Beruntungnya Orang yang Menyucikan Diri, Mengingat Allah, Kemudian Shalat

Allah Ta’ala berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى (14) وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى (15)
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia mengingat nama Tuhannya, lalu dia shalat.” (QS. Al-A’la: 14-15)
Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah memberikan penjelasan:
Makna Keberuntungan (Al-Falah)
Kata Aflaha diambil dari kata Al-Falah. Al-Falah adalah kata yang mencakup segalanya, yaitu: mendapatkan apa yang dicari dan selamat dari apa yang ditakuti. Inilah makna Al-Falah; sebuah kata yang mengumpulkan segala kebaikan dan menolak segala keburukan.
Makna Menyucikan Diri (At-Tazkiyah)
Firman-Nya (yang artinya): “Orang yang menyucikan diri” diambil dari kata At-Tazkiyah yang berarti pembersihan (tath-hir). Dari sinilah zakat dinamakan zakat, karena ia membersihkan manusia dari akhlak yang hina seperti sifat bakhil (kikir); sebagaimana firman Allah Ta’ala (yang artinya): “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103). Jadi, Tazakka berarti membersihkan diri.
Dari hal apa seseorang menyucikan diri? Penyucian diri (Tazkiyah) mencakup tiga keterkaitan:
1. Terhadap Hak Allah (Tauhid) Seseorang menyucikan diri dari syirik dalam berinteraksi dengan Allah. Ia beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama bagi-Nya; tidak pamer (riya), tidak mencari popularitas (sum’ah), tidak mencari kedudukan atau kekuasaan dalam ibadah yang ia lakukan untuk Allah Azza wa Jalla. Ia hanya mengharap wajah Allah dan negeri akhirat.
2. Terhadap Hak Rasul (Ittiba’) Menyucikan diri dalam mengikuti Rasulullah ﷺ; dengan cara tidak berbuat bid’ah dalam syariat beliau, baik sedikit maupun banyak. Tidak dalam masalah akidah, ucapan, maupun perbuatan.
Penyucian diri dalam mengikuti Rasul ﷺ ini—yaitu mengikuti tanpa berbuat bid’ah—tidaklah terwujud secara sempurna kecuali pada Manhaj Salaf; jalannya Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mereka adalah orang-orang yang beriman kepada semua sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya dalam Kitab-Nya atau melalui lisan Rasul-Nya ﷺ. Mereka tidak mengada-ada dalam ibadah lisan maupun perbuatan. Mereka mengikuti apa yang dibawa oleh syariat, berbeda dengan apa yang dilakukan sebagian ahli bid’ah dalam dzikir-dzikir baru; baik dalam jenisnya, tata caranya, maupun cara pelaksanaannya, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian pengikut tarekat Sufi dan lainnya.
3. Terhadap Makhluk (Akhlak) Seseorang menyucikan diri dalam berinteraksi dengan makhluk dengan cara membersihkan hatinya dari dendam dan kedengkian terhadap saudara-saudaranya sesama Muslim. Anda akan mendapatinya selalu berhati bersih, mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri. Ia tidak ridha jika orang lain tertimpa keburukan, bahkan ia ingin semua orang selamat dari segala keburukan dan mendapatkan taufik pada segala kebaikan.
Seseorang menghindari segala hal yang dapat memicu permusuhan dan kebencian antar Muslim, serta melakukan segala hal yang membuahkan kasih sayang. Salah satunya adalah menebarkan salam. Rasulullah ﷺ bersabda (yang artinya): “Demi Allah, kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku beritahukan sesuatu yang jika kalian lakukan, kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kalian.”
Salam adalah sebab terkuat yang menarik rasa cinta dan kasih sayang. Jika ada orang lewat dan tidak memberi salam, akan ada perasaan tidak enak di hati. Namun jika saling mengucap salam, hal itu menjadi ikatan kasih sayang. Nabi ﷺ juga bersabda tentang salam: “Engkau mengucapkan salam kepada orang yang kau kenal dan yang tidak kau kenal.” Sayangnya, banyak orang saat ini hanya memberi salam kepada yang dikenal saja. Ini salah, karena jika hanya kepada yang dikenal, salamnya tidak murni karena Allah.
Makna Mengingat Nama Tuhan dan Shalat
Firman-Nya (yang artinya): “Dan dia mengingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang”, artinya ia mengingat nama Allah dengan beribadah kepada-Nya lalu ia shalat.
Termasuk dalam mengingat nama Allah adalah wudhu. Pertama, karena seseorang tidak berwudhu kecuali untuk menaati perintah Allah. Kedua, saat memulai ia membaca Bismillah dan saat selesai ia membaca syahadat dan doa kesucian.
Termasuk dzikir kepada Allah adalah khotbah Jumat, berdasarkan ayat (yang artinya): “Bersegeralah kamu kepada mengingat Allah (dzikrillah).” (QS. Al-Jumu’ah: 9). Maka ayat “mengingat nama Tuhannya” bisa berarti khatib yang berkhotbah, dan “lalu shalat” adalah shalat Jumat.
Ayat ini mencakup semua shalat yang didahului oleh dzikir. Dan secara umum, hampir tidak ada shalat melainkan didahului oleh dzikir, minimal adalah wudhu yang dilakukan sesaat sebelum shalat.
Dikutip dan diintisarikan dari: Tafsir Juz Amma Syaikh Ibn Utsaimin

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.