda: «Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah serta mendengar dan taat…» hingga akhir hadits. Maka Rasulullah ﷺ pun dahulu memberikan nasihat.

أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يَعۡلَمُ ٱللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمۡ فَأَعۡرِضۡ عَنۡهُمۡ وَعِظۡهُمۡ وَقُل لَّهُمۡ فِيٓ أَنفُسِهِمۡ قَوۡلَۢا بَلِيغًا

“Mereka itu adalah orang-orang yang (sesungguhnya) Allah mengetahui apa yang ada di dalam hatinya. Karena itu, berpalinglah kamu dari mereka dan berilah mereka nasihat, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang membekas pada jiwanya.” (QS. An-Nisa’ Ayat 63)

Jika seseorang menasihati manusia dan menyampaikan perkataan yang berbekas (menyentuh) kepada mereka, dengan mengambil dari Kitabullah dan Sunnah Rasul ﷺ serta memilih makna-makna yang tegas dan kuat dalam perkataannya, maka demi Allah, hal ini sangat dituntut (diperlukan).

Tidaklah khotbah-khotbah yang disyariatkan oleh Rasulullah ﷺ pada hari Jumat dan hari raya (‘Id) melainkan berisi nasihat-nasihat, peringatan kepada Allah, serta peringatan tentang surga dan neraka.


Sumber: Adz-Dzari’ah Ilaa Bayaani Maqoshidi Kitaabisy Syari’ah karya Syaikh Robi’ bin Hadi al-Madkhaliy 3/523

Naskah dalam Bahasa Arab

سُؤَالٌ: قَالَ الإِمَامُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ: «أَكْذَبُ النَّاسِ الْقُصَّاصُ وَالسُّؤَّالُ، وَمَا أَحْوَجَ النَّاسَ إِلَى قَاصٍّ صَدُوقٍ؛ لِأَنَّهُمْ يُذَكِّرُونَ المَوْتَ وَعَذَابَ القَبْرِ»، فَمَا هُوَ مَعْنَى كَلَامِ الإِمَامِ رَحِمَهُ اللَّهُ فِي قَوْلِهِ: «إِلَى قَاصٍّ صَدُوقٍ لِأَنَّهُمْ يُذَكِّرُونَ المَوْتَ وَعَذَابَ القَبْرِ»؟

أجاب عنه الشيخ ربيع بن هادي المدخلي رحمه الله تعالى: نَعَمْ كَثُرَ الكَذِبُ فِي القُصَّاصِ وَأَكْثَرُهُمْ جُهَّالٌ، وَإِذَا كَانَ الإِنْسَانُ يَقُصُّ يَعْنِي يَأْخُذُ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَمِنْ سُنَّةِ رَسُولِهِ ﷺ يُخَوِّفُ النَّاسَ بِذَلِكَ فَالنَّاسُ يَحْتَاجُونَ لِمِثْلِ هَذَا، فَهَذَا شَرْطٌ مِنْهُ فِي القَاصِّ أَنْ يَكُونَ صَادِقًا أَمِينًا أَنْ لَا يَكْذِبَ عَلَى اللَّهِ وَعَلَى رَسُولِهِ ﷺ، فَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ القُصَّاصِ لَا يَتَوَرَّعُونَ مِنَ الكَذِبِ عَلَى اللَّهِ وَعَلَى رَسُولِهِ ﷺ وَلَا يَتَوَرَّعُونَ عَنْ تَحْرِيفِ الآيَاتِ

عِنْدَكُمْ جَمَاعَةُ التَّبْلِيغِ كَمْ يُحَرِّفُونَ مِنَ القُرْآنِ، آيَاتِ الجِهَادِ يُحَرِّفُونَهَا إِلَى خُرُوجِهِمِ الفَاسِدِ، وَهُمْ مِنَ القُصَّاصِ السَّيِّئِينَ، لَوْ أَنَّ سَلَفِيًّا صَادِقًا مُخْلِصًا يُذَكِّرُ النَّاسَ بِتَوْحِيدِ اللَّهِ، يُذَكِّرُهُمْ بِالجَنَّةِ وَالنَّارِ، يُخَوِّفُهُمْ بِاللَّهِ، يَسُوقُ الآيَاتِ وَالأَحَادِيثَ، النَّاسُ يَحْتَاجُونَ هَذَا، وَالرَّسُولُ كَانَ يَعِظُ أَصْحَابَهُ؛ وَعَظَنَا رَسُولُ اللَّهِ مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا القُلُوبُ وَذَرَفَتْ مِنْهَا العُيُونُ، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَأَوْصِنَا، قَالَ: «أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ»، إِلَى آخِرِ الحَدِيثِ

فَالرَّسُولُ ﷺ كَانَ يَعِظُ؛ ﴿أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُل لَّهُمْ فِي أَنفُسِهِمْ قَوْلًا بَلِيغًا﴾ [النساء: ٦٣]

فَإِذَا كَانَ الإِنْسَانُ يَعِظُ النَّاسَ وَيَقُولُ لَهُمْ قَوْلًا بَلِيغًا، يَأْخُذُ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَمِنْ سُنَّةِ الرَّسُولِ ﷺ وَيَتَحَرَّى المَعَانِيَ الجَزْلَةَ فِي كَلَامِهِ، فَهَذَا وَاللَّهِ مَطْلُوبٌ، وَمَا الخُطَبُ الَّتِي شَرَعَهَا رَسُولُ اللَّهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فِي الجُمُعِ وَالأَعْيَادِ إِلَّا مَوَاعِظُ وَتَذْكِيرٌ بِاللَّهِ وَتَذْكِيرٌ بِالجَنَّةِ وَالنَّارِ

الذريعة إلى بيان مقاصد كتاب الشريعة للشيخ ربيع بن هادي المدخلي ٣\٥٢٣

Penerjemah: Abu Utsman Kharisman