Bukan Sempurna yang Dicari, Tapi Manfaat yang Memberi Arti

Syaikh Sholih bin Abdil Aziz Aalusy Syaikh menyatakan:
Di antara landasan pola pikir dalam menyikapi dua hal yang saling berpasangan (dikotomi) yang telah saya sebutkan adalah: hendaknya Anda tidak membebani diri Anda dalam mengejar kesempurnaan, karena yang dituntut dari Anda adalah keberhasilan (kesuksesan/keselamatan). Yang dituntut dari Anda adalah menjadi orang yang berhasil, bukan menjadi orang yang sempurna.
Allah Jalla wa ‘Ala telah melebihkan sebagian rasul di atas sebagian yang lain. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman dalam Surah Al-Baqarah:
تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۘ مِّنْهُم مَّن كَلَّمَ اللَّهُ ۖ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ
“Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berbicara langsung dengannya dan sebagiannya Allah tinggikan beberapa derajat… ” (Q.S al-Baqarah ayat 253)
Artinya, para rasul pun memiliki tingkatan yang berbeda-beda, begitu pula dengan manusia, mereka memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Maka tidak ada keterikatan mutlak antara dua hal ini: keberhasilan dan kesempurnaan.
Menjadi orang yang berhasil? Ya, ini adalah pola pikir yang benar. Harus menjadi orang yang sempurna? Salah. Menilai segala sesuatu harus sempurna, dan selama hal itu tidak sempurna maka tidak bisa diterima? Itu adalah kesalahan dalam pola pikir.
Hendaknya Anda menilai sesuatu berdasarkan kecenderungannya yang lebih membawa kepada kebaikan, lebih cenderung kepada hal positif, dan lebih banyak membawa manfaat, meskipun hal itu tidak sempurna. Jika tercapai kesempurnaan, maka itu adalah nikmat yang sangat besar. Namun dalam kehidupan nyata, kesempurnaan itu adalah hal yang sangat langka.
Kesempurnaan dalam keikhlasan itu langka, kesempurnaan dalam ketaatan itu langka, kesempurnaan dalam menjalankan tanggung jawab itu langka, kesempurnaan dalam menjalankan peran-peran yang bermanfaat itu langka, dan kesempurnaan dalam merasakan serta menerapkan nilai-nilai kehidupan itu sangat langka.
Oleh karena itu, terdapat pemisahan yang nyata antara pandangan tentang keberhasilan dan pandangan tentang kesempurnaan. Ini adalah pola pikir yang sangat penting.
Jika seseorang menerapkannya, merincikannya, dan melatih dirinya dengannya, hal itu akan menyelesaikan banyak permasalahan sejak awal, serta menyelamatkannya dari gangguan psikologis yang dapat mengakibatkan timbulnya keraguan dan ketidakstabilan pemikiran dalam diri dan akalnya.
Maka (katakanlah pada diri sendiri): “Saya menjadi orang yang berhasil, itu bagus. Tetapi saya tidak bisa menjadi orang yang sempurna, inilah potensi yang Allah berikan kepada saya. Namun saya telah berusaha sungguh-sungguh untuk menjadi orang yang berhasil.”
Berhasil (selamat) pada diri sendiri, berhasil (selamat) dalam keluarga, berhasil dalam masyarakat, berhasil dalam pendidikan, berhasil dalam pekerjaan, berhasil dalam hubungan dengan orang tua, serta berhasil dalam hubungan dengan masyarakat dan negara di sekitarnya.
Adapun untuk menjadi sempurna, itu bukanlah syarat. Bukan syarat dan juga bukan tuntutan. Karena keberadaan yang bermanfaat itu terwujud melalui keberhasilan, bukan melalui kesempurnaan.
Sumber: Potongan ceramah Syaikh Sholih bin Abdil Aziz Aalusy Syaikh pada kanal @fawaid_salafiya diunggah pada 4 Juli 2025 berdurasi 2:49 menit berjudul:
لا ترهق نفسك في طلب الكمال
Transkrip dalam Bahasa Arab
قال الشيخ صالح بن عبد العزيز آل الشيخ
من معالم منهج التفكير في الثنائيات التي ذكرت انه انك لا ترهق نفسك في طلب الكمال فالمطلوب منك هو النجاح. المطلوب منك ان تكون ناجحا لا ان تكون كاملا. الله جل وعلا فضل بين الرسل قال جل وعلا في سورة البقرة: {تلك الرسل فضلنا بعضهم على بعض منهم من كلم الله ورفع بعضهم درجات}، يعني الرسل متفاضلون، فالناس كذلك متفاضلون
فلا علاقة بين هاتين الثنائيتين: النجاح والكمال. تكون ناجحا، نعم هذا منهج التفكير الصحيح. لا بد ان تكون كاملا، غلط. تقيم الأشياء على ان تكون كاملة وما دام ما كانت كاملة فغير مرضية، خطا في منهج التفكير. تقيم الأشياء ان تكون الى الصلاح اكثر، الى الايجابية اكثر، الى النفع اكثر ولو لم تكن كاملة. اذا صار كمال، نعمة كبيرة، لكن في الحياة الكمال عزيز. لا يكون الكمال في الاخلاص عزيز، الكمال في الطاعة عزيز، الكمال في اداء المسؤوليات عزيز، الكمال في اداء الأدوار النافعة عزيز، عزيز الكلام في الشعور بالقيم وامتثالها عزيز
إذا فهناك انفصال حقيقي ما بين رؤية النجاح ورؤية الكمال. هذا منهج في التفكير مهم، اذا وضعها الإنسان وفرع عليه ودرب نفسه عليه سيحل إشكالات كثيرة من اول وهلة، وسيرقيه من الخلل النفسي الذي ينتج عنه عدم الأمن الفكري في نفسه وفي عقله
إذا أكون ناجح، طيب، لكن ما اقدر اكون كامل، هذا اللي اعطاني الله، لكن اجتهدت انا ان اكون ناجحا. ناجحا في نفسي، ناجحا في اسرتي، ناجحا في مجتمعي، ناجحا في تعليمي، ناجحا في وظيفتي، ناجحا في علاقتي بوالدي، ناجح في علاقتي بمجتمعي بدولة من حولي. ان اكون كاملا ليس شرطا، ليس شرطا وليس مطلوبا، لأنه الوجود النافع يكون بالنجاح لا بالكمال
“لا ترهق نفسك في طلب الكمال… للشيخ صالح آل الشيخ.” يوتيوب، رُفع بواسطة قناة الفوائد، 4 يوليو 2025
Penerjemah: Abu Utsman Kharisman

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.