Tiga Hal yang Semestinya Dijaga Agar Mendapat Ampunan Allah: Tauhid, Shalat 5 Waktu, dan Puasa Ramadan

Lafaz Hadis
عَن مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَنْ لَقِيَ اللَّهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئا يُصَلِّي الْخَمْسَ وَيَصُومُ رَمَضَانَ غُفِرَ لَهُ قُلْتُ أَفَلَا أُبَشِّرُهُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ دَعْهُمْ يَعْمَلُوا . رَوَاهُ أَحْمد
Dari Muadz bin Jabal ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: Barang siapa yang berjumpa dengan Allah tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun, shalat 5 waktu, dan berpuasa Ramadan, akan diampuni dosanya. Aku (Muadz) berkata: Apakah aku sebarkan kabar gembira ini wahai Rasulullah? Rasul bersabda: Biarkanlah mereka beramal (H.R Ahmad)
Penjelasan
Abul Hasan Ubaidullah bin Muhammad al-Mubarakfuriy rahimahullah menyatakan:
“(Barang siapa yang menjumpai Allah); maksudnya ia wafat. (Dalam keadaan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun); maksudnya kondisinya saat itu bukanlah seorang musyrik. (Dan ia mendirikan shalat lima waktu, serta berpuasa Ramadhan); (hadits itu) tidak menyebutkan zakat dan haji karena keduanya khusus bagi orang-orang kaya (mampu). Beliau mengkhususkan penyebutan shalat dan puasa karena keduanya merupakan ibadah yang paling utama, paling masyhur, dan paling umum (mencakup semua kalangan).
(Maka akan diampuni baginya); maksudnya Allah mengampuni dosa-dosanya, baik dosa kecil maupun dosa besar yang terjadi antara dia dengan Allah Ta’ala jika Allah menghendaki. Adapun terkait hak-hak sesama hamba (urusan antar manusia), maka memungkinkan bagi Allah Ta’ala untuk membuat mereka (para penuntut) ridha dengan karunia-Nya.
(Biarkanlah mereka beramal); (kata ya’malu) dibaca majzum sebagai jawaban dari kalimat perintah (jawab al-amr). Maksudnya: Biarkanlah mereka bersungguh-sungguh dalam menambah ibadah-ibadah sunnah dan nafilah (tambahan), serta janganlah mereka hanya bersandar (mencukupkan) pada kalimat syahadat (tauhid) dan perkara-perkara fardhu saja (shalat 5 waktu dan puasa Ramadan, pen).
(Diriwayatkan oleh Ahmad) (Juz 5: Hal 232) dengan sanad yang shahih.”
(Mir’at al-Mafatih Syarh Misykat al-Mashobih 1/119)
Syaikh al-Albaniy rahimahullah menyatakan:
“Di dalam hadits ini terdapat dalil yang sangat jelas bahwa seorang Muslim tidak berhak mendapatkan ampunan Allah kecuali jika ia menjumpai Allah ‘Azza wa Jalla dalam keadaan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Hal itu dikarenakan syirik adalah dosa besar yang paling besar, sebagaimana yang telah diketahui dalam hadits-hadits shahih.
Dari sini, nampak jelas bagi kita kesesatan mereka yang hidup bersama kita, mendirikan shalat seperti shalat kita, berpuasa seperti puasa kita… akan tetapi mereka melakukan berbagai jenis kesyirikan dan paganisme (watsaniyyat), seperti:
• Beristighatsah (meminta pertolongan darurat) kepada orang mati dari kalangan wali dan orang-orang saleh.
• Berdoa kepada mereka di saat sulit selain kepada Allah.
• Menyembelih dan bernadzar untuk mereka.
Mereka menyangka bahwa dengan perbuatan itu, mereka dapat mendekatkan diri kepada Allah sedekat-dekatnya. Alangkah jauhnya persangkaan itu! ‘Demikianlah persangkaan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.’ (QS. Shad: 27).
Maka wajib bagi setiap saudara Muslim kita yang teruji (terjatuh) dalam hal tersebut untuk segera bertaubat kepada Tuhan semesta alam. Tidak ada jalan untuk itu kecuali dengan ilmu yang bermanfaat yang bersumber dari Al-Kitab dan As-Sunnah.
Ilmu tersebut tersebar luas di dalam buku-buku ulama kita—rahimahumullah Ta’ala—terutama karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, serta orang-orang yang mengikuti jalan mereka. Jangan sampai mereka terhalangi dari kebenaran oleh bisikan orang-orang yang menghasut, yang mengesankan bahwa kesyirikan ini hanyalah bentuk qurbah (pendekatan diri) dan tawassul. Sesungguhnya keadaan mereka dalam hal ini sama seperti orang-orang yang dikabarkan oleh Nabi ﷺ tentang mereka yang menghalalkan perkara haram dengan bersabda: ‘Mereka menamakannya dengan selain namanya.’
Ini adalah nasihat yang aku tujukan kepada saudara-saudara Muslim kita yang tersesat, yang masih memedulikan urusan akhiratnya, sebelum datang suatu hari di mana firman Tuhan semesta alam terbukti pada sebagian hamba-Nya yang jauh (dari rahmat): ‘Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.’ (QS. Al-Furqan: 23).”
(Ash-Shahihah, Juz 3: Hal. 300-302)
Naskah dalam Bahasa Arab
عَن مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ لَقِيَ اللَّهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئا يُصَلِّي الْخَمْسَ وَيَصُومُ رَمَضَانَ غُفِرَ لَهُ قُلْتُ أَفَلَا أُبَشِّرُهُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ دَعْهُمْ يَعْمَلُوا» . رَوَاهُ أَحْمد
قال المباركفوري في مرعاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح
(من لقي الله) أي مات (لا يشرك به شيئاً) أي حال كونه غير مشرك (ويصلي الخمس، ويصوم رمضان) ترك ذكر الزكاة والحج لأنهما مختصان بالأغنياء، وخص الصلاة والصوم بالذكر لكونهما أفضل وأشهر وأعم (غفر له) أي غفر الله ذنوبه الصغائر والكبائر التي بينه وبين الله تعالى إن شاء، وأما حقوق العباد فيمكن أن يرضيهم الله تعالى من فضله (يعملوا) مجزوم على جواب الأمر، أي يجتهدوا في زيادة العبادة من السنن والنوافل، ولا يتكلوا على الشهادة والفرائض (رواه أحمد) (ج5: ص232) بسند صحيح.
قال الألباني في السلسلة الصحيحة: وفي الحديث دلالة ظاهرة على أن المسلم لا يستحق مغفرة الله إلا إذا لقى الله عز وجل ولم يشرك به شيئاً، ذلك لأن الشرك أكبر الكبائر كما هو معروف في الأحاديث الصحيحة. ومن هنا يظهر لنا ضلال أولئك الذين يعيشون معنا ويصلون صلاتنا ويصومون صيامنا، و …. ولكنهم يواقعون أنواعاً من الشركيات والوثنيات كالاستغاثة بالموتى من الأولياء والصالحين ودعائهم في الشدائد من دون الله والذبح لهم والنذر لهم ويظنون أنهم بذلك يقربونهم إلى الله زلفى، هيهات هيهات. {ذلك ظن الذين كفروا فويل للذين كفروا من النار}!
فعلى كل من كان مبتلى بشيء من ذلك من إخواننا المسلمين أن يبادروا فيتوبوا إلى رب العالمين ولا سبيل إلى ذلك إلا بالعلم النافع المستقى من الكتاب والسنة.
وهو مبثوث في كتب علمائنا رحمهم الله تعالى، وبخاصة منهم شيخ الإسلام ابن تيمية وتلميذه ابن قيم الجوزية ومن نحا نحوهم وسار سبيلهم، ولا يصدنهم عن ذلك بعض من يوحي إليهم من الموسوسين بأن هذه الشركيات إنما هي قربات وتوسلات، فإن شأنهم في ذلك شأن من أخبر عنهم النبي صلى الله عليه وآله وسلم ممن يستحلون بعض المحرمات بقوله ” يسمونها بغير اسمها “.
هذه نصيحة أوجهها إلى من يهمه أمر آخرته من إخواننا المسلمين المضللَّين، قبل أن يأتي يوم يحق فيه قول رب العالمين في بعض عباده الأبعدين: {وقدمنا إلى ما عملوا من عمل فجعلناه هباء منثورا}
“الصحيحة” (3/ 300 – 302)
Penerjemah: Abu Utsman Kharisman

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.