Beranda » Latest » Artikel » Akhlaq » Kapan Kita Harus Menutup Aib Orang Lain dan Kapan Harus Membongkarnya?

Kapan Kita Harus Menutup Aib Orang Lain dan Kapan Harus Membongkarnya?

0
chat-2218345_1280

Pertanyaan:

Apa makna sabda Rasulullah —shallallahu ‘alaihi wa sallam—: “Barang siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutupi (aibnya)”? Apakah ia harus menutupi aibnya dalam kondisi jika ia melihat suatu kemaksiatan yang nyata darinya?

​Jawaban Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’iy – semoga Allah merahmatinya-:

Ya, jika yang lebih utama adalah menutupi aibnya, maka hendaknya ia menutupinya. Namun, setiap permasalahan itu berbeda-beda.

​Jika Anda melihatnya mencium seorang wanita, atau melihatnya mencuri sesuatu lalu Anda menutupi aibnya, maka ini adalah perkara yang baik. Atau Anda melihatnya melakukan perbuatan keji (zina) lalu Anda menutupinya, maka tidak mengapa.

​Akan tetapi, jika seseorang sudah menjadikan perbuatan buruk ini sebagai kebiasaannya, maka tidak mengapa bagi Anda untuk menasihati orang-orang agar menjauhinya dan tidak mengizinkannya masuk ke rumah-rumah mereka, karena ia tertuduh melakukan perkara yang buruk—ini dalam masalah perbuatan keji (zina).

​Adapun masalah menutupi aib, hal itu bisa dilakukan jika Anda melihat adanya maslahat dalam menutupi aib tersebut, yaitu dalam masalah perbuatan keji maupun yang lainnya.

​Sementara itu, untuk masalah bid’ah; jika itu adalah ketergelinciran (yang tidak sengaja/jarang terjadi), maka hendaknya Anda menutupinya. Bahkan para ulama mengatakan: Jika seorang alim tergelincir, bahkan meskipun sampai pada kebid’ahan, hendaknya (kesalahan itu) dilebur dengan keutamaan-keutamaan yang dimilikinya.

​Namun, jika ia sudah menjadi dai (penyeru) kepada kebid’ahan tersebut dan dikhawatirkan akan memengaruhi orang-orang dengan dakwah kebid’ahannya, maka hendaknya Anda meneriakinya (menyuarakan kebenarannya) dan memperingatkan orang-orang darinya. Wallahul musta’an (hanya Allah tempat memohon pertolongan).

​Penanya :

Bagaimana jika misalnya ia terkenal suka mencuri?

Syaikh:

Kami katakan, jika itu sudah menjadi kebiasaan dan adatnya, maka Anda harus memperingatkan masyarakat darinya. Barakallahu fik (semoga Allah memberkahimu).

​Penanya:

Bagaimana jika itu baru pertama kali terjadi, dan pencurian yang dilakukannya menyasar penduduk desa? Jika tidak dicari tahu (siapa pelakunya), maka tuduhan akan mengarah kepada seluruh penduduk desa. Maksudnya, itu bukan kebiasaannya tetapi ia terlanjur mencuri. Jika mereka menutupi aibnya, seluruh penduduk desa akan dituduh, sehingga mereka perlu menjelaskannya meskipun itu baru pertama kali, demi membersihkan tuduhan dari orang lain?

​Syaikh:

Anda harus melihat mana yang paling besar maslahatnya. Lagi pula, sebuah tuduhan itu tidak bisa menetapkan (hukum) apa pun, dan tidak boleh bagi siapa pun untuk menuduh seluruh penduduk desa. Wallahul musta’an.

Sumber: Kaset As-ilah Syabab Ahli al-Udayn wa Ba’dan (Pertanyaan Pemuda Ahli al-Udayn dan Ba’dan) no 242

Transkrip Fatwa dalam Bahasa Arab

المصدر : من شريط : ( أسئلة شباب أهل العدين وبعدان )
—————–
رقم الشريط : 242
—————–
رقم الفتوى : 242
—————–
السوال : ما معنى قول الرسول – صلى الله عليه وسلم – : ” من ستر مسلماً ستره الله ” ، هل يستر عليه في حالة إذا رأى منه معصية مبينة؟
—————–
الاجابة من الشيخ مقبل بن هادي الوادعي رحمه الله تعالى: نعم إذا كان الأولى هو الستر فينبغي أن يستر عليه ، والمسائل تختلف ، رأيته يقبل امرأة ، أو رأيته يسرق شيئاً سترت عليه فهذا أمرٌ طيب ، أو رأيته على فاحشة وسترت عليه لا بأس ، لكن شخص قد أصبحت عادته هذه العادة البلية فلا بأس أن تنصح الناس أن يبتعدوا عنه ولا يمكنوه من الدخول إلى بيوتهم لأنه متهمٌ بأمرٍ قبيح ، هذا في مسألة الفواحش .
وأما مسألة الستر فممكن إذا رأيت المصلحة هو الستر يعني في مسألة الفواحش أو غيرها .

أما مسالة البدعة إذا كانت زلة فينبغي أن تسترها ؛ بل يقول العلماء : إذا زل العالم حتى ولو إلى بدعة ينبغي أن تُغمر بما له من الفضائل ، أما إذا أصبح داعياً إليها ويُخشى أن يؤثر على الناس في دعوته على بدعته فينبغي أن تصيح به وأن تحذر منه ، والله المستعان .

مداخلة : إذا مثلاً معروف بالسرقة؟
الشيخ : قلنا إذا أصبحت عادته وديدنه فتحذر الناس منه ، بارك الله فيك .
مداخلة : إذا كان لأول مرة والسرقة التي سرقها على أهل القرية إذا لم يُعرف ستكون التهمة على أهل القرية كلهم؟ يعني ما هي بعادته لكن حصلت منه السرقة فإن ستروا عليه اتهم أهل القرية كلهم فيحتاجون أن يبينوا وإن كانت لأول مرة حتى تُرفع التهمة عن الآخرين؟ .
الشيخ : تنظر المصلحة ، والتهمة لا يثبت بها شيئ ، ولا يجوز لأحد أن يتهم أهل القرية كلهم ، والله المستعان

Penerjemah: Abu Utsman Kharisman