Beranda » Latest » Artikel » Nasihat » Tak Perlu Tunggu Perang, Jihad ini Dilakukan oleh Seluruh Rasul

Tak Perlu Tunggu Perang, Jihad ini Dilakukan oleh Seluruh Rasul

0
Photo by ELG21

Pertanyaan:

Saat ini ada banyak masuk pertanyaan yang ditujukan pada anda yang menanyakan tentang: “Bagaimana cara kita berjihad di jalan Allah?”

Jawaban Syaikh Sholih bin Abdil Aziz Aalusy Syaikh:

Pertama, kita harus tahu bahwa jihad yang dituntut dari seorang muslim itu bukan hanya jihad dengan pedang (fisik) semata, melainkan ia dituntut untuk berjihad (secara luas). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat saat berada di Makkah adalah orang-orang yang berjihad, padahal mereka diperintahkan untuk tidak mengangkat pedang. Bagaimana bisa mereka disebut berjihad? Mereka berjihad dengan argumen (hujjah) dan penjelasan (bayan). (Menjelaskan keindahan ajaran Allah dan membantah berbagai syubhat dan penyimpangan, pen).

Allah Jalla wa ‘Ala berfirman kepada Nabi-Nya dalam Surah Al-Furqan—dan ini adalah surah Makkiyyah (turun di periode Makkah):

فَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا

“Maka janganlah kamu tunduk kepada orang-orang kafir, dan jihadlah terhadap mereka dengannya (Al-Qur’an) dengan jihad yang besar.” (Q.S al-Furqan ayat 52, pen)

Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan di awal kitabnya, Al-Jawab al-Shahih liman Baddala Dina al-Masih (Bantahan terhadap Kaum Nasrani), dan di kitab beliau yang lain, beliau juga mengatakan: “Asal dari jihad yang wajib adalah jihad dengan argumen (hujjah) dan penjelasan (bayan), karena itulah jihad yang telah disepakati oleh seluruh Rasul.”

Semua Rasul telah berjihad di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Namun, apakah setiap Rasul diperintahkan untuk mengangkat pedang? Nabi Nuh ‘alaihis salam—yang merupakan Rasul pertama—tidak diperintahkan untuk melakukan hal itu.

Maka dari itu, jihad secara umum yang dituntut dari setiap muslim adalah:

  1. Pertama, melawan (berjihad melawan) setan dan melawan hawa nafsunya sendiri yang selalu menyuruh kepada keburukan.
  2. Kemudian bagi ahli hujjah dan bayan—atau orang yang memiliki ilmu—maka ia berjihad dengan argumen dan penjelasan. Dan ini adalah kewajiban di setiap waktu dan setiap zaman.

Adapun jihad dengan pedang (fisik), para ulama telah membahasnya dan menyebutkan maksud, tujuan, serta syarat-syaratnya. Di antara syarat yang paling penting adalah: tidak ada jihad kecuali di bawah pemerintahan (otoritas) dan di bawah satu bendera. Artinya, selama di sana ada pemerintahan yang sah, maka jihad harus berada di bawah otoritas pemerintahan tersebut. Jika yang menyerukan jihad bukan pemimpin negara (waliyul amr) atau negara, maka itu bukanlah jihad. Karena pihak yang berhak menyerukan (jihad) adalah pemilik wewenang dalam syariat, yaitu imam/pemimpin.

Oleh karena itu, para ulama telah menegaskan hal ini dalam kitab-kitab fikih—sebagaimana yang ditegaskan oleh Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni dan ulama-ulama lainnya—bahwa jihad, baik itu jihad thalab (menyerang) maupun jihad dafa’ (membela diri/bertahan), kaum muslimin tidak boleh keluar untuk berjihad kecuali setelah mendapatkan izin dari waliyul amr (pemimpin negara).

Ini adalah ijmak (kesepakatan) dari kaum muslimin. Siapa pun yang menyelisihi hal ini, maka pendapatnya tidak merusak ijmak tersebut, karena ijmak ini bersandar pada dalil syar’i. Yaitu firman Allah Jalla wa ‘Ala:

فَقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا تُكَلَّفُ إِلَّا نَفْسَكَ وَحَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ

“Maka berperanglah kamu di jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan atas dirimu sendiri, dan kobarkanlah semangat orang-orang mukmin.” (Q.S an-Nisaa’ ayat 84)

Khitabah (seruan) ini ditujukan kepada siapa? Kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kapasitas beliau sebagai pemimpin kaum muslimin. Siapa yang berhak mengobarkan semangat (menyerukan perang)? Imam, yaitu waliyul amr. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam difirmankan: “dan kobarkanlah semangat orang-orang mukmin,” para ulama menjelaskan bahwa pihak yang mengobarkan semangat dan menyerukan manusia untuk hal tersebut (jihad fisik) adalah waliyul amr.

Oleh karena itu, urusannya disesuaikan dengan kondisi masing-masing negara dan tempatnya. Jihad yang benar adalah jihad yang memenuhi konsep jihad yang utuh di dalamnya; yaitu bagi siapa saja yang di negerinya telah terpenuhi syarat-syarat jihad, lalu ia berjihad dengan pedang di bawah bendera yang sah, dan jihad tersebut bertujuan untuk meninggikan kalimat Allah.

Ada jenis pertempuran yang tidak punya tujuan (syar’i), ada peperangan yang tidak bisa disebut jihad; yaitu peperangan yang tidak memiliki tujuan mulia, melainkan tujuannya hanyalah membunuh semata. Ini bukanlah jihad yang dituntut dalam syariat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya tentang seseorang yang mati atau terbunuh dalam kondisi begini dan begitu, beliau bersabda:

مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ العُلْيَا، فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Barang siapa yang berperang agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi, maka ia berada di jalan Allah.” (H.R al-Bukhari dan Muslim, pen)

Artinya, tujuan utama dari jihad adalah agar kalimat Allah menjadi yang tertinggi.

Jika kita mengetahui bahwa tujuan tersebut tidak akan tercapai di suatu tempat atau suatu negeri, maka pada saat itu kita harus meninjau kembali urusan tersebut berdasarkan dalil. Kesimpulannya, jihad dengan pedang dan senjata memiliki syarat-syarat syar’i yang ketat. Para ulama telah membahasnya, dan rujukan dalam urusan ini—sebagaimana yang telah kami sebutkan—dikembalikan kepada pemimpin negara (waliyul amr) dan pemerintah.

Sumber: Channel تراث الشيخ صالح آل الشيخ , video yang diunggah pada 26 Juni 2026

Transkrip dalam Bahasa Arab

إِلَيْكُمْ وَهَذِهِ السَّاعَةُ يَقُولُ أَوْ جَاءَتْ كَثِيرٌ مِنَ الْأَسْئِلَةِ تَسْأَلُ عَنْ كَيْفَ يُمْكِنُنَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ؟

أجاب عنه الشيخ صالح بن عبد العزيز آل الشيخ

أوَّلًا نَعْلَمُ أَنَّ الْجِهَادَ الْمَطْلُوبَ مِنَ الْمُسْلِمِ لَيْسَ هُوَ جِهَادُ السَّيْفِ فَحَسْبُ، بَلْ مَطْلُوبٌ مِنْهُ أَنْ يُجَاهِدَ. النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالصَّحَابَةُ فِي مَكَّةَ كَانُوا مُجَاهِدِينَ مَعَ أَنَّهُمْ أُمِرُوا بِأَلَّا يَرْفَعُوا السَّيْفَ. كَيْفَ كَانُوا مُجَاهِدِينَ؟ مُجَاهِدِينَ بِالْحُجَّةِ وَالْبَيَانِ

قَالَ اللهُ جَلَّ وَعَلَا لِنَبِيِّهِ فِي سُورَةِ الْفُرْقَانِ —وَهِيَ سُورَةٌ مَكِّيَّةٌ—:فَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا
لِهَذَا يَقُولُ شَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ فِي أَوَّلِ كِتَابِهِ “الْجَوَابُ الصَّحِيحُ لِمَنْ بَدَّلَ دِينَ الْمَسِيحِ” —الرَّدِّ عَلَى النَّصَارَى— وَفِي كِتَابٍ آخَرَ لَهُ أَيْضًا يَقُولُ: “أَصْلُ الْجِهَادِ الْوَاجِبِ هُوَ الْجِهَادُ بِالْحُجَّةِ وَالْبَيَانِ، فَإِنَّهُ الْجِهَادُ الَّذِي أَجْمَعَتْ عَلَيْهِ الرُّسُلُ”. كُلُّ الرُّسُلِ جَاهَدُوا فِي اللهِ حَقَّ الْجِهَادِ. هَلْ كُلُّ رَسُولٍ أُمِرَ أَنْ يَرْفَعَ السَّيْفَ؟ هَذَا نُوحٌ عَلَيْهِ السَّلَامُ —وَهُوَ أَوَّلُ الرُّسُلِ— لَمْ يُؤْمَرْ بِذَلِكَ

فَإِذًا، الْجِهَادُ الْعَامُّ الْمَطْلُوبُ مِنْ كُلِّ مُسْلِمٍ: أَوَّلًا أَنْ يُجَاهِدَ الشَّيْطَانَ، وَيُجَاهِدَ نَفْسَهُ الْأَمَّارَةَ بِالسُّوءِ. ثُمَّ أَهْلُ الْحُجَّةِ وَالْبَيَانِ —أَوْ مَنْ عِنْدَهُ عِلْمٌ— فَإِنَّهُ يُجَاهِدُ بِالْحُجَّةِ وَالْبَيَانِ، وَهَذَا وَاجِبٌ فِي كُلِّ وَقْتٍ وَفِي كُلِّ زَمَانٍ

أَمَّا الْجِهَادُ بِالسَّيْفِ، فَالْعُلَمَاءُ بَحَثُوهُ وَذَكَرُوا لَهُ مَقَاصِدَ وَأَهْدَافًا، وَذَكَرُوا لَهُ شُرُوطًا. وَمِنْ أَهَمِّ شُرُوطِهِ أَنَّهُ لَا جِهَادَ إِلَّا تَحْتَ وِلَايَةٍ، تَحْتَ رَايَةٍ. بِمَعْنَى أَنَّهُ لَا بُدَّ مَا دَامَ هُنَاكَ وُجُودُ وِلَايَةٍ، فَإِنَّهُ لَا بُدَّ مِنَ الْجِهَادِ تَحْتَ هَذِهِ الْوِلَايَةِ. إِذَا لَمْ يَكُنِ الدَّاعِي لِلْجِهَادِ وَلِيُّ الْأَمْرِ أَوِ الدَّوْلَةِ فَإِنَّهُ لَا جِهَادَ؛ لِأَنَّ الَّذِي يَدْعُو هُوَ صَاحِبُ الصَّلَاحِيَّةِ فِي الشَّرْعِ وَهُوَ الْإِمَامُ

وَلِذَلِكَ نَصَّ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ —فِي كُتُبِ الْفِقْهِ كَمَا نَصَّ عَلَيْهِ ابْنُ قُدَامَةَ فِي الْمُغْنِي وَكَمَا نَصَّ عَلَيْهِ غَيْرُهُ— عَلَى أَنَّ الْجِهَادَ، سَوَاءٌ كَانَ جِهَادَ طَلَبٍ أَوْ كَانَ جِهَادَ دَفْعٍ، فَلَا يَخْرُجُ الْمُسْلِمُونَ لِلْجِهَادِ إِلَّا بَعْدَ اسْتِئْذَانِ وَلِيِّ الْأَمْرِ. وَهَذَا إِجْمَاعٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ عَلَى ذَلِكَ، وَمَنْ خَالَفَ فِي هَذَا فَهُوَ لَا يَقْدَحُ فِي الْإِجْمَاعِ لِأَجْلِ أَنَّ الْإِجْمَاعَ مُسْتَنَدُهُ الدَّلِيلُ الشَّرْعِيُّ

وَهُوَ قَوْلُ اللهِ جَلَّ وَعَلَا: {فَقَاتِلْ فِي سَبِيلِ … لَا تُكَلَّفُ إِلَّا نَفْسَكَ وَحَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ}. الْخِطَابُ لِمَنْ؟ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِصِفَتِهِ إِمَامًا لِلْمُسْلِمِينَ. مَنِ الَّذِي يُحَرِّضُ؟ الْإِمَامُ، وَلِيُّ الْأَمْرِ. النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: {… وَحَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ}، قَالَ الْعُلَمَاءُ: وَهُنَا الَّذِي يُحَرِّضُ وَيَدْعُو النَّاسَ لِذَلِكَ هُوَ وَلِيُّ الْأَمْرِ

فَلِذَلِكَ فِي كُلِّ دَوْلَةٍ بِحَسَبِهَا، وَفِي كُلِّ مَكَانٍ بِحَسَبِهِ. وَالْجِهَادُ الصَّحِيحُ هُوَ مَا كَانَ فِيهِ مَفْهُومُ الْجِهَادِ الْكَامِلِ فِي ذَلِكَ. مَنْ هُيِّئَ لَهُ فِي أَرْضٍ مَا أَنْ تَجْتَمِعَ فِيهِ شَرَائِطُ الْجِهَادِ، وَأَنْ يُجَاهِدَ بِالسَّيْفِ، وَيَكُونَ تَحْتَ رَايَةٍ صَحِيحَةٍ، وَالْجِهَادُ لِهَدَفِ إِعْلَاءِ كَلِمَةِ اللهِ

هُنَاكَ جِهَادٌ مَالَهُ هَدَفٌ، هُنَاكَ قِتَالٌ مَايُسَمَّى جِهَادٌ، قِتَالٌ لَا هَدَفَ لَهُ، إِنَّمَا الْهَدَفُ مِنْهُ الْقَتْلُ، وَهَذَا لَيْسَ هُوَ الْجِهَادُ الْمَطْلُوبُ فِي الشَّرْعِ. قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَمَا سُئِلَ عَنِ الرَّجُلِ يَمُوتُ فِي كَذَا وَيُقْتَلُ فِي كَذَا، قَالَ: “مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ”. يَعْنِي الْغَايَةُ مِنَ الْجِهَادِ أَنْ تَكُونَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا

فَإِذَا كُنَّا نَعْرَفُ أَنَّهُ لَنْ يَحْصُلَ ذَلِكَ فِي مَكَانٍ مَا أَوْ فِي أَرْضٍ مَا، فَإِنَّهُ حِينَئِذٍ لَا بُدَّ مِنَ النَّظَرِ فِي ذَلِكَ وَفْقَ الدَّلِيلِ. فَالْمَقْصُودُ مِنْ ذَلِكَ أَنَّ الْجِهَادَ بِالسَّيْفِ وَالسِّنَانِ لَهُ شُرُوطُهُ الشَّرْعِيَّةُ، وَالْعُلَمَاءُ تَكَلَّمُوا فِيهِ، وَالرُّجُوعُ فِي ذَلِكَ —كَمَا ذَكَرْنَا— إِلَى وَلِيِّ الْأَمْرِ وَإِلَى الدَّوْلَةِ

قناة “تراث الشيخ صالح آل الشيخ”، فيديو مرفوع بتاريخ 26 يونيو 2026م بعنوان كيف يكون الجهاد في سبيل الله في عصرنا؟

Penerjemah: Abu Utsman Kharisman